Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Friday, January 18, 2013

Kisah Nabi Nuh As

Nabi Nuh as adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi setelah Idris, Syits dan Adam alahimussalam. Telah diriwayatkan hadits Rasulullah saw dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah ra pada hadits tentang syafaat bahwa manusia yang berkumpul di mahsyar berkata kepada Nuh as setelah mereka mendatangi Adam as:

يَا نُوحُ إِنَّكَ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ وَقَدْ سَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ ... (رواه البخاري).

Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, dan Allah telah menamakanmu hamba yang bersyukur. Maka mintalah syafaat untuk kami kepada Allah swt. Tidakkah engkau melihat keadaan kami?? (HR. Bukhari).

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari: “Ungkapan hadits ini bahwa Nuh adalah rasul pertama cukup membingungkan mengingat Adam as adalah nabi yang juga diberi syariat dan anak-anaknya mengikuti syariat tersebut, berarti Adam as adalah rasul pertama. Bisa jadi yang dimaksud oleh orang-orang di padang mahsyar tersebut adalah bahwa Nuh as merupakan Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, karena di masa Adam belum ada manusia lain selain Adam dan keluarganya, juga risalah Adam seperti pendidikan ayah terhadap anak-anaknya. Sehingga dipahami bahwa Nuh as adalah rasul pertama yang diutus kepada keluarganya dan orang-orang lain atau ummat lain yang berpencar tempat tinggal mereka, sedangkan Adam hanya menyampaikan risalah untuk anak-anaknya dan mereka tinggal dalam satu kawasan.”

NASAB NUH AS

Ibnu Hisyam meyebutkan dalam Sirah-nya nasab Nuh as dengan sanad sampai ke Ibnu Ishaq ia berkata: Nuh bin Lamk bin Mutawasylih bin Akhnukh (yaitu Nabi Idris menurut sebagian ulama). Dalam sanad lain yang sampai ke Qatadah bin Da’amah As-Sadusi, Qatadah menyebut Akhnukh tanpa menjelaskan bahwa dia adalah Idris, lalu beliau melanjutkan Akhnukh bin Yard bin Mihlail bin Qayin bin Anusy bin Syits bin Adam as.

JARAK ANTARA NUH DENGAN ADAM ALAIHIMASSALAM

Nabi Nuh lahir setelah seratus dua puluh enam tahun kematian Adam as seperti yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan lainnya. Menurut Ahlul Kitab (Yahudi & Nasrani) jarak antara kelahiran Nuh dan wafatnya Adam adalah seratus empat puluh enam tahun. Namun Ibnu Hibban menshahihkan sebuah riwayat dari Abu Umamah ra sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa ada seorang laki-laki berkata: “Berapakah jarak waktu antara Adam dengan Nuh?” Rasulullah saw bersabda: “sepuluh abad.” Ibnu Katsir berkata: “Riwayat ini sesuai syarat Muslim namun beliau tidak meriwayatkannya.”

Dalam shahih Bukhari dari Ibnu Abbas ra beliau berkata:

كَانَ بَيْنَ آدَمَ وَنُوْحٍ عَشْرَةُ قُرُوْنٍ، كُلُّهُمْ عَلَى الإِسْلاَمِ.

Antara Adam dan Nuh itu sepuluh qarn (kurun), semuanya beragama Islam.

Ibnu Katsir dalam Qashash Anbiya berkata:

“Jika yang dimaksud dengan kurun adalah seratus tahun sebagaimana pemahaman umum kebanyakan manusia, berarti jarak antara keduanya adalah seribu tahun. Tetapi tidak menutup kemungkinan lebih dari seribu tahun, karena Ibnu Abbas mengatakan bahwa semuanya dalam keadaan Islam sehingga mungkin saja ada beberapa abad terakhir (sebelum Nuh) manusia tidak dalam keadaan beragama Islam. Sedangkan bila yang dimaksud dengan kurun adalah satu generasi seperti firman Allah swt:

Dan berapa banyaknya generasi sesudah Nuh telah Kami binasakan. (Al-Isra (17): 17).

Kemudian, Kami jadikan sesudah mereka generasi yang lain. (Al-Mu’minun (23): 31).

Dan (Kami binasakan) kaum 'Aad dan Tsamud dan penduduk Rass[1] dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum- kaum tersebut. (Al-Furqan (25): 38).

Dan berapa banyaknya generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini. (Qaf (50): 36).

Atau seperti hadits Rasulullah saw:

خَيْرُ القُرُونِ قَرْنِي ...

Sebaik-baik generasi adalah generasiku…

Jika yang dimaksud kurun adalah generasi seperti ayat-ayat dan hadits di atas, maka umur setiap generasi pada masa itu amat panjang[2] sehingga jarak antara Adam dan Nuh adalah ribuan tahun.”

Allah swt mengutus Nuh as sebagai nabi dan rasul kepada kaumnya yang disebut Banu Rasib tatkala mereka telah menyembah berhala-berhala dan thagut[3] dan tenggelam dalam kesesatan serta kekufuran. Diutusnya beliau adalah rahmat dari Allah swt kepada hamba-hamba-Nya.

Para ulama berbeda pendapat tentang berapa usia Nuh saat diutus oleh Allah swt, salah satu pendapat menyebutkan usia beliau saat itu lima puluh tahun, pendapat lain menyebutkan tiga ratus lima puluh tahun, ada pula yang mengatakan empat ratus tahun.

PENYEBTUAN NUH DALAM AL QUR’AN

Nuh disebutkan dalam Al-Quran sebanyak 43 kali, 16 kali diantaranya disandingkan dengan penyebutan kaumnya seperti firman Allah swt:

Dan kaum Nuh sebelum itu, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka. (An-Najm (53): 52).

Al-Quran telah mengisahkan Nuh bersama kaumnya, sikap mereka terhadap Nuh dan risalahnya, akibat dari sikap mereka, dan selamatnya Nuh bersama pengikutnya dengan bahtera yang membawa mereka. Ayat-ayat yang menceritakan kisah Nuh antara lain: Al-A’raf (7) ayat 59-64, Yunus (10) ayat 71-73, Hud (11) ayat 25-49, Al-Anbiya (21) ayat 76-77, Al-Mu’minun (23) ayat 23-30, Asy-Syuara (26) ayat 105-122, Ash-Shafat (37) ayat 75-82, Al-Qamar (54) ayat 9-16, ditambah lagi ayat-ayat lain yang memuji beliau dan mencela orang-orang yang menentang beliau.

Al-Quran memfokuskan kisah Nabi Nuh as pada sisi-sisi berikut ini:

1. MIHWAR (FOKUS atau TEMA SENTRAL) RISALAHNYA

مِحْوَرُ رِسَاَلتِهِ: الدَّعْوَةُ إِلَى تَوْحِيْدِ اللهِ.

Tema sentral risalah Nuh as seperti risalah para nabi dan rasul lainnya, yakni da’wah kepada tauhidullah, pengesaan Allah swt dalam ibadah dengan tidak meyekutukanNya dengan patung, berhala, dan semua thaghut. Allah swt berfirman:

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (Al-A’raf (7): 59).

Ayat-ayat lain yang seirama adalah surat Hud (11) ayat 26, Al-Mu'minun (23) ayat 3, dan An-Nahl (16) ayat 36.

2. MANHAJ NUH AS DALAM MENYERU MANSUIA BERIBADAH KEPADA ALLAH

مَنْهَجُهُ فِي الدَّعْوَةِ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ:

· التَّكْرَارُ الْمُسْتَمِرُّ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ

· التَّلْوِيْنُ وَالتَّنْوِيْعُ فِي أُسْلُوْبِ الْخِطَابِ.

Manhaj Nuh as dalam mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah adalah sebagai berikut:
Berda'wah terus-menerus siang malam secara sirriyyah (sembunyi-sembunyi) maupun 'alaniyyah (terang-terangan).

Variasi cara penyampaian, sesekali dengan memberi kabar gembira, sesekali dengan peringatan. Kadang dengan menjelaskan bahwa ia tidak mempunyai kepentingan atas mereka dan keinginan kuatnya agar mereka selamat, kadang dengan menyentuh akal sehat mereka, kadang menyapa hati nurani, dan sesekali dengan menyadarkan lewat panca indra mereka. (Lihat surat Nuh).

3. SIKAP KAUMNYA ATAS PRIBADI DAN DA’WAHNYA

Sikap kaumnya terhadap pribadi dakwahnya adalah TAKDZIB (mendustakan) dan menyebtunya dengan sebutan yang tidak patut baginya. Mereka menyebutnya DHALAL/sesat yang tidak ada lagi kesesatan sesudahnya. Seperti firman Allah:

60. Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata". QS. Al A’raf

Tidak mengakuinya sebagai rasul karena manusia biasa seperti mereka. Mereka beranggapan kalau rasul itu harus berupa malaikat. Firman Allah:

27. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, QS. Huud.

24. Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang Ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih Tinggi dari kamu. dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat. belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) Ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. QS. Al Mukminun.

Mereka menganggapnya gila yang harus disikapi dengan sabar sampai datang ajalnya. Allah swt berfirman menceritakan ucapan mereka:

25. La tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, Maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu." QS. Al Mukminun

9. Sebelum mereka, Telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba kami (Nuh) dan mengatakan: "Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman). QS. Al Qamar.

Bahwa ia tidak diikuti kecuali oleh orang-orang terhina. Allah berfirman menceritakan ungkapan mereka:

…. dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". QS. Huud:27

111. Mereka berkata: "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?". QS. Asy Syu’ara.

Sampai pada tingkat penolakan total, tidak mau mendengarkan ucapan Nabi Nuh alaihissalam, istikbar (sombong) dan bahkan ajakan untuk mempertahankan sesembahannya dan tidak meninggalkannya untuk selama-lamanya. Firman Allah, menceritakan seruan Nabi Nuh:

6. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).

7. Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. QS. Nuh

Dan mengancamnya jika tidak menghentikan da’wahnya maka akibatnya adalah pembunuhan dengan cara dirajam (dilempar dengan batu). Firman Allah:

116. Mereka berkata: "Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam". QS. Asy Syu’ara.

4. SIKAP NABI NUH DARI PENOLAKAN DAN PENDUSTAAN MEREKA

Ketika Nabi Nuh alaihissalam melihat sikap mereka dan tidak hentinya mereka mengajak manusia untuk mensektukan Allah (syirk), yang diaktualisasikan dengan melakukan perbuatan buruk dan merusak, ia berdoa kepada Rabbnya agar membinasakan mereka, dan bertawassul dengan amal perbuatan yang telah dilakukan kepada mereka, dengan mengatakan:

5. Nuh berkata: "Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku Telah menyeru kaumku malam dan siang,

6. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).

7. Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

8. Kemudian Sesungguhnya Aku Telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan[4] ,

9. Kemudian Sesungguhnya Aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam[5]

10. Maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun-,

11. Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,

12. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

13. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?

14. Padahal dia Sesungguhnya Telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian[6] .

15. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?

16. Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?

17. Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,

18. Kemudian dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.

19. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan,

20. Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu".

21. Nuh berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya mereka Telah mendurhakaiku dan Telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka,

22. Dan melakukan tipu-daya yang amat besar".

23. Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr[7] ".

24. Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.

25. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, Maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah [8]

26. Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.

27. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma'siat lagi sangat kafir. QS. Nuh

Firman Allah:

10. Maka dia mengadu kepada Tuhannya: "Bahwasanya Aku Ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)." QS. Al Qamar

5. DUKUNGAN ALLAH SWT KEPADA NUH AS

Di sinilah Allah swt memberitahukan kepadanya agar tidak berharap banyak mereka ini akan beriman. Dan hendaklah membuat perahu, dan menunggu perintah Allah. Tandanya adalah ketika air sudah keluar dari tannut (tungku pengapian),air telah memancara dari daratan bumi lain. Ketika air sudah keluar dari tannur yang merupakan tungku api, dan ketika tanda ini sudah ada maka hendaklah ia bawa di kapal itu sepasang-sepasang, bersama denan keluarganya, kecuali orang-orang yang telah diketahui tidak akan beriman dan tidak akan selamat, dan hendaklah senantiasa meminta pertolongan Allah dalam mengemudikan kapal dan menghentikannya. Dan jika sudah selamat hendaklah memuji Rabbnya yang telah menyelamatkannya dari kaum yang zhalim, dan memohon kepada Allah untuk diturunkan di tempat turun yang baik dan diberkahi. Firman Allah:

28. Lalu kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk kami, Maka apabila perintah kami Telah datang dan tanur [9] Telah memancarkan air, Maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang Telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, Karena Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

29. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu Telah berada di atas bahtera itu, Maka ucapkanlah: "Segala puji bagi Allah yang Telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim."

30. Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah Aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat."

31. Sesungguhnya pada (kejadian) itu benar-benar terdapat beberapa tanda (kebesaran Allah), dan Sesungguhnya kami menimpakan azab (kepada kaum Nuh itu). QS. Al Mukminun.

36. Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang Telah beriman (saja), Karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.

37. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

38. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, Maka Sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (Kami).

39. Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal."

40. Hingga apabila perintah kami datang dan dapur [10] Telah memancarkan air, kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang Telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

41. Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Huud.

6. AKHIR EPISODE DUA KUBU INI

Nabi Nuh menunaikan perintah Rabbnya dan membuat kapal. Setiap kali ada kaumnya yang melintasinya mereka mencemoohnya, dan Nabi Nuh bersabar menerima cemoohan itu, dengan menjelaskan bahwa cemoohan itu akan menimpa mereka pada saat mereka ditimpa kehinaan dan adzab pedih. Firman Allah:

38. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, Maka Sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (Kami).

39. Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal." QS. HUud.

Datanglah perintah Allah, dan hujan turun dari langit, mata air memancar dari bumi sehingga air itu memenuhi tannur. Nabi Nuh naik kapalnya bersama dengan orang-orang yang beriman dengannya, dan sepasang-sepasang makhluk, dengan memohon prtolongan Allah, bertauban dan beristighfar. Kapal berlayar di antara ombak sebesar gunung. Nabi Nuh melihat salah seorang anaknya terpencil jauh dari kapal, lalu ia memanggilnya, agar beriman dengannya lalu naik kapal bersamanya, dan tidak bersama dengan orang kafir. Anak itu menolak dengan mengatakan, “"Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" dan ayahnya mengingatkannya, karena yakin akan akibat buruk yang dialami kaum kafir dengan mengatakan: }لا عاصم اليوم من أمر الله إلا من رحم tetapi ia menolak dan binasa bersama mereka yang binasa. Di sinilah Allah memerintahkan langit untuk berhenti menurunkan hujan, dan bumi untuk menelan airnya, maka air surut, tampaklah daratan, dan kapal itu berhenti di AL JUUDIY,nama sebuah bukit. }وقيل بعداً للقوم الظالمين Kaum yang zhalim divonis jauh dari rahmat dan ampunan Allah.

Nabi Nuh bertanya kepada Allah tentang anaknya yang binasa, dengan bersandar pada janji Allah kepadanya yang akan menyelamatkan keluarganya. Ketika itulah Allah memberitahukan kepadanya bahwa anaknya itu tidak termasuk dalam keluarganya karena kafir. Dan sesungguhnya keluarganya yang hakiki adalah ahlul iman dan amal shalih. Dan sesungguhnya tidak boleh bagi Nuh untuk meminta kepada Rabbnya apa yang tidak diketahuinya, jika tidak demikian maka termasuk orang yang jahil. Firman Allah:

40. Hingga apabila perintah kami datang dan dapur [11] Telah memancarkan air, kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang Telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

41. Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

42. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. dan Nuh memanggil anaknya,[12] sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

43. Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari Ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha penyayang". dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

44. Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan[13] dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi [14]], dandikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ."

45. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya."

46. Allah berfirman: "Hai Nuh, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya [15] perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan."

47. Nuh berkata: Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang Aku tiada mengetahui (hakekat)nya. dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya Aku akan termasuk orang-orang yang merugi."

48. Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), Kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari kami." QS. Huud.

27. Lalu kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk kami, Maka apabila perintah kami Telah datang dan tanur [16] Telah memancarkan air, Maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang Telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, Karena Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

28. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu Telah berada di atas bahtera itu, Maka ucapkanlah: "Segala puji bagi Allah yang Telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim."

29. Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah Aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat." QS. Al Mukminun.

Maka kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.
Dan kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh Telah ditetapkan.
Dan kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku,
Yang berlayar dengan pemeliharaan kami sebagai belasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).
Dan Sesungguhnya Telah kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, Maka Adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. QS. AL Qamar.

Patut kita perhatikan beberapa hal, dan yang terpenting adalah:
Bahwa sebab kaum Nabi Nuh menyembah berhala, seperti yang diriwayatkan AL Bukhari dari hadits Ibnu Juraij dari Atha’ dari Ibnu Abbas ra dalam menafsirkan firman Allah:

Ini adalah nama orang-orang shalih dari kaum nabi Nuh, maka tatkala mereka sudah wafat, syetan menyampaikan kepada kaumnya agar mendirikan tugu di tempat mereka dahulu biasa duduk, dan memberinya nama dengan nama-nama mereka. Mereka kerjakan ajakan syetan ini. dan patung-patung itu tidak disembah sehingga para pembangunnya itu mati. Dan ketika ilmu sudah tercemar maka disembahlah patung itu. Kata Ibnu Abbas ra: Patung-patung kaum nabi Nuh itu kemudian menjadi patungnya bangsa Arab. Sedangkan yang disampaikan Ibnu Jarir dalam tafsirnya dari Muhammad bin Qais, berkata: Mereka dahulu adalah orang-orang shalih antara Adam dan Nuh. Mereka memiliki banyak pengikut setia. Ketika mereka wafat para pengikutnya berkata: Jika kita gambar mereka tentu akan membuat kita lebih bersemangat ibadah ketika kita mengenangnya, lalu mereka menggambarnya. Dan ketika mereka (para penggambar) ini wafat dan datang generasi berikutnya, Iblis membsisikkan kepada mereka, dengan mengatakan: Sesungguhnya mereka dahulu menyembahnya, karena merekalah turun hujan, lalu mereka menyembahnya.

Sedangkan yang diriwayatkan Al Bukhari dari hadits Ibnu Abbas ra: Berhala-berhala yang ada pada kaum nabi Nuh kemudian menjadi berhala bangsa Arab. Wadd menjadi berhala bani Kalb di Daumatul Jandal, Suwa’ menjadi berhala suku Huzail, Yaghuts menjadi berhala suku Murad, lalu Bani Ghathif di Dajraf- Saba’. Ya’uq menjadi berhala suku Hamadan, dan Nasr menjadi berhala suku Humair, keluarga Dzil Kila’.

Tidak bisa dikatakan bahwa ini adalah sanad munqathi’ antara Atha’ Al Khurasaniy dan Ibnu Abbas, sebab Atha’ tidak pernah bertemu Ibnu Abbas. Hadits ini secara khusus –seperti yang dikatakan Ibnu Hajar (Fathul Bari) menurut Ibnu Juraij dari Atha’ al Khurasaniy, dan Atha’ bin Abi Rabah secara bersamaan. Dan tidak menjadi keharusan bagi Atha’ bin Abi Rabah yang biasanya menyampaikan hadits berkaitan dengan tafsir lalu menyampaikan hadits bab lain atau dalam forum mudzakarah. Jika tidak, maka bagaimana bisa terselip hal ini bagi AL Bukhariy yang dikenal sangat ketat dalam menetapkan syarat (ittishal) kesinambungan sanad, dan seringnya menggunakan Ali ibn Al Madiniy syaikhnya dalam masalah kelemahan sanad. Dan dialah yang mengingatkan kisah ini.

Dan di antara yang menguatkannya adalah bahwa tidak banyak takhrij (rilis) kisah ini kecuali dalam dua tempat, dan yang lainnya adalah dalam bab nikah. Jika masih samara baginya maka pasti ia akan memperbanyak takhrijnya, karena secara zhahir hadits ini telah memenuhi syaratnya.
Bahwa syubhat orang-orang yang menolak risalah Nabi Nuh adalah syubhat yang berulang-ulang digunakan untuk menolak para nabi danrasul. Mereka mengatakan kepadanya:

dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". QS Huud: 27

Dan Allah telah menyebutkan ungkapan para pendusta nabi dan rasul,

10. Berkata rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?" mereka berkata: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, Karena itu datangkanlah kepada kami, bukti yang nyata". QS. Ibrahim

Sepertinya actor intelektual yang mengendalikan syubhat ini dan menebarkannya di hati mereka adalah satu, yaitu syetan musuh manusia yang nyata.
Kemenangan menghadapi musuh terjadi karena keberadaan orang-orang lemah dan shalih, Nuh alaihissalam berkata kepada mereka:

30. Dan (Dia berkata): "Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika Aku mengusir mereka. Maka Tidakkah kamu mengambil pelajaran?[17] QS. Huud.

Dan Allah swt mengingatkan kepada Nabi Muhammad saw:

52. Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim)[18] QS. Al An’am

28. Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. QS.Al Kahfi

4. Dan yang menjadi tugas para da’I adalah tabligh (menyampaikan). Dan tabligh yang bijak adalah disertai dengan kesabaran. Adapaun masalah penerimaan bukanlah menjadi haknya. Hanya Allah saja yang berhak memilih orang-orang yang dikehendaki untuk mendapatkan hidayah dan bertaubat. Nabi Nuh berd’wah selama sembilan ratus lima puluh tahun dengan seluruh sarana dan cara yang dimilikinya, dan hasilnya:

" dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. QS Huud: 40

Bahkan Allah mengujinya lewat isteri dan anaknya, yang keduanya kafir, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Firman Allah.

42. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. dan Nuh memanggil anaknya,[19] [719] sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

43. Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari Ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha penyayang". dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. QS. Huud

10. Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat [20] kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)". QS. At Tahrim

Dan terkadang Allah swt membiarkan orang-orang zhalim dan para pendusta agar semakin bertambah dosanya, tetapi Allah tidak akan pernah melepaskannya

183. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.. QS. Al A’raf

178. Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh kami kepada mereka[21] adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. QS. Ali Imran

Dalam hadits dikatakan:

"إن الله ليملي للظالم حتى إذا أخذه لم يفلته"

Sesungguhnya Allah membiarkan orang zhalim, sehingga ketika mengambilnya, tidak akan melepaskannya.

Mereka inilah yang mendustakan Nabi Nuh alaihissalam, Allah biarkan cukup lama sehingga mereka durhaka, sombong dan menyangka bahwa mereka aman dari adzab, dan berkata kepada Nuh denan lantang:

32. Mereka Berkata "Hai Nuh, Sesungguhnya kamu Telah berbantah dengan kami, dan kamu Telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, Maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". QS. Huud

Dan ketika keputusan Allah telah datang, mereka tidak dapat berlari menghindar.

14. Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. QS. Al Ankabut

Bahwa doa orang yang teraniaya dan terkalahkan tidak ada lagi sekat dengan Allah. Maka hanya dengan seruan Nabi Nuh kepada Rabbnya –dan Allah swt Maha Mengetahui seberapa berat yang diterima dari kaumnya- maka langsung dikabulkan.

9. Sebelum mereka, Telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba kami (Nuh) dan mengatakan: "Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman).

10. Maka dia mengadu kepada Tuhannya: "Bahwasanya Aku Ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)."

11. Maka kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.

12. Dan kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh Telah ditetapkan. QS. Al Qamar

Dalam hadits dikatakan:

"واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب"

Dan takutlah akan doa orang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada sekat dengan Allah.

Bahwa keluarga orang-orang beriman hakekatnya adalah keluarga dalam kebaikan dan ketaqwaan, baik ditambahkan dengan kedekatan nasab atau tidak. Firman Allah:

46. Allah berfirman: "Hai Nuh, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya [22] perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." QS.Huud

Seorang mukmin yang shadiq (benar) tidak akan mengalahkan ridha Rabbnya dari pada ridha siapapun, isteri, anak, keluarga, kedudukan, kekuasaan. Inilah yang terjadi pada Nuh. Hanya dengan diberitahu oleh Rabbnya bahwa anaknya itu kafir dan tidak termasuk dalam keluarganya, dan tidak boleh baginya untuk meminta kepada Allah apa yang tidak diketahuinya, ia segera menerima hal itu seraya mengatakan:

47. Nuh berkata: Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang Aku tiada mengetahui (hakekat)nya. dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya Aku akan termasuk orang-orang yang merugi." QS. Huud.

Sesungguhnya ikhlas dan tajarrud (focus/tidak punya keterikatan lain) yang sempurna membuat seseorang mendapatkan sebutan indah di dunia dan setelah wafatnya. Terutama ketika hari kiamat. Itulah Nabi Nuh ketika ikhlash kepada Rabbnya,dan tajarrud kepada-Nya, lepas dari isteri dan anak, Allah membalasnya dengan berfirman:

48. Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), Kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari kami." QS. Huud.

79. "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam". QS. Ash Shaffaat

Nabi Nuh dengan prestasi dakwahnya, kesabarannya, dan daya tahannya membuatnya termasuk dalam kelompok rasul Ulul Azmi. Firman Allah:

7. Dan (Ingatlah) ketika kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan kami Telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh[23]. QS. AL Ahzab

! ! !

نوح - u - في القرآن الكريم

NABI NUH ALAIHISSALAM DALAM AL QUR’AN

MUATAN MATERI

Rambu-rambu dakwah Nabi Nuh alaihissalam dalam Al Qur’an dan penggunaan berbagai macam sarana dalam berdakwah ilallah adalah:

PENJELASAN DAN PELAJARAN

1. Allah swt mengingatkan kita dalam surah ini bahwa Nabi Nuh alaihissalam memperingatkan kaumnya, memberi kabar gembira dan menjanjikan kepada mereka jika mau mentaatinya bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya yangtelah berlalu, dan memberinya kesempatan untuk teguh mentaati Allah, disertai dengan nikmat yang telah Allah berikan, berupa kebaikan-kebaikan hiduo ini sampai pada saat ajal menjemput. Hal ini seperti yang ada dalam surah Huud:

3. Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang Telah ditentukan dan dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.

Nabi Nuh memberitahukan kepada mereka bahwa ajal yang membatasi kehancuran manusia jika telah datang tidak mungkin dapat ditunda

34. Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu [24] Maka apabila Telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Nabi Nuh berharap jika umatnya menyadari sunnatullah dalam menghukum suatu umat atau bangsa ketika mereka menolak agama Allah, melanggar perintah dan larangan-Nya.

Nabi Nuh menjanjikan kepada mereka bahwa Allah akan turunkan hujan dari langit, sehingga mereka dapat memanfaatkannya untuk minum, menyiram tanaman, dan hewan ternak, menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai yang mengalir untuk mereka.

2. Kemudian kembali mengingatkan mereka dengan menyerukan:

13. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? QS. Nuh.

Menanyakan kepada mereka, apa yang menghalanginya untuk berharap kepada Allah, agar mendapatkan balasan besar pada hari pembalasan. Dan Allah telah menciptakan mereka dalam tahapan dan situasi yang berbeda-beda, diciptakan dari sari pati tanah, lalu diciptakan dari setetes air di tempat yang tenang, kemudian menciptakan setetes air itu menjadi segumpal darah, dari segumpal darah menjadi segumpal daging, kemudian menjadi tulang, dan tulang dibalut daging, kemudian jadilah makhluk lain, dilubangi telinga yang bisa mendengar, mata yang melihat, mulut yang berbicara, otak yang berfikir. Mak Allah Yang Maha Pemberi berkah, menciptakan makhluk dalam keadaan terindah.

Ilaah (Tuhan yang disembah) yang memiliki tanda-tanda ini. mengapa manusia berpaling dari-Nya dan tidak mentaati-Nya.

3. Kemudian dengan cara lain, mengajaknya mentaati Allah, berhenti pada aturan-aturan-Nya. Mengingatkan mereka dengan ayat-ayat Allah yang ada di langit dan di bumi. Cahaya bulan dan matahari yang telah Allah ciptakan di sana. Bagaimana Allah tumbuhkan tanaman dari tanah. Kemudian Allah kembalikan kita ke dalam tanah, dan nanti akan dikeluarkan dari dalam tanah. Bagaimana Allah ciptakan untuk kita bumi yang membentang, siap menjadi sawah dan lading, melintas dan berjalan, menghasilkan tanaman dan tambang.

4. Nabi Nuh mengadukan sikap kaumnya kepada Rabbnya. Bahwa ia telah mengajaknya siang dan malam, dan seruannya itu tidak menambah mereka kecuali semakin menjauh. Setiap kali mereka diajak, mereka tutup telinga, menutup kepala dengan pakaian mereka, sehingga tidak mendengar perkataan penyeru dan tidak melihatnya. Mereka tidak mau menghentikan pembangkangannya, kesombongannya kepada rasulnya, padahal dakwah telah disampaikan dengan berbagai macam cara, dan metode. Pernah dengan menakut-nakuti, memberikan kabar gembira, terkadang keras, terkadang lembut, terkadang menjanjikan dengan nikmat-nikmat Allah, dan kadang mengingatkan mereka dengan ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta bahkan yang ada dalam diri mereka sendiri. Nasehat sudah tidak lagi berguna bagi mereka, peringatan sudah tidak bermanfaat, mereka membuat maker terhadap dakwah, dan meneruskan pembangkangan dan perlawanan, saling berwasiat satu sama lain dengan wasiat kebatilan.

23. Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr QS. Nuh

Berhala-berhala yang disembah kaun Nabi Nuh, ia melarang penyembahannya. Siang dijadikan malam, dan malam dijadikan siang untuk mengingatkannya. Dan sesudah usaha panjang beratus-ratus tahun yang dihabiskan untuk berdakwah mengajak mereka menyembah Allah Yang Maha Esa. Tetapi mereka saling berpesan satu sama lain untuk tidak sekali-kali meninggalkan tuhan-tuhan itu.

Para ulama hadits mengatakan bahwa patung-patung itu dahulu adalah nama orang-orang shalih dari kaum nabi Nuh. Ketika mereka wafat syetan membisikkan kepada kaumnya agar membangun di tempat (majlis) mereka itu patung-patung dan diberi nama dengan nama mereka. Mereka melakukannya, dan belum ada penyembahan, namun ketika para pembangun itu wafat, dan tanda-tanda itu mulai pudar maka terjadilah penyembahan.

Nabi Nuh alaihissalam mengadukan perihal patung-patung ini, karena menyesatkan manusia, atau dari para tokoh kafir yang saling berwasiat untuk kebatilan.

5. Setelah kesabarannya habis, seluruh cara dan sarana dakwah telah ditempuh, barulah Nabi Nuh mendoakan kebinasaan mereka:

Mereka adalah para pemimpin kesesatan, kepala kekufuran, dan selama mereka dalam keadaan ini, maka mereka selalu menjadi ancaman bagi ajaran tauhid, dan batu sandungan bagi proses perbaikan. Dari itulah Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar tidak menyisakan seorangpun dari mereka itu di muka bumi. Sebab menyisakannya akan menyesatkan hamba-hamba Allah, dan jika mereka berketurunan maka keturunannya dalam keadaan musyrik dan dididik menjadi kafir.

Kemudian Nabi Nuh berdoa kepada Rabbnya agar mengampuninya, kedua orang tuanya, dan setiap mukmin yang masuk ke dalam rumahnya, laki-laki dan wanita. Ia tidak memintakan ampun untuk orang kafir atau musyrik. Ia hanya meminta untuk diri dan kerabatnya yang beriman, dan setiap mukmin yang masuk rumahnya. Ia tutup doanya dengan permintaan:

dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan".

6. Dan Allah swt memperlihatkan hukuman kaum Nabi Nuh karena meninggalkan perintah-Nya.

25. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, Maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah [25].QS Nuh

Agar terlihat paad kita, bahwa mereka tenggelam disebabkan karena kesalahan. Bahwa tenggelam yang mereka alami itu tidak ada seorangpun yang dapat menyelamatkannya. Dan menjadi pelajaran penting bahwa mereka ditenggelamkan dan tidak lagi diberi kesempatan sehingga mereka dimasukkan ke dalam neraka.

MUATAN MATERI

Dakwab Nabi Nuh kepada ajaran tauhid dan tuduhan kaumnya bahwa ia sesat padahal dialah pemberi nasehat yang amanah bagi kaumnya. Firman Allah:

Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).
Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata".
Nuh menjawab: "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi Aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam".
"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan Aku memberi nasehat kepadamu. dan Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui" [26].
Dan apakah kamu (Tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan Mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?
Maka mereka mendustakan Nuh, Kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya). QS. Al A’raf


PENJELASAN DAN PELAJARAN

Pertama kali yang Nabi Nuh lakukan pada kaumnya adalah mengajaknya menyembah Allah Yang Maha Esa. Dan kita akan melihat hal ini dalam dakwah nabi lainnya seperti Nabi Huud, Syu’aib, Shalih, dll. Hal ini tidak mengherankan karena dakwah kepada tauhid adalah dasar semua risalah (agama dari Allah). Mereka mencurahkan sebagian besar waktunya dalam masalah tauhid ini, mempertaruhkan harta dan jiwanya. Hal ini tampak jelas dalam sirah Nabi Ibrahim as dan yang ia alami dari kaumnya yang menyembah berhala. Dan tidak ada keinginan Nabi Nuh untuk mengajak kaumnya bertauhid, kecuali dakwah yang ikhlas karena takut mereka akan menimpa adzab dan murka Allah. Maka ia sampaikan dalam bahasa orang yang ketakutan

Yaitu hari kiamat, atau hari turunnya adzab atas orang-orang yang membangkang dan melawannya di dunia, yaitu berupa banjir besar (thufan).

BAGAIMANA JAWABAN KAUMNYA?

60. Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata". QS. AL A’raf

Ini bukan jawaban seluruh kaumnya. Ini hanyalah jawaban para pembesar dan tokoh, orang-orang yang hatinya telah dipenuhi rasa cinta dunia, kedudukan, popularitas, dan kehormatan. Merekalah orang-orang kaya yang disebut dalam ayat lain:

34. Dan kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya".

35. Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab[27]. QS. Saba’

Subhanallah. Sesungguhnya orang-orang yang menyebut dirinya para tokoh dan pembesar adalah batu-batu besar sandungan dalam kebaikan sejak terciptanya alam raya. Merekalah orang-orang yang selalu iri kepada setiap da’I, dan menempatkan batu besar untuk menghalangi jalan dakwah.

Hal ini dapat kita lihat pada para pemuka yang berkata kepada Nabi Hud.

"Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan Sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta." QS. Al A’raf: 66

Demikian juga para pemuka dan tokoh kaum Nabi Shalih yang mengatakan kepada orang-orang beriman waktu itu

75. Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya Berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang Telah beriman di antara mereka: "Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?". mereka menjawab: "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya".

76. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu". QS. Al A’raf

Lihatlah apa apa yang Allah ceritakan tentang nabi Syu’aib dan kaumnya

88. Pemuka-pemuka dan kaum Syu'aib yang menyombongkan dan berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu Hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami". Berkata Syu'aib: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" QS. Al A’raf.

Itulah pengaruh kedudukan dan ketokohan. Dan inilah kerjaan mereka terhadap para rasul, dan para penyeru kebaikan.

Sedangkan mayoritas umat yang hatinya bersih dari dendam, suci dari rasa iri maka mereka menjadi pengikut para rasul di setiap zaman. Merekalah penolong para da’I kepada kebenaran. Cukuplah dalam memahami sunnah ini adalah kisah Heraklius ketika bertanya kepada Abu Sufyan tentang Muhammad bin Abdullah saw. Tanya Heraklius: Apakah pengikutnya itu para pemuka atau kaum dhu’afa? Abu Sufyan menjawab: “para dhu’afa’bya.

Kata Heraklius: Begitulah pengikut para rasul

Dan cukuplah menjadi data bahwa para pemuka Quraisy adalah orang-orang yang tegas melawan Rasulullah, memutarbalikkan fakta, membuat maker; akan tetapi rencana Allah di atas seluruh maker mereka. Kendali Allah yang menghentikan usaha mereka. Keberadaan Rasulullah saw tidak pernah tenang sehingga Allah tumpas mereka semua. Ada di antaranya yang terbunuh di Badr, di Uhud. Ketika itulah da’wah Nabi mulai tenang dan agama Allah berkibar saat mereka dalam keadaan yang sangat tidak menyenangkan.

Perhatikanlah bagaimana para pemuka kaum Nabi Nuh menghujatnya dengan berlebihan dan kebohongan, dalam redaksi yang meyakinkan

Cobalah jika mereka memahami tuduhannya itu. Ketika menuduhnya tersesat, bahkan ingin meyakinkan bahwa kesesatannya adalah benar-benar sesat, setiap orang mampu membuktikannya.

Nabi Nuh mengatakan kepada mereka: Wahai kaumku, aku tidak sesat, aku adalah rasul utusan Allah, untuk membina fisik mansuia dengan nikmat-nikmat, membina ruhani dengan syari’ah (agama), aku menyampaikan perintah dan larangan Allah, nasehat dan larangan-Nya. Aku berikan nasehat kepada kalian, aku mengetahui perintah Allah apa yang tidak kamu ketahui. Aku yang mengetahui sifat-sifat Allah dan kekuasaan-Nya yang besar, dan adzab-Nya pada musuh-musuh-Nya, yang kamu tidak mengetahuinya. Aku meyakini bahwa adzab-Nya tidak akan bisa ditolak oleh kaum yang durhaka.

Kemudian ia ingin menunjukkan kepada mereka bahwa tidak ada tempat bagi kesombongan dan keangkuhan ketika datang nasehat lewat seseorang dari mereka sendiri, yang mengingatkannya dari adzab Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan mempersiapkan diri meraih rahmat dan ridha Allah.

Apa sikap kaumnya setelah mendapatkan nasehat yang tulus dan penuh kerendahan hati ini?

Tidak ada yang mereka ungkapkan kecuali mendustakan.

Maka Allah selamatkan Nabi Nuh dan para pengikutnya dalam kapal dari bahaya banjir besar, dan Allah tenggelamkan para pendusta. Dan Allah terangkan penyebabnya

Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).

Buta dari kebenaran, pura-pura lupa dari bukti nyata. Kaum yang keadaannya seperti ini maka layak mendapatkan adzab Allah.

Dalam kisah ini pula teradapat pelajaran penting, yaitu menghadapi orang yang bodoh dengan aris (tidak cepat marah) yang menuduhnya sesat, maka jawabannya dengan mengatakan bahwa tidak ada kesesatan, akan tetapi rasul utusan Allah.

Posisinya adalah posisi orang yang membela risalahnya.

! ! !

نوح u يواصل دعوته إلى التوحيد

NABI NUH MENERUSKAN DA’WAHNYA KEPADA TAUHID

Kaumnya meneruskan pembangkangan dan tuduhan-tuduhan batilnya. Maka Allah swt memberitahukan akibat akhirnya.

Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"

23. Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang Ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih Tinggi dari kamu. dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat. belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) Ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.

24. La tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, Maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu."

25. Nuh berdoa: "Ya Tuhanku, tolonglah aku [28], Karena mereka mendustakan aku."

26. Lalu kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk kami, Maka apabila perintah kami Telah datang dan tanur [29] Telah memancarkan air, Maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang Telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, Karena Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

27. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu Telah berada di atas bahtera itu, Maka ucapkanlah: "Segala puji bagi Allah yang Telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim."

28. Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah Aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat."

29. Sesungguhnya pada (kejadian) itu benar-benar terdapat beberapa tanda (kebesaran Allah), dan Sesungguhnya kami menimpakan azab (kepada kaum Nuh itu). QS. AL Mukminun.



PENJELASAN DAN PELAJARAN

1. Nabi Nuh alaihissalam mengajak kaumnya bertauhid dengan lembut dan lunak. Para pemuka kaumnya menghadapinya dengan marah dan menuduhnya hanya ingin mendapatkan kehormatan dan menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat.

Mereka tidak melihat ada keistimewaan yang membuatnya menjadi rasul. Inilah spontanitas yang diucapkan Fir’aun terhadap Nabi Musa dan Harun alaihimassalam.

78. Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya[30], dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi?[31] kami tidak akan mempercayai kamu berdua".

Dan di depan telah disanggah syubhat yang menyatakan bahwa Nuh adalah manusia biasa, seperti yang terdapat dalam surah Huud.

Sedangkan tuduhan bahwa Nuh ingin menjadi pemimpin dan memiliki kelebihan dari manusia lain, adalah sikap para pemuka dan bangsawan yang hendak memperbudak sesama manusia.

Adapun rasul yang menyerukan dalam da’wahnya bahwa semua manusia itu berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah, dan bahwasannya tidak ada keunggulan seseorang atas yang lainnya kecuali dengan ketaqwaan; maka tidak ada ruang baginya sedikitpun apalagi banyak terhadap tuduhan di atas.

Para rasul tidak ingin merasa lebih mulia dari manusia lainnya, akan tetapi akhir urusannya selalu menjadi pemimpin, terdepan dalam perbaikan, orang-orang berada di sekelilingnya, mengikuti jejaknya; hal inilah yang ditakuti para pembesar dan penyembah popularitas.

Mereka menyadari bahwa para rasul tidak hendak ingin dimuliakan di antara para manusia, akan tetapi peran yang mereka lakukan yang merupakan tugas dari Allah swt –yaitu menjadi khalifah dalam memakmurkan bumi- membuatnya menjadi para pemimpin yang mengusung bendera kebenaran, membela kemurnian agama, teladan yang baik, idealisme yang tinggi dalam kebenaran dan kemuliaan.

Inilah yang menjadi keberatan para pembesar yang tidak ingin memberikan kemuliaan kepada orang lain lewat ilmu maupun amal. Mereka hanya menginginkan kebesaran dan kemuliaan itu ada pada dirinya, karena merasa dari keluarga besar, pemilik asset terbesar.

Nabi Nuh as tidak ingin lebih mulia dari manusia pada umumnya, dan hal itu tidak pernah terbayangkan dalam benaknya, tetapi ia hanya ingin menyampaikan risalah Tuhannya, melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dirinya.

Jika ia ditunjuk dan menjadi lebih baik dari manusia lainnya sesungguhnya Allah menghendakinya untuk lebih mulia karena melaksanakan kewajiban, dan teguh memerankan tugas risalah, sabar menghadapi penindasan, bertahan di jalan dakwah. Hal inilah yang membuatnya menjadi teladan indah, perjalanan hidup yang diridhai, itulah cara Allah memuliakannya dari manusia lainnya.

Dan orang yang ingin lebih mulia dari manusia lain dengan ilmu dan amalnya, menjadikan malamnya seperti siang dan siangnya seperti malam untuk mencapai tujuan itu adalah orang-orang yang memiliki ketinggian cita, berjiwa besar, bertujuan mulia.

Sedangkan orang yang ingin meraih kemuliaan tanpa memiliki kemuliaan diri, ingin istimewa tanpa keistimewaan adalah perbuatan yang dibenci agama, tidak akan diterima oleh sesama manusia, tidak sesuai dengan akal sehat. Itulah yang harus diperangi dari pribadi orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

2. Para pembesar kaum Nabi Nuh berkata:

dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat.

Mereka mengharapkan jika ada agama di bumi maka itu adalah malaikat. Sehingga mereka mengatakan

"Orang Ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih Tinggi dari kamu.

Atau jika Allah menghendaki menunjukkan risalahnya maka akan turunkan malaikat yang menyaksikan risalahnya, mengakui kebenarannya. Seperti yang ada dalam surah Al Furqan.

Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?, Al Furqan: 7

Allah swt telah menolak syubhat ini dalam surah Al An’am

8. Dan mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?"[32] dan kalau kami turunkan (kepadanya) malaikat, tentulah selesai urusan itu[33], Kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun).

9. Dan kalau kami jadikan Rasul itu malaikat, tentulah kami jadikan dia seorang laki-laki dan (kalau kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri [34].

Maksudnaya adalah bahwa jika Allah menurunkan malaikat yang membenarkannya, dan memenuhi permintaan mereka maka tentu mereka telah dibinasakan, kemudian mereka tidak diberi kesempatan untuk beriman, dan adzab segera mengambilnya dengan cepat, atau masalahnya sudah diputuskan dengan datangnya hari kiamat. Dalam hal inilah firman Allah :

7. Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar?"

8. Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh. QS. AL Hijr.

Tidak pernah Allah turunkan malaikat kecuai bersama dengan risalah para rasul, atau adzab bagi umat yang membangkang para rasul itu. Itulah firman Allah:

21. Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar Telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman".

22. Pada hari mereka melihat malaikat [35] dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: "Hijraan mahjuuraa.[36]

Mereka tidak akan melihat malaikat kecuali ketika menjelma berbentuk manusia. Ketika itu mereka akan kesulitan membedakan karena serupa dengan manusia yang mereka tolak sebagai rasul. Sehingga mereka akan terus mengusulkan agar rasul itu berupa malaikat.

3. Kaum Nabi Nuh mengatakan: ما سمعنا بهذا في آبائنا الأولين Kami tidak pernah mendengar Nuh dan dakwahnya dari nenek moyang kami terdahululu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah kaum yang berada dalam rentang waktu yang panjang tidak mendapatkan hidayah untuk mengenali haq (benar) dan bathil (salah), shidq (benar) dan kadzib (dusta) pada diri sendiri. Mereka kembali kepada nenek moyang. Inilah kebiasaan orang yang tidak percaya diri, hidupnya mengacu kepada orang lain. Kebiasaan ketika menghadapi kesulitan, ketika bukti kebenaran menghadangnya di tengah jalan hidupnya, ia merujuk kepada nenek moyangnya, meminta dukungan dari para pendahulunya. Itu membuktikan mereka benar-benar dalam kebimbangan syubhat ini, ragu dengan taqlidnya. Dan itu terjadi ketika mereka menolak para rasul, mengganggu jalannya, mengatakan yang tidak-tidak atas mereka, yang mereka yakin bahwa para rasul bersih dari apa yang mereka nyatakan. Pembangkangan mereka begitu besar, begitu beraninya mereka untuk keluar dari dakwah nabi, semakin menjauh dari kebenaran. Mereka mempersilahkan dirinya untuk menuduh nabi dengan tuduhan gila, padahal mereka yakin bahwa para nabi itu adalah orang yang paling cerdas akalnya, paling benar ucapannya. Mereka mengatakan: إن هو إِلاَّ رجل به جنة فتربصوا به حتى حين mengajaknya dengan perjalan waktu sampai sembuh dari gilanya, dan jelas masalahnya. Demikianlah kebohongan yang disampaikan kepada semua rasul. Lihatlah firman Allah berikut ini:

52. Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila."

53. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. QS. Adz Dzariyat

Seperti satu sama lain saling berpesan. Hal ini tidak aneh karena jiwa para penentang rasul memiliki kemiripan satu sama lain, dan nafsu mereka memiliki kesamaan. Maka tidak aneh pula jika sikap mereka dalam meragukan kebenaran itu mirik, dan kalimat mereka dalam menghujat orang-orang shalih juga sama. Sampai mereka katakana kepada Muhammad saw.

6. Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila.[37] QS Al Hijr

Dan disampaikanlah tasliyah (penghibur) dari Allah:

43. Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang Sesungguhnya Telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih. QS. Fushshilat

Nabi Nuh menangkis tuduhan hina dan permusuhan ini dengan kembali kepada Rabbnya meminta pertolongan menghadapi musuhnya, رب انصرني بما كذبون gantikan bagiku duka pendustaan mereka menjadi kemenangan mengalahkan mereka. Lalu Allah kabulkan permintaannya. Disuruhlah ia membuat kapal yang dapat menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya. Allah menyuruhnya untuk membawa pula kebutuhan hidup dan keluarganya, kecuali orang-orang yang sudah dinyatakan mendapatkan adzab, lalu Allah melarangnya untuk membela orang-orang yang zhalim. Dan hendaklah bersyukur memuji Allah karena telah menyelamatkan dari mereka ketika sudah berada di atas kapal, agar dapat merasakan betul anugerah Rabbnya, pertolongan-Nya pada orang-orang shalih, dan murka-Nya pada orang-orang zhalim. Sebagaimana mereka meminta kepada Allah untuk diturunkan di daratan yang diberkahi.

4. Dan ending dari kisah ini adalah:

30. Sesungguhnya pada (kejadian) itu benar-benar terdapat beberapa tanda (kebesaran Allah), dan Sesungguhnya kami menimpakan azab (kepada kaum Nuh itu). QS. AL Mukminun

Agar ditunjukkan kepada kita dalam kisah ini, kisah Nabi Nuh dan kaumnya terdapat ibrah yang besar yang berguna bagi setiap mukmin dan bermanfaat bagi para da’I

111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. QS. Yusuf

Dalam kisah ini terdapat kebersihan kata, menyikapi keburukan dengan kebaikan, kembali kepada Allah ketika mengalami tekanan, penghinaan Allah kepada para perusak dan pertolongan-Nya kepada para penyeru kebaikan, pelajaran kepada Nabi alaihissalam bagaimana berdoa kepada Rabbnya, mensyukuri nikmat-Nya. Dalam kisah ini terdapat banyak pelajaran; akhir dari kesombongan, pembangkangan, dan kekafiran. Akhri dari sebuah pereode yang akan terus menjadi pelajaran sepanjang zaman.

Mereka Berkata "Hai Nuh, Sesungguhnya kamu Telah berbantah dengan kami, dan kamu Telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, Maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar".

30. Nuh menjawab: "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.

31. Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika Aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan".

32. Malahan kaum Nuh itu berkata: "Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja". Katakanlah: "Jika Aku membuat-buat nasihat itu, Maka Hanya Akulah yang memikul dosaku, dan Aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat".

33. Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang Telah beriman (saja), Karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.

34. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

35. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, Maka Sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (Kami).

36. Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal."

37. Hingga apabila perintah kami datang dan dapur [38] Telah memancarkan air, kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang Telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

38. Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

39. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. dan Nuh memanggil anaknya,[39] sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."

40. Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari Ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha penyayang". dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

41. Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan[40] dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi[41], dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ."

42. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya."

43. Allah berfirman: "Hai Nuh, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya[42] perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan."

44. Nuh berkata: Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang Aku tiada mengetahui (hakekat)nya. dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya Aku akan termasuk orang-orang yang merugi."

45. Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), Kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari kami."

46. Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. QS. Huud.

Ini adalah ketidak berdayaan yang berbaju kemampuan, orang lemah berbaju kekuatan, takut dominasi al haq yang menghina dan melawannya.

Turunkan atas kami adzab yang pedih yang telah kamu sampaikan. Kami tidak akan mempercayaimu, dan tidak akan peduli dengan ancamanmu.

Pendustaan dan tantangan ini tidak akan merubah status kenabian Nabi Nuh tidak akan menghentikannya dalam menjelaskan kebenaran kepada mereka, menuntunnya kepada hakekat yang mereka lupakan, dan ketidak tahuan mereka akan permintaan datangnya adzab, serta penolakan mereka pada hakekat ini, yaitu bahwa ia hanyalah seorang rasul yang hanya bertuga menyampaikan. Sedangkan adzab adalah keputusan Allah, yang mengendalikan semua urusan, mengukur kemaslahatan dalam mensegerakan adzab atau menundanya. Keputusan-Nya- lah yang pasti akan terlaksana..dan rasul tidak berhak menolak atau mengubahnya..ia hanyalah rasul, yang berkewajiban mengungkapkan kebenaran itu sampai pada titik akhir. Kaum yang mendustakannya tidak ada yang bisa menghentikan tugas tabligh (menyampaikan) dan menjelaskan kebenaran.

33. Nuh menjawab: "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.

34. Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika Aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan". QS. Huud.

Jika sunnatullah mengharuskan kebinasaan karena penyimpangan kalian, maka sunnah ini yang pasti akan berlaku pada kalian, berapapun nasehat yang diberikan. Bukan karena Tuhan dakan menghalangi kalian memanfaatkannasehat itu, akan tetapi dirimu yang akan berpaling, menjadikan sunnatullah mengharuskan kalian tersesat, dan kalian tidak akan mampu menghindari apa yang telah tetapkan pada kalian. Kamu semua akan selalu ada dalam genggaman-Nya. Dialah Yang Maha Mengendalikan dan Menentukan urusan kalian semua. Tidak tempat menghindar bagi kalian dari perjumpaan dengan-Nya, perhitungan amal, dan balasan dari-Nya.

هو ربكم واليه ترجعون

Ini adalah sepenggal kisah Nabi Nuh as yang mengingatkan pada cara penerimaan kaum Quraisy menghadapi situasi seperti dalam kisah di atas, yang memiliki persamaan bahwa kisah mereka bersama dengan Rasulullah saw dan tuduhan mereka bahwa Muhammad mengada-ada kisah ini.

Ungkapan itu dijawab sebelum kisah Nabi Nuh sempurna disampaikan.

35. Malahan kaum Nuh itu berkata: "Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja". Katakanlah: "Jika Aku membuat-buat nasihat itu, Maka Hanya Akulah yang memikul dosaku, dan Aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat". QS. Huud.

Memalsukan adalah kejahatan. Katakan kepada mereka: “jika aku yang melakukan maka yang akan bertanggung jawab. Dan aku mengetahui bahwa hal itu adalah kejahatan, 68


[1] Rass adalah telaga yang sudah kering airnya, kemudian dijadikan nama suatu kaum, yaitu kaum Rass, mereka menyembah patung, lalu Allah mengutus nabi Syuaib a.s. kepada mereka.
[2] Sebagai gambaran usia manusia saat itu adalah Nabi Nuh as, disebutkan dalam Al-Quran (Al-Ankabut (29) ayat 14) bahwa beliau tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun. (Penerjemah).
[3] Thaghut adalah semua yang diabdi selain Allah swt baik kongkrit maupun abstrak (Penerjemah).
[4] Dakwah Ini dilakukan setelah da'wah dengan cara diam-diam tidak berhasil.
[5] sesudah melakukan da'wah secara diam-diam Kemudian secara terang-terangan namun tidak juga berhasil Maka nabi Nuh a.s. melakukan kedua cara itu dengan sekaligus.
[6] lihat surat Al Mu'minun ayat 12, 13 dan 14
[7] wadd, suwwa', yaghuts, ya'uq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh.
[8] Maksudnya: berhala-berhala mereka tidak dapat memberi pertolongan kepada mereka. Hanya Allah yang dapat menolong mereka. tetapi Karena mereka menyembah berhala, Maka Allah tidak memberi pertolongan.
[9] yang dimaksud dengan tanur ialah semacam alat pemasak roti yang diletakkan di dalam tanah terbuat dari tanah liat, Biasanya tidak ada air di dalamnya. terpancarnya air di dalam tanur itu menjadi suatu alamat bahwa banjir besar akan melanda negeri itu.
[10] yang dimaksud dengan dapur ialah permukaan bumi yang memancarkan air hingga menyebabkan timbulnya taufan.
[11] yang dimaksud dengan dapur ialah permukaan bumi yang memancarkan air hingga menyebabkan timbulnya taufan.
[12] nama anak nabi Nuh a.s. yang kafir itu Qanaan, sedang putra-putranya yang beriman ialah: Sam, Ham dan Jafits.
[13]Yakni: Allah Telah melaksanakan janjinya dengan membinasakan orang-orang yang kafir kepada nabi Nuh a.s. dan menyelamatkan orang-orang yang beriman.
[14] Bukit Judi terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia.
[15] menurut pendapat sebagian ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan perbuatannya, ialah permohonan nabi Nuh a.s. agar anaknya dilepaskan dari bahaya.
[16] yang dimaksud dengan tanur ialah semacam alat pemasak roti yang diletakkan di dalam tanah terbuat dari tanah liat, Biasanya tidak ada air di dalamnya. terpancarnya air di dalam tanur itu menjadi suatu alamat bahwa banjir besar akan melanda negeri itu.
[17] kata-kata Ini diucapkan oleh nabi Nuh a.s. sewaktu dia didesak oleh golongan kafir yang Kaya dari kaumnya untuk mengusir golongan yang beriman, tidak berada, miskin dan papa.
[18] ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat ini.
[19] nama anak nabi Nuh a.s. yang kafir itu Qanaan, sedang putra-putranya yang beriman ialah: Sam, Ham dan Jafits.
[20] Maksudnya: nabi-nabi sekalipun tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah apabila mereka menentang agama.
[21] Yakni: dengan memperpanjang umur mereka dan membiarkan mereka berbuat dosa sesuka hatinya.
[22] menurut pendapat sebagian ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan perbuatannya, ialah permohonan nabi Nuh a.s. agar anaknya dilepaskan dari bahaya.
[23] Perjanjian yang teguh ialah kesanggupan menyampaikan agama kepada umatnya masing-masing.
[24] Maksudnya: tiap-tiap bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau keruntuhan.
[25] Maksudnya: berhala-berhala mereka tidak dapat memberi pertolongan kepada mereka. Hanya Allah yang dapat menolong mereka. tetapi Karena mereka menyembah berhala, Maka Allah tidak memberi pertolongan.
[26] Maksudnya: Aku mengetahui hal-hal yang ghaib, yang tidak dapat diketahui hanyalah dengan jalan wahyu dari Allah.
[27] Maksudnya: oleh Karena orang-orang kafir itu mendapat nikmat yang besar di dunia, Maka mereka merasa bahwa mereka dikasihi Tuhan dan tidak akan diazab di akhirat.
[28] pertolongan yang dipermohonkan oleh Nuh kepada Allah ialah membinasakan kaumnya sehabis-habisnya. lihat selanjutnya surat Nuh ayat 26.
[29] yang dimaksud dengan tanur ialah semacam alat pemasak roti yang diletakkan di dalam tanah terbuat dari tanah liat, Biasanya tidak ada air di dalamnya. terpancarnya air di dalam tanur itu menjadi suatu alamat bahwa banjir besar akan melanda negeri itu.
[30] Maksudnya: menyembah berhala.
[31] Maksudnya: negeri Mesir.
[32] Maksudnya: untuk menerangkan bahwa Muhammad s.a.w. itu seorang nabi.
[33] Maksudnya: kalau diturunkan kepada mereka malaikat, sedang mereka tidak juga beriman, tentulah mereka akan diazab Allah seketika, sehingga mereka binasa semuanya.
[34] Maksudnya: kalau Allah mengutus seorang malaikat sebagai rasul, tentu Allah mengutusnya dalam bentuk seorang manusia, Karena manusia tidak dapat melihat malaikat, dan tentu juga mereka akan berkata: Ini bukan malaikat, Hanya manusia seperti kami juga, jadi mereka akan tetap ragu-ragu.
[35] Maksudnya: di hari mereka menemui kamatian atau di hari kiamat.
[36] Ini suatu Ungkapan yang biasa disebut orang Arab di waktu menemui musuh yang tidak dapat dielakkan lagi atau ditimpa suatu bencana yang tidak dapat dihindari. Ungkapan Ini berarti: "Semoga Allah menghindari bahaya Ini dari saya".
[37] kata-kata Ini diucapkan oleh orang-orang kafir Mekah kepada nabi s.a.w. sebagai ejekan.
[38] yang dimaksud dengan dapur ialah permukaan bumi yang memancarkan air hingga menyebabkan timbulnya taufan.
[39] nama anak nabi Nuh a.s. yang kafir itu Qanaan, sedang putra-putranya yang beriman ialah: Sam, Ham dan Jafits.
[40] Yakni: Allah Telah melaksanakan janjinya dengan membinasakan orang-orang yang kafir kepada nabi Nuh a.s. dan menyelamatkan orang-orang yang beriman.
[41] Bukit Judi terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia.
[42] menurut pendapat sebagian ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan perbuatannya, ialah permohonan nabi Nuh a.s. agar anaknya dilepaskan dari bahaya. 

No comments:

Post a Comment

Blog Archive