Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sunday, January 20, 2013

Kisah Nabi Ayyub As

Dialah Nabi Ayyub as bin Maush bin Razih keturunan Al ’Ais bin Ishaq, anak cucu Nabi Ibrahim as. Hal ini seperti yang disebutkan dalam firman Allah tentang Nabi Ibrahim:

84. Dan kami Telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing Telah kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) Telah kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, ... QS. Al An’am

Dengan mengembalikan dhamir (kata ganti) yang ada pada kata ”dzurriyyah” kepada Nabi Ibrahim bukan Nabi Nuh. Seperti yang ada dalam konteks ayat itu

Ibnu Ishaq berkata: yang benar bahwa Nabi Ayyub berasal dari Bani Israil, tidak ada sumber yang valid tentang nasabnya kecuali nama ayahnya adalah Amaush dan ibunya –seperti yang ditulis At Thabariy dan Ibnu Asakir- adalah puteri Nabi Luth bin Haran as. Dan isteri yang diupukul, seperti yang disebutkan dalam firman Allah:

44. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. QS. Shaad

bernama LIYA, puteri Nabi Ya’qub bin Ishaq as. Ada yang menyebut: Rahmah bin Afratsim bin Yusuf bin Ya’qub as –seperti yang disebutkan dalam At Thabariy.

Ada perbedaan pendapat tentang masa keberadaannya.

Ada yang menyebutkan bahwa ia sezaman dengan Nabi Musa as. Dalam Tarikh At Thabariy disebutkan bahwa ia adalah seorang Nabi pada masa Nabi Ya’qub –ayah Nabi Yusuf-. Ada pula yang mengatakan bahwa ia pada masa Nabi Sulaiman as. [1] Dalam Da’iratul Ma’arif Al Bistaniy: Ada yang menyebutkan lebih dari seratus tahun sebelum Nabi Ibrahim as. Dan pendapat ini tidak valid, karena yang jelas ia dari keturunan Ibrahim as seperti yang ada dalam surah Al An’am.

Sedangkan tempatnya ada yang menyebutkan: negeri Arab dan dia berkebangsaan Arab, atau Hauran di Syam dan mengatakannya berkebangsaan Romawi, seperti yang diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih.[2] Dalam salah satu kitab perjanjian lama, terdapat kisahnya dengan rinci. Dan pada bagian kelima dan terakhir berisi ketundukannya kepada Allah, dan kesembuahannya dari ujian, dan digantikannya harta dan keluarganya yang hilang. (Da’iratul Ma’arif, Al Bustaniy)

Al Fakh Ar Raziy dalam tafsirnya –At Tafsir Al Kabir dan Mafatihul Ghaib- mengatakan: Aku mendengar sebagian Yahudi yang mengatakan: Sesungguhnya Musa bin Imran as memiliki kitab tersendiri tentang peristiwa Ayyub. Dan kesimpulannya adalah bahwa Nabi Ayyub adalah orang yang sangat taat kepada Allah, disiplin beribadah, sangat mengagungkan perintah perintah Allah, dan sayang kepada sesama makhluk Allah, kemudian ia mengalami ujian berat[3].

Para ulama tafsir dan sejarah meriwayatkan bahwa Nabi Ayyub memiliki banyak macam harta kekayaan, hewan ternak dan hamba sahaya, tanah yang luas di Hauran (Syam), miliki keluarga dan keturunan yang banyak. Lalu semua itu hilang dan diuji fisiknya dengan berbagai macam ujian, tidak ada oragn tubuh yang selamat dari ujian itu kecuali hati dan lidahnya yang selalu berdzikir kepada Allah dengan keduanya. Dalam keadaan demikian ia tetap bersabar dan berserah diri, berdzikir kepada Allah malam dan siang, pagi dan petang. Sakitnya berkepanjangan sehingga ia orang-orang menghindarinya, diusir dari kampung halamannya, dicampakkan di tempat sampah di luar kampungnya, terkucil dari umat manusia, tidak ada seorangpun yang mendekatinya kecuali isterinya yang masih menjaga hak-haknya dan menghargai kebaikan yang pernah diberikan kepadanya, kasih sayangnya kepada dirinya. Istirinya bolak-balik menghampirinya, merawatnya dan membantu memenuhi kebutuhannya. Ketika istrinya semakin lemah, hartanya semakin habis ia bekerja membantu orang lain untuk memberi makan Nabi Ayyub, wanita itu bersabar bersamanya atas apa yang menimpanya, kehilangan harta kekayaan dan anak keturunan, musibah yang menimpa suaminya, membantu orang untuk mendapatkan upah padahal sebelumnya orag yang kaya dan penuh nikmat. Semua ini tidak menambah Nabi Ayyub kecuali semakin sabar dan berserah diri kepada Allah, bertahmid dan bersyukur sehingga ia menjadi simbol kesabaran. [4]

Para ahli sejarah meriwayatkan tentang Nabi Ayyub dengan banyak sekali riwayat. Mayoritas mereka mengambil dari Perjanjian Lama, Tafsir Taurat Yahudi, yang disebut ”Hajadah” seperti yang dikatakan Thabbarah dalam bukunya: Bersama dengan Para Nabi, inilah yang tidak diambil oleh para ulama Islam yang tsiqah, karena terlalu banyak intervensi dan perubahan.

Ada sebagian ahli tafsir yang mengkritik jenis ujian yang menimpa Nabi Ayyub. Uatad Ahmad Al Maraghi dalam tafsirnya mengatakan:

” riwayat yang menjelaskan tentang ukuran penderitaan yang menimpanya sampai pada batas yang dijauhi orang. Dan umat manusia secara umum menghindarinya dan mengusirnya dari tempatnya ke pinggir kota, tidak ada yang menemuinya kecuali isterinya yang membawakan bekal untuknya. Semua ini adalah israiliyyah yang wajib ditolak secara i’tiqadiy, karena tidak bersandar pada sumber yang valid, dan karena syarat kenabian adalah tidak memiliki cacat penyakit yang dijauhi orang. Dan jika ada penyakit itu maka tidak memungkinkannya berkomunikasi dengan ummatnya, menyampaikan syariat dan hukum agama kepada mereka”.

Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih, dan lainnya dari kalangan ulama Bani Israil dalam kisah Nabi Ayyub, cerita panjang tentang proses hilangnya harta dan anak-anaknya, serta ujian yang menimpa fisiknya. Dan Allah Yang Maha Tahu keabsahannya.[5]

Nama Nabi Ayyub as tercantum empat kali dalam Al Qur’an di tiga tempat, yaitu:

Pertama: Teks tentang pemilihan Nabi Ayyub as menerima wahyu, hal ini dalam kontek pemberitahuan bahwa wahyu Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw bukanlah bid’ah, akan tetapi serupa dengan wahyu Allah yang pernah diberikan kepada orang-orang pilihan sebelumnya, termasuk di dalamnya adalah Nabi Ayyub as.

163. Sesungguhnya kami Telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami Telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami Telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan kami berikan Zabur kepada Daud. QS. An Nisa

Kedua: Informasi bahwa Nabi Ayyub adalah keturunan Nabi Ibrahim as. Hal ini dalam pemberitahuan tentang Nabi Ibrahim, dan Hujjah (argumentasi) yang kuat dan kedudukan yang tinggi, keturuan yang shalih, seperti dalam firman Allah:

83. Dan Itulah hujjah kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. kami tinggikan siapa yang kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

84. Dan kami Telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing Telah kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) Telah kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. QS. Al An’am

Ketiga: Informasi tentang doa Nabi Ayyub kepada Rabbnya ketika mengalami penderitaan fisik, serta ujian harta dan keluarganya. Kemudian Allah kabulkan doanya, dan dibersihkan sakitnya, dikembalikan harta dan anaknya, sebagai bentuk kasih sayang. Hal ini terdapat dalam dua tempat:

83. Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

84. Maka kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. QS. Al Anbiya

41. Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya Aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan".

42. (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum".

43. Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.

44. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya). QS. Shaad

Ayat-ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya memberikan pesan:

Bahwa penyakit yang menimpa Nabi Ayyub terjadi karena ulah syetan

Jenis penyakit yang menimpa Nabi Ayyub dan cara penyembuhannya. Dalam hal ini AL Maraghi mengatakan dalam tafsirnya: jenis penyakit yang menimpanya adalah jenis penyakit kulit luar biasa seperti eksim dan sejenisnya yang melemahkan fisik dan sangat menyakitkan, akan tetapi tidak mematikan. ....

Sumpah Nabi Ayyub as yang hendak memukul isterinya dengan cambuk ketika sembuh, dan arahan Allah agar mengambil seikat rumput ketika mencambuk isterinya, agar tidak melanggar sumpahnya. Para ulama berbeda pendapat tentang sebab sumpah ini. Dan yang paling mendekati adalah bahwa ketika ia sakit, isterinya telat membantu keperluannya, lalu ia bersumpah akan mencambuk isterinya jika ia sembuh nanti dengan seratus cambukan. Dan ketika isterinya itu melayaninya dengan sangat baik maka Allah mengganti sumpahnya itu dengan sesuatu yang paling ringan. Al Maraghi mengatakan dalam tafsirnya:

”Nabi Ayyub bersumpah ketika sedang sakit akan mencambuk isterinya dengan seratus cambukan kalau ia sembuh, karena isterinya telat memenuhi sebagian kebutuhannya. Dan ketika isterinya telah berubah menjadi sangat baik pelayanannya maka Allah ganti sumpahnya itu dengan sesuatu yang paling ringan bagi Nabi Ayyub dan isterinya. Yaitu dengan menyuruhnya mengambil seikat rumput dan memukulnya sekali, menggantikan seratus kali cambukan. Hal ini menjadi salah satu jalan keluar bagi orang yang bertaqwa dan taat kepada Allah, terutama dalam hak wanita yang sabar dan baik. Inilah yang ditunjukkan Allah dalam firmannya.

44. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah... QS. Shaad

Wallahu a’lam.

AYYUB AS MENURUT AHLI KITAB

An Najjar mengatakan dalam kisah-kisah para nabi: Mereka yang mengatakan tentang keberadaan Nabi Ayyub berbeda pendapat tentang zamannya, dalam tujuh pendapat:
Sezaman dengan Nabi Musa as
Sezaman dengan para qadhi
Sezaman dengan Hasey roos, atau Azdasyir penguasa Iran
Sezaman dengan Nabi Ya’qub as
Sezaman dengan Nabi Sulaiman as
Sezaman dengan Bukhtunashshar
Sebelum masa kedatangan Nabi Ibrahim as ke Kan’an

Horn salah seorang peneliti sekte protestan berkata: sesungguhnya adanya berbagai macam anggapan ini sudah cukup menunjukkan lemahnya pendapat ini. Demikian juga mereka berbeda pendapat tentang “Ghath” negeri yang disebutkan dalam ayat pertama bab pertama buku mereka. Di wilayah mana nama negeri itu, ada tiga pendapat:
Bogart, Asbahm, Kamt dll, mengatakan bahwa itu adalah wilayah Arab
Mikayls dan Aljin mengatakan bahwa itu adalah lembah Damaskus
Lood, Maji, Heylz, dan Kud dan generrasi berikutnya mengatakan bahwa Ghath adalah nama Adumiyah

Demikian juga mereka berbeda pendapat tentang penulis kitab ini ada yang mengatakan: orang Yahudi, atau Nabi Ayyub, atau Nabi Sulaiman, atau orang yang tidak dikenal namanya sezaman dengan Sultan Mansa, atau Hezqiyal, atau Azran, atau seorang dari keluarga Yahudi, atau Nabi Musa, dst.

Kami katakan bahwa ia adalah seorang hamba Allah yang shalih. Allah menguji harta, keluarga dan fisiknya, lalu ia bersabar dengan sabar yang indah, lalu Allah berikan kesembuhan dan memberikan lebih banyak lagi dari yang pernah hilang baik keluarga maupun harta benda. Allah memujinya dengan pujian indah dalam Al Qur’an dan mengangkatnya menjadi Nabi.


CATATAN PENTING

Pertama: Banyak orang mengatakan tentang ujian Nabi Ayyub as bahwasannya jenis penyakitnya adalah penyakit yang menjijikkan dan menakutkan orang untuk mendekatinya.

Hal ini bertentangan dengan status kenabian. Para ulama ilmu tauhid menetapkan bahwa para Nabi itu bersih dari berbagai penyakit yang menyebabkannya jauh dari umat manusia. Maka bagaimana mungkin penyakit itu ada dalam statusnya sebagai Nabi?

Jawaban hal ini dari dua sisi:
Bahwa ujian sesuai dengan apa yang mereka katakan terjadi sebelum masa kenabian, dan karunia kenabian itu diberikan ketika sudah terbukti sabar dan ridha atas apa yang menimpanya.
Orang- orang yang mengatakan dengan berlebihan tentang penderitaan Nabi Ayyub hanya berpegang pada ungkapan Ahlulkitab.

Kedua: Bahwa Al Qur’an menyebutkan bahwa Allah swt memerintahkan kepada Nabi Ayyub agar mengambil seikat rumput untuk memukul, sehingga tidak melanggar sumpahnya. Peristiwa apakah ini?

Al Baidhawi meriwayatkan bahwa isterinya terlambat memenuhi kebutuhannya lalu ia bersumpah kalau ia sembuh akan memukulnya seratus kali, lalu Allah meluluskannya dari sumpahnya itu.

Al Alusi meriwayatkan bahwa isterinya –Rahmah binti Afriym atau Mansa binti Yusuf, atau Liya bint Ya’qub- sebagaimana perbedaan riwayat, terlambat memenuhi kebutuhannya, atau syetan sempat menggoda Nabi Ayyub sehingga ia mengucapkan kalimat kurang baik. Isterinya mengatakan : Sampai kapan bencana ini? Kalimat ini saja. Kemudian ia beristighfar kepada Rabbnya. Atau isterinya membawakan tambahan roti melebih kebiasaannya, lalu ia merasa telah berbuat dosa, lalu ia bersumpah jika sakit akan memukulnya seratus kali. Kemudian Allah menyuruhnya untuk mengambil seikat rumput. Allah swt menetapkan hal ini sebagai rahmat atas isteri Nabi Ayyub karena pelayanannya yang sangat baik.

Kami katakan: Sesungguhnya Nabi Ya’kub as tidak memiliki anak yang bernama Liya tetapi anaknya berama Dina.

Sedangkan kisah Nabi Ayyub yang ada dalam Al Qur’an, dapat kami bacakan dalam ayat-ayat berikut ini:

83. Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

84. Maka kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. QS. AL Anbiya

41. Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya Aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan".

42. (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum".

43. Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.

44. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya). QS. Shaad

Nabi Ayyub as hidup selama 93 (sembilan puluh tiga tahun). Allah karuniakan harta dan keturunan. Memiliki 26 (duapuluh enam) anak laki-laki, ada salah satunya yang bernama ”Basyar” yang sebagian ahli sejarah menyebutnya ”Dzulkifli” yang Al Qur’an mencantumkannya dalam kelompok para rasul yang mulia. Risalah Nabi Ayyub ditujukan kepada umat Romawi. Ada pula yang mengatakan bahwa ia berada di Damaskus.

Al Laiyts meriwayatkan dari Mujahid yang isinya: Bahwa di hari kiamat nanti Allah swt menjadikan Nabi Sulaiman sebagai hujjah atas para nabi, Nabi Yusuf sebagai hujjah atas para hamba sahaya, dan Nabi Ayyub menjadi hujjah atas para penerima bencana.


([1]) قصص الأنبياء للنجار .
[2] Qishashul Anbiya, Ibnu Katsir
[3] Tafsir Surah Shaad
[4] Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir-J. 1
[5] Qishashul Anbiya, An Najjar

No comments:

Post a Comment