Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sunday, January 27, 2013

Adab-adab membaca Al-Quran


Agar bacaan Al-Quran kita berkualitas dan bermanfaat, dan dapat memberikan nilai dan ganjaran dari hasil tadabbur kepadanya, serta memberikan pengaruh positif dan istiqamah kepadanya, sehingga dapat mengamalkannya seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya serta para salafus shaleh, maka selayaknya memperhatikan terlebih dahulu beberapa adab dan etika yang mesti dijalani dan komitmen dengan aturan-aturannya; baik sebelum atau saat membaca Al-Qur'an.
Sebagian ulama banyak memberikan masukan tentang adab-adab dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an, yang mana hal tersebut mereka dapati dari hadits-hadits Rasulullah saw dan sirah –sejarah- para sahabat, begitu pun yang mereka dapati dari hasil interaksi mereka dengan Al-Qur'an, dan pengalaman mereka yang berharga dalam mentadabburkan Al-Qur'an.
Para ulama yang menyusun cara membaca Al-Quran, juga menjabarkan beberapa adab-adab dan sesuatu yang dibolehkan dalam membaca Al-Qur'an dan memberikan peringatan dari hal-hal yang makruh. Dan di antara ulama terkenal yang mempunyai perhatian terhadap adab-adab ini adalah Hujjatul Islam; Abu Hamid Al-Ghozali. Beliau berkata dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin”; ada sepuluh adab dalam membaca Al-Quran untuk bisa dijadikan amalan zhahir, dan sepuluh lainnya sebagai amalan batin yang harus diterapkan oleh pembaca Al-Qur'an.

Dan di antara ulama lainnya, Imam An-Nawawi yang menyusun kitab yang begitu indah dan bermanfaat yaitu “At-Tibyan Fi Adabi Hamlatil Quran” ; dalam dua bab; lima dan enam beliau mengkhususkan pembahasan tentang adab-adab membaca Al-Quran
Begitupan Imam Suyuthi menyebutkan apa yang disebutkan Imam Al-Ghozali dan An-Nawawi tentang Adab-adab membaca Al-Quran, sehingga beliau dapat menyusun kitab yang berjudul : ”Al-Itqon fi Ulumul Quran” beberapa bagian dari adab-adab membaca.

Adapun Adab-adab dalam membaca Al-Qur'an adalah sebagai berikut :
1.           Memilih waktu yang cocok untuk membaca Al-Quran, dan seperti yang Allah telah tampakkan kepada para hamba-Nya, sehingga turun di dalamnya Limpahan Rahmat, adapun waktu  yang cocok adalah sepertiga terakhir di waktu malam hari yaitu waktu sahur, kemudian yang lainnya pada siang hari.

2.           Memilih tempat yang cocok seperti masjid sebagai salah satu dari rumah Allah, atau di pojokan dari bagian rumahnya yang sengaja disediakan untuk ibadah, sehingga terhindar dari halangan-halangan, kesibukan-kesibukan lain dan suara gaduh, hendaknya menjauh dari kebisingan, teriakan dan pembicaraan tentang dunia, permainan dan canda anak-anak. Dan sangat baik jika membacanya di tengah kebun yang rindang, atau dekat pohon bunga yang harum dan pemandangan-pemandangan yang menyegarkan. Boleh juga membaca Al-Quran di tengah kegaduhan dan keramaian seakan ia ingin memperlihatkan kepada yang lainnya, atau sambil jalan di jalan raya, atau saat mengendarai mobil atau kendaraan lainnya, walaupun tadabbur dalam kondisi demikian sangat sedikit.

3.           Memilih tempat duduk yang cocok, keadaan yang khusus dan perkumpulan orang-orang saleh sehingga ia dapat merasakan kehadiran Allah. Dan sehingga dapat membangkitkan ubudiyahnya kepada Allah, menampakkan ketundukan dan kerendahan hatinya. Jalsah  yang paling baik bagi pembaca Al-Quran adalah : menghadap kiblat, sambil duduk seperti saat orang melakukan duduk tahiat dalam shalat –guna menampakkan jalsah ubudiyah- dan jika merasa letih dari jalsah ini, maka tetap diusahakan dengan posisi lain yang cocok dan menghadap kiblat. Dan ia berhak menentukan jalsah ini semaunya sehingga menampakkan akan penghormatan nya terhadap Al-Quran, kerendahan hati dan ketundukannya kepada Allah.

4.           Suci lahiriah; yaitu harus suci dari junub –hadats besar-, dan bagi wanita harus suci lebih dahulu dari junub, haidh dan nifas, dan diutamakan juga suci dari hadats kecil yaitu dengan selalu dalam keadaan berwudhu, agar dapat merasakan pertemuan dengan Allah. Boleh juga membaca Al-Quran –baik untuk ibadah, menghafal atau belajar dan mengajar- tanpa harus berwudhu, karena tidak ada dalil dari Al-Quran yang menegaskan akan hal itu, begitu pun dari hadits-hadits Nabi yang shahih tidak mensyaratkan demikian. Para ulama juga memberikan fatwa bagi seorang wanita yang punya gairah belajar dan mengajar –guru atau murid- dalam membaca Al-Quran untuk belajar dan mengajar walaupun dalam keadaan haid atau nifas atas dasar darurat”.

5.           Mensucikan sarana-sarana digunakan untuk membaca Al-Quran, membersihkan hal-hal yang berhubungan dengan kemaksiatan, dosa dan kemungkaran, karena kebersihan dan kesucian tempat merupakan syarat mendapatkan manfaat ! bagaimana seseorang bisa baik membaca dan membersihkan, mentadabburkan dan memahaminya dengan mata yang berhadapan dengan kotoran ? atau dengan telinga yang dikotori suara kemungkaran dan seruling syaitan ? atau dengan lisan yang berlumuran dengan najis ghibah, namimah –adu domba-, dusta, olok-olok, penghinaan, dan pelecehan ? bagaimana mungkin seseorang bisa berinteraksi padahal hatinya terkunci, tertutup, terdapat tembok penghalang dari syubhat-syubhat, syahwat, kecenderungan berbuat maksiat dan kemungkaran, mendekati perbuatan tercela dan haram, dirusak oleh penyakit dan amal riya, ujub dan takabbur ?
Al-Quran seperti air hujan, hujan tidak akan memberi pengaruh pada bumi yang tandus dan bebatuan, tidak bisa hinggap diatasnya kecuali debu-debu yang beterbangan, demikian juga Al-Quran harus turun pada lingkungan yang baik agar dapat berinteraksi dengannya, memberi pengaruh dengannya dan hidup di bawah naungannya, yaitu panca indra dan hati.
6.          
6. Menghadirkan niat saat membaca Al-Qur'an, ikhlas karena Allah dan menjauhkan diri dari keinginan duniawi, agar dapat memperoleh ganjaran dalam membaca, mengamalkan dan beribadah dengannya, karena setiap amal bergantung pada niatnya, dan Allah Maha Kaya tidak butuh akan kemusyrikan dan agar juga mendapat memahami Al-Quran dengan baik. Karena Ilmu, pemahaman dan tadabbur merupakan ni’mat dari Allah dan Rahmat-Nya, sedangkan Rahmat Allah tidak bisa bercampur dengan kemaksiatan, kedustaan dan kemungkaran !!
7. Mengembalikan jiwa kepada Allah dan berlindung dengan-Nya, memohon naungan-Nya, menerimanya dengan penuh keridhaan, atau seperti orang yang tenggelam memohon pertolongan, berlepas diri dari setiap daya dan upaya, atau ilmu dan akal, pemahaman dan kecerdasan, berkeyakinan dengan penuh bahwa semua itu tidak bermanfaat jika Allah tidak menganugerahkan kepadanya ilmu dan pengetahuan.

7.           Membaca isti’adzah dan basmalah, sebagaimana Firman Allah : “Maka jika engkau akan membaca Al-Quran mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk yaitu dengan membaca “Audzubillah minassyaitanirrajim”. (An-Nahl : 98) menghidupkan makna “Isti’adzah”, mentadabburinya, mengakuinya dengan jujur dalam melafadzkannya, agar terealisasi makna isti’adzah secara mutlak kepada Allah, agar Allah memberikan perlindungan kepadanya dari tipu daya syetan sebagai janji Allah kepada orang mu’min jika membaca Istiadzah –baik manusia maupun jin- sehingga dia akan dilindungi dan dijauhkan darinya : “Dan apabila kamu membaca Al-Quran niscaya Kami  adakan antara kamu dan orang-orang yang beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Quran, niscaya mereka
berpaling ke belakang karena bencinya”. (Al-Isra : 45-46)
Adapun Basmalah merupakan bacaan pertama saat ingin membaca Al-Quran pada setiap surat -kecuali surat baraah- dan boleh juga dibaca saat memulai bacaan di pertengahan surat, atau di potongan ayat, jika saat membaca Al-Quran terhenti sejenak lalu ingin memulainya kembali. Membaca Al-Quran merupakan pintu memohon berkah dan memulai dengan menyebut nama Allah, mengharap limpahan-Nya, keberkahan-Nya dan Rahmat-Nya.

8.           Mengosongkan diri dari kesibukan dan dari menyelesaikan hajat lainnya, seseorang yang membaca Al-Qur'an hendaknya –saat membaca- tidak dalam keadaan lapar, dahaga dan dalam keadaan bimbang dan cemas, dalam keadaan dingin yang dahsyat atau panas yang menyiksa, duduk di depan televisi, matanya membaca Al-Quran sedangkan telinganya mendengarkan televisi, atau sambil menunggu makanan sedangkan jiwanya dan perasaannya sibuk menerima hidangan tersebut.

9.           menghadirkan akal dan pikiran saat membaca Al-Quran dan memfokuskan nya kepada Al-Quran saja, merenungkan  ayat-ayat yang dibaca, mencegahnya dari ketelantaran dan mengawang-awang dari fenomena-fenomena kehidupan, menggunakan segala celah pengetahuan, sarana tadabbur, perangkat talaqqi dalam jiwa dan perasaan, indra, akal, hati dan khayalan. Memfokuskan diri hanya kepada Al-Quran saja.

10.        Menghadirkan kekhusyuan yang laik menuju Kitabullah, saat membacanya, berusaha mendapatkan pengaruh positif dan interaksi, memperhatikan sebagian teladan orang-orang yang khusyu dan merasuk saat membaca Al-Quran dari orang-orang shalih.

11.        menangis saat membaca, khususnya pada ayat-ayat tentang azab, atau tentang hari kiamat, yaitu saat melintasi ayat tentang peristiwa hari kiamat dan hari akhir, fenomena dan ketakutan yang akan terjadi di dalam nya. Memperhatikan kekurangan dalam melaksanakan hak-hak dan berlebihan akan larangan Allah. Jika tidak bisa menangis maka usahakanlah berpura-pura menangis dan jika tidak mampu juga untuk menangis begitu pun pura-pura menangis maka usahakanlah untuk menangis dalam diri sendiri yaitu dalam hati.

12.        mengagungkan Allah Yang telah menurunkan Al-Quran, merasakan akan kemuliaan-Nya, limpahan karunia dan rahmat-Nya, yang telah memerintahkan kepada hamba-Nya yang lemah. Pengagungan ini merupakan seruan –secara global- untuk mengagungkan Firman-firman-Nya, menerimanya untuk bisa berinteraksi, bertadabbur, bertarbiyah dan berkomitmen dengannya. Seakan dengan pengagungan kepada Allah dan dan Firman-Nya maka si pembaca komitmen dengan adab-adab tilawah lainnya dan menghadirkan nya. Dan sarana yang paling penting untuk tilawah adalah dengan bekal yang besar dari nilai-nilai, hakikat-hakikat, pelajaran-pelajaran dan petunjuk-petunjuknya.

13.        Berhenti sejenak pada ayat-ayat yang dianggap perlu untuk di tadabburi, memahami maknanya dan mengenal hakikat-hakikat yang terkandung di dalamnya, memperhatikan ilmu dan pengetahuan, pelajaran-pelajaran dan petunjuk-petunjuknya. Karena hal tersebut merupakan tujuan dari membaca Al-Quran, dan tidak akan bermanfaat tilawah jika tidak diiringi tadabbur ? tidak melahirkan pemahaman ? dan tidak memberikan kebaikan ?

14.        Hanyut dan terpengaruh dengan ayat-ayat yang sesuai dengan tema dan alur nya, bergembira saat membaca ayat-ayat yang berkenaan dengan kabar gembira, harapan dan cita-cita, sedih dan menangis saat mendapatkan ayat tentang peringatan, ancaman dan kecaman, senang ketika membaca ayat-ayat tentang nikmat, takut dan khawatir saat melintasi ayat tentang azab, merenungi diri saat menemui ayat berkenaan dengan sifat-sifat orang beriman agar berusaha melengkapi diri dari kekurangan. Dan ayat-ayat tentang sifat orang-orang kafir agar berusaha untuk menghindar dan menjauhinya. Membuka seluruh inderanya ketika membaca ayat tentang perintah, kewajiban –taklif- rabbani  untuk bisa diamalkan, dan terhadap larangan dan hal-hal yang haram agar bisa dijauhkan.
Jika membaca ayat tentang kenikmatan dia berharap kepada Allah menjadi pemiliknya, jika membaca ayat tentang azab memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhi darinya, dan menjawab terhadap pertanyaan-pertanyaan Al-Quran, mengamalkan segala perintah dn taklif –kewajiban, berlepas diri dari kekufuran dan sifat-sifatnya, pakewuh terhadap orang –orang beriman dan menjadikan mereka sebagai pemimpin.

15.        Pembaca hendaknya merasa bahwa dirinyalah seakan yang diajak bicara –objek- dari ayat yang dibacanya, dia yang diberikan atas taklifat –kewajiban-, menghidupkan perasaan ini, mencari hasil-hasil dan pengaruhnya terhadap dirinya dan persendiannya. Karena itu, boleh berhenti lama saat berhadapan dengan ayat tentang apa yang di minta dan dilarang. Berhenti sejenak saat membaca ayat yang berbunyi : “Wahai orang-orang yang beriman” “Wahai sekalian manusia” “Wahai manusia” membuka celah-celah hatinya untuk dapat menerima, berinteraksi dan memenuhi panggilan, karena setelah seruan tersebut bisa berupa perintah yang harus dilaksanakan atau larangan tentang yang harus dijauhi, atau celaan yang harus diperhatikan atau peringatan yang harus dijadikan pelajaran, atau taujih –arahan- menuju kebaikan dan hidayah yang harus diraih segera.

16.        Menghindarkan diri dari tembok  yang dapat menghalangi untuk memahami dan mentadabburi Al-Quran, seperti bertolak belakangnya adab dan kaidah seperti  yang telah disebutkan sebelumnya, karena jika terjadi percampuran dengan yang bertentangan maka muncul hijab yang dapat menutupi antara si pembaca dan Al-Quran itu sendiri, penutup tirai yang tebal yang dapat menutupi cahaya Al-Quran dan petunjuknya. 

17.        Bagi yang mendengar dan mentadabburi Al-Quran terhadap bacaan orang lain atau di dengar melalui radio atau kaset rekaman, hendaknya juga memperhatikan etika dan adab-adab yang telah disebutkan, lebih giat lagi untuk mendengarkannya, berdiam diri, tadabbur dan talaqqi, jangan membuka kedua telinga saja namun juga membuka segala celah-celahnya seperti talaqqi, interaksi di dalam dirinya, baik indra dan perasaan, khusyu' dalam mendengarkannya, terutama yang terkait dengan arahan Rabbani yang lurus sesuai dengan Firman Allah SWT : “Dan Apabila dibacakan ayat-ayat Al-Quran maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian dirahmati”. (Al-A’rof : 2)

Friday, January 25, 2013

PEMUTUSAN HUBUNGAN KAUM QURAISY PADA BANI HASYIM DAN BANI ABDIL MUTHTHALIB SERTA DAMPAKNYA


Telah kita ketahui dan telah kita pelajari cara-cara kaum musyrikin dalam melawan dakwah Islam pada bagian pertama.
Dan ketika semua cara pengalihan yang mereka sampaikan kepada Rasulullah saw. mereka mengambil cara tawar menawar, yaitu dengan cara Nabi Muhammad saw. menyembah tuhan mereka sehari, dan mereka menyembah Tuhannya Muhammad sehari. Akan tetapi Allah swt. menjelaskan kepada mereka bahwa agama ini berbeda dengan agama mereka secara total, bagi mereka agama mereka seperti yang telah mereka buat sendiri, dan bagi Muhammad agamanya yang datang dari Yang Maha Bijak dan Maha Memberitahukan.
Demikianlah Allah menggagalkan teror, tipuan, dan tawar menawar di hadapan gelombang dakwah di jalan Allah swt. Mereka gagal memadamkan cahaya iman dan tauhid. Kaum Quraisy yakin bahwa tujuannya sama sekali tidak mencapai sasaran. Karena Allah terus membela Rasul-Nya.
Maka kaum Quraisy kembali menggunakan cara kekerasan dan penindasan kepada kaum muslimin dengan perlakuan yang tidak tertahankan manusia kecuali mereka yang beriman. Rasulullah saw. yang melihat penderitaan para sahabatnya itu, dan sama sekali tidak bisa melawan, menyuruh mereka untuk meninggalkan kampung halamannya itu, dilandasi oleh semangat menyelamatkan, maka terjadilah hijrah ke Habasyah, seperti yang kita bahas terdahulu.
Kaum Quraisy melihat sahabat Rasulullah saw. telah berangkat ke Habasyah mendapatkan keamanan dan kenyamanan di sana. Raja Habasyah melindungi para sahabat Nabi di sana. Pada waktu yang sama Umar bin Khaththab masuk Islam, maka Umar dan Hamzah bin Abdul Muththalib menjadi pendamping Rasulullah saw, sekaligus menjadi simbol penyebaran Islam di kabilah-kabilah Arab.

1.            MOTIVASI KAUM QURAISY DALAM MELAWAN DAKWAH

Tidak diragukan lagi bahwa penyebab semua ini adalah rasa iri (hasad) dan kesombongan tanpa argumentasi seperti yang dilakukan oleh Al-Walid bin Al-Mughirah, yang mengatakan:
أَيَنْزِلُ عَلَى " مُحَمَّدٍ " وَأُتْرَكُ أناَ كَبِيْرُ قُرَيْشٍ وَسَيِّدُهَا وَيُتْرَكُ أَبُوْ مَسْعُوْدٍ، وَنَحْنُ عَظِيْمَا الْقَرْيَتَيْنِ ؟
“Bagaimana mungkin diturunkan kepada Muhammad, tidak kepadaku, sedangkan aku yang menjadi pembesar dan pemimpin suku Quraisy, tidak diberikan kepada Abu Mas’ud, sedang  kami berdua yang menjadi para pembesar dua negeri.”
Maka Allah turunkan ayat 31-32 surah Az Zukhruf:
“Dan mereka berkata: "Mengapa Al Quran Ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini [1]? Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Dan inilah Muhammad saw. membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, menjelaskan kepada mereka bahwa Tuhannya terus mengawasinya, bahwa mereka semua akan dibangkitkan di hari kiamat menjadi makhluk baru, dan bahwa amal merekalah satu-satunya yang akan menolongnya. Maka kaum musyrikin semakin berani menyiksa kaum muslimin dan penganut Islam. Mereka mencari cara lain untuk memukul Islam dengan pukulan yang tidak bisa bangkit kembali.

2.  PEMBOIKOTAN TOTAL
Kaum musyrikin berkumpul untuk menetapkan cara efektif menghentikan Islam dan Nabinya. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk menulis selembar kesepakatan pemutusan hubungan total dengan Bani Hasyim dan Bani Abdil-Muththalib. Pengumuman itu berisi:
  1. Barang siapa yang setuju dengan agama Muhammad, berbelas kasihan kepada salah seorang pengikutnya yang masuk Islam, atau memberi tempat singgah pada salah seorang dari mereka, maka ia dianggap sebagai kelompoknya dan diputuskan hubungan dengannya.
  2. Tidak boleh menikah dengannya atau menikahkan dari mereka
  3. Tidak boleh berjual beli dengan mereka
Kemudian mereka gantung pengumuman ini di salah satu sudut Ka’bah untuk menegaskan kekuatan isinya.
Dan ketika Rasulullah saw. mengetahui lembar pengumuman ini, ia doakan penulisnya.


3.  PERTOLONGAN ALLAH KEPADA KAUM MUKMININ

Di tengah penderitaan inilah Allah swt. menundukkan sebagian orang Quraisy untuk membantu kaum muslimin yang terisolir. Di antara mereka itu adalah Hisyam bin Amr, seorang yang dimuliakan kaumnya. Hisyam membawa untanya penuh makanan di malam hari ke Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Begitu sampai di dekat lembah ia lepaskan kendali untanya kemudian dihentikannya unta itu. Demikian juga ketika untanya itu membawakan pakaian. Untuk meringankan penderitaan kaum muslimin yang terisolir.
Di tengah isolasi total ini Bani Hasyim dan Bani Muththalib ikut bergabung baik yang muslim maupun yang kafir kepada Rasulullah saw, mereka masuk ke syi’b (lembah) Bani Hasyim. Mereka yang kafir bergabung dengan motivasi kesukuan dan kekerabatan, sedang yang muslim dengan motivasi akidah. Selain Abu Lahab, yang berada bersama kafir Quraisy mendukung permusuhannya dengan kaumnya.
Keadaan ini berlangsung selama tiga tahun, kaum Quraisy. Kaum Quraisy semakin memperketat isolasinya kepada kaum muslimin sehingga mereka tidak memiliki bekal makanan. Kesulitan mereka sampai pada kondisi hanya makan dedaunan.
Anak-anak kaum Muslimin menangis kelaparan, dan tangisan mereka terdengar dari balik lembah. Kaum Muslimin tetap sabar dan tegar dari tekanan yang mencelakakan ini dengan terus mengharapkan pertolongan Allah.

4.  DI ANTARA BENTUK KEMARAHAN DAN  PENINDASAN
Perhatikanlah bentuk kemarahan yang sampai ke puncaknya. Ketika datang kafilah datang ke Mekah, dan salah seorang sahabat Nabi datang ke pasar untuk membeli makanan bagi keluarganya, maka Abu Lahab seketika itu mengumumkan kepada para pedagang:
يَا مَعْشَرَ التُجَّارِ غَالُوْا عَلَى أصْحَابِ " مُحَمَّد " حَتَّى لاَ يُدْرِكُوْا مَعَكُمْ شَيْئاً، وَقَدْ عَلِمْتُمْ مَالِي وَعَلِمْتُمْ كَذَلِكَ وَفَاءَ ذِمَّتِي، فَأنَا ضَامِنٌ، وَلاَ خَسَارَةَ عَلَيْكُمْ
“Wahai para pedagang! Naikkan hargamu kepada sahabat-sahabat Muhammad sehingga mereka tidak bisa membeli apapun, kalian semua sudah mengetahui kekayaanku, dan kalian sudah tahu bahwa saya akan menepati janjiku, saya akan mengganti kalian semua, tidak akan ada kerugian atas kalian.”
Maka para pedagang itu menaikkan harganya berlipat-lipat, dan ketika sahabat itu pulang kembali ke rumahnya, anak-anaknya menangis kelaparan, dan tangannya kosong tidak membawa makanan yang bisa mereka konsumsi.
Kemudian pedagang itu datang ke rumah Abu Lahab, membayar makanan dan pakaian yang mereka bawa, sehingga kaum mukminin mengalami kelaparan.

5.  PEMBATALAN LEMBAR PENGUMUMAN

Allah swt. tidak akan pernah melupakan Nabi pilihan-Nya dan orang-orang yang beriman bersamanya. Maka Allah jadikan hati orang-orang masih punya kasih sayang berbelas kasihan kepada mereka. Hal ini jelas sejak Hisyam bin Amr yang membawa untanya dengan perbekalan makanan lalu diarahkan ke Syi’b, mengantarkan makanan kepada kaum muslimin yang terisolir.
Hisyam din Amr kemudian menghubungi Zuhair bin Abi Umayyah bin Al Mughirah, ia sampaikan kepadanya, “Wahai Zuhari, relakah kamu makan makanan, berpakaian, dan menikah, sementara paman dan bibimu dalam keadaan yang kamu tahu, tidak boleh jual beli, tidak boleh menikah atau dinikahi. Sedang aku bersumpah dengan nama Allah: Bahwa kalau paman bibinya Abul Hakam bin Hisyam (Abu Jahal), kau ajak seperti yang aku sampaikan kepadamu, mereka tidak akan pernah mau menerimanya.
Zuhair berkata: “Celaka sekali wahai Hisyam, lalu apa yang bisa kita lakukan? Aku hanya seorang diri. Demi Allah, jika ada orang lain bersama dengan kami, maka kami akan cabut isolasi ini, aku batalkan embargo ini.”
Hisyam bin Amr menjawab, “Aku menemukan orang lain.”
Kata Zuhair bin Abi Umayyah, “Siapa dia?”
Kata Hisyam, “Saya.”
Kata Zuahair, “Cari seorang lagi, sehingga kita bertiga.”
Kemudian Hisyam menemui Muth’im bin Adiy, menceritakan seperti yang disampaikan kepada Zuhair bin Umayyah
Kata Muth’im, ”Carilah orang ke empat.”
Kemudian Hisyam menemui Abul Buhturiy bin Hisyam, ia sampaikan seperti yang ia sampaikan kepada Muth’im bin Adiy
Abul Buhturiy bertanya, “Adakah orang lain yang membantu hal ini?”
Kata Hisyam, “Ada.”
Kata Abu Buhturiy, “Siapa dia.”
Kata Hisyam, “Zuhair bin Umayyah, Muth’im bin Adiy, dan aku bersamamu
Kata Al Buhturiy, “Carilah orang kelima.”
Kemudian Hisyam menemui Zam’ah bin Al-Aswad bin Al-Muththalib, ia sampaikan kepadanya tentang kedekatan hubungan keluarganya dan hak mereka.
Zam’ah menanyakan, “Apakah urusan yang kau sampaikan kepadaku ini ada orang lain?”
Kata Hisyam, “Ada,” kemudian ia sebutkan orang-orang yang telah ia temui.
Kemudian mereka bersepakatan untuk bertemu malam hari di sebuah bukit di Mekah.
Di sanalah mereka berkumpul dan bersepakat untuk membatalkan pengumuman pembokiotan. Dan ketika datang pagi hari mereka pergi ke tempat pertemuannya. Zuhair bin Umayyah thawaf di Ka’bah tujuh kali putaran. Kemudian berdiri menghadapkan wajahnya kepada para hadirin dan mengatakan:

Wahai warga Mekah, apakah kita makan makanan, memakai pakaian sementara Bani Hasyim mati kelaparan, tidak boleh jual beli, demi Allah saya tidak akan duduk sehingga pengumuman embargo yang zhalim ini dirobek.
Abu Jahal berkata –ada di salah satu sudut masjid, “Bohong kamu, demi Allah, pengumuman itu tidak boleh dirobek.”
Zam’ah bin Al-Aswad: Engkau, demi Allah, lebih pendusta, kami tidak pernah menyetujuinya sejak engkau menulisnya.
Abul Buhturiy berkata, “Benar Zam’ah, kami tidak setuju tulisan itu dan tidak pernah mengakuinya.”
Al-Muth’im bin Adi berkata, “Kalian berdua benar, dan bohong orang yang mengatakan selain yang kalian berdua katakan. Kami berlepas diri darinya dan tulisan yang ada di dalamnya.”
Hisyam bin Amr berkata seperti yang dikatakan Al-Muth’im bin Adiy
Abu Jahal berkata, “Ini pasti sudah diputuskan di malam hari, kalian telah bermusyawarah tentang hal ini di luar tempat ini.”
Abu Thalib saat itu berada di salah satu sudut masjid menyaksikan pertarungan yang terjadi di antara mereka.
Kemudian Muth’im bin Adiy berdiri ke tempat ditempelkannya pengumuman itu untuk merobeknya, dan ternyata pengumuman itu sudah dimakan tanah kecuali kalimat ‘Bismikallahumma’ yang menjadikan kebiasaan orang Arab menulis surat.

Perhatikanlah, bagaimana Allah swt. menundukkan mereka ini untuk membantu Islam dan kaum muslimin, berdiri di sisi yang benar. Tidak diragukan lagi bahwa yang mendorong hal ini adalah pertolongan Allah swt. pada rasul-Nya, dan kaum mukminin yang ada.
Kemudian perhatikan pula, tanah yang makan pengumuman itu, kecuali nama Allah Yang Maha Agung. Hal ini menjadi bukti yang sempurna bahwa Allah swt. Maha Suci dari seluruh ucapan orang-orang zhalim.

6.  DAMPAK EMBARGO
Embargo ini berdampak baik bagi Islam dan kaum muslimin, antara lain:
`  Kaum muslimin dapat mengambil pelajaran langsung tentang kesabaran dan daya tahan. Mereka menyadari bahwa kehilangan keuntungan dan hancuran sarana-sarana kebaikan tertentu adalah kewajiban pertama yang harus diberikan dalam pengorbanan di jalan aqidah. Tekanan-tekanan itu tidak akan membunuh para da’i bahkan semakin memperkuat akar dan dahannya.
`  Bahwa ketika Allah swt. menghendaki salah seorang hamba-Nya menfokuskan diri pada da’wah, kebaikan, dan perbaikan, akan diletakkan di hatinya rasa tidak senang dengan apa yang dialami masyarakatnya, yang berupa kerusakan dan kesesatan.
`  Orang-orang Quraisy tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, cepat atau lambat, fajar baru akan terbit, Mekah akan bersih dari berhala, Adzan berkumandang di seluruh sudutnya, dan orang-orang yang pernah diboikot itu akan menjadi pemegang kendali, para pemimpin yang memutuskan persoalan, dan mereka menjadi tawanan yang mengharapkan ampunan. Mereka hanya meyakini bahwa hari ini dan nanti adalah milik mereka, akan tetapi Allah balikkan harapannya, dan memberikan kemenangan besar kepada pembawa kebenaran.

“Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya.” (Arrum: 4-5).


7.  PELAJARAN BERHARGA
  1. Motivasi akidah adalah satu-satunya motivasi kaum muslimin untuk memeluk Islam, meskipun menghadapi tekanan keras, dan tidak ada motivasi lain, apalagi yang bersifat materi.
  2. Di antar cara bijak para da’i menghadapi ahlul batil adalah dengan argumentasi dan bukti, serta mendakwahinya dengan berangkat dari realitas yang mereka alami, tidak boleh menyikapi siksaan dengan siksaan, makian dengan makian.
  3. Seorang muslim tidak boleh tunduk dan bertahan dengan gangguan jika mampu membalasnya, atau ada orang yang membantunya menangkis siksaan itu. Seperti yang dilakukan kaum muslimin ketika Hamzah dan Umar masuk Islam, serta bantuan keluarga seperti Abu Thalib
  4. diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menangkis ahlil batil, mengungkapkan kepalsuan akidahnya, penyimpangan fikrahnya dengan serangan tidak membahayakan diri da’i dan teman-temannya dari jebakan musuh
  5. Seorang pemimpin sukses adalah yang mampu mencerahkan pasukan dan potensinya untuk menghindari gangguan, dan beralih kepada peperangan terbuka melawan musuhnya pada waktu, tempat yang baik bagi da’wah.
  6. Hijrah kaum muslimin ke Habasah adalah buah dari hubungan baik antara Islam dan Nasrani, serta kesepakatan untuk melawan kaum musyrikin, optimalisasi kekuatan yang tidak mengganggu dan memusuhi Islam dengan terbuka.
  7. Jika seorang muslim komitmen dengan akidah yang lurus, maka akan mengusir kebimbangan hatinya, menguatkan cahaya keyakinan hatinya.
  8. Kaum kafir melakukan pemutusan total dengan Rasulullah dan kaum muslimin karena Islam mulai menggoncang sendi-sendi aqidah mereka yang batil dan eksistensi spiritualnya dengan kuat. Mereka hanya mengikuti agama nenek moyang dan para pendahulunya.  
  9. Para pemimpin simbolis yang mendapatkan keuntungan materi, status sosial adalah orang-orang pertama yang memusuhi Islam, dan akan terus memusuhinya karena ia takut kehilangan posisi dan popularitas diri. Kehilangan kekuasaan dan kedudukan.
  10. Masuk Islamnya Umar dan Hamzah adalah masuk Islamnya pemimpin yang akan berperan banyak dalam keseimbangan haq (benar) dan batil (salah)
  11. Kaum muslim memanfaatkan semangat kesukuan dalam mencabut embargo
  12. Para da’i ilallah keluar dari ujian dan penderitaan yang menimpanya dalam keadaan lebih tangguh, lebih kaya pengalaman, lebih mampu bergerak mencapai sasarannya, ketika mereka dapat mengambil buah ujian itu.
  13. Tsiqah yang utuh dengan janji Allah yang akan memberi pertolongan dan tsiqah yang utuh kepada pemimpin dibarengi dengan harapan pahala di sisi Allah
  14. Berkorban dengan jiwa dan yang paling berharga adalah ciri para da’i yang mengharapkan balasan dari Allah
  15. Pertolongan itu pasti datang jika sifat-sifat kelayakan untuk mendapatkan pertolongan itu terpenuhi
  16. Ahlul batil mengeluarkan hartanya untuk meninggikan kebatilannya, maka menjadi kewajiban ahlul haq untuk membelanjakan yang mahal dan mulia dalam rangka meninggikan kalimatul haq (kebenaran)
  17. Bangsa Arab meski dalam jahiliyah memiliki janji dan kesepakatan yang tidak bisa dilanggar kecuali jika menyatakan dengang terbuka pembatalah janji itu. Dari itulah mereka tidak bisa keluar dari isi pengumuman itu sebelum pengumuman itu dirobek
  18. Allah swt menjaga kaum muslimin, dan menundukkan tokoh-tokoh kafir untuk membela mereka dan memecah barisan kaum musyrikin
  19. Allah memiliki beberapa pasukan, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah yang bekerja untuk membantuk kaum muslimin, seperti yang dilakukan tanah terhadap lembar pengumuman embargo.


[1]  Mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad saw. Karena menurut pikiran mereka, seorang yang diutus menjadi Rasul itu hendaklah seorang yang kaya raya dan berpengaruh.

Sunday, January 20, 2013

Kisah Nabi Ayyub As

Dialah Nabi Ayyub as bin Maush bin Razih keturunan Al ’Ais bin Ishaq, anak cucu Nabi Ibrahim as. Hal ini seperti yang disebutkan dalam firman Allah tentang Nabi Ibrahim:

84. Dan kami Telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing Telah kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) Telah kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, ... QS. Al An’am

Dengan mengembalikan dhamir (kata ganti) yang ada pada kata ”dzurriyyah” kepada Nabi Ibrahim bukan Nabi Nuh. Seperti yang ada dalam konteks ayat itu

Ibnu Ishaq berkata: yang benar bahwa Nabi Ayyub berasal dari Bani Israil, tidak ada sumber yang valid tentang nasabnya kecuali nama ayahnya adalah Amaush dan ibunya –seperti yang ditulis At Thabariy dan Ibnu Asakir- adalah puteri Nabi Luth bin Haran as. Dan isteri yang diupukul, seperti yang disebutkan dalam firman Allah:

44. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. QS. Shaad

bernama LIYA, puteri Nabi Ya’qub bin Ishaq as. Ada yang menyebut: Rahmah bin Afratsim bin Yusuf bin Ya’qub as –seperti yang disebutkan dalam At Thabariy.

Ada perbedaan pendapat tentang masa keberadaannya.

Ada yang menyebutkan bahwa ia sezaman dengan Nabi Musa as. Dalam Tarikh At Thabariy disebutkan bahwa ia adalah seorang Nabi pada masa Nabi Ya’qub –ayah Nabi Yusuf-. Ada pula yang mengatakan bahwa ia pada masa Nabi Sulaiman as. [1] Dalam Da’iratul Ma’arif Al Bistaniy: Ada yang menyebutkan lebih dari seratus tahun sebelum Nabi Ibrahim as. Dan pendapat ini tidak valid, karena yang jelas ia dari keturunan Ibrahim as seperti yang ada dalam surah Al An’am.

Sedangkan tempatnya ada yang menyebutkan: negeri Arab dan dia berkebangsaan Arab, atau Hauran di Syam dan mengatakannya berkebangsaan Romawi, seperti yang diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih.[2] Dalam salah satu kitab perjanjian lama, terdapat kisahnya dengan rinci. Dan pada bagian kelima dan terakhir berisi ketundukannya kepada Allah, dan kesembuahannya dari ujian, dan digantikannya harta dan keluarganya yang hilang. (Da’iratul Ma’arif, Al Bustaniy)

Al Fakh Ar Raziy dalam tafsirnya –At Tafsir Al Kabir dan Mafatihul Ghaib- mengatakan: Aku mendengar sebagian Yahudi yang mengatakan: Sesungguhnya Musa bin Imran as memiliki kitab tersendiri tentang peristiwa Ayyub. Dan kesimpulannya adalah bahwa Nabi Ayyub adalah orang yang sangat taat kepada Allah, disiplin beribadah, sangat mengagungkan perintah perintah Allah, dan sayang kepada sesama makhluk Allah, kemudian ia mengalami ujian berat[3].

Para ulama tafsir dan sejarah meriwayatkan bahwa Nabi Ayyub memiliki banyak macam harta kekayaan, hewan ternak dan hamba sahaya, tanah yang luas di Hauran (Syam), miliki keluarga dan keturunan yang banyak. Lalu semua itu hilang dan diuji fisiknya dengan berbagai macam ujian, tidak ada oragn tubuh yang selamat dari ujian itu kecuali hati dan lidahnya yang selalu berdzikir kepada Allah dengan keduanya. Dalam keadaan demikian ia tetap bersabar dan berserah diri, berdzikir kepada Allah malam dan siang, pagi dan petang. Sakitnya berkepanjangan sehingga ia orang-orang menghindarinya, diusir dari kampung halamannya, dicampakkan di tempat sampah di luar kampungnya, terkucil dari umat manusia, tidak ada seorangpun yang mendekatinya kecuali isterinya yang masih menjaga hak-haknya dan menghargai kebaikan yang pernah diberikan kepadanya, kasih sayangnya kepada dirinya. Istirinya bolak-balik menghampirinya, merawatnya dan membantu memenuhi kebutuhannya. Ketika istrinya semakin lemah, hartanya semakin habis ia bekerja membantu orang lain untuk memberi makan Nabi Ayyub, wanita itu bersabar bersamanya atas apa yang menimpanya, kehilangan harta kekayaan dan anak keturunan, musibah yang menimpa suaminya, membantu orang untuk mendapatkan upah padahal sebelumnya orag yang kaya dan penuh nikmat. Semua ini tidak menambah Nabi Ayyub kecuali semakin sabar dan berserah diri kepada Allah, bertahmid dan bersyukur sehingga ia menjadi simbol kesabaran. [4]

Para ahli sejarah meriwayatkan tentang Nabi Ayyub dengan banyak sekali riwayat. Mayoritas mereka mengambil dari Perjanjian Lama, Tafsir Taurat Yahudi, yang disebut ”Hajadah” seperti yang dikatakan Thabbarah dalam bukunya: Bersama dengan Para Nabi, inilah yang tidak diambil oleh para ulama Islam yang tsiqah, karena terlalu banyak intervensi dan perubahan.

Ada sebagian ahli tafsir yang mengkritik jenis ujian yang menimpa Nabi Ayyub. Uatad Ahmad Al Maraghi dalam tafsirnya mengatakan:

” riwayat yang menjelaskan tentang ukuran penderitaan yang menimpanya sampai pada batas yang dijauhi orang. Dan umat manusia secara umum menghindarinya dan mengusirnya dari tempatnya ke pinggir kota, tidak ada yang menemuinya kecuali isterinya yang membawakan bekal untuknya. Semua ini adalah israiliyyah yang wajib ditolak secara i’tiqadiy, karena tidak bersandar pada sumber yang valid, dan karena syarat kenabian adalah tidak memiliki cacat penyakit yang dijauhi orang. Dan jika ada penyakit itu maka tidak memungkinkannya berkomunikasi dengan ummatnya, menyampaikan syariat dan hukum agama kepada mereka”.

Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih, dan lainnya dari kalangan ulama Bani Israil dalam kisah Nabi Ayyub, cerita panjang tentang proses hilangnya harta dan anak-anaknya, serta ujian yang menimpa fisiknya. Dan Allah Yang Maha Tahu keabsahannya.[5]

Nama Nabi Ayyub as tercantum empat kali dalam Al Qur’an di tiga tempat, yaitu:

Pertama: Teks tentang pemilihan Nabi Ayyub as menerima wahyu, hal ini dalam kontek pemberitahuan bahwa wahyu Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw bukanlah bid’ah, akan tetapi serupa dengan wahyu Allah yang pernah diberikan kepada orang-orang pilihan sebelumnya, termasuk di dalamnya adalah Nabi Ayyub as.

163. Sesungguhnya kami Telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami Telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami Telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan kami berikan Zabur kepada Daud. QS. An Nisa

Kedua: Informasi bahwa Nabi Ayyub adalah keturunan Nabi Ibrahim as. Hal ini dalam pemberitahuan tentang Nabi Ibrahim, dan Hujjah (argumentasi) yang kuat dan kedudukan yang tinggi, keturuan yang shalih, seperti dalam firman Allah:

83. Dan Itulah hujjah kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. kami tinggikan siapa yang kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

84. Dan kami Telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing Telah kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) Telah kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. QS. Al An’am

Ketiga: Informasi tentang doa Nabi Ayyub kepada Rabbnya ketika mengalami penderitaan fisik, serta ujian harta dan keluarganya. Kemudian Allah kabulkan doanya, dan dibersihkan sakitnya, dikembalikan harta dan anaknya, sebagai bentuk kasih sayang. Hal ini terdapat dalam dua tempat:

83. Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

84. Maka kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. QS. Al Anbiya

41. Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya Aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan".

42. (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum".

43. Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.

44. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya). QS. Shaad

Ayat-ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya memberikan pesan:

Bahwa penyakit yang menimpa Nabi Ayyub terjadi karena ulah syetan

Jenis penyakit yang menimpa Nabi Ayyub dan cara penyembuhannya. Dalam hal ini AL Maraghi mengatakan dalam tafsirnya: jenis penyakit yang menimpanya adalah jenis penyakit kulit luar biasa seperti eksim dan sejenisnya yang melemahkan fisik dan sangat menyakitkan, akan tetapi tidak mematikan. ....

Sumpah Nabi Ayyub as yang hendak memukul isterinya dengan cambuk ketika sembuh, dan arahan Allah agar mengambil seikat rumput ketika mencambuk isterinya, agar tidak melanggar sumpahnya. Para ulama berbeda pendapat tentang sebab sumpah ini. Dan yang paling mendekati adalah bahwa ketika ia sakit, isterinya telat membantu keperluannya, lalu ia bersumpah akan mencambuk isterinya jika ia sembuh nanti dengan seratus cambukan. Dan ketika isterinya itu melayaninya dengan sangat baik maka Allah mengganti sumpahnya itu dengan sesuatu yang paling ringan. Al Maraghi mengatakan dalam tafsirnya:

”Nabi Ayyub bersumpah ketika sedang sakit akan mencambuk isterinya dengan seratus cambukan kalau ia sembuh, karena isterinya telat memenuhi sebagian kebutuhannya. Dan ketika isterinya telah berubah menjadi sangat baik pelayanannya maka Allah ganti sumpahnya itu dengan sesuatu yang paling ringan bagi Nabi Ayyub dan isterinya. Yaitu dengan menyuruhnya mengambil seikat rumput dan memukulnya sekali, menggantikan seratus kali cambukan. Hal ini menjadi salah satu jalan keluar bagi orang yang bertaqwa dan taat kepada Allah, terutama dalam hak wanita yang sabar dan baik. Inilah yang ditunjukkan Allah dalam firmannya.

44. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah... QS. Shaad

Wallahu a’lam.

AYYUB AS MENURUT AHLI KITAB

An Najjar mengatakan dalam kisah-kisah para nabi: Mereka yang mengatakan tentang keberadaan Nabi Ayyub berbeda pendapat tentang zamannya, dalam tujuh pendapat:
Sezaman dengan Nabi Musa as
Sezaman dengan para qadhi
Sezaman dengan Hasey roos, atau Azdasyir penguasa Iran
Sezaman dengan Nabi Ya’qub as
Sezaman dengan Nabi Sulaiman as
Sezaman dengan Bukhtunashshar
Sebelum masa kedatangan Nabi Ibrahim as ke Kan’an

Horn salah seorang peneliti sekte protestan berkata: sesungguhnya adanya berbagai macam anggapan ini sudah cukup menunjukkan lemahnya pendapat ini. Demikian juga mereka berbeda pendapat tentang “Ghath” negeri yang disebutkan dalam ayat pertama bab pertama buku mereka. Di wilayah mana nama negeri itu, ada tiga pendapat:
Bogart, Asbahm, Kamt dll, mengatakan bahwa itu adalah wilayah Arab
Mikayls dan Aljin mengatakan bahwa itu adalah lembah Damaskus
Lood, Maji, Heylz, dan Kud dan generrasi berikutnya mengatakan bahwa Ghath adalah nama Adumiyah

Demikian juga mereka berbeda pendapat tentang penulis kitab ini ada yang mengatakan: orang Yahudi, atau Nabi Ayyub, atau Nabi Sulaiman, atau orang yang tidak dikenal namanya sezaman dengan Sultan Mansa, atau Hezqiyal, atau Azran, atau seorang dari keluarga Yahudi, atau Nabi Musa, dst.

Kami katakan bahwa ia adalah seorang hamba Allah yang shalih. Allah menguji harta, keluarga dan fisiknya, lalu ia bersabar dengan sabar yang indah, lalu Allah berikan kesembuhan dan memberikan lebih banyak lagi dari yang pernah hilang baik keluarga maupun harta benda. Allah memujinya dengan pujian indah dalam Al Qur’an dan mengangkatnya menjadi Nabi.


CATATAN PENTING

Pertama: Banyak orang mengatakan tentang ujian Nabi Ayyub as bahwasannya jenis penyakitnya adalah penyakit yang menjijikkan dan menakutkan orang untuk mendekatinya.

Hal ini bertentangan dengan status kenabian. Para ulama ilmu tauhid menetapkan bahwa para Nabi itu bersih dari berbagai penyakit yang menyebabkannya jauh dari umat manusia. Maka bagaimana mungkin penyakit itu ada dalam statusnya sebagai Nabi?

Jawaban hal ini dari dua sisi:
Bahwa ujian sesuai dengan apa yang mereka katakan terjadi sebelum masa kenabian, dan karunia kenabian itu diberikan ketika sudah terbukti sabar dan ridha atas apa yang menimpanya.
Orang- orang yang mengatakan dengan berlebihan tentang penderitaan Nabi Ayyub hanya berpegang pada ungkapan Ahlulkitab.

Kedua: Bahwa Al Qur’an menyebutkan bahwa Allah swt memerintahkan kepada Nabi Ayyub agar mengambil seikat rumput untuk memukul, sehingga tidak melanggar sumpahnya. Peristiwa apakah ini?

Al Baidhawi meriwayatkan bahwa isterinya terlambat memenuhi kebutuhannya lalu ia bersumpah kalau ia sembuh akan memukulnya seratus kali, lalu Allah meluluskannya dari sumpahnya itu.

Al Alusi meriwayatkan bahwa isterinya –Rahmah binti Afriym atau Mansa binti Yusuf, atau Liya bint Ya’qub- sebagaimana perbedaan riwayat, terlambat memenuhi kebutuhannya, atau syetan sempat menggoda Nabi Ayyub sehingga ia mengucapkan kalimat kurang baik. Isterinya mengatakan : Sampai kapan bencana ini? Kalimat ini saja. Kemudian ia beristighfar kepada Rabbnya. Atau isterinya membawakan tambahan roti melebih kebiasaannya, lalu ia merasa telah berbuat dosa, lalu ia bersumpah jika sakit akan memukulnya seratus kali. Kemudian Allah menyuruhnya untuk mengambil seikat rumput. Allah swt menetapkan hal ini sebagai rahmat atas isteri Nabi Ayyub karena pelayanannya yang sangat baik.

Kami katakan: Sesungguhnya Nabi Ya’kub as tidak memiliki anak yang bernama Liya tetapi anaknya berama Dina.

Sedangkan kisah Nabi Ayyub yang ada dalam Al Qur’an, dapat kami bacakan dalam ayat-ayat berikut ini:

83. Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

84. Maka kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. QS. AL Anbiya

41. Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya Aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan".

42. (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum".

43. Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.

44. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya). QS. Shaad

Nabi Ayyub as hidup selama 93 (sembilan puluh tiga tahun). Allah karuniakan harta dan keturunan. Memiliki 26 (duapuluh enam) anak laki-laki, ada salah satunya yang bernama ”Basyar” yang sebagian ahli sejarah menyebutnya ”Dzulkifli” yang Al Qur’an mencantumkannya dalam kelompok para rasul yang mulia. Risalah Nabi Ayyub ditujukan kepada umat Romawi. Ada pula yang mengatakan bahwa ia berada di Damaskus.

Al Laiyts meriwayatkan dari Mujahid yang isinya: Bahwa di hari kiamat nanti Allah swt menjadikan Nabi Sulaiman sebagai hujjah atas para nabi, Nabi Yusuf sebagai hujjah atas para hamba sahaya, dan Nabi Ayyub menjadi hujjah atas para penerima bencana.


([1]) قصص الأنبياء للنجار .
[2] Qishashul Anbiya, Ibnu Katsir
[3] Tafsir Surah Shaad
[4] Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir-J. 1
[5] Qishashul Anbiya, An Najjar

Kisah Nabi Yahya As

Kehamilan isteri Nabi Zakariya –ahlul kitab menyebutnya ”Ilyishabat” pada masa Maryam mengandung Nabi Isa as. Dan lahirlah Nabi Yahya. Tidak ada catatan yang kami miliki maupun ahlul kitab tentang masa kecilnya, kecuali bahwa ia hidud dengan makan belalang dan minum madu daratan.

Nabi Yahya sangat menguasai ajaran Nabi Musa as, menjadi referensi bagi siapapun yang menggali hukum-hukumnya. Ada salah seorang penguasa Palestina bernama HERODES memiliki keponakan perempuan bernama HERODIA yang sangat cantik jelita. Pamanya itu ingin mempersuntingnya, anak perempuan itu bersama dengan ibunya menginginkannya, akan tetapi Nabi Yahya tidak menyetujuinya karena keduanya mahram. Penguasa itu mengetahui bahwa Nabi Yahya menghalangi keinginannya. Lalu ibu anak perempuan cantik itu mendandani putrinya kemudian diajaklah ke tempat pamannya itu, manari di hadapannya. Pamannya itu sangat senang dan meminta kepada perempuan itu untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya agar dia laksanakan. Dan ibunya sudah mengajarkan sebelum berangkat, jika pamannya mengucapkan hal itu, maka mintalah kepada Yahya bin Zakariya tersaji di atas nampan ini. Maka paman –sang penguasa itu- merealisasikannya dan membunuh Nabi Yahya.

Kaum Yahudi berbeda pendapat tentang menikahi keponakan (anaknya saudara laki-laki atau saudara perempuan); ”Rabbaniyun” memperbolehkannya dan ”Qurra’un” melarangnya. Dalil kelompok pertama adalah karena keponakan tidak disebutkan larangannya dalam Taurat.

Nabi Yahya adalah orang yang telah sempurna ketaqwaan dan kesalihannya sejak kecil. Allah swt telah menerangkan tentang Nabi Yahya:

12. ...dan kami berikan kepadanya hikmah[1] selagi ia masih kanak-kanak, QS. Maryam

Dan yang jelas bahwa Allah swt telang menganugerahkan kepadanya kesiapan untuk mengetahui hukum syariah, sehingga ia menjadi orang yang ’alim (pintar) sejak kecil. Ia telah menjadi Nabi sebelum usia tigapuluh tahun. Ia mengajak umat manusai agar bertaubat dari dosa. Ia memandikan umatnya di sungai Urdun untuk bertaubat dari dasa dan kesalahan. AL Masih menyebutnya ”YOHANA AL MA’MADAN”. Kaum Yahudi pernah ditanya apakah ia itu Al Masih? Mereka jawab: Bukan! Lalu ditanya lagi: Apakah ia seorang Nabi? Dijawab: Bukan. Mereka bertanya kepadanya : Jika engkau bukan Al Masih dan Nabi mengapa harus diikuti? Ia menjawab: Saya adalah suara keras di daratan, siapkanlah jalan Tuhan dan jadikan jalan-jalannya itu lurus.


KISAH NABI ZAKARIYA DAN YAHYA DALAM AL QUR’AN

Firman Allah dalam Al Qur’an:
1. Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad[2].
2. (yang dibacakan Ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,
3. Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
4. Ia Berkata "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku Telah lemah dan kepalaku Telah ditumbuhi uban, dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku.
5. Dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadap mawaliku[3] sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah Aku dari sisi Engkau seorang putera,
6. Yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai".
7. Hai Zakaria, Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan Dia.
8. Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan Aku (sendiri) Sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua".
9. Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan Sesunguhnya Telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali".
10. Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah Aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat".
11. Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.
12. Hai Yahya, ambillah[4] Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. dan kami berikan kepadanya hikmah[5] selagi ia masih kanak-kanak,
13. Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi kami dan kesucian (dan dosa). dan ia adalah seorang yang bertakwa,
14. Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.
15. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. QS. Maryam

37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
38. Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah Aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".
39. Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat[6] (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh".
40. Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana Aku bisa mendapat anak sedang Aku Telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?". berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya".
41. Berkata Zakariya: "Berilah Aku suatu tanda (bahwa isteriku Telah mengandung)". Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari". QS. Ali Imran

89. Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan Aku hidup seorang diri[7] dan Engkaulah waris yang paling Baik.[8]
90. Maka kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepada nya Yahya dan kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas[9]. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami. QS. Al Anbiaya

85. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. QS. Al An’am

Inilah beberapa ayat Al Qur’an tentang Nabi Yahya as

Sebelumnya Nabi Zakariya telah berdoa kepada Rabbnya agar dikarunia anak yang baik, bertaqwa dan diridhai, dari itulah ia berdoa:
Ia hanya meminta dari Allah, atas Kehendak dan Kekuasaan-Nya.

Yang mewarisi kenabian dan hukum pada Bani Israil

Sebagaimana nenek moyangnya, keturunan Nabi Ya’qub menjadi Nabi maka jadikanlah ia seorang nabi seperti mereka, mendapatkan kehormatan yang pernah Engkau berikan kepada mereka. Yang dimaksudkan di sini bukanlah warisan harta seperti dugaan sebagian orang syi’ah, yang juga disetujui oleh Ibnu Jarir dari Abu Shalih. Alasannya adalah:

Pertama;

Seperti yang telah kami sampaikan terdahulu tentang firman Allah:

16. Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud. QS. An Naml

Maksudanya adalah dalam masalah kenabian dan kekuasaan seperti yang telah disebutkan dalam hadits muttafaq alaih, bahwa Rasulullah saw bersabda:

لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَة [10]

Kami tidak diwarisi, yang kami tinggalkan adalah shadaqah

Teks ini menegaskan bahwa Rasulullah saw tidak diwarisi. Dari itulah Abu Bakr Ash Shiddiq menulah memberikan hak milik Rasulullah saw di masa hidupnya kepada seorangpun ahli warisnya, pada saat anak, isteri-isteri dan pamannya mengharapkannya. Abu Bakr Ash Shiddiq menolak memberikan warisan itu berdalil hadits ini. Riwayat dari Rasulullah saw ini disetujui pula oleh Umar bin Al Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Al Abbas bin Abdul Muththalib, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Az Zubair, Abu Hurairah, dll.

Kedua,

At Tirmidziy meriwayatkan dengan redaksi yang mencakup seluruh para nabi:

"نحن معاشر الأنبياء لا نورث" وصححه([11])

Kami para Nabi tidak diwarisi. [12]

Ketiga,

Bahwa harta dunia itu sangat hina di mata para nabi, maka sangat tidak mungkin mereka menyimpannya, mempertebutkannya, atau mengacaukan pikirannya sehingga meminta agar ada anak-anak yang menjaganya setelah kematiannya. Sesungguhnya orang yang tidak sampai kepada kedudukan mereka saja dalam zuhud tidak mempermasalahkan hal ini, meminta anak yang menjadi pewarisnya.

Keempat,

Sesungguhnya Nabi Zakariya a adalah seorang tukang kayu, bekerja dengan ketrampilannya dan makan dari hasil kerjanya, sebagaimana Nabi Daud as makan dari hasil kerjanya. Dan pada umumnya, terutama para nabi ini tidak akan memforsir dirinya dalam bekerja sehingga menyisakan peninggalan yang diwarisi generasi sesudahnya. Hal ini jelas sekali bagi siapapun yang mau merenungkannya. Insyaallah.

Imam Ahmad berkata: Yazid Ibnu Haurn bercerita kepadaku, saya mendapatkan informasi dari Hammad bin Salamah dari Tsabir dari Abu Rafi’ dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّارًا [13]

Nabi Zakariya itu adalah seorang tukan kayu,
Demikian juga yang diriwayatkan oleh imam muslim, Ibnu Majah dan banyak lagi dari Hammad bin Salamah.

Firman Allah:

39. Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat[14] (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh". QS. Ali Imran

Ketika datang kabar gembira akan dikaruniai anak, dan berita itu valid, maka ia mencari tahu, karena keterkejutan, bagaimana ia punya anak dalam keadaan seperti itu.

8. Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan Aku (sendiri) Sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua". QS. Maryam

Bagaiman akan lehir anak dari orang tua renta. Ada yang mengatakan umurnya ketika itu tujuh puluh tujuh tahun, dll, Allah Maha Mengetahui, berapa umurnya ketika itu, dan isterinya:

Sejak muda sudah mandul. Seperti yang dikatakan Nabi Ibrahim as:

54. Berkata Ibrahim: "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku Telah lanjut, Maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?" QS. Al Hijr

Sarah berkata:

72. Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah Aku akan melahirkan anak padahal Aku adalah seorang perempuan tua, dan Ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu yang sangat aneh."

73. Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." QS. Huud.

Demikianlah Nabi Zakariya mendapatkan jawaban. Malaikat yang menyampaikan perintah Allah kepadanya mengatakan:

9. Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku;

dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, Padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali". QS. Maryam

Allah berfirman:

90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas[15]. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami. QS. Al Anbiya

arti dari kata ”Ishalahuz-zaujah” pada ayat di atas adalah istrinya yang belum pernah haid (datang bulan) lalu bisa haid.

10. Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda".

Tanda yang menunjukkan bahwa wanita itu bisa hamil, mengandung anak yang dijanjikan itu.

Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, Padahal kamu sehat". QS.Maryam

Jawabannya adalah bahwa kamu akan terdiam, tidak bisa bercakap-cakap selama tiga hari, kecuali sekedar isyarat. Padahal ketika itu kamu dalam keadaan sehat fisik. Menyurunya banyak berdzikir dalam kondisi seperti itu dengan dzikir qalbi (hati) pada pagi dan petang.

Ketika telah mendapatkan kabar gembira ini ia keluar dengan senang dari mihrabnya, menemui kaumnya,

11...lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.QS. Maryam

kata ”wahyu” dalam konteks ini bermakna perintah dengan isyarat, atau tulisan seperti yang disampaikan oleh Imam Mujahid, dan As Suddiy; atau isyarat biasa seperti yang diasmpaikan oleh Imam Mujahi, Wahb, dan Qatadah. Imam Mujahid, Ikrimah, Wahb, As Suddiy dan Qatadah berkata: ”Mulutnya terkunci padahal ia tidak dalam keadaan sakit”. Ibnu Zaid berkata: Ia masih bisa membaca dan bertasbih, tetapi tidak bisa berbincang dengan sesama manusia”.

Firman Allah:

12. Hai Yahya, ambillah[16] Al kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. dan Kami berikan kepadanya hikmah[17] selagi ia masih kanak-kanak, QS.Maryam

Allah swt memberitahukan tentang kehadiran anak yang menyenangkan Nabi Zakariya. Allah swt mengajarkannya ilmu Al Kitab, dan Hikmah ketika ia masih kecil.

Abdullah bin Al Mubarak berkata: ”Anak anak kecil berkata kepada Yahya bin Zakariya: Mari kita pergi main bersama!” Yahya menjawab: ”Tidak untuk bermain aku diciptakan.” Ibnul Mubarak berkata: itulah firman Allah:

Adapun firman Allah:

13. dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). dan ia adalah seorang yang bertakwa, QS. Maryam

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Amr bin Dinar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata: ”Saya tidak mengetahui apakah Hanan itu.

Dari ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Qatadah dan Adh Dhahhak pula: وحناناً من لدنا maknanya rahmat dari sisi-Ku, Aku rahmati Zakariya dengannya, maka Aku karuniakan anak kepadanya. Dari Ikrimah وحناناً artinya cinta kepadanya. Ada juga kemungkinan maknanya adalah kasih sayang Nabi Yahya kepada sesama manusia, terutama kepada kedua orang tuanya, dalam bentuk cinta, kasih sayang dan berbakti kepada keduanya.

Kemudian Al Qur’an menerangkan kebaikan Nabi Yahya kepada kedua orang tuanya, dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangannya, meninggalkan kedurhakaan kepada keduanya dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Firman Allah:

14. dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.

15. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. QS. Maryam

Inilah tiga waktu yang sangat berat bagi manusia. Perpindahan dari satu alam ke alam lain; meninggalkan kehidupan yang telah menjadi kebiasaan, lalu menuju kepada kehidupan lain yang belum diketahui sama sekali. Dari itulah terdapat teriakan ketika meninggalkan alam rahim yang lembut, meninggalkan pelukannya dan menuju kepada kehidupan dunia untuk menghadapi duka deritanya.

Demikian juga ketika meninggalkan dunia ini menuju ke alam barzah –alam peralihan dari dunia ke alam keabadian- setelah lama tinggal di rumah dan gedung lalu beralih menjadi penghuni kubur, menunggu tiupan sangkakala untuk hari kabangkitan. Ada yang berbahagia dan ada pula yang berduka; sebagian masuk surga dan sebagian masuk neraka. Sungguh indah ungkapan seorang penyair yang bersenandung:

ولدتك : أمك باكيا مســتصرخا والناس حولك يضحكون سرورا

فاحرص لنفسك أن تكون إذا بكوا في يوم موتك ضاحكا مسرورا

Ibumu melahirkanmu, kamu menangis berteriak dan orang di sekelilingmu tertawa berbahagia. Maka berusahalah semaksimal mungkin untuk dirimu sendiri, ketika mereka menangis pada hari kematianmu, sedangkan kamu tertawa berbahagia.

Ketika tiga sitauasi ini menjadi moment yang sangat berat bagi setiap manusia, Allah berikan keselamatan bagi Nabi Yahya dalam ketika momentum itu.

Said bin Abi Arubah dari Qatadah berkata: bahwa Al Hasan berkata: ”Sesungguhnya Nabi Yahya dan Isa bertemu. Nabi Isa berkata kepadanya: Mintakan ampunan untukku, karena engkau lebih baik daripada diriku. Nabi Yahya menjawab: Engkau lebih baik dariku. Nabi Isa berkata: Engkau lebih baik dariku, Aku memberi salam atas diriku sendiri, sedangkan Alla meberi salam atasmu. Keduanya menyadari kemuliaannya.

Adapun firman Allah:

39.... menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi Termasuk keturunan orang-orang saleh". QS. Ali Imran

Maksud ”Al Hashur” adalah yang tidak berhubungan dengan wanita. Adapula yang mengatakan lain, yaitu seperti firman Allah:

38...."Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. QS. Ali Imran

Muhammad ibn Ishaq dari Yahya bin Said Al Anshariy, dari Said bin Al Musayyib, telah menyampaikan kepadaku Abnu Al Ash, bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda:

"كل ابن آدم يأتي يوم القيامة وله ذنب إلا ما كان من يحيى بن زكريا".

Semua Bani Adam (manusia) akan datang di hari kiama nanti dengan dosanya kecuali Nabi Yahya bin Zakariya.

Adurrazzaq mengatakan hadits ini dari Muammar, dari Qatadah, dari Said bin Al Musayyib, bernilai mursal. Kemudian Ibnu Asakir merilisnya dari Abu Usamah dari Yahya bin Said Al Anshariy. Ibnu Asakir meriwayatkan pula dari jalur Ibrahim bin Al Jauz Jani, khatib Damaskus, dari Muhammad bin Al Ashbahaniy dari Khalid al Ahmar dari Yahya bin Said dari Said bin Al Musayyid dari Abdullah bin Amr berkata:

ما أحد إلا يلقى الله بذنب إلا يحيى بن زكريا.

Tidak ada seorangpun yang bertemu Allah kecuali dengan membawa dosanya, kecuali Nabi Yahya bin Zakariya. Kemudian ia membaca ayat: وسيداً وحصوراً kemudian ia ambil tanah dan berkata: Ia tidak lebih dari seperti ini, kemudian ia dibunuh.

Dari jalur inipun hadits ini mauquf. Dan derajat mauquf bagi hadits ini lebih kuat daripada marfu’.

Ibnu Asakir merilisnya dari jalur Muammar, dari hadits Ishaq bin Basyar yang dhaif, dari Utsman bin Saj dan Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Ma’dan dari Mu’adz dari Nabi saw senada dengan hadits di atas.

Diriwayatkan pula dari jalur Abu Daud At Thayalisi dll, dari Al Hakam bin Abdurrahman bin Abi Nu’aim dari ayahnya dari Abu Said berkata: Rasulullah saw bersabda:

"الحسن والحسين سيدا شباب أهل الجنة إلا ابني الخالة يحيى وعيسى عليهما السلام"([18]

Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda ahluljannah kecuali dua anak bibi Yahya dan Isa alaihimassalam.

Israil mengatakan dari Abu Hushain dari Khaitsamah berkata:

كان عيسى ابن مريم ويحيى بن زكريا ابني خالة وكان عيسى يلبس الصوف، وكان يحيى يلبس الوبر ولم يكن لواحد منهما دينار ولا درهم ولا عبد ولا أمة ولا مأوى يأويان إليه، أين ما جنهما الليل أويا، فلما أرادا أن يتفرقا قال يحيى: أوصني. قال: لا تغضب. قال: لا أستطيع إلا أن أغضب. قال: لا تفتن مالا. قال: أما هذه فعسى.

Nabi Isa ibn Maryam dan Yahya ibn Zakariya adalah dua anak bibi. Nabi Isa pernah memakai kain wol, dan Nabi Yahya memakai kain berbulu. Keduanya tidak ada yang memiliki dinar maupun dirham, tidak memiliki budak laki-laki atau perempuan, tidak juga punya rumah tinggal. Di manapun ia kemalaman di situlah tempat menginapnya. Ketika keduanya ingin berpisah Nabi Yahya berkata: Berikan wasiat kepadaku. Kata Nabi Isa: Jangan marah! Kata Nabi Yahya: Saya tidak akan sanggup untuk tidak marah. Kata Nabi Isa: Jangan tergoda oleh harta benda! Kata Nabi Yahya: Kalau yang ini semoga saya mampu.

Terdapat perbedaan riwayat dari Wahb bin Munabbih. Apakah Nabi Zakariya itu mati biasa atau terbunuh? Terdapat kedua riwayat ini.

Abdul Mun’im bin Idris bin Sinan meriwayatkan dari ayahnya, dari Wahb bin Munabbih yang berkata:

هرب من قومه فدخل شجرة فجاءوا فوضعوا المنشار عليهما، فلما وصل المنشار إلى أضلاعه أنَّ، فأوحى الله إليه: لئن لم يسكن أنينك لأقلبن الأرض ومن عليها. فسكن أنينه حتى قطع بائتين

Ia meniggalkan kaumnya, lalu masuk ke sebuah pohon, lalu kaumnya datang dan menggegaji pohon itu. Ketika gergaji itu mengenai rusuknya ia merintih. Lalu Allah swt sampaikan kepadanya: Jika tidak berhenti rintihanmu maka akan Aku balikkan bumi ini bersama dengan semua yang ada di atasnya. Lalu ia menghentikan rintihannya sehingga ia terpotong total.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Affan dari Abu Khalaf Musa bin Khalaf, dari Yahya ibn Katsir, dari Zaid bin Salam dari kakeknya dari Al Harits Al Asy’ariy, bahwa Nabi bersabda:

Sesungguhnya Allah swt menyuruh Nabi Zakariya dengan lima perintah untuk ia kerjakan dan menyuruh Bani Israil untuk mengerjakannya. Ia agak lambat, lalu Nabi Isa mengatakan kepadanya: Sesungguhnya engkau telah diperintahkan Allah dengan lima perintah agar engkau mengamalkannya dan menyuruh Bani Israil untuk mengamalkannya, maka kamu yang menyampaikannya atau aku yang menyampaikannya. Ia menjawab: Wahai saudaraku, sesungguhnya saya takut jika engkau mendahuluiku aku akan terkena adzab atau dibinasakan. Kemdian Nabi Yahya mengumpulkan Bani Israil di Baitul Maqdis sehingga memenuhi masjid, lalu ia duduk memuji Allah lalu berkata: Sesungguhnya Allah swt menyuruhky dengan lima perintah yang harus saya kerjakan, dan menyuruh kalian semua untuk mengerjakannya. Pertama, Hendaklah kalian menyembah Allah tidak mensekutukan dengan apapun. Sesungguhnya perumpamaan hal ini adalah seperti orang yang membeli budak dari uangnya emas atau peraknya sendiri, kemudian budak itu bekerja dan menyerahkan hasil pekerjaannya itu kepada orang lain. Siapa di antara kalian yang mau memiliki budak seperti itu. Sesungguhnya Allah telah memberikan rizki kepada kalian maka sembahlah Ia dan jangan mensekutukan dengan apapun. Aku menyuruh kalian menegakkan shalat, sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya selama hamba itu itu memalingkan wajahnya, maka janganlah kau palingkan wajahmu jika kamu shalat. Aku menyuruh kalian berpuasa, karena sesungguhnya hal ini seperti seseorang yang membawa sebotol minyak wangi (misk), semuanya merasakan aromanya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum aromanya di sisi Allah melebihi aroma misk. Aku menyuruh kalian bersedekah, karena hal ini seperti seseorang yang menjadi tawanan musuh lalu ia ikat tangannya sampai ke lehernya dan dihadapkan untuk dipukul lehernya. Lalu ia berkata: Apakah boleh saya menebus diriku ini agar lepas dari kalian, lalu ia menebus dirinya dengan apa yang dia punya sehingga ia melepaskan dirinya. Aku menyuruh kalian untuk berdzikir kepada Allah, hal ini seperti seseorang yang dicari musuh lalu berlindung di balik benteng, dan orang yang paling terlindung dari syetan adalah yang paling banyak berdzikir kepada Allah.

Al Harits al Asy’ariy berkata: dan Rasulullah saw bersabda:

"وأنا آمركم بخمس الله أمرني بهن: بالجماعة والسمع والطاعة والهجرة والجهاد في سبيل الله، فإن من خرج عن الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه إلا أن يرجع، ومن دعا بدعوى الجاهلية فهو من حثي جهنم" قال: يا رسول الله .. وإن صام وصلى؟ قال: "وإن صام وصلى وزعم أنه مسلم، ادعوا المسلمين بأسمائهم بما سماهم الله عز وجل المسلمين المؤمنين عباد الله عز وجل"([19])

Dan saya menyuruh kalian lima hal, yang Allah telah memerintahkannya kepadaku: yaitu berjamaah, mendengar, taat, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah. Karena sesungguhnya orang yang keluar dari jamaah sejengkal saja, maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya, kecuali jika ia kembali (berjamaah). Dan barang siapa menyerukan dengan seruan jahiliyah maka ia telah mencampakkan dirinya ke dalam jahannam. Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, meskipun ia puasa dan shalat? Jawab Nabi: Meskipun ia puasa dan shalat, dan menganggap dirinya muslim. Panggilah kaum muslimin dengan nama mereka, dengan nama yang telah Allah berikan kepada mereka, al muslimin, al mukminin, hamba-hamba Allah.

Kemudian Al Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Abdullah bin Abi Ja’far Ar Raziy dari ayahnya, dari Ar Rabi’ bin Anas, berkata, beberapa orang sahabat Rasulullah saw menuturkan kepada kami dari apa yang mereka dengar dari para ulama Bani Israil, bahwa Yahya bin Zakariya mengajarkan lima perintah itu seperti yang disebutkan di atas. Mereka sebutkan bahwa Nabi Yahya alaihissalam banyak menyendiri dari umat manusia. Ia merasa berbahagian hidup di pedalaman, makan daun pepohonan, minum air sungai, kadang makan belalang. Pernah bertanya pada dirinya sendiri:

من أنعم منك يا يحيى؟!

Siapakah yang lebih nikamt daripada dirimu wahai Yahya?

Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa kedua orang tuanya pernah mencarinya lalu menemukannya di tepi laut Urdun, ketika sudah bertemu dengannya Nabi Yahya membuat keduanya menangis dengan sangat keras, karena melihat ibadah dan takutnya Nabi Yahya kepada Allah swt.

Ibnu Wahb mengatakan dari Malik, dari Humaid bin Qais dari Mujahid berkata:

كان طعام يحيى بن زكريا العشب، وإنه كان ليبكي من خشية الله حتى لو كان القار على عينيه لخرقه

Makanan Nabi Yahya adalah rerumutan, dan sesungguhnya ia pernah menangsi karena takut kepada Allah jika di matanya diteteskan minyak tentu akan terbakar.

Muhammad bin Yahya Adz Dzuhaliy berkata dari Al Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab berkata: suatu hari saya duduk di samping Abu Idris Al Khaulaniy yang sedang bercerita: Maukah aku sampaikan kepada kalian tentang orang yang paling baik makanannya? Ketika orang-orang memandanginya ia berkata: Yahya ibn Zakariya adalah orang yang paling baik makanannya, ia hanya makan bersama dengan para binatang karena tiadk ingin bercampur dengan penghidupan kebanyakan manusia.

Ibnu AL Mubarak berkata dari Wahb bin Al Wurd berkata: Nabi Zakariya kehilangan anaknya –Nabi Yahya- selama tiga hari lalu Nabi Zakariya berusaha mencarinya di dataran, dan Nabi Yahya sedang menyiapkan kuuran, duduk di sana dan menangisi dirinya sendiri. Nabi Zakariya berkata: Wahai anakku...saya telah mencarimu sejak tiga hari yang lalu, dan kamu menangisi dirimu di sisi kuburan? Nabi Yahya menjawab: Wahai ayahku bukankah engkau yang telah memberitahukan kepadaku bahwa di antara surga dan neraka itu tidak ada yang dapat memperoleh kesuksesan kecuali dengan air mata. Nabi Zakariya berkata: Menangislah wahai anakku, lalu keduanya menangis semua. Hal ini dikisahkan oleh Wahb bin Munabbih dan Mujahid.

Ibnu Asakir meriwayatkan pula:

إن أهل الجنة لا ينامون للذة ما هم فيه من النعيم

Sesungguhnya penghuni surga itu tidak tidur karena kelezatan nikmat yang mereka terima.

Maka demikianlah seharusnya para shiddiqin, agar tidak tidur karena di hati mereka terdapat nikmat cinta Allah swt.

Disebutkan bahwa Nabi Yahya itu sangat banyak menangis sehingga terdapat bekas tangisan itu di kedua pipinya karena banyaknya air mata.


PENYEBAB PEMBUNUHAN NABI YAHYA AS

Banyak yang menyebutkan tentang penyebab pembunuhan Nabi Yahya, dan yang populer adalah, bahwa ada di antara penguasa zaman itu di Damaskus yang ingin menikah dengan mahramnya, atau orang yang tidak boleh dinikahinya. Lalu Nabi Yahya mencegahnya, sehingga membuat wanita itu dendam di hatinya. Maka tatkala wanita itu disuruh minta sesuatu oleh penguasa, ia meminta darah Nabi Yahya. Lalu penguasa itu memberikannya, penguasa itu menyuruh orang untuk membunuhnya dan membawa kepala dan darahnya kepada wanita itu, lalu wanita itu mati seketika itu pula.

Ada yang mengatakan bahwa isteri penguasa itu mencintai Nabi Yahya, tetapi Nabi Yahya menolaknya. Maka ketika seudah putus asa mendapatkannya, ia mereka yasa dengan meminta penguasa itu untuk membunuhnya, semula penguasa itu menolak, tetapi kemudian mengabulkan, dan menyuruh orang untuk membunuhnya membawakan kepala dan darahnya di atas nampan.

Makna hadits ini terdapat pula dalah riwayat Ishaq bin Bisyr dalam kitab ”Al Mubtada’” dengan mengatakan: telah menyampaikan kepadaku Ya’kub AL Kufiy dari Amr bin Maimun, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw pada malam isra’nya bertemu denga Nabi Zakariya di langit lalu memberikan salam kepadanya dan berkata kepadanya: Wahai Abu Yahya..Ceritakan kepadaku bagaimana engkau terbunuh dan mengapa Bani Israil membunuhmu? Barkata Nabi Zakariya: Wahai Muhammad.. aku beritahukan kepadamu bahwa Nabi Yahya adalah orang terbaik pada zamannya, orang yang paling tampan dan cerah wajahnya, ia seperti yang Allah sampaikan (سيداً وحصورا ) ia tidak punya hajat kepada wanita, tetapi ada siteri raja Bani Israil yang menyukainya –wanita lacur- wanita itu mendatanginya dan Allah menjaga Yahya, ia menolak keinginannya, lalu wanita itu bertekad membunuh Yahya. Bani Israil memiliki hari raya setiap tahunnya, dan raja punya kebiasaan menjanjikan sesuatu yang tidak diingkari. Ketika raja menghadiri perayaan tahunan itu, istrinya mengantarnya, dan raja terkagum dengan penampilan isterinya yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Ketika sudah selesai mengantar, raja berkata kepada isterinya: Mintalah sesuatu kepadaku, apapun yang kau minta pasti akan aku berikan. Wanita itu bekata: Saya ingin darah Yahya bin Zakariya. Raja itu berkata: Mintalah yang lain. Wanita itu berkata: Hanya itu saja. Kata raja: Ya terserah kamu. Maka raja mengutus para algojonya mendatangi Nabi Yahya yang sedang shalat di mihrabnya, dan saya sedang shalat pula di sampingnya. Lalu algojo itu membunuhnya dan membawa kepala dan darahnya di atas nampan. Rasululla bertanya: Bagaimana kesabaranmu ketika itu? Nabi Zakariya menjawab: Aku tidak berpaling dari shalatku.

Maka ketika kepala Nabi Yahya dibawa ke hadapan wanita itu pada sore hari itu, Allah hancurkan raja itu dan keluarganya. Dan ketika pagi hari Bani Israil berkata: Tuhannya Nabi Zakariya telah murka membela Nabi Zakariya, maka marilah kita bela raja kita, kita bunuh Nabi Zakariya.

Lalu mereka berangkat mencarikua untuk membunuhku, datang peringatan kepadaku, lalu aku lari meninggalkan mereka, dan iblis di depan mereka menunjukkan kepadaku. Dan ketika aku sudah tidak berdaya sebuah pohon memanggilku dan berkata: Kemarilah, pohon itu membukakan untukku dan aku memasukinya. Iblis datang menarik ujung selendangku dan pohon itu telah rapat kembali sehingga ujung selendangku tertinggal di luar pohon. Datanglah Bani Israil dan iblis berkata kepada mereka: Tidakkah kalian lihat ia masuk ke dalam pohon ini. Inilah ujung selendangnya, ia masuk dengan ilmu sihirnya. Bani Israil berkata: Kita bakar saja pohon ini. Kata Iblis: belah saja dengan gergaji sehingga benar-benar terbelah. Maka Bani Israil itu membelah pohon itu.

Rasulullah bertanya kepada Nabi Zakariya: apakah engkau merasakan sakit? Jawab Nabi Zakariya: Tidak. Pohon itu yang merasa sakit.

Ibnu Katsir mengatakan: redaksi ini sangat aneh, mengaitkannya kepada Nabi adalah kemunkaran. Dan tidak ditemukan kisah Nabi Zakariya dalam hadits Isra kecuali hadits ini. Dan yang mahfuzh (terjaga) dalam kalimat yang shahih dalam hadits Isra adalah:

فمررت بابني الخالة يحيى وعيسى وهما ابنا الخالة.

Lalu aku melewati anak bibiu Yahya dan Isa, keduanya adalah anak bibiku. Jumhurul ulama menerangkan seperti dalam redaksi hadits itu karena Ibu Nabi Yahya Asyba’ bint Imran adalah saudara perempuan Maryam bin Imran. Ada pula yang mengatakan bahwa Asyba’ isteri nabi Zakariya, ibu Nabi Yahya adalah saudar perempuan Hannah isteri Imran ibu Maryam. Maka Nabi Yahya adalah anak bibinya Maryam, wallahu a’lam.

Kemduian terjadi beda pendapat tentang tempat pembunuhan Nabi Yahya, apakah di Masjidil Aqsha atau masjid lain. Ada dua pendapat: Ats Tsaury dari Al A’masy dari Syamlah bin Athiyyah berkata: telah di bunuh di atas batu besar yang ada di Baitul Maqdis itu tujuh puluh orang nabi di antaranya adalah Nabi Zakariya as.

Abu Ubaidah AL Qasim bin Salam, mengatakan dari Abdullah bin Shalih dari Al Laits dari Yahya bin Said dari Said bin Al Musayyib berkata: Ketika Bukhtanshshar datang ke Damaskus, ia mendapati darah Nabi Yahya bin Zakariya yang mendidih, ia bertanya tentang hal ini lalu mereka menberitahukan kepadanya. Lalu ia membunuh tujuh puluh ribu orang karena pembunuhan Nabi Yahya. Inilah sanad shahih kepada Said bin Al Musayyib. Riwayat ini mengindikasikan bahwa Nabi Yahya terbunuh di Damaskus. Dan kisah Bukhtanashshar itu terjadi setelah masa Al Masih, demikian menurut Imam Atha’ dan Hasan Al Bashriy. Wallahu a’lam.

Al Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Al Walid bin Muslim dari Yazid bin Waqid, berkata: Kami melihat kepala Nabi Yahya ibn Zakariya ketika mereka hendak membangun masjid Damaskus, ketika kepala itu dikeluarkan dari salah satu sudut kiblat yang berdampingan dengan mihrab di sisi timur. Kulit dan rambut masih utuh, tidak berubah. Dalam riwayat lain disebutkan: Sepertinya ia baru dibunuh saat itu. Disebutkan pula dalam pembanguan masjid Damaskus bahwa kepala Nabi Yahya diletakkan di bawah tiang yang dikenal dengan nama ”amud Sakasikah” wallahu a’lam.

Al Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan pula dalam buku ”Al Mustaqsha fi fadhailil-aqsha” dari jalur Al Abbas bin Shabah, dari Marwan, dari Said bin Abdul Aziz, dari Qasim mantan budak Muawiyah, berkata: Raja kota Damaskud ini dahulu bernama Haddad bin Haddar, ia menikahkan anaknya dengan anak saudaranya Ariel –ratu Shaida-, dan di antara wilayah kekuasaannya adalah Suqul Muluk di Damaskus. Anaknya ini telah bersumpah menceraikan isterinya tiga kali. Kemudian ingin ruju’ kembali, lalu bertanya kepada Nabi Yahya bin Zakariya, yang menjawab: Tidak boleh, sehingga wanita itu menikah dengan lelaki selainmu. Lalu wanita itu dendam kepada Nabi Yahya dan meminta kepada raja untuk mendapatkan kepala Nabi Yahya bin Zakariya, hal ini didukung pula oleh ibunya. Semula raja itu menolaknya, namun akhirnya mengabulkan permintaan ini, menyuruh orang untuk membunuhnya yang sedang shalat di masjid Jabrun, lalu dibawa kepalanya dengan nampan. Kepala itu masih berbicara: Tidak halal baginya sehingga ia menikah dengan lelaki lain. Wanita itu mengambil nampan dan membawanya ke hadapan ibunya, dan kepala itu masih mengucapkan seperti tadi. Ketika kepala itu sudah sampai di hadapan ibunya, wanita itu amblas ditelan bumi dari kaki sampai pinggang, ibunya berteriak, dan para dayang histeris memukuli wajahnya sendiri, kemudian terus amblas sampai ke pundaknya, lalu ibunya menyuruh para algojo untuk memenggal lehernya agar masih dapat memperoleh kepalanya. Para algojo melakukannya dan bumi segera menelan bangkai badan itu seketika. Mereka mengalami kehinaan dan kebinasaan. Dan darah Nabi Yahya masih terus mendidih sehingga datang Bukhtanshshar, lalu membunuh tujuh puluh lima riu orang.

Said ibn Abdul Aziz berkata: Itulah darah semua nabi. Tidak berhenti mendidih sehingga Armiya bertindak, ia mengatakan: Wahai darah... saya akan binasakan, lalu darah itu berhenti mendidih dengan izin Allah. Ia angkat pedang, dan berlarianlah orang-orang dari Damskus menuju ke Baitul Maqdis, Armiya mengerjarnya dan berhasil membunuh mereka.


أسئلة ومناقشات وعبر

EVALUASI DAN PELAJARAN PENTING

Kehadiran Nabi Yahya lewat doa ayahnya (فهب لي من لدنك وليا ) sehingga isterinya hamil, dan Maryam juga hamil Isa ibn Maryam pada waktu yang bersamaan. Apakah kelahiran Yahya dari ayah ibu yang sudak lanjut usia menjadi pendahuluan bagi kelahiran Nabi Isa yang tanpa ayah, memberikan pesan bagi Nabi Zakariya yang menjadi pengasuh Maryam agar tidak menolak ketika Maryam melahirkan Nabi Isa.

Kehidupan Nabi Yahya di masa kecilnya tidak disebutkan dalam Al Qur’an maupun dalam Al Kitab, khususnya di masa kanak-kanaknya. Dari itulah banyak pendapat dan cerita-cerita fiktif. Bolehkah kita mengikuti kisah-kisah itu, atau mencukupkan diri pada apa yang ada dalam Al Qur’an dan dari Rasulullah saw?

Apakah doa yang tulus kepada Allah agar mendapatkan karunia anak bagi orang yang belum memiliki anak berguna untuk orang-orang shalih dan ahli istighfar. Firman Allah:

apakah pendekatan medis pada zaman sekarang ini untuk bisa melahirkan dan hamil, merupakan salah satu bentuk pertolongan Allah, dengan syarat yang diterima oleh para ulama? Apakah kisah Nabi Yahya dan kelahirannya menginspirasikan hal ini?

Apakah warisan Nabi Yahya dari Nabi Zakariya berupa warisan harta, atau ilmu, pemahaman dan kenabian, seperti yang warisan Nabi Sulaiman dari Nabi Daud as?

Apakah harta para nabi itu boleh diwarisi (oleh keluarganya) atau tidak boleh diwarisi, karena hadits Nabi : Kami para nabi tidak diwarisi, yang kami tinggalkan semuanya shadaqah”. Kenapa demikian? Uraikan alasannya.

Nabi Yahya adalah orang yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, taat kepada keduanya dalam ucapan maupun perbuatan. Hal ini merupakan sikap yang layak dipuji, Mengapa?

Kenapa Allah berikan salam kepada Yahya dalam tiga waktu, seperti yang disebutkan dalam ayat: سلام عليه يوم ولد ويوم يموت ويوم يبعث حيا

Apa makna ungkapan Nabi Isa kepada Nabi Yahya: سلمت على نفسي، وسلم الله عليك؟

Apakah betul bahwa Nabi Yahya itu tidak memiliki dosa? Kenapa?

Apakah Nabi Yahya bin Zakariya dan Nabi Isa bin Maryam itu orang fakir yang memakai kain kasar, tidak memiliki dinar maupun dirham, tidak punya budak, tempat tinggal untuk menginap?

Mampukah kamu menyebutkan pesan Nabi Isa ibn Maryam kepada Nabi Yahya ibn Zakariya.

Allah swt memerintahkan lima perintah kepada Nabi Yahya ibn Zakariya untuk dikerjakan, dan memerintahkan kepada Bani Israil untuk mengerjakan pula, apa saja lima perintah itu? Sampaikan kepada teman-temanmu, dan jadikan kelima hal itu menjadi pelajaran untuk diajarkan kepada umat manusia

Rasulullah saw menambahkan dari kelima perintah itu dengan lima perintah lain, apa saja lima perintah Rasulullah saw? Apakah yang telah diperintahkan Nabi Yahya berlaku mengikat bagi kita, karena Rasulullah saw mengakuinya sehingga menjadi syariat kita, dan sejalan dengan ajaran agama kita?

Disebutkan tentang makanan Nabi Yahya adalah makanan terbaik. Mengapa demikian?

Mungkinkah seorang muslim hari ini terputus dengan kehidupan duniawi seperti yang dilakukan Nabi Yahya ibn Zakariya, ataukah hal ini hanya sikap rahib masa lalu, dan kita diperintahkan yang lain?

Rasulullah saw pernah menegur orang yang ingin seperti rahib, satu diantaranya mengatakan: saya akan puasa sepanjang waktu dan tidak berbuka; yang lainnya berkata: saya akan qiyamullail dan tidak tidur, dan yang lain berkata: saya tidak akan menikah. Rasulullah temui mereka, menanyakan kepadanya: Kaliankah yang mengatakan begini-begini? Mereka jawab: Ya. Kata Rasulullah: Kalau saya berpuasa dan berbuka, qiyamullail dan tidur, dan menikah. Inilah sunnahku dan barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka tidaklah termasuk ummatku.

Diriwayatkan bahwa Sahl bin Abi Umamah menceritakan bahwa ia bersama dengan ayahnya menemui Anas bin Malik di Madinah apada masa Umar bin Abdul Aziz yang sedang menjadi amir, dan shalat dengan shalat yang cepat, seperti shalatnya musafir. Ketika usai shalat –salam- ia bertanya: Semoga Allah merahamtimu, ini shalat maktubah (fardhu) atau shalat sunnah nafilah? Umar menjawab: ini adalah shalat maktubah, dan inilah shalat Rasulullah saw, tidak ada yang salah, kecuali sedikit saja saya lupa bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

"لا تشددوا على أنفسكم فيشدد الله عليكم فإن قوما شددوا على أنفسهم فشدد الله عليهم فتلك بقاياهم في الصوامع والديارات رهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم" ثم غدوا من الغد فقالوا نركب فننظر ونعتبر قال نعم فركبوا جميعاً فإذا هم بديار قفر قد باد أهلها وانقرضوا وفنوا خاوية على عروشها فقالوا أتعرف هذه الديار؟ قال ما أعرفني بها وبأهلها هؤلاء أهل الديار أهلكهم البغي والحسد إن الحسد يطفئ نور الحسنات والبغي يصدق ذلك أو يكذبه والعين تزني والكف والقدم والجسد واللسان والفرج يصدق ذلك أو يكذبه

Janganlah kamu memberatkan pada dirimu sendiri, maka Allah akan memberatkanmu. Sesungguhnya ada kaum yang telah memberatkan pada diri mereka sendiri lalu Allah beratkan mereka. Inilah sisa-sisa mereka di sinagog dan wihara. Kerahiban yang mereka buat-buat, yang tidak pernah Kami wajibkan kepada mereka.

Kemdian keesokan harinya mereka berkata: kita naik kendaraan kita jalan-jalan dan mengambil pelajaran. Jawab Nabi: Ya. Kemudian mereka berkendaraan semua, sampai melintasi kampung yang sudah hancur binasa tidak berpenghuni. Mereka bertanya: Ini kampung apa? Jawab Nabi: Yang saya ketahui, ini adalah kampung yang telah binasa oleh permusuhan dan rasa iri. Sesungguhnya sifat iri itu memadamkan cahaya kebaikan, kemudian permusuhan membenarkannya atau mendustakannya. Mata itu berzina, demikian juga tangan, kaki, fisik, muut, dan kemaluan membenarkan atau mendustakan.

Imam Ahmad berkata: telah menyampaikan kepadaku Mua’ammar, Abdulah, Sufyan dari Zaid Al Amiy dari Abu Iyas dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda:

"لكل نبي رهبانية ورهبانية هذه الأمة الجهاد في سبيل الله عز وجل"

Setiap Nabi itu memiliki kerahiban dan kerahiban umatku ini adalah jihad di jalan Allah.

Al Hafizh Abu Ya’la meriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad bin Asma, dari Abdullah bin AL Mubarak, dengan kalimat seperti di atas.

Imam mengatakan, telah menyampaikan kepadaku Husain –yaitu Ibnu Muhammad-, Iyas bin Ismail dari Al Hajjaj bin Harun AL Kila’iy dan Uqail bin Mudrik As Salamiy dari Abu Said Al Khudzruy ra. Bahwa ada seorang lelaki datang menemuinya dan berkata: Berikan wasiat kepadaku. Jawabnya: Kamu meminta sesuatu yang pernah aku minta kepada Rasulullah saw sebelumnya:

أوصيك بتقوى الله فإنه رأس كل شيء وعليك بالجهاد فإنه رهبانية الإسلام، وعليك بذكر الله وتلاوة القرآن فإنه روحك في السماء وذكرك في الأرض.

Aku wasiatkan agar kamu bertaqwa kepada Allah, karena taqwa itu adala modal segala hal. Aku wasiatkan kepadamu berjihad, karena jihad adalah kerahiban dalam Islam; aku wasiatkan kepadamu untuk berdzikir kepada Allah dan membaca Al Qur’an karena hal itu adalah aromamu di langit dan di bumi. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Umat Islam adalah umat pengamal, umat dakwah dan pembuat kebaikan.

Demikianlah Rasulullah saw pernah melihat orang yang diam berdiri di bawah terik matahari. Nabi bertanya kepadanya, lalu orang-orang mengatakan bahwa ia telah bernadzar unutk tidak berbicara dan tidak berteduh, dan berpuasa pada hari itu. Sabda Nabi:

مروه فليتكلم، وليستظل وليتم صومه، إن الله عن تعذيب هذا الفتى لغني"

Suruh ia berbicara, dan berteduh dan hendaklah ia sempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah Maha Kaya untuk memberikan siksa kepada anak muda ini.

Rasulullah ajarkan bahwa agama Islam itu adalah agama amal, kekuatan dan jihad untuk menghapus kerusakan dan menebarkan kebaikan di muka bumi, menebar kebahagiaan bagi umat manusia.

Riwayat yang kuat bahwa Nabi Yahya itu dibunuh denan zhalim. Dan beberapa riwayat menyebutkan bahwa ia dibunuh hanya untuk mendapat kepuasan seorang wanita lacur yang Nabi Yahya halangi jalur penyaluran syahwat haramnya, maka berapa banyak korban hari ini untuk memuskan syahwat para penguasa?

Diceritakan bahwa darah Nabi Yahya tidak berhenti mendidih dan menebar kutukan pada para pembunuhnya. Kami yakin bahwa para pembunuh mujahidin hari ini berada dalam situasi seperti ini. Darah para da’i terus mendidih, menebar kehancuran bagi para pembunuhnya dari semua arah. Dan Allah yang mengambil alih urusannya di akhirat. Sebutkan beberapa orang yang dibunuh dengan cara zhalim pada zaman sekarang ini. Mampukah anda menyebutkan nama-nama pembunuhnya. Mampukah anda menulis buku tentang korban-korban kezaliman sekarang ini?

Mampukah anda mengampbil pelajaran dari sejarah, menghindari kezaliman sekecil apapun, karena ia akan menyeret kepada kezaliman yang lebih besa.


[1] Maksudnya: kenabian. atau pemahaman Taurat dan pendalaman agama.
[2] ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah Karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan Hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
[3] yang dimaksud oleh Zakaria dengan mawali ialah orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusannya sepeninggalnya.Yang dikhawatirkan Zakaria ialah kalau mereka tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik, Karena tidak seorangpun diantara mereka yang dapat dipercayainva, oleh sebab itu dia meminta dianugerahi seorang anak.
[4] Maksudnya: pelajarilah Taurat itu, amalkan isinya, dan sampaikan kepada umatmu.
[5] Maksudnya: kenabian. atau pemahaman Taurat dan pendalaman agama.
[6] Maksudnya: membenarkan kedatangan seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak yaitu nabi Isa a.s.
[7] Maksudnya: tidak mempunyai keturunan yang mewarisi
[8] Maksudnya: Andaikata Tuhan tidak mengabulkan doanya, yakni memberi keturunan, Zakaria menyerahkan dirinya kepada Tuhan, sebab Tuhan adalah waris yang paling baik.
[9] Maksudnya: mengharap agar dikabulkan Allah doanya dan khawatir akan azabnya.
[10] صحيح البخاري - (ج 10 / ص 330
([11]) لم أجده في الترمذي بهذا اللفظ، الذي يفيد العموم لجميع الأنبياء كما ذكر ابن كثير، ولكن الذي في الترمذي هو لفظ "لا نورث، ما تركنا صدقة" انظر، سنن الترمذي، كتاب السير، باب ما جاء في تركة رسول الله r .
[12] Kami tidak temukan dalam At Tirmidziy redakasi yang mencakup seluruh para nabi seperti yang disebutkan Ibnu Katsir ini, tetapi kalimatnya:
 لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ
[13] مسند أحمد - (ج 18 / ص 432)
[14] Maksudnya: membenarkan kedatangan seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak yaitu nabi Isa a.s.
[15] Maksudnya: mengharap agar dikabulkan Allah doanya dan khawatir akan azabnya.
[16] Maksudnya: pelajarilah Taurat itu, amalkan isinya, dan sampaikan kepada umatmu.
[17] Maksudnya: kenabian. atau pemahaman Taurat dan pendalaman agama.
([18]) السيوطي في الجامع الصغير حديث رقم(3822) صحيح وقال، لابن ماجه والحاكم في مستدركه كلاهما عن ابن عمر، والطبراني في الكبير عن قرة .
([19]) أخرجه أحمد في مسنده 4/202 .