Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Saturday, January 19, 2013

Kisah Nabi Yusuf As

Nasab atau Garis Keturunannya

Beliau adalah Nabi Allah Yusuf bin Ya'qub bin Ishak bin Ibrahim, sang kekasih Allah Azza wa Jalla. Beliau adalah Nabi, putra seorang Nabi, putra Nabi dari putra Nabi. Dalam shahih Bukhari, Rasullah saw. ditanya tentang manusia paling mulia. Beliau berkata, Yusuf Nabi Allah, putra nabi Allah, putra nabi Allah, putra sang kekasih Allah[1]."

Nabi Yusuf as. adalah salah satu Nabi dari bani Israil. Allah Azza wa Jalla menurunkan satu surat khusus dalam Al-Qur'an al-Karim terkait dengan beliau, agar setiap orang dapat mentadabburi isi dan kandungannya berupa hukum, nasehat dan etika.

Kami telah menyebutkan sebelumnya tentang Nabi Ya'qub, ayah Yusuf as., bahwa dia berasal dari tanah Kan'an, bumi Palestina. Memiliki 12 anak, dan yang paling mulia dan agung di antara mereka adalah Yusuf as. Yusuf dan saudaranya, Bunyamin berasal dari satu ibu bernama Rahil. Kematian sang ibu saat keduanya masih kecil, membuat Ya'qub sangat kasih pada keduanya. Sebab kedua kecintaan Ya'qub kepada Yusuf, karena ia melihat pada diri putranya tanda kemuliaan dan kecerdasan, dan masa depan cemerlang dan keagungan dari sisi Allah Ta'ala.

Kisah Yusuf as. dimulai ketika dalam tidurnya –saat masih kecil sebelum memasuki usia balig- ia menyaksikan sebelas bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya. Ia lalu menceritakan mimpi tersebut kepada ayahnya. Dari situlah Ya'qub mengetahui bahwa putranya kelak akan mendapat kedudukan yang tinggi, mulia dan agung di dunia dan akhirat, dimana kedua orang tua dan saudara-saudaranya akan tunduk kepadanya. Ia lalu mengingatkan putranya agar tidak menceritakan mimpinya itu kepada saudara-saudaranya, agar mereka tidak iri dan membuat tipu daya kepadanya.

Al-Qur'an yang mulia menunjukkan hal ini dalam firman Allah Azza wa Jalla:

"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia." (QS. Yusuf: 4-5)

Ketika saudara Yusuf merasakan bahwa cinta ayah mereka terlampau berlebihan kepada Yusuf dan saudaranya Benyamin, mereka pun iri pada keduanya. Mereka bahkan berkata, "Sesungguhnya ayah kita berada dalam kesesatan yang nyata." Mereka lalu berembuk untuk menyingkirkan Yusuf. Apakah dengan membunuhnya atau membiarkannya berada di atas padang pasir agar dimangsa binatang buas. Tapi kakak mereka yang paling besar, Yahudza menyarankan agar mereka tidak membunuhnya, tapi cukup dengan melemparkan Yusuf ke dasar sumur pada sebuah jalan yang sering dilalui oleh kafilah dagang. Mungkin saja mereka menemukan dan mengambilnya ketika menimba air disumur itu.

Setelah sepakat dengan saran itu, mereka lalu menemui ayah mereka dan bertanya, "Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya." Mereka lalu meminta agar memperknankan Yusuf keluar bersama mereka untuk menggembala ternak, bermain dan bersenang-senang. Ayah mereka menjawab, "Sangat berat bagiku bila ia keluar bersama kalian. Karena saya khawatir ia dimangsa srigala, sementara kalian lalai padanya."

Mereka kemudian berusaha menentramkannya dan berkata, bahwa kekhawatiran ayahnya itu tidak mungkin terjadi, karena selain jumlah mereka yang banyak, mereka juga akan selalu menjaga dan mengawasinya." Nabi Ya'qub akhirnya mengizinkan mereka membawa. Ketika mereka keluar bersamanya, mereka pun menjalankan rencana tersebut dengan membuang Yusuf ke dalam sumur. Mereka lalu membiarkannya di sana dan pulang ke rumah pada sore hari sebagaimana kebiasaan mereka.

Mereka lalu menemui ayahnya sambil menangis dan berkata, "Wahai ayah kami. Waktu itu kami sedang berlomba lari dan meninggalkan Yusuf bersama barang-barang kami. Ketika selesai dan kembali ke tempat kami, kami sangat terkejut karena seekor srigala telah memangsanya. Buktinya adalah, bahwa baju ini berlumur darah." Tapi baju tetap utuh dan tidak koyak. Akhirnya ayahnya mengetahui bahwa berita tersebut tidak benar, dan apa mereka sampaikan bahwa Yusuf dimakan srigala adalah cerita dusta yang dibuat-dibuat. Bagaimana mungkin ia dimangsa srigala sementara bajunya tidak sobek? Namun Nabi Ya'qub tetap bersabar seraya memohon pertolongan kepada Allah atas tipu daya dan makar yang mereka lakukan[2].

Adapun Yusuf yang dibuang ke dasar sumur, maka Allah Ta'ala telah menggiring kafilah dagang kepadanya. Seorang dari mereka lalu diutus untuk mengambil air di sumur. Ketika ia memasukkan timba ke dalam sumur dan mengangkatnya kembali, Yusuf pun bergelantungan di timba tersebut dan berhasil ke luar dari sumur. Ketika orang itu melihat seorang anak bergelantungan di timba, ia pun berteriak, "Oh, kabar gembira, ini seorang anak muda!" mereka lalu mengambilnya dan berkata kepada manusia bahwa Yusuf sebelumnya adalah seorang budak yang mereka bawa untuk dijual.

Ketika saudara-saudara Yusuf mengetahui kafilah yang mengambil Yusuf, mereka segera menyusul dan berkata, "Ini adalah sahaya milik kami, dan biarkan ia bersama kami." Mereka akhirnya membelinya dengan harga murah, lalu membawanya ke Mesir dan menjualnya disana kepada seorang pembesar Mesir bernama Qitfir bin Ruhaib. Dia adalah menteri yang bertanggung jawab terhadap gudang kekayaan Mesir yang ketika itu dipimpin seorang raja bernama ar-Royyan bin al-Walid. Seseorang dari yang berasal dari masyarakat negeri tersebut.

Pembesar Mesir ini lalu berkata kepada istrinya, " "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita angkat ia sebagai anak." Adapun nama istri pembesar itu adalah Ra'il, dan ada yang berkata, Zulaikha. Ia pun melayani Yusuf dengan baik membuatnya hidup dalam rumah pembesar Mesir itu dengan tenang, gembira dan bahagia. Allah Ta'ala kemudian mengajarkan padanya berbagai pengetahuan sebagai bekal baginya untuk derajat kenabian. Ilmu yang diajarkan kepadanya mengenai pemahaman terhadap berbagai situasi dan menyingkap arti mimpi.

Ketika ia sampai pada usia dewasa –atau empat puluh tahun, menurut sebagian besar pendapat- Allah memberinya hikmah dan ilmu. Sehingga ia menjadi salah satu ulama yang arif bijaksana[3].

Kehidupan damai dan tenang yang selama ini dirasakan oleh Nabi Yusuf, ternyata tidak berlangsung lama, karena istri al-Aziz jatuh cinta padanya dan tak dapat menyembunyikan di hadapannya. Ia lalu meminta kepada nabi Yusuf agar mau berzina dengannya. Namun Yusuf menolak, dan Allah Azza wa Jalla melindunginya dari perbuatan keji itu. Ketika istri pembesar itu meminta kembali, Yusuf lalu berusaha menghindar dan berlari menuju pintu. Wanita itu pun mengeja dan menarik baju Yusuf hingga sobek.

Saat itu pula suaminya tiba dan berdiri di pintu. Istrinya yang tidak menduga kehadiran suaminya segera menampakkan diri sebagai wanita yang bersih dan menuduh bahwa Yusuf yang ingin berbuat keji padanya. Yusuf berkata, "Dialah yang justru menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)". Allah Azza wa Jalla lalu menampakkan kekuasaan-Nya di hadapan pembesar itu bahwa Yusuf berlepas diri dari kekejian itu, ketika seorang bayi yang berada di dekat lokasi itu dapat berbicara dan memberi kesaksian bahwa apabila baju Yusuf sobek di depan, maka wanita itulah yang benar, dan bila bajunya sobek di belakang, maka wanita itu dusta, dan Yusuf terbebas dari tuduhan keji yang dilontarkan wanita tersebut.

Takkala suaminya melihat baju Yusuf sobek di belakang, ia pun tahu bahwa istrinya dusta dan Yusuf benar. Namun ia ingin agar peristiwa ini tidak menyebar. Ia lalu berkata kepada Yusuf, "Jangan ceritakan peristiwa ini kepada siapa pun." Dan kepada istrinya ia berkata, "Bertaubatlah atas dosa yang engkau lakukan, sesungguhnya engkau termasuk orang yang bersalah."[4]

Ternyata peristiwa memalukan ini tidak dapat ditutupi dan akhirnya diketahui oleh sejumlah wanita pembesar dan menteri lainnya. Mereka pun memperbincangkan hal ini, dan mencela istri al-Aziz atas perbuatan keji yang seharusnya tidak pantas ia lakukan. Ketika istri al-Aziz tahu bahwa kasus tersebut telah merebak luas, ia pun mengundang mereka hadir pada sebuah pesta di rumahnya. Dalam jamuan itu istri al-Aziz menyiapkan buah-buahan dan pisau. Ketika para tamu undangannya sedang mengupas buah, ia lalu menyuruh Yusuf masuk menemui tamu-tamu tersebut. Ketika mereka melihat ketampanan dan keelokan wajah Yusuf, mereka pun takjub dan kagum sehingga tanpa sadar tangan mereka terluka oleh pisau.

Ketampanan wajah Yusuf seakan menyihir mereka, hingga mereka berkata, "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia." Saat itulah wanita pembesar tersebut berkata kepada mereka, "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya," Ia pun mengakui bahwa dialah yang menggoda Yusuf, namun Yusuf menolak dan menjaga diri. Apabila ia tidak melakukan apa yang saya inginkan darinya, niscaya ia akan dipenjarakan dan termasuk orang-orang yang hina.

Para wanita itu lalu berkata kepada Yusuf agar mematuhi perintah tuannya. Namun Yusuf menolak seraya berlindung kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar Ia singkirkan darinya tipu daya wanita istri al-Aziz dan kawan-kawannya. Yusuf memohon, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya penjara lebih aku sukai daripada yang mereka inginkan dariku." Allah Azza wa Jalla akhirnya mengabulkan doa Yusuf dan menyingkirkan darinya tipu daya istri al-Aziz dan kawan-kawannya.

Al-Azis dan istrinya akhirnya memenjarakan Yusuf selama masa tertentu, agar semakin sedikit orang yang berbicara tentang kasus tersebut. Dan agar tampak di hadapan manusia bahwa Yusuflah yang telah menggoda istri al-Aziz dan di penjara karena itu. Mereka pun memenjarakannya secara zalim dan aniaya[5].

Ketika Yusuf dijebloskan ke dalam penjara, dua orang pemuda juga di penjara bersamanya yang bekerja sebagai pegawai raja. Pemuda pertama bertugas menyediakan minuman dan yang kedua membuat roti untuk raja. Kedua pemuda tersebut dijebloskan ke penjara karena dituduh telah melakukan tindakan kejahatan. Pada suatu malam, kedua pemuda ini bermimpi. Pemuda yang bekerja menyediakan minum raja melihat dirinya sedang memerah khamer dan menyediakannya untuk tuannya. Sementara yang lain melihat dirinya membawa nampan keranjang berisi roti di atas kepalanya. Lalu burung-burung berdatangan dan memakan roti tersebut.

Ketika melihat Yusuf berada di dalam penjara dan mengetahui sejarah perjalanannya, mereka pun kagum padanya atas sikap istiqamah yang dimilikinya. Mereka lalu bertanya kepadanya tentang arti mimpi mereka. Yusuf pun menafsirkan mimpi keduanya, yang kesimpulannya adalah, bahwa yang bekerja menyediakan minuman raja, tak lama lagi ia akan bebas dan keluar dari penjara serta kembali kepada pekerjaannya semula. Adapun pemuda kedua, maka tuduhan itu akan ditetapkan atasnya, sehingga ia akan dihukum jilid dan burung-burung akan berdatangan memakan bangkai tubuhnya dari kepalanya. Melalui tafsiran mimpi itu, Yusuf mengajak keduanya agar beriman dan mentauhidkan Allah Ta'ala, karena tak ada manfaat sedikit pun dalam menyembah patung dan berhala[6].

Ketika pemuda yang bekerja sebagai pembuat minuman raja itu keluar dari penjara, Yusuf lalu meminta kepadanya agar menyebutkan perkaranya dan kezaliman yang ia alami di hadapan raja. Semoga raja mencabut tuduhan tersebut sehingga ia dapat bebas dan keluar dari penjara. Namun pemuda itu lupa tentang Yusuf dan tidak menyebutkannya sedikit pun di hadapan raja. Sehingga Yusuf tinggal cukup lama di dalam penjara. Ada yang berkata selama tujuh tahun atau lebih[7].

Beberapa tahun kemudian, raja yang memerintah Mesir ketika itu; ar-Rayyan bin al-Walid melihat dalam mimpinya tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, dan ia juga melihat tujuh bulir gandum yang hijau dimakan oleh tujuh tangkai bulir gandum kering. Ia lalu bertanya kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya dan yang memiliki pengetahuan tentang mimpi tersebut. Namun mereka hanya berkata, "Ini adalah mimpi yang kacau dan kosong, dan kami tidak memiliki pengetahuan tentang tafsir mimpi."[8]

Ketika itulah pemuda yang bekerja sebagai penyedia minuman raja mengingat Yusuf, dan dialah orangnya yang mampu menafsirkan mimpi tersebut. Ia lalu berkata kepada raja dan pengawalnya, "Saya sampaikan padamu orang yang mengetahui tafsir mimpi itu. Bawalah saya menemui Yusuf." Orang itu dibawa menemui Yusuf. Ketika tiba di hadapannya, ia pun menanyakan tentang mimpi itu, dan Yusuf dapat menafsirkannya, yang kesimpulannya adalah, "Bahwa akan tiba masa tujuh tahun yang subur, dan setelah itu tujuh tahun berikutnya dilanda kekeringan, dan setelah itu tiba kembali tahun-tahun yang di dalamnya melimpah kebaikan."

Maka untuk menghadapi semua ini, hendaklah kalian menanam gandum selama tujuh tahun berturut-turut, dan apa yang kalian peroleh dari hasil panen itu kalian simpan di dalam lumbung penyimpanan, kecuali sedikit yang khusus untuk kalian makan. Karena setelah itu akan datang tujuh masa berikutnya dimana negeri ini dilanda kekeringan, sehingga kalian dapat makan dari apa yang pernah kalian simpan dahulu[9].

Ketika raja mengetahui keluasan ilmu dan kecerdasan Yusuf as., pendapat dan pemahamannya yang kuat tepat, ia pun memerintakan pegawainya untuk mengeluarkannya dari penjara dan menyuruhnya menghadap ke hadapannya, agar ia dapat menganggkatnya sebagai pembantu istimewa baginya. Ketika utusan raja datang menemuinya dan menyampaikan padanya titah raja, ia berkata tidak akan keluar dari penjara sehingga menjadi jelas bagi setiap orang tentang kasus yang dihadapinya, bahwa ia dipenjara secara zalim dan aniaya. Dan sesungguhnya ia berlepas diri dari apa yang dituduhkan kepadanya.

Karena itu pula, ia meminta kepada utusan tersebut untuk kembali kepada raja dan meminta kepadanya agar bertanya kepada para wanita, kawan-kawan istri dari al-Aziz tentang penyebab yang membuatnya dijebloskan ke dalam penjara. Para wanita itu pun memberikan kesaksian perihal kebersihan Yusuf. Ketika raja bertanya tentang hal tersebut, mereka pun mengakuinya bahwa Yusuf tidak terkait dengan tuduhan itu, dan istri al-Aziz itulah yang menggoda dan memintanya melakukan kekejian namun Yusuf menolak dengan tegas permintaannya. Karena itu ia dijebloskan ke dalam penjara.

Ketika istri al-Aziz menyaksikan realitas yang terjadi di hadapannya, ia akhirnya mengaku salah dan berkata, "Sekarang kebenaran sudah jelas. Sayalah yang menggodanya agar menundukkan dirinya kepadaku, dan sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang jujur." Yusuf berkata, "Yang saya inginkan dari proses investigasi ini adalah, agar al-Aziz mengetahui bahwa saya tidak berkhianat kepadanya pada istrinya ketika ia tak ada. Karena sesungguhnya Allah tidak meredhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. Yusuf lalu menambahkan, "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku."[10]

Ketika jelas bagi raja bahwa Yusuf bersih dari semua tuduhan itu setelah proses invetigasi selesai, ia berkata, "Bawalah dia kemari, dan angkatlah ia sebagai salah satu dari pembesar negaraku dan pembantu istimewaku."

Takkala Yusuf datang dan berbicara dengannya, semakin jelas bagi raja perihal yang sebenarnya. Ia lalu berkata, "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami". Yusuf berkata, "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan". Maksudnya adalah, "Jadikanlah saya sebagai penanggung jawab gudang-gudang tempat penyimpanan makanan yang masuk untuk negeri ini sebagai perbekalan untuk rakyat. Karena saya tahu bagaimana menjaga dan mendistribusikannya secara adil."

Hati raja menjadi lapang mendengar ucapan tersebut. Ia juga merasa tenang dengan sifat amanah dan kebaikan prilakunya. Raja lalu mengangkat Yusuf sebagai penanggung jawab manajemen gudang logistik dan ia pun bebas bepergian ke seluruh penjuru negeri Mesir. Jalan kemana yang ia sukai sebagai orang terhormat dan dimuliakan. Ada yang berkata bahwa, tak lama kemudian al-Aziz Qithfiir meninggal dunia, raja lalu mengangkat Yusuf sebagai penggantinya dan menikahkannya dengan istrinya, Zulaikha. Ia pun menjadi menteri yang jujur sebagai kepercayaan raja.[11]

Ketika Yusuf diangkat sebagai pejabat, apalagi sebagai penanggung jawab logistik rakyat dimana masa sulit dan musim kering tiba, saudara-saudara Yusuf pun datang ke Mesir untuk mengambil persediaan makanan. Ketika mereka masuk menemui Yusuf, ia pun mengetahuinya bahwa mereka adalah saudara-saudaranya. Tapi mereka tidak mengenal bahwa Yusuf kini berdiri di hadapan mereka.

Mereka lalu meminta bekal makanan kepadanya. Yusuf kemudian bertanya tentang kondisi dan jumlah mereka. Mereka berkata, "Jumlah kami sebelumnya dua belas orang. Seorang dari kami lalu pergi dan tinggallah saudara kandungnya bersama ayah kami." Ketika Yusuf memberi persediaan makanan sebagaimana yang ia berikan kepada yang lain, yaitu seberat beban seekor unta untuk setiap orang, ia berkata, "Bila kalian datang lagi kemari tahun depan, kalian harus datang bersama saudara yang kalian tinggalkan bersama ayah kalian. Tidakkah kalian melihat bahwa saya menjamu kalian dengan baik sebagai tamu? Bila kalian tidak datang bersamanya kelak, maka saya takkan memberi persediaan makanan seperti ini kepada kalian, dan janganlah kalian sekali-kali mendekat kepadaku."

Mereka lalu berjanji akan berbicara dengan ayah mereka tentang hal itu, dan kelak mereka akan datang bersama saudaranya yang lain, insya Allah. Ketika mereka hendak pulang kembali, Yusuf berkata kepada para pembantunya, "Masukkan kembali ke dalam karung makanan mereka apa yang mereka bawa untuk harga makanan itu, sebagai jaminan bahwa tahun depan mereka kembali bila mereka mengetahui bahwa harga dari makanan yang harus mereka bayarkan ternyata dikembalikan[12]."

Setelah sampai di rumah, mereka lalu meminta kepada ayahnya agar saudara mereka yang paling kecil, Bunyamin saudara Yusuf, dibiarkan ikut bersama mereka kelak. Bila mereka tidak membawanya, maka tahun depan mereka takkan diberikan bahan makanan. Ayahnya berkata, "Saya tidak mungkin membiarkannya pergi bersama kalian sehingga kalian memberikan janji tegas bahwa kalian akan membawanya kembali pulang kemari dengan selamat. Kecuali bila kalian dibelit sebuah masalah yang membuat kalian tidak dapat membawanya pulang."

Ketika anak-anak Nabi Ya'qub as. Membuka harta bawaan mereka, mereka pun terkejut karena menemukan barang-barang yang seharusnya mereka berikan kepada Yusuf sebagai harga dari bahan makanan yang mereka peroleh. Mereka lalu berkata, "Wahai ayah kami, apa yang dapat kami lakukan dari kebaikan yang dilakukan kepada kami? Bila kami membawa saudara kami kelak, niscaya kami akan mendapatkan bahan makanan, sebagaimana yang kami peroleh tahun ini. Dan itu adalah bagian untuk saudara kami bila membawanya kelak."[13]

Pada tahun berikutnya, saudara-saudara Yusuf pun datang bersama Benyamin, saudara kandung Yusuf. Mereka lalu masuk menemui Yusuf untuk meminta bahan makanan. Ketika Yusuf melihat saudaranya, ia segera mengajaknya pergi dan mengatakan padanya bahwa dia adalah saudaranya. Ia berusaha menenangkannya dan berkata, "Jangan sedih dengan perlakuan saudara-saudaramu itu kepadamu." Yusuf menyampaikan semua itu secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh saudara-saudaranya yang lain.

Yusuf kemudian merancang strategi agar ia dapat mengambil saudaranya dari mereka. Ia lalu menyuruh pegawainya agar menyimpan sukatan –wadah buat menakar makanan- dengan sembunyi-sembunyi ke dalam karung makanan milik saudaranya, Benyamin. Ketika mereka hendak pulang, ia lalu memerintahkan seseorang menyeru mereka, "Wahai rombongan, sesungguhnya kalian telah mencuri." Saat mendengar tuduhan tersebut, mereka segera menemui orang yang berteriak itu dan berkata, "Kalian kehilangan apa?" Mereka menjawab, 'Kami kehilangan sukatan milik raja, dan barang siapa yang mengembalikannya kepada kami, maka baginya makanan sebanyak beban seekor onta, dan kami menjamin itu untuknya."

Mereka berkata, "Demi Allah, kami datang kesini meninggalkan negeri kami bukan untuk mencuri atau melakukan kerusakan." Pembantu raja berkata, "Lalu apa balasan bagi orang yang kami temukan sukatan raja padanya?" mereka berkata, "Siapa pun yang engkau temukan dari kami telah mengambil sukatan milik raja, maka engkau berhak menahannya, dan mengambilnya sebagai budak sahaya." Seperti itulah aturan yang berlaku ketika itu.

Setelah mereka dengan tegas menyatakan hal itu, mereka lalu memeriksa barang bawaan mereka. Para pembantu Yusuf memeriksa barang bawaan mereka satu persatu. Ketika memeriksa barang milik Benyamin, mereka pun menemukan sukatan pada barang bawaan miliknya. Yusuf akhirnya mengambil saudaranya sendiri, Benyamin sebagai dasar atas aturan yang mereka buat. Andai bukan karena itu, niscaya Yusuf takkan mungkin mengambil saudaranya ke dalam aturan raja. Karena syariat yang berlaku ketika itu di Mesir adalah, barang siapa yang ditemukan mencuri, maka dia harus dipukul dan didenda dua kali lipat atas apa yang ia curi.

Ketika mereka menyaksikan sukatan raja dikeluarkan dari barang milik Benyamin, mereka berkata, "Bila ia mencuri, maka saudaranya dahulu juga pernah mencuri." Maksudnya adalah Yusuf. Konon Yusuf pernah mencuri patung kakek dari ibunya, dan memecahkannya. Ketika mereka berkata demikian, dalam hati Yusuf berkata, "Bahkan kedudukan (sifat-sifat) kalian lebih buruk di sisi Allah, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian terangkan itu". Mereka lalu berusaha meminta keringanan, yaitu dengan membiarkan Benyamin pergi dan mengambil seorang dari mereka sebagai gantinya, karena ia memiliki seorang ayah yang sudah sepuh. Namun Yusuf menolak, dan berkata, "Kami tidak mungkin mengambil dan menahan orang yang tidak bersalah dan membiarkan pelakunya bebas. Bila kami melakukan itu, niscaya kami termasuk orang yang zalim[14]."

Saat mereka mulai putus asa untuk membawa Benyamin pulang, mereka akhirnya keluar meninggalkan Yusuf. Mereka lalu berkumpul dan berembuk. Saudara mereka yang paling tua, Roubil berkata, "Tidakkah kalian tahu bahwa ayah kalian, Ya'qub telah mengambil perjanjian di antara kalian agar menjaga Bunyamin dan mengembalikannya kepadanya. Lalu bagaimana kita dapat pulang menemui ayah kita tanpa dirinya. Karena itu saya takkan meninggalkan Mesir untuk kembali ke Palestina, kecuali bila ayah mengizinkanku kembali ke sana, atau Allah mudahkan bagiku untuk mendapatkan saudaraku, Bunyamin.

Raobil lalu berkata kepada mereka, "Pulanglah kalian menemui ayah, dan katakan padanya bahwa Bunyamin telah mencuri, dan kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri, dan sesungguhnya kami tidak tahu hal yang gaib. Bila dia tidak percaya, maka biarlah dia bertanya kepada penduduk Mesir yang mengetahui peristiwa itu, atau bertanya kepada kafilah dagang yang pulang bersama kalian. Karena sesungguhnya kami termasuk orang yang jujur."

Mereka pun kembali dan menjelaskan semua itu kepada ayah mereka. Tapi Nabi Ya'qub as. tidak percaya dengan semua itu, karena mereka pernah melakukan hal yang sama terhadap Yusuf dengan mengatakan bahwa ia dimakan srigala. Ya'qub berkata kepada mereka, "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan padaku Yusuf, Benyamin dan Raobil semuanya." Ia lalu meninggalkan mereka dan berkata, "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena sedih berpisah dengannya.

Ya'qub kembali berkata kepada anak-anaknya, "Wahai anak-anakku! Kembalilah kalian ke Mesir. Carilah Yusuf dan saudaranya Benyamin. Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah selain orang yang kafir."[15]

Saudara-saudara Yusuf akhirnya kembali ke Mesir mencari tahu tentang Yusuf dan Benyamin. Mereka lalu menemui Yusuf as. saat ia berada kekuasaan yang mulia. Mereka berkata, "Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan membutuhkan sesuatu yang sangat banyak. Sementara kami datang membawa barang-barang buruk yang takkan sepadan dengan apa yang engkau minta sebagai harga bahan makanan. Maka kami harap agar engkau membantu kami dan iba pada keadaan kami. Bersedekahlah untuk kami, berilah kami al-miirah yang banyak."

Mendengar ucapan mereka membuat Yusuf iba. Ia akhirnya menyingkap tentang dirinya dan berkata kepada mereka, "Apakah kalian masih ingat apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya, Benyamin." Ketika mereka melihatnya dengan seksama, mereka pun mengetahuinya melalui wajahnya yang tampan. Mereka lalu berkata, "Bukankah engkau Yusuf?" Yusuf berkata, "Ya saya adalah Yusuf, dan ini saudaraku Benyamin yang telah melimpahkan karunia, kebaikan dan perlindungan-Nya kepada kami. Itu karena kami senantiasa taat dan bertakwa kepada-Nya, dan juga karena kesabaran kami atas apa yang kalian lakukan kepada kami. Dan sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik."

Betapa sangat malu saudara-saudara Yusuf mengetahui sosok yang ada di hadapan mereka. Mereka lalu berkata, "Demi Allah, Ia sungguh lebih mengutamakanmu daripada kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berdosa karena perbuatan yang telah kami lakukan." Yusuf berkata, "Sekarang tidak ada cercaan bagi kalian. Semoga Allah mengampuni kalian dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang. Ambillah bajuku ini, pulanglah kalian dan letakkanlah ia di atas wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali. Lalu datanglah kalian kepadaku bersama keluarga kalian."[16]

Ketika mereka keluar meninggalkan Yusuf menuju Palestina –bersama baju Yusuf- dan sampai di tempat berteduh di Mesir, tiba-tiba angin bertiup membawa aroma baju Yusuf hingga tercium oleh ayahnya. Ya'qub segera tahu bahwa aroma tersebut adalah milik putranya, walau jarak tempuhnya tiga hari perjalanan atau lebih. Ya'qub lalu berkata kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, "Saya mencium aroma Yusuf, bila saja kalian tidak menuduhku lemah akal." Mereka berkata, "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih berada dalam kekeliruanmu yang dahulu, karena kecintaanmu yang terlampau berlebihan dan harapan untuk bertemu dengannya walau sangat tidak mungkin tercapai.".

Ketika mereka tiba di hadapan ayah mereka, Yahudza lalu mengambil baju Yusuf dan meletakkan di wajah ayahnya. Seketika itu juga mata Nabi Ya'qub as. dapat melihat. Ia lalu berkata kepada anak-anaknya, "Bukankah saya pernah berkata kepada kalian bahwa saya mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui?" bahwa Allah akan menyatukanku kembali dengan Yusuf dan membuatku senang dan bahagia dengan kehadirannya.

Saudara-saudara Yusuf lalu meminta kepada Ya'qub agar mendoakan mereka semoga Allah mengampuni perbuatan yang telah mereka lakukan dahulu kepadanya dan kepada Yusuf. Nabi Ya'qub as. berkata, "Saya akan memintakan ampun untuk kalian kepada Tuhanku, karena sesungguhnya Ia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ia lalu mendoakan mereka pada waktu sahur sebagai waktu yang tepat terkabulkannya doa yang dipanjatkan. Nabi Ya'qub as. lalu berangkat ke Mesir bersama seluruh anak-anaknya, cucu dan kerabatnya untuk bertemu Yusuf di sana[17].

Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka pun tiba di Mesir dan disambut suka cita oleh Yusuf. Raja dan balatentaranya turut menyambut kedatangan mereka sebagai penghormatan kepada Yusuf dan pemuliaan bagi seorang Nabi Allah, Ya'qub as. Ketika mereka masuk di rumah Yusuf, ia pun merangkul kedua orang tuanya seraya berkata, "Masuklah kalian ke negeri Mesir dengan aman, Insya Allah." Maksudnya, tinggal dan menetaplah kalian dengan damai dan aman.

Yusuf lalu mendudukan ayahandanya di atas singgasananya. Kedua orang tua dan saudara-saudara Yusuf lalu bersujud kepadanya sebagai penghormatan, dan cara ini adalah sesuatu yang sesuai syariat pada masa itu di dalam agama mereka. Yusuf lalu berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, inilah arti mimpiku dahulu, Allah telah menjadikannya benar." Ia lalu menceritakan kepada ayahnya tentang nikmat Allah yang Ia curahkan kepadanya, ketika ia dikeluarkan dari penjara lalu diberi kekuasaan yang agung, kedatangan orang tua dan saudara-saudaranya, dan berkumpulnya keluarga mereka kembali setelah syetan merusak hubungan dirinya dan saudara-saudaranya ketika mereka melakukan perbuatan buruk itu kepada Yusuf as. Yusuf lalu berkata, " Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Bila Ia menginginkan sesuatu, maka Ia menyiapkan sebab-sebabnya. Dialah Allah yang Maha Mengetahui terhadap makhluk-Nya dan Maha Bijaksana[18].

Selama empat puluh hari lamanya, Ya'qub berada di negeri Yusuf, setelah melalui masa perpisahan yang berlangsung selama empat puluh tahun. Saat kematiannya menjelang, Ya'qub berpesan kepada Yusuf agar membawanya dan menguburkannya di dekat makam ayahnya, Ishak di Palestinaan, dan Yusuf memenuhi wasiat itu. Ketika Ya'qub wafat, ia lalu membawanya dan menguburkannya di dekat makam ayahnya, kemudian kembali ke Mesir. Nabi Yusuf as. hidup selama dua puluh tiga tahun setelah kematian ayahnya.

Ketika urusan Yusuf telah selesai dan ia mengetahui bahwa hidupnya tidak lama lagi, dimana jiwanya rindu kepada akhirat dan bertemu Tuhannya, ia pun memuji-Nya dan mengakui limpahan kebaikan-Nya yang tak terhingga. Ia lalu memohon agar diwafatkan dalam Islam dan kelak menyusul hamba-hamba-Nya yang shaleh. Yusuf berkata:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS. Yusuf: 101)

Sebelum kematian menjemputnya, ia berwasiat kepada saudara-saudaranya agar membawanya bila mereka keluar dari Mesir dan menguburkannya di dekat ayahandanya. Ketika ia wafat, mereka pun mengawetkan jenazahnya dan meletakkan di dalam tabut. Jenazah Nabi Yusuf tetab berada di Mesir hingga Nabi Musa diutus yang kemudian membawanya keluar dari Medir dan menguburkannya di dekat ayahnya. Usia Nabi Yusuf 120 tahun, dan ada yang berkata 110 tahun.

Nama Nabi Yusuf as. Disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 27 kali, 25 kali di antaranya dalam surat Yusuf yang menceritakan tentang kisah beliau, 1 kali dalam surat al-An'am, yaitu dalam firman Allah Azza wa Jalla:

"Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya (kepada Ibrahim). Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-An'aam: 84) dan 1 kali dalam surat Ghafir. Yaitu firman Allah melalui lisan seorang mukmin dari keluarga Fir'aun:

"Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: "Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." (QS. Ghafir: 34)

Kisah nabi Yusuf yang diceritakan Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an al-Karim sangat menarik. Selain nasehat dan pelajaran yang dikandungnya. Firman-Nya:

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat." (QS. Yusuf: 111) dan pelajaran yang paling menonjol di dalamnya adalah kewajiban untuk senatiasa bersabar. Karena kemenangan dan kejayaan terletak pada kesabaran. Allah Ta'ala berfirman melalui lisan nabi Yusuf as.:

"Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" (QS. Yusuf: 90)

Di antara nesehat yang dikandungnya adalah kewajiban melekatkan kesucian dan kebersihan dalam diri, tidak berkhianat kepada orang yang mempercayaimu. Nabi Yusuf as. adalah teladan dalam kesucian dan kebersihan saat ia dirayu istri al-Aziz. Namun ia menolak dan berpaling sebagai bukti bahwa ia tidak berkhianat kepada tuannya. Dan akhirnya, ia harua merasakan penghinaan dan jeruji penjara sebagai harga yang harus ia bayarkan. Namun buah kebaikan itu akhirnya ia nikmati juga, saat Allah mengeluarkannya dari penjara sebagai orang yang bersih dari berbagai tuduhan, mendapatkan kedudukan yang mulia dan bertemu kembali dengan orang tuanya.



Nabi Yusuf as. Dalam Al-Qur'an al-Karim

Kisah Nabi Yusuf as. diabadikan Allah dalam Al-Qur'an pada sebuah sebuah surat khusus dengan mengambil namanya sendiri. Menerangkan secara detail sisi kehidupan nabi yang mulia ini. Kisah ini juga memberi sangat banyak pelajaran dan nasehat kepada orang-orang yang beriman. Ketika kita sedang membaca kisah tersebut, maka sudah selayaknya bagi kita mengambil bekal yang banyak darinya.

Beberapa hal yang harus menjadi perhatian kita semua pada kisah agung itu sebagai berikut:

1- Lingkungan yang baik akan menumbuhkan tanamanan yang baik pula (Dan kedua orang tuanya termasuk orang yang shalih)

2- Mentarbiyah diri dengan sifat-sifat yang mulia. Dan Yusuf as. Telah terbiasa dengan sifat-sifat yang mulia sebagai realisasi ajaran ayah dan kakeknya, serta para nabi shalawat Allah dan keselamatan untuk mereka.

3- Iman kepada prinsip akan mempermudah pelakunya menaklukkan berbagai kesulitan dan dalam menghadapi tiupan angin beliung.

4- Senantiasa bersandar kepada Allah Ta'ala ketiak ujian menghadang. Firman-Nya:

إِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ اْلجَاهِلِيْنَ

"Bila engkau tidak singkirkan dariku tipu daya mereka, niscaya saya akan jatuh kepada mereka, dan saya termasuk orang-orang yang bodoh."

5- Pemilik akidah dan dakwah tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang dimilikinya tanpa ia manfaatkan untuk berdakwah, sebagaimana dilakukan Nabi Yususf as. yang tetap berdakwah walau ia berada di dalam penjara.

6- Setiap dai dituntut untuk menjaga akhlak dan kemuliaan dirinya, karena dia adalah tauladan bagi yang lain.

7- Kesabaran adalah salah satu sifat seorang Muslim, apalagi bila ia seorang dai yang menyeru manusia kepada Allah Ta'ala. Firman-Nya:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَا لمَــَّـا صَبَرُوْا

"Dan kami jadikan mereka sebagai pemimpin yang menunjuki manusia kepada perintah Kami ketika mereka bersabar." Dan firman-Nya:

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إسْرَائِيْلَ بِمَا صَبَرُوْا

"Dan telah tammat kalimat Tuhanmu yang baik atas bani Israil dengan apa mereka bersabar."

8- Kesabaran Nabi Yusuf tampak dalam berbagai sisi, sebagai bukti imannya yang kokoh:

a.Kesabarannya menghadapi gangguan saudara-saudaranya.
b. Kesabarannya dalam beribadah
c.Kesabarannya menaklukkan syahwat kemaluan
d. Kesabarannya atas nikmat Allah dan menjaganya dengan syukur kepada-Nya.
e.Kesabarannya saat berada di dalam penjara.
f. Kesabarannya menghadapi fitnah kekuasaan dan popularitas.

Bersama Al-Qur'an al-Karim

"Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur'an)yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu[19] sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 1-6)

Seluruh isi surat yang diturunkan di Mekah berada dalam satu kesatuan, diserta tema, situasi dan isyarat-isyaratnya yang sangat jelas. Bahkan secara khusus surat ini menceritakan karakter dari masa yang sulit, kejam dan buas. Masa dimana Rasulullah saw. juga berada dalam situasi yang sulit, berat, dikucilkan dan diboikot oleh masyarakat Quraisy –sejak tahun kesedihan-, sebagaimana yang menimpa kaum Muslimin.

Allah Azza wa Jalla lalu menceritakan kepada Rasulullah saw. kisah saudaranya yang mulia; Yusuf bin Ya'qub bin Ishak bin Ibrahim- shalawat dan salam Allah untuk mereka semua, ketika ia ditimpa ujian dan cobaan itu; tipu daya saudara-saudaranya, tinggal di dalam sumur, dijual sebagai budak membuatnya berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain untuk diperjual-belikan diluar kehendaknya dan tanpa perlindungan dari kedua orang tua dan keluarganya.

Demikian pula dengan tipu daya yang dilancarkan istri al-'Aziz dan kawan-kawannya, setalah ia mampu menaklukkan godaan syahwat dan hawa nafsunya! Ia kemudian menerima ujian berikutnya dengan dijebloskan ke dalam penjara setelah rasakan kenikmatan hidup dalam istana al-Aziz. Lalu muncul ujian selanjutnya berupa kemewahan dan kekuasaan tak terbatas yang berada dalam genggaman tangannya, dimana ia berhak memutuskan sendiri distribusi logistik rakyat Mesir sekaligus mengawasinya. Pada ke dua tangannyalah sepotong roti diberikan kepada manusia untuk menguatkan mereka! Ia juga menghadapi ujian yang terkait dengan perasaan kemanusiaan, saat ia menerima saudara-saudaranya yang telah melemparkannya dahulu ke dalam sumur, sehingga merekalah sesungguhnya sebab utama munculnya berbagai cobaan dan ujian itu.

Seluruh ujian dan cobaan itu dihadapi Yusuf dengan penuh kesabaran sembari menyampaikan dakwah Islam kepada manusia yang ditemuinya, akhirnya berhasil ia lalui, dan keluar darinya sebagai manusia yang bersih dari berbagai tuduhan dan kesalahan. Maka kemenangan adalah akhir dari seluruh ujian tersebut, dan ketika bertemu kembali dengan kedua orang tuanya, sebagai bukti dari mimpi disaksikannya dalam tidurnya:

إِذْ قَالَ يُوْسُفُ لأَبِيْهِ يَا أَبَتِ إنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَباً وَالشَّمْسَ وَاْلقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِيْنَ

"Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, wahai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku sebelas bintang, matahari dan bulan, sujud kepadaku." Arahan terakhir yang disampaikannya dengan penuh keikhlasan dengan menyerahkan segalanya kepada Allah Ta'ala, digambarkan oleh Al-Qur'an al-Karim sebagaimana firman-Nya:

"Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya[20] dan dia berkata: "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman". Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud[21] kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS. Yusuf: 99-101)

Itulah permintaannya yang terakhir. Dan sesudah itu –setelah ia berada limpahan kekuasaan, kemewahan dan kekuatan, ia pun memohon kepada Allah agar mematikannya sebagai Muslim, dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang shaleh. Dan semua itu setelah ujian, cobaan, dan kesabaran yang panjang, diakhiri dengan kemenangan besar. Sehingga tidak aneh bila surat Yusuf yang menceritakan kisah nabi yang mulia, adalah salah satu surat yang turunkan kepada Rasulullah saw. saat berada di Mekah. Dimana beliau dan kaum Muslimin ketika itu berada dalam situasi yang berat dan sulit, sehingga surat ini menjadi penghibur dan penentram jiwa-jiwa mereka, peneguh hati orang-orang yang terusir dan teraniaya!

Bahkan pikiran kita saat itu juga akan bergerak untuk merasakan adanya isyarat yang lebih jauh ke depan, bahwa ketika keluar dari Mekah menuju negeri yang lain maka disanala eksistensi dan kemenangan dapat diraih. Walau keluarnya Rasulullah saw. bersama kaum Muslimin dari Mekah menuju Medinah dilakukan secara terpaksa di bawah ancaman dan tekanan Kafir Quraisy! Demikian pula yang dialami Yusuf saat ia direnggut dari pelukan ayahnya untuk menghadapi berbagai cobaan dan rintangan, untuk selanjutnya meraih eksistensi dirinya dan kemenangan gemilang:

وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِي اْلأَرْضِ وِلِنًعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيْلِ الأَحَادِيْثِ وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ

"Demikianlah kami teguhkan Yusuf di muka bumi, dan Kami ajarkan kepadanya ta'wiil mimpi dan peristiwa, dan Allah akan selalu memenangkan perkaranya, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Demikianlah yang terjadihingga ia jejakkan kakinya di istana al-Aziz, sebagai pemuda yang diperjual belikan. Saat pikiran kita bergerak menuju masa itu, maka mungkin kita akan merasakan sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang mungkin dapat kita tunjukkan, walau kita tidak memiliki kemampuan untuk mengungkapkannya. Inilah beberapa ayat yang menjadi penutup dari kisah tersebut:

"Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS. Yusuf: 109-111)

Itu adalah isyarat yang sejalan dengan sunnatullah. Bahwa ketika para rasul berputus asa -sebagaimana Nabi Yusuf as. yang mulai putus asa menghadapi ujian panjang-, ia pun menampakkan isyarat untuk segera keluar dari sesuatu yang dibenci diikuti oleh solusi yang dikehendakinya! Isyarat seperti bisa muncul dalam hati orang beriman. Karena dalam situasi seperti itulah dia dapat merasa hidup kembali untuk merasakan udara bebas! Karena itulah ia menampakkan isyarat itu dari kejauhan.

Surat ini sendiri memiliki karakter yang sangat istimewa yang menceritakan kisah Nabi Yusuf dengan sempurna. Kisah-kisah yang terdapat Al-Qur'an –selain kisah nabi Yusuf as.- dipaparkan dalam beberapa episode, dimana satu atau beberapa episode disesuaikan dengan tema dan bahasan surat tersebut. Bahkan kisah-kisah yang dipaparkan secara utuh dalam satu surat seperti kisah nabi Huud, Shaleh dan Syu'aib disampaikan secara ringkas dan global. Tapi kisah Nabi Yusuf as. diceritakan oleh Allah panjang lebar dan mendetail dalam satu surat khusus. Inilah yang istimewa pada surat Yusuf di antara surat-surat lainnya dalam Al-Qur'an al-Karim.

Karakter yang sangat istimewa seperti ini sesuai dengan tabiat kisah tersebut yang disampaikan secara utuh. Dimulai dengan mimpi Nabi Yusuf as. dan berakhir dengan bukti dari tafsiran mimpi tersebut. Sehingga ia takkan cocok bila satu atau sejumlah episode dari kisah tersebut berada dalam satu surat, sementara sisanya pada surat yang lain. Kita harus mengatakan sebuah kalimat singkat tentang pemaparan kisah yang sempurna ini, bahwa surat ini juga menyingkap manhaj Al-Qur'an yang sangat istimewa.

Sesungguhnya kisah Nabi Yusuf as. –sebagaimana terdapat dalam surat ini- menampakkan sebuah contoh yang sempurna tentang sebuah manhaj Islam dalam aktulisasi seni pada sebuah kisah. Dimana ia mempresentasikan contoh kisah yang sempurna untuk manhaj dalam aktualisasi jiwa, akidah, tarbiyah dan pergerakan sekaligus dengan manhaj Qur'ani yang memiliki tema dan implementasi yang satu. Selain bahwa kisah Yusuf as. seakan sebuah pementasan spesial yang memaparkan manhaj ini dari sisi implementasi seni!

Petunjuk Awal pada Setiap Kisah

Tirai pementasan pertama pada episode pertama lalu dibuka, untuk menyaksikan seorang Yusuf yang masih kecil sedang menceritakan mimpinya kepada ayahnya:

"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 4-6)

Ketika itu Yusuf masih kecil, dan apa yang disaksikannya dalam mimpinya sebagaimana yang ia gambarkan kepada ayahnya, bukanlah sebuah bunga tidur yang kerap disaksikan oleh anak kecil. Yang paling mungkin disaksikan seorang anak kecil –ketika ia bermimpi melihat bulan, bintang dan matahari- maka mungkin ia melihat semua itu berada dalam kamarnya, atau berada di antara kedua tangannya.

Namun yang disaksikan oleh Yusuf adalah melihat bulan, bintang dan matahari bersujud kepadanya, berbentuk manusia berakal yang menundukkan kepalanya untuk sujud sebagai bentuk penghormatan. Kalimat ini dinyatakan secara tegas dalam firman-Nya:

"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." (QS. Yusuf: 4) ia kembali mengulang kalimat ini:

رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِيْنَ

"Saya lihat mereka sujud padaku."

Saat itulah ayahnya mengetahui melalui intuisi dan mata hatinya bahwa di balik mimpi tersebut anak ini kelak akan memiliki sebuah peran besar, walau tidak ia jelaskan secara rinci sebagaimana kisah tersebut. dan tidak nampak isinya kecuali setelah dua episode. Adapun kesempurnaannya, maka ia tidak menampak kecuali di akhir kisah setelah yang gaib dan tertutupi selama itu tersingkap. Karena itu, ayahnya menasehati agar ia tidak menceritakan mimpinya itu kepada saudara-saudaranya, karena khawatir mereka dapat mengetahui apa yang ada di balik saudara mereka yang masih kecil dan bukan saudara kandung itu. Sehingga syetan mendapatkan celah untuk menghembuskan kedengkian dalam diri mereka, dan merencanakan sebuah perkara yang dapat mencederainya. Firman-Nya:

قَالَ يَا بَنِيَّ لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًا

"Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu."

Lalu ia menyebutkan alasan berikut ini:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." Karena syetan dapat menciptakan kecemburuan dalam dada manusia satu di antara yang lain, dan menghiasi dosa dan kesalahan yang mereka perbuat."

Adapun Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim, maka ia telah dapat merasakan bahwa anaknya kelak akan memiliki peran menentukan melalui mimpi yang diceritakan kepadanya. Jiwanya menuntunnya bahwa perkara ini berada dalam tuntunan agama, kebaikan dan pengetahuan. Sesuai dengan suasana kenabian dimana Yusuf hidup di dalamnya, dan apa yang ia ketahui bahwa Allah Azza wa Jalla senantiasa memberkati kakeknya, Ibrahim as. dan keturunannya. Sehingga ia menduga bahwa Yusuflah yang dipilih dari anak-anaknya dari keturunan Ibrahim untuk menempati tempatnya dalam keberkahan, dan melalui dirinya mata rantai keberkahan itu terus berjalan dalam rumah Ibrahim as. Ia lalu berkata kepadanya:

"Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 6)

Yang ada dalam pikiran Nabi Ya'qub as. adalah, bahwa mimpi Yusuf menunjukkan pilihan Allah Ta'ala atas dirinya, kesempurnaan nikmat-Nya padanya dan keluarga Ya'qub sebagaimana Ia sempurnakan bagi kedua orang tuanya; Ibrahim dan Ishak –Kakek juga biasa dipanggil bapak-, maka ini adalah sesuatu yang lumrah. Tapi yang menarik perhatian di sini adalah firman-Nya:

وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيْلِ اْلأَحَادِيْثِ

"Dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi."

Apakah yang dimaksud oleh Ya'qub adalah, bahwa Allah Azza wa Jalla memilih Yusuf lalu mendidik dan memberinya kebenaran panca indera dan ketepatan bashirah yang dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi yang kelak berhenti kepadanya. Ini juga adalah ilhaam dari Allah yang diberikan kepada orang-orang memiliki bashirah yang tajam. Dan ayat berikutnya adalah:

إِنَّ رَبَّكَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana."

Beberapa hal yang dapat diambil dari Bahasan Sebelumnya:

1- Adanya peringatan dan larangan dari Nabi Ya'qub kepada putranya, Yusuf agar tidak menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya, menunjukkan bahwa Ya'qub mengetahui kerusakan moral dan prilaku pada diri saudara-saudara Yusuf. Di dalam diri mereka ada sifat iri dan dengki yang ia khawatirkan terlampiaskan terhadap diri Yusuf. Karena sifat itu pula mereka tidak menjadi Nabi atau Rasul. Sangat sulit untuk mengatakan bahwa mereka adalah para Nabi sebagaimana dikatakan sebagian riwayat. Khususnya karena mereka berada dalam kondisi seperti itu.

2- Pengetahun Ya'qub berupa kemuliaan Yusuf, dan melalui mimpi tersebut yang ia rasakan bahwa kelak Yusuf akan mendapat peran besar, membuat Ya'qub gembira. Demikian pula dengan setiap orang yang berada dalam situasi seperti itu. Sebagaimana yang ia dapat diperoleh dari adalah bahwa kemampuan menta'wilkan berbagai peristiwa hanya dapat dimliki oleh orang-orang yang diberi keistimewaan dari Allah berupa pemahaman, pertolongan dan taufik dari-Nya.

3- Pilihan dari Allah Ta'ala yang diberikan kepada hamba-Nya, dan misi tersebtu adalah pilihan dan bukan perolehan. Berbeda dengan pengetahun dan kepemimpinan yang keduanya adalah sesuatu yang diperoleh seorang hamba dan taufik dari Allah Ta'ala.

Episode Kedua:

Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik[22]. Seorang diantara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat." Mereka berkata: "Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya." Berkata Ya'qub: "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya." Mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi." Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar."Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku) dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS. Yusuf: 7-18)

Konspirasi:

Episode lain yang dapat dilihat dari saudara-saudara Yusuf adalah adanya konspirasi yang mereka lakukan terhadap Yusuf, sebagaimana diceritakan Al-Qur'an:

"Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik[23]. Seorang diantara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat." (QS. Yusuf: 7-10)

Dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tandat atas hakikat yang sangat banyak bagi siapa saja yang menyelidiki dengan seksama ayat-ayat tersebut, bertanya dan memperhatikannya. Pengantar dari beberapa ayat di atas sudah cukup sebagai jaminan yang dapat menarik perhatian. Karena itu, kami menyerupakannya dengan gerakan mengangkat tirai untuk melihat apa peristiwa dan gerakan yang terjadi di belakangnya. Di balik tirai tersebut kami seakan menyaksikan secara langsung sebuah episode dimana saudara-saudara Yusuf sedang merancang tipu daya.

Apakah Anda dapat melihat bahwa Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya sebagaimana tertulis dalam Kitab Perjanjian Lama? Adanya kata "perlombaan" menjelaskan bahwa hal itu tidak terjadi. Mereka hanya bercerita tentang kasih sayang dan perhatian Ya'qub terhadap Yusuf dan saudaranya (Benyamin) yang melebihi mereka. Bila saja mereka mengetahui tentang mimpi tersebut, niscaya mereka akan mengatakannya, bahkan lisan mereka akan menyatakan kedengkian mereka padanya. Sementara itu, apa yang dikhawatirkan Ya'qub atas Yusuf bila ia menceritakan mimpinya kepada saudaranya, akhirnya terselesaikan melalui jalan yang lain. Yaitu kedengkian mereka karena ayahnya lebih mengutamakannya daripada mereka.

Dan ini tatap harus selesai sebagai salah satu mata rantai dari cerita besar yang bersambung dan telah didisain seperti itu, agar Yusuf dapat sampai hingga akhir kisah tersebut. Kisah yang menceritakan situasi kehidupannya, realitas keluarganya, kedatangannya kepada ayahnya saat ia besar, sebagai anak paling kecil yang lebih dicintai dari yang lain, khususnya ketika sang ayah mulai memasuki usia senja. Demikianlah yang terjadi pada diri Yusuf dan saudara-saudaranya yang berasal dari beberapa ibu.

"Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita berada pada kekeliruan yang nyata." (QS. Yusuf: 8) bahwa kami adalah satu kelompok yang kuat yang dapat membantu dan memberi manfaat, lalu mengapa ayah kita lebih mengutamakan seorang anak kecil dan saudaranya yang masih bayi daripada kelompok yang terdiri dari laki-laki dewasa yang dapat memberi manfaat dan bantuan padanya?

Sifat dengki pun bergejolak dalam dada mereka, dimana syetan dapat memasukinya dan menjadikannya sebagai singgasananya. Sehingga sesuatu yang kecil menjadi sangat besar di hadapan mata mereka, dan perkara besar mereka pandang rendah. Mereka memandang enteng perbuatan buruk membuat mereka ingin melenyapkan jiwa, ruh seorang anak kecil tanpa dosa dan tak mampu membela dirinya sendiri. Padahal dia itu saudara mereka juga; anak dari seorang Nabi –walau mereka tidak menjadi nabi-. Mereka mendramatisir kecintaan ayahnya kepada Yusuf yang melebihi mereka. Karena itulah mereka berniat membunuhnya, sebuah kejahatan dan dosa terbesar setelah syirik kepada Allah Ta'ala.

اُقْتُلُوْا يُوْسُفَ أَوِ اطْرَحُوْهُ أَرْضًا

"Bunuhlah Yusuf, atau buanglah ia ke suatu daerah (yang tidak dikenal)" ini adalah dua rencana jahat yang sangat berdekatan. Membuangnya ke tempat terpencil terputus dari dunia luar dan pada umumnya mengantar kepada kematian. Mengapa demikian?

يَخْلُ لَكُمْ وُجْهُ أَبِيْكُمْ

"Supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja," Perhatiannya tidak tertutup oleh keberadaan Yusuf, karena mereka menginginkan hatinya. Mereka mengira bahwa ketika Ya'qub tidak lagi melihat Yusuf, maka hatinya pun akan sirna dari cinta kepadanya, lalu beralih kepada yang lain! Lalu bagaimana dengan kejahatan itu? Setelah itu, kalian bisa meminta ampun lalu memperbaiki diri dari dosa yang telah kalian lakukan:

وَتَكُوْنُوْا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِيْنَ

"Dan sesudah itu hendaklah kalian menjadi orang-orang yang baik." Begitulah syetan merasuk dalam hati dan jiwa manusia ketika ia marah, kehilangan kendali, kehilangan akal sehat untuk menilai segala sesuatu dan peristiwa. Demikianlah dada mereka bergolak sifat iri dan dendam yang ditanam syetan yang berkata kepada mereka, "Bunuhlah ia!" taubat belakangan, memperbaiki diri atas apa yang telah terjadi. Padahal taubat tidak seperti itu. Tapi taubat dilakukan akibat kesalahan atau dosa seseorang karena lalai, bodoh dan tidak ingat kepada Allah Ta'ala. Maka ketika ia ingat, ia segera menyesal dan jiwanya diliputi rasa takut dan segera bertaubat kepada Allah Ta'ala. Adapun taubat yang telah disiapkan sebelum melakukan kejahatan, maka itu bukan taubat untuk menghilangkan jejak-jejak kejahatan. Tapi itu adalah cara untuk menjustifikasi diri melakukan dosa dan kejahatan yang diperindah syetan dalam jiwa!

Saudara-saudara Yusuf lalu berdialog dengan ayah mereka agar dapat merenggut Yusuf yang kecil dari pelukan kedua orang tua yang menyayanginya. Mereka berkata:

قَالُوْا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لاَ تَأْمَنَّا عَلَى يُوْسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُوْنَ

Mereka berkata: "Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya." (QS. Yusuf: 11)

Seketika Ya'qub menampakkan wajah khawatir terhadap putranya bila saudara-saudara Yusuf lalai menjaganya. Tidak terlintas dalam benaknya sedikit pun bahwa mereka jauh buas daripada srigala. Namun mereka berusaha menyembunyikan kebuasan hatinya dengan berkata tenang:

قَالُوْا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُوْنَ

"Mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi." (QS. Yusuf: 14) Begitulah prilaku orang-orang jahat, berusaha membuat tipu daya agar mereka sampai pada tujuan yang mereka inginkan. Dan itulah yang mereka lakukan; menipu ayah mereka dan mengambil Yusuf untuk merealisasikan makar yang telah mereka rancang.

Tipu daya itu pun berhasil. Mereka lalu membawa Yusuf. Setelah bermusyawarah, Yusuf lalu dilemparkan ke dalam sumur agar mereka dapat melepaskan diri dari saudaranya itu. Adapun Yusuf, kini ia tinggal di dalam sumur, sendiri dalam sepi menanti takdirnya. Tapi Allah Azza wa Jalla senantiasa bersamanya, menenteramkan jiwanya dan menghilangkan rasa takut dari dalam jiwanya. Allah Azza wa Jalla lalu mewahyukan kepadanya:

وَلَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَذَا وَهُمْ لاَ يَشْعُرُوْنَ

"Kami wahyukan kepada Yusuf, "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi." (QS. Yusuf: 15) Itu berarti bahwa Yusuf akan selamat dari sumur. Dan kelak akan memiliki kekuasaan dimana ia akan menyampaikan perbuatan jahat yang lakukannya kepada mereka.

Alur cerita lalu berpindah kepada saudara-saudara mereka yang merancang sandiwara untuk meyakinkan ayah mereka, bahwa Yusuf benar-benar telah mati karena kelalaian mereka.

وَجَاءُوْا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُوْنَ ! قَالُوْا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوْسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ

Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala." (QS. Yusuf: 17) Walau mereka juga dapat merasakan bahwa apa yang mereka katakan adalah tipu daya belaka. Mereka pun berkata, "Engkau sekali-kali tidak percaya walau kami kami termasuk orang-orang yang jujur."

Nabi Ya'qub as. dapat mengetahui aroma tipu daya mereka melalui bukti-bukti yang mereka perlihatkan, bahwa sesungguhnya Yusuf tidak dimangsa srigala, dan mereka semua adalah pendusta. Ia berkata:

بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُوْنَ

"Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku) dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS. Yusuf: 18)

Alur kisah kembali kepada Yusuf as. yang kini berada dalam sumur, agar kita mengetahui episode terakhir pada bagian pertama dari kisah ini. Yaitu ketika Yusuf as. keluar dari sumur, lalu dijual dan dijadikan sebagai budak setelah ia berada di dalam rumah yang mulia; rumah kenabian. Kondisinya pun berubah drastis secara tiba-tiba. Dari alam kemerdekaan ke alam perbudakan. Dan keramaian kepada kesendirian, dari kemuliaan diri kepada kehinaan. Sebuah bisnis ditengah masyarakat asing, dimana manusia dapat merampas apa yang menjadi milik orang lain, hatta kehormatannya sekalipun. Di tengah masyarakat seperti itu ia tidak berhak mengendalikian dirinya sendiri. Tapi Allah Azza wa Jalla tidak membiarkannya sendiri dalam situasi seperti itu. Ia pun menempatkannya dalam rumah seorang al-'aziz (pembesar) Mesir, diperlakukan dengan sangat baik, dimana Al-Qur'an mulai menceritakan alur kisah tersebut:

"Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: "Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf[24]. Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya[25]: "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak." Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya .Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu.Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu,selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?" Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta." (QS. Yusuf: 19-26)

Allah Ta'ala berfirman:

"Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: "Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."

Ketika kafilah itu berjalan pelan dari Madyan menuju Mesir, mereka lalu mampir di sebuah tempat yang di dekatnya terdapat sebuah sumur. Seorang dari mereka kemudian menurunkan timbanya, dan ketika mengangkatnya kembali, dilihatnya seorang anak bergelantungan pada timba tersebut. Atau ia melihatnya di dasar sumur atau di atas sebuah batu di dasar sumur tersebut. Tafsiran seperti ini bisa saja muncul. Ia pun berteriak gembira dan berkata, "Ya busyra!" Dia seakan berkata kepada kawannya yang lain, "Bergembiralah kalian!"

Orang ini tampak tidak terkejut saat Yusuf menggantung di tali timba atau bila ia melihatnya di dasar sumur. Tapi ia menampakkan keterkejutan dan kegembiraannya saat menyaksikan rupa Yusuf yang tampan dan memikat. Karena siapa pun yang melihatnya, niscaya ia tidak akan merasakan kesedihan saat memeandangnya. Karena itu, lisannya segera berucap gembira seraya memanggil kawan-kawannya yang lain. Andai saja yang dilihatnya selain Yusuf, niscaya ia akan khawatir karena menemukan seorang anak kecil di tempat yang seharusnya tidak dihuni oleh seorang pun.

وَأَسَرُّوْهُ بِضَاعَةً

"Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan."

Bersama-kawannya, orang itu lalu menyembunyikan Yusuf, karena khwatir mereka akan meminta bagian dari penjualan anak tersebut sebagai orang yang turut menemukannya. Seperti itulah cara mereka memperlakukan Yusuf; mengisyaratkan kepada kawan-kawannya yang lain sebagai barang dagangan yang tiba kepada mereka seperti biasanya. Mungkin hikmah di balik munculnya rasa takut itu adalah, karena mereka menganggap bahwa anak tersebut terpisah dari kelompoknya hingga tersesat dan terjatuh ke dalam sumur. Karena itu, bila mereka menyebarluaskan tentang temuan itu, niscaya mereka akan dikejar oleh kaumnya. Itulah yang membuat mereka menyembunyikan Yusuf dan mengatakannya sebagai barang dagangan milik mereka.

وَاللهُ عَلٍيْمٌ بِمَا يَعْمَلُوْنَ

"Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." Sebagai ancaman bagi para musafir tersebut bahwa Allah Azza wa Jalla mengetahui perbuatan mereka dan kelak Ia akan menghisabnya. Karena mereka tidak berhak mengakui sesuatu yang bukan milik mereka. Atau dhamir (kata ganti untuk mereka) kembali kepada saudara-saudara Yusuf, dimana Allah mengancam atas perbuatan mereka terhadap Yusuf dan ayah mereka Ya'qub as.

وَشَرَوْهُ بِثَمَنِ بَخْسٍ

"Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah." (QS. Yusuf: 20) Mereka lalu menjualnya dengan harga sangat murah dibanding nilai yang harus mereka bayar karena kejahatan mereka. Harga yang sangat sedikit itu lalu diperjelas kembali dengan kalimat, "Beberapa dirham saja.", sesuatu yang terbatas, atau sangat sedikit. Karena mereka memang tidang mengingkannya.

Ketidaktertarikan para musafir itu pada ketampanan Yusuf memiliki hikmah sangat besar, karena mereka akhirnya menjualnya kepada seorang al-'Aziz, pembesar Mesir. Adapun yang terkait dengan al-Aziz, maka itu akan dijelaskan pada beberapa ayat berikutnya dalam surat Yusuf. Sesuatu yang berharga bisa saja dianggap tak bernilai oleh suatu kaum, namun kaum yang lain sangat menginginkannya karena nilainya yang tinggi. Seorang anak atau seorang bodoh bisa saja menemukan sesuatu yang berharga, namun karena ia tidak mengetahuinya, ia pun melemparkannya dan ditemukan oleh seseorang yang mengetahui harga dan nilai yang dimilikinya.

"Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya[26]: "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak." (QS. Yusuf: 21) Ada yang berkata, bahwa orang yang membeli Yusuf adalah Qithfir, salah seorang pembesar kerajaan yang bertanggung jawab atas logistik negeri Mesir yang juga disebut al-Aziz. Kita tidak memiliki bukti yang kuat bahwa apakah istrinya bernama Zulaikha atau Raa'il. Namun pelajaran yang kita ingin petik dari kisah ini tidak didasarkan pada pengetahuan tentang nama. Karena itu, Al-Qur'an tidak menyebutkan namanya. Sehingga sama saja bagi kita, apakah namanya benar dalam sejarah atau tidak.

Ucapanya al-Aziz kepada istrinya, ""Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik," maksudnya, "Muliakanlah tempat dan kedudukannya bersama kita, semoga saja ia bermanfaat bagi kita dan pada harta kita. Kita juga meminta bantuannya untuk kebaikan kita. Atau kita mengangkatnya sebagai anak. Sepertinya al-Aziz tidak dapat memiliki keturunan, lalu ia merasa adanya kebaikan pada diri Yusuf. Atau mungkin saja ia tidak mandul, namun ia menyukai Yusuf. Lalu ia berkata, bahwa tidak masalah bila kita mengangkatnya sebagai anak. Karena ia berfirasat adanya kebaikan pada masa depannya.

Para ulama berkata, "Manusia yang paling tajam firasatnya adalah al-Aziz Mesir, putri Syuaib yang berkata, "wahai ayahku pekerjakanlah ia", dan Abu Bakar ketika mengangkat Umar sebagai penggantinya."

وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِي اْلأَرْضِ

"Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir." Maksudnya, bahwa dengan cara seperti itu sebagaiman yang kalian saksikan, Kami selamatkan Yusuf dari tipu daya saudara-saudaranya. Kami lembutkan hati al-Aziz padanya, dan kami kokohkan kedudukannya di bumi Mesir sehingga menjadi salah satu pembesar Mesir yang bertanggung jawab atas logisitik negeri itu. Dia pula yang mengetahui mimpi raja:

وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيْلِ اْلأَحَادِيْثِ

"San agar Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi." Bahwa dengan kasih sayang Kami melakukan itu untuknya:

وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ

"Dan Allah berkuasa atas segala urusan-Nya." Bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya dari perkara Yusuf, juga kepada yang lainnya. Sebelumya saudara-saudara Yusuf ingin menyingkirkannya, namun Allah memiliki rencana lain dan mengalahkan makar mereka:

وَمَكَرُوْا مَكْراً َوَمَكَرْنَا مَكْراً وَهُمْ لاَ يَشْعُرُوْنَ

"Mereka membuat tipu daya, dan Kami pun membuat tipu daya, sementara mereka tidak mengetahui."

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ

"Tapi sangat banyak manusia yang tidak mengetahui." Karena keindahan karya-Nya dan kelembutan-Nya. Keburukan yang tampak jelas menimpa seseorang bisa saja mengandung kebaikan sangat banyak. Sebagaimana dialami Yusuf as. di dalam sumur. Dan masalah ini pun berakhir ketika Yusuf tampil sebagai tuan bagi mereka, dan apa yang mereka lakukan dahulu menjadi sebab kesuksesan Yusuf as.

Ada yang menafsirkan firman Allah Ta'ala:

وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِي اْلأَرْضِ

"Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir." Atau, Kami jadikan ia sebagai raja di bumi Mesir agar ia tegakkan keadilan dan mengatur masalah-masalah manusia.

وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيْلِ اْلأَحَادِيْثِ

"Dan kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi." Sehingga ia mengetahui kandungan Kitabullah, hukum-hukumnya serta ta'bir mimpi. Maksudnya adalah, sebagaimana Allah selamatkan ia dari tipu daya saudara-saudaranya, maka ia juga memperoleh kelembutan hati al-Aziz hingga menjadikannya sebagai penguasa Mesir. Sebagaimana firman-Nya:

وَنُرِيْدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اْستُضْعِفُوْا فِي اْلأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِيْنَ وَنُمَكِّنْ لَهُمْ فِي اْلأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ

"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kam perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu." (QS. Al-Qashash: 5) at-Tamkiin (Keteguhan) dimuka bumi artinya adalah, menjadikan orang tersebut sebagai pemilik kekuasaan dan ia ditegakkan di atasnya. Laksana gunung yang tidak seorang pun mampu menggoyahkannya dari tempatnya. Dan semua itu tidak dapat ia miliki kecuali karena kekuatan yang diberikan Allah kepadanya, pengaruh dan kekuasaan yang ia peroleh.

Setelah itu, Allah Ta'ala berfirman:

وَاللهُ غَالِبٌ عَلََى أَمْرِهِ ..

"Dan Allah berkuasa atas segala urusan-Nya." Agar Ia perlihatkan kepada kita semua bahwa tidak ada sesuatu yang aneh atas apa yang dilakukan Allah terhadap nabi Yusuf as., karena Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada yang mampu menolak ketentuan dan hukumnya.

Adapun kalimat (ملك) yang terdapat dalam penafsiran para mufassirin adalah seseorang yang memiliki kekuasaan dan pengaruh, yang sinonim dengan kata (سلطان). Karena itu dalam ayat berikut ini disebutkan:

"Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami". Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir);sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan" Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir," (QS. Yusuf: 54-56) maka berkedudukan di muka bumi sama dengan berkedudukan pada ayat tersebut. Hanya saja, yang ia inginkan adalah menjadi bendaharawan Mesir, kalimatnya berpengaruh, dan memiliki kekuatan dan kekuasaan. Yusuf juga tidak bermaksud mengucapkan kalimat ini:

"Jadikanlah saya bendaharawan negara (Mesir)." Agar raja turun dari kekuasaannya, karena hal itu bukan sesuatu yang dikenal sebagai permintaan terhadap raja. Juga tidak lumrah bila para raja harus permintaan yang diajukan kepadanya. Tapi semua ini hanya karena keinginan raja yang menghendakinya datang kepadanya untuk ia pilih bagi dirinya. Ketika raja melihat sifat amanah pada dirinya dan kedudukan yang dimilikinya, Yusuf lalu meminta agar diberi jabatan sebagai bendaharawan Mesir, karena ia pandai menjaga dan berpengetahuan. Karena itulah raja mengangkatnya sebagai penanggung jawab logistik, sehingga dengan kedudukan itu ia berwenang untuk memerintahkan dan melarang, sampai akhirnya menjadi menteri menggantikan al-Azizi:

"Dan ketika ia sampai pada usia dewasa, maka Kami beri ia hikmah dan ilmu, dan demikianlah Kami beri balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." Hikmah yang dimaksud disini adalah hikmah kenabian. Dan demikianlah Allah memberi balasan kebaikan bagi orang yang berbuat baik, sebagaimana yang dilakukan terhadap Yusuf as.

"Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya)." Ini tidak berarti bahwa peristiwa itu terjadi pada diri Yusuf as. setelah Allah memberinya hikmah dan pengetahuan, sebagaimana yang tampak dalam urutan ayat tersebut. Karena sebagaimana yang telah kami sebutkan beberapa kali bahwa tujuan Al-Qur'an tidak untuk menyebutkan peristiwa tersebut secara berurutan sesuai kemelut yang terjadi di dalamnya, seperti dalam penulisan buku sejarah. Tapi fungsi Al-Qur'an adalah menyampaikan hidayah yang pelajaran yang terkandung di dalamnya. Penyebutan kisah di dalam Al-Qur'an bisa saja dimulai dengan menyebutkan peristiwa tertentu walau ada peristiwa lain yang mendahuluinya. Penyebutkan kisah tersebut karena lebih penting dari yang lain, atau karena hikmah yang ada padanya.

Di sini Allah Ta'ala memperlihatkan kepada kita kisah Yusuf pada saat masih kecil, diliputi kasih sayang ayahnya, mimpi yang ia lihat dalam tidurnya, dan peringatan ayahnya agar tidak menceritkan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya agar mereka tidak membuat tipu daya kepadanya. Kisah tersebut lalu menceritakan sifat iri dan dengki pada diri saudara-saudara Yusuf karena cinta ayahnya yang berlebihan kepada Yusuf, dan tipu daya yang mereka buat.

Setelah itu, mereka lalu meminta kepada ayahnya agar membiarkan Yusuf ikut bersama mereka dalam perlombaan dan bersenang-senang dengan mereka, lalu muncul rasa takut ayahnya atas diri Yusuf. Kemudian diikuti oleh peristiwa dilemparkannya Yusuf ke dalam sumur dan ditemukannya ia oleh sebagian musafir, lalu Yusuf dijual kepada seseorang di Mesir, kemudian dianugerahkan padanya kedudukan serta diberikan hikmah dan pengetahuan. Dan disertai dengan firman Allah Ta'ala:

"Dan demkianlah kami balas orang-orang yang berbuat baik." Maksudnya, demikianlah Allah mengganjar Yusuf dengan kebaikan sebagaimana yang Ia lakukan kepada setiap orang yang berbuat baik.

Allah Azza wa Jalla kemudian menjelaskan kepada kita salah satu sisi kebaikan yang dimiliki Yusuf. Firman-Nya:

"Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya)." Kisah tentanggodaan, Yusuf di penjara, lalu terbebaskannya ia tuduhan keji, semua ini adalah jawaban dari apa yang telah Allah limpahkan kepadanya, berupa hikmah dan pengetahuan. Itu terjadi sebelum Allah mengangkatnya sebagai penguasa Mesir dan Raja mempercayakannya sebagai bendaharawan Mesir.

Salah satu sebab yang membuat istri al-Aziz berani melakukan perbuatan itu, tidak lain karena Yusuf tinggal di rumah tersebut sebagai sahaya. Membuat istri al-Aziz merasa berhak atas diri sahayanya sebagaimana keinginan para wanita yang memiliki sahaya. Ia bahkan menduga bahwa keinginannya akan direspon oleh Yusuf, karena kedudukannya sebagai wanita terpandang di antara wanita lainnya yang memiliki kekayaan, popularitas, dan kekuasaan yang ia peroleh dari suaminya, al-Aziz. Ada kemungkinan wanita itu berusia empat puluh tahun sementara Yusuf berusia dua puluh lima tahun atau sekitar itu. Sikap yang diperlihatkan wanita pada usia seperti itu menunjukkan dirinya sebagai wanita sempurna, nekad, dikuasai oleh tipu dayanya, dan sangat menginginkan bujangnya.

Pengalaman atau ujian yang dihadapi oleh Yusuf as. bukan hanya berupa godaan wanita sebagaimana terjadi pada penggalan kisah ini. Bahkan dalam kehidupannya di usia remaja dan puberitas seluruhnya berada dalam suasana istana, bersama dengan wanita yang berusia tiga puluh ke empat puluh, sangat menggoda bagi Yusuf yang hidup bersamanya, sementara wanita itu sangat menginginkannya dan melakukan berbagai macam cara agar ia dapat meraih keinginannya.

Namun banyaknya godaan dan rayuan itu tidak membuat Yusuf bergeming. Bahkan jawaban tegas keluar dari mulutnya:

"Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung." Jawaban tegas disertai dengan penyebutan tentang nikmat Allah yang diberikan kepadanya, batasan-batasan yang berlaku padanya, serta balasan bagi orang-orang yang melanggar batasan tersebut.

"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya." Para ahli tafsir dan hadits terdahulu membatasi pandangan mereka terhadap realitas terakhir ini. Adapun mereka yang mengikuti jejak kisah israiliyat, maka mereka menceritakan mithologi sangat banyak tentang Yusuf sebagai pemuda dengan nafsu sangat kuat, namun Allah melindunginya dengan tanda-tanda sangat banyak tapi tidak terkendalikan! Ayahnya Ya'qub, lalu digambarkan muncul dan terlihat di atas atap sambil meletakkan jemarinya pada mulutnya! Juga digambarkan adanya papan yang bertuliskan di atasnya dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang melarang melakukan perbuatan mungkar itu, namun ia tak juga dapat menahan diri. Bahkan di antara mereka ada yang membuat cerita-cerita hasil karangan mereka sendiri!

Adapun mayoritas ahli tafsir, maka mereka menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan hammat bihi adalah perbuatan, dan hamma biha adalah nafsu. Takkala ia melihat tanda Tuhannya, ia pun meninggalkannya. Tafsiran ini dibantah oleh Syaikh Rasyid Ridha dalam tafsir Almanar atas pendapat mayoritas ahli tafsir. Beliau berkata, "Bahwa sesungguhnya wanita itu ingin memukulnya karena ia menolak dan enggan menuruti kemauannya sebagai tuan di rumah tersebut. Sementara dia (Yusuf) ingin membalas perlakuannya, tapi ia lebih memilih untuk berlari keluar pintu hingga wanita itu mengejarnya dan menarik bajunya hingga sobek.

Adapun tafsiran tentang al-Ham (keinginan) untuk memukul dan membalas pukulan tersebut adalah sesuatu yang tidak ada buktinya dalam penjelasan tersebut. Dan itu hanya sekedar pendapat yang berusaha menjauhkan Yusuf dari keinginan melakukan berbuatan itu, atau berupa kecenderungan kepadanya pada realitas itu. Seakan ada usaha menjauhkan dari apa yang telah ditunjukkan dalam naskh tersebut.

Adapun yang melintas dalam benak penulis sambil menelaah kembali nash tersebut dan situasi dimana Yusuf hidup dalam waktu cukup lama di dalam sebuah istana bersama dengan wanita yang telah dewasa, itu sebelum ia diberi hikmah dan ilmu. Dan setelah peristiwa tersebut, ia pun diberi keduanya.

Yang menjadi bahan telaah saya adalah firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya[27]." (QS. Yuusuf: 24)

Ini adalah godaan terakhir yang dilakukannya, setelah Yusuf menolak pertama kali dan menundukkan diri. Ini adalah penggambaran dari sebuah realitas yang jujur tentang kondisi jiwa manusia yang shaleh dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Namun adanya hubungan erat dengan Allah membuatnya mampu meraih kesuksesan.

Namun gaya bahasa Al-Qur'an tidak menjelaskan secara detail perasaan manusia yang campur-baur, kontradiktif dan berusaha untuk saling mengalahkan. Karena manhaj Al-Qur'an tidak membuat situasi seperti itu sebagai pertunjukan yang mengambil ruang lebih banyak daripada seharusnya dalam bingkai sebuah kisah; dan dalam bingkai kehidupan manusia yang juga saling menyempurnakan. Maka penyebutan dua sikap pada ayat ini, antara penolakan yang dilakukan oleh Yusuf dan pendalaman tentang adanya kelemahan pada diri keduanya, agar saling menyempurnakan antara kejujuran, realitas dan suasana yang tetap bersih sekaligus.

Pandangan seperti inilah yang seharusnya muncul dalam benak kita saat menelaah nash tersebut dan coba membayangkan situasi yang terjadi ketika itu. Ini lebih dekat pada tabiat manusia dan kepada perlindungan kenabian. Yusuf juga adalah manusia. Sehingga cukup wajar bila pada dirinya muncul kecenderungan tersebut pada saat-saat tertentu. Maka ketika ia menyaksikan tanda dari Tuhannya yang muncul dalam jiwa dan hatinya, seketika itu pula kelemahan dirinya secara tiba-tiba itu kembali kepada penolakan dan ketidakinginan:

"Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu (dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak) dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu." Di sini terlihat kedewasaan seorang wanita secara spontan memberi jawaban atas pertanyaan yang muncul dari pemandangan dan situasi ganjil yang terjadi ketika itu, dimana ia menuduh pemuda tersebut. Katanya:

قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوْءاً

"Apakah balasan bagi seseorang yang ingin berbuat keji kepada keluargamu?" Tapi wanita yang sudah dimabuk cinta dan tetap khawatir pada diri sosok yang dicintainya, membuatnya mengusulkan hukuman yang lebih aman:

"Kecuali baginya penjara atau hukuman yang pedih." Namun Yusuf menyatakan yang sebenarnya dihadapan tuduhan dusta yang ditimpakan kepadanya:

"Dialah yang merayuku agar menundukkan diri kepadanya." Lalu disebutkan di sini bunyi ayat tersebut bahwa salah seorang keluarga dari wanita tersebut memberikan kesaksiannya dalam perseteruan itu:

"...dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Bila baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itu dusta, dan di (Yusuf) termasuk orang yang jujur." Ketika suaminya menyaksikan baju Yusuf koyak di belakang, jelaslah baginya sesuai dengan persaksian tersebut bahwa istrinya yang berusaha merayu Yusuf lalu melontarkan tuduhan palsu itu. Dari kisah ini tampak bagi kita gambaran dari claster tertinggi di masa jahiliah sejak ribuan tahun silam, dan kini seakan hadir kembali. Kelemahan dalam menghadapi keburukan seksual; dan kecenderungan untuk menutupinya dari masyarakat. Ini salah satu bagian penting dari kisah ini:

"Ketika ia melihat bagi gamis (Yusuf) sobek di belakang, ia berkata, sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar." (Hai) Yusuf: "Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah." (QS. Yusuf: 28-29)

Demikianlah sesungguhnya, bahwa "Tipu daya daya kalian (wanita) sangat besar." Ini merupakan tanda kelicikan dalam menghadapi situasi yang dapat mengobarkan amarah dalam jiwa. Dan berlemah lembut saat berhadapan dengan istrinya terkait dengan perkara yang seluruhnya mengarah kepada seksualitas. Kalimat yang yang mirip pujian dengan tidak menghinakannya dengan mengatakan, "Sesungguhnya tipu daya kalian sangat besar." Ini menunjukkan bahwa dia memang seorang wanita dengan segala kesempuraan dan kemampuannya sebagai wanita yang memiliki tipu daya sangat besar.

Ia kemudian menoleh kepada Yusuf yang bersih dari tuduhan tersebut dengan mengatakan:

"Hai Yusuf, berpalinglah dari ini[28]." Biarkanlah ini semua, jangan menarik perhatian orang lain dan jangan ceritakan semua ini. Ini yang penting; menjaga agar aibi ini tidak terbongkar! Sekaligus menasehati istrinya yang meggoda bujangnya agar menundukkan diri padanya. Bahkan merobek bajunya:

"dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu," Seperti inilah claster aristokrat dihadapan laki-laki jelata di seluruh bentuk jahiliyah, tidak jauh berbeda! Tirai panggung kisah itu pun diturunkan sebagai tanda berakhirnya salah satu bagian dari kisah tersebut dan segala yang ada di dalamnya. Susunan kalimat pada kisah tersebut menggambarkan saat-saat dengan segala kaitannya, tanpa memunculkan untuk dorongan hewaniah yang buas, atau tenggelam dalam lumpur seksualitas yang buruk! Dan berbagai masalah pun kembali berjalan seperti apa adanya di dalam istana!

Tapi di dalam istana yang dikelili oleh tembok-tembok tinggi ada pelayan, pembantu dan sanak saudara. Sehingga apa yang terjadi di dalamnya tidak dapat ditutupi seluruhnya. Khususnya di lingkungan aristokrat yang kaum wanitanya tidak memiliki aktivitas dan kegiatan lain kecuali membicarakan apa yang terjadi di sekeliling mereka. Perbuatan keji itu akhirnya menjadi buah bibir di berbagai majelis, ruang pertemuan dan sebagainya:

"Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata." Ini adalah ucapan yang kerap dikatakan para wanita yang tinggal di lingkungan jahiliyah saat menemukan perkara seperti ini.

Untuk pertama kalinya kita mengetahui bahwa wanita tersebut adalah istri al-Aziz, seorang pembesar istana, yang juga membeli Yusuf. Sehingga berita tersebut dengan sangat cepat tersebar luas di penjuru kota:

"Istri al-Aziz menggoda bujangnya agar menundukkan diri kepadanya." Lalu menjelaskan tentang kondisi wanita dengan bujangnya:

قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا

"Cintanya kepada bujangnya sangat mendalam." Dan:

إِنَا لَنَرَاهَا فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ

"Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata."

Apa yang terjadi dalam kisah ini adalah sesuatu tidak dapat terjadi kecuali dalam claster pertengahan, dan susunan kalimat yang mengungkap episode perbuatan wanita nekad itu yang tahu bagaimana menghadapi wanita yang setara dengannya, melalui tipu daya yang sama dengan tipu daya yang mereka lakukan:

"Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia. Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina." (QS. Yusuf: 31-32)

Istri al-Aziz mengadakan acara makan di istananya. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah kaum wanita dari kalangan kasta terpandang, yang diundang menghadiri acara makan tersebut. Sepertinya para undangan itu menikmati makanan sambil bersandar di bantal-bantal sebagaimana kebiasaan orang timur ketika itu. Satu persatu wanita-wanita tersebut diberi sebuah pisau yang digunakan untuk makan –dari kisah ini juga diketahui bahwa peradaban materialis Mesir ketika itu telah sampai pada tingkat yang sangat jauh. Demikian pula dengan kehidupan yang begitu mewah di dalam istana. Sebagaimana penggunaan pisau dalam jamuan makan sejak ribuan tahun silam memiliki nilai tersendiri dalam menggambarkan kehidupan mewah dan peradaban materi yang berkembang ketika itu.

Ketika para wanita sedang sibuk memotong atau mengupas buah, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Yusuf:

"Keluarlah (nampakkanlah dirimu kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai jari) tangannya dan berkata:"Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia." (QS. Yusuf: 31) Kalimat terakhir itu adalah ungkapan mensucikan Yang Maha Agung sebagai kekaguman terhadap ciptaan-Nya, sekaligus membuktikan masih adanya kepercayaan terhadap agama tauhid ketika itu.

Wanita ini akhirnya melihat bahwa ia sukses mengalahkan para wanita yang satu kasta denganya yang terkejut bukan kepalang saat menyaksikan Yusuf. Istri al-Aziz yang merasa dirinya telah menang dan tidak malu di hadapan para wanita yang lain, seraya membanggakan diri bahwa itu semua seakan hasil karyanya. Ia lalu berkata:

"Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak." Walau bujangnya menolak keinginannya saat itu, namun ia merasa dapat menaklukkannya pada kesempatan lain.

Wanita berkata bahwa, saya pun sangat kagum terpukau seperti kalian. Karena itu saya menggodannya namun ia menolak. Ia lalu memperlihatkan kekuasaan dirinya atas bujangnya di hadapan wanita-wanita itu, tanpa sedikit pun merasa bersalah dengan karakter dirinya yang tersingkap jelas di depan mereka:

"Bila ia tidak melakukan apa yang saya perintahkan kepadanya, niscaya ia akan dipenjara dan termasuk orang-orang yang hina."

Keterusterangan, kebanggaan, ancaman dan tipu daya baru akan ia gunakan untuk terus menekan. Dan Yusuf hanya mendengar ucapan tersebut di tengah kumpulan wanita-wanita itu. Mengomentari ucapan yang dikatakan pemilik rumah, Yusuf hanya memasrahkan diri dan bermunajat kepada Tuhannya:

"Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya." Yusuf tidak berkata, "Apa yang dia ajak aku kepadanya." Karena mereka semua bersekutu dalam hal ini, apakah dengan ucapan, gerakan atau isyarat. Namun Yusuf memohon pertolongan kepada Tuhannya agar menyingkirkan berbagai usaha mereka untuk menjerumuskannya ke dalam jaring mereka sendiri. Karena ia khawatir bila satu saat nanti melemah di hadapan berbagai godaan, sehingga membuatnya terjerumus di dalamnya. Sebab itulah ia memohon kepada Tuhannya agar menyelematkannya dari semua itu:

وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ اْلجَاهِلِيْنَ

"Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." Ini adalah permintaan seorang manusia yang mengetahui dengan baik sisi kemanusiaannya, yang tidak oleh ketundukan dirinya, sehingga ia ingin tambahan perlindungan dan pertolongan Allah; membantunya menghadapi fitnah, tipu daya dan godaan mereka:

"Maka Tuhannya memperkenankan do'a Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."


Nabi Yusuf as. Di dalam penjara, Menyeru Manusia kepada Agamanya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai waktu tertentu[29]. Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur." Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung." Berikanlah kepada kami ta'birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi). Yusuf berkata: "Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." Hai kedua penghuni penjara: "Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)." Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu."Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya. Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi." Mereka menjawab: "(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta'birkan mimpi itu."(QS. Yusuf: 35-44)

Yusuf akhirnya dimasukkan ke dalam penjara, walau ia bukan pelaku kajahatan. Tak lama kemudian, dua orang pemuda juga dijebloskan ke dalam penjara. Seorang dari mereka adalah pembuat roti raja. Dan yang kedua bekerja menyediakan minuman raja. Beberapa hari berselang Yusuf didatangi oleh pembuat minuman raja dan menyampaikan padanya mimpinya yang disaksikannya. Ia melihat dirinya mengambil segantang kurma lalu memerahnya untuk minuman raja. Pemuda yang bekerja sebagai pembuat roti juga datang kepadanya dan berkata, "Saya melihat di atas kepalaku keranjang berisi roti, lalu burung-burung datang dan memakan roti tersebut." Keduanya lalu meminta kepadanya agar mentakwilkan apa yang dilihatnya dalam mimpi mereka.

Yusuf memanfaatkan kesempatan tersebut sekaligus untuk memperkenalkan agama yang dianutnya dan menyeru mereka kepadanya. Ia lalu berdiri menyampaikan kemampuannnya mentakwilkan mimpi, dan bahwa tidak ada makanan yang didatangkan kepada mereka kecuali bahwa ia dapat memberitahu jenis makanan tersebut sebelum tiba di hadapan mereka. Itulah yang diajarkan Allah kepadanya dengan meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya dan hari kemudian sebagaimana yang dianut oleh kaumnya, lalu ia mengikuti agama Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Demikianlah karunia Allah Ta'ala kepadanya dan kepada manusia. Ia lalu bertanya kepada kedua kawannya; sesama penghuni penjara:

"Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?" yang tidak memerintahkan manusia untuk menyembah kepada selain Allah, itulah agama yang lurus, dan karena kebodohan manusialah sehingga mereka tidak mengetahuinya. Setelah Yusuf mendakwahi mereka dan mengajaknya kepada agama yang dianutnya, ia pun berkata:

"Hai kedua penghuni penjara: "Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)."

Pada saat itu pula, Yusuf ingin mendapatkan pembebasan dari penjara melalui salah seorang dari mereka yang ia duga selamat dari hukuman raja. Ia pun berkata:

"Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Dan mimpi keduanya pun menjadi kenyataan.

Nabi Yusuf as. Dibebaskan

Beberapa tahun kemudian, Allah Ta'ala ingin mempercepat proses kebebasan Yusuf dari penjara dengan menyediakan sebab-sebab tertentu. Maka ketika raja Mesir menyaksikan tujuh ekor sapi gemuk datang dari sungai makan di taman, ia lalu melihat tujuh ekor sapi lainnya dengan tubuh yang jelek dan kurus muncul dari sungai lalu memakan tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk itu. Mimpi itu membuat Raja terbangun dari tidurnya. Saat ia idur kembali, dilihatnya tujuh bulir gandum yang bagus-bagus dalam satu tangkai, dan melihat tujuh bulir gandum kering dibelakangnya tertiup angin timur hingga beterbangan dan hinggap di tujuh bulir gandum yang gemuk yang kemudian memakannya.

Mimpi tersebut membuat Fir'aun (Raja Mesir disebut Fir'aun) terkejut dan terbangun dari tidurnya. Ia lalu memanggil tukang sihir dan siapa pun yang memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Namun ia tidak mendapatkan jawaban memuaskan tentang mimpi itu:

Mereka menjawab: "(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta'birkan mimpi itu." Pada saat itulah, pegawai yang bekerja membuat minuman raja teringat tentang Yusuf yang dahulu bersamanya di penjara. Ia lalu menyampaikan hal tersebut kepada raja dan menceritakan kepadanya mimpi yang dialaminya bersama pegawai yang bekerja membuat makanan raja. Bahwa seorang pemuda Ibrani di dalam penjara telah mentakwilkan mimpi mereka, dan mimpi menjaadi kenyataan. Ia juga meminta agar dibawa ke penjara untuk menanyakan takwil mimpi tersebut kepada Yusuf. Raja pun berkenan dan mengirim orang itu ke penjara.

Ketika ia bertemu Yusuf, orang itu pun berkata kepadanya:

(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering." Yusuf lalu menceritakan mimpi itu kepadanya. Bahwa kelak di Mesir akan datang tujuh masa dimana bumi subur dengan hasil panen melimpah ruah. Kemudian datang tujuh masa berikutnya dimana bumi kering sehingga kalian hanya akan memperoleh makanan dari apa yang kalian simpan selama tujuh masa sebelumnya. Ketika masa dimana bumi subur dan panen melimpah ruah itu tiba, kalian harus hidup hemat dan menyimpan kelebihan makanan di tempat penyimpanan, sehingga ketika masa sulit dan kering itu datang, kalian dapat memanfaatkan makanan di dalam gudang penyimpanan agar kalian tidak kelaparan hingga tibanya masa subur berikutnya.

Setelah selesai, penyedia menuman raja lalu kembali menghadap kepada raja dan menyampaian ta'wil mimpi yang ia dengar dari Yusuf. Betapa gembira raja Mesir sangat mendengar ta'wil tersebut dan menganggapnya sebagai ta'wil yang sangat tepat. Raja lalu berkata, "Bawalah Yusuf kemari!" ketika mereka hendak mengeluarkannya dari penjara, Yusuf menolak sehingga raja mengetahui perkara yang sebenarnya. Ia lalu meminta kepada utusan tersebut agar kembali menemui raja dan menanyakan tentang para wanita yang dahulu memotong tangan mereka. Karena ia pasti mengenal nama-nama mereka. Ketika wanita-wanita tersebut dihadirkan oleh raja yang kemudian bertanya kepada mereka tentang Yusuf, mereka berkata, "Maha Suci Allah! Kami tidak mengetahui tentang dirinya selain kebaikan." Mereka juga mengingkari telah mendengar sesuatu tentang dirinya dan istri al-Aziz.

Bisa jadi bahwa apa yang terdapat dalam Al-Qur'an mengenai ucapan mereka:

حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوْءٍ

"Mereka berkata: "Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya". Adalah ungkapan atas apa yang mereka saksikan dan ketahui tentang diri Yusuf bahwa ia bebas dari tuduhan keji itu. Dan mereka (para wanita itu) datang untuk bersaksi di hadapannya sekaligus menyatakan ketidakterlibatan Yusuf terhadap kekejian itu. Menurut penulis, ini adalah kemungkinan yang paling tepat. Saya juga ingin berkata bahwa kedatangan para wanita tersebut untuk bersaksi di hadapannya membuat istri al-Aziz dalam posisi terjepit. Sehingga tak ada jalan lain baginya selain mengungkap fakta yang sebenarnya. Akhirnya ia berkata:

اَلآنَ حَصْحَصَ اْلحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لمَِنَ الصَّادِقِيْنَ

"Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar."

Kitab Taurat juga bercerita tentang kisah Yusuf yang dipenjara dan mimpi dua pekerja raja, sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur'an. Namun tidak disebutkan dialog antara raja dan Yusuf terkait dengan ketidakterlibatannya dalam kasus tersebut. Para wanita yang memotong tangannya itu juga tidak disebutkan. Demikian pula tentang perkara mereka. Namun dalam Taurat disebutkan tentang kedudukan Yusuf as. yang kian terpandang di dalam penjara sehingga seakan tampil sebagai pemimpin yang memiliki wewenang untuk memerintahkan dan melarang bagi setiap tahanan di penjara tersebut.

Penulis ingin menambahkan tentang persaksian para wanita itu bagi Yusuf yang membebaskannya dari berbagai tuduhan keji, bahwa ketika istri al-Aziz melihat Yusuf yang ia jebloskan ke dalam penjara secara aniaya, ternyata Allah memuliakannya, sehingga ia pun dipanggil raja untuk dijadikan sebagai pembantunya. Adapun tuduhan yang tidak pernah dilakukan oleh Yusuf, ternyata tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya atau petaka bagi Yusuf sedikit pun. Akhirnya, istri al-Aziz untuk pertama kalinya mengakui kebenaran di pihak Yusuf setelah ia lontarkan tuduhan palsu kepadanya. Dan sekian tahun lamanya ia tetap berada di atas kebatilan itu.

Tak ada pengakuan yang keluar dari lisan wanita ini kecuali setelah ia mengakui kekalahannya, dan akhirnya membeberkan apa yang selama ini ia sembunyikan di hadapan suami dan keluarganya selama sekian tahun. Ia berkata:

"Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar." (Yusuf berkata): "Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang." (QS. Yusuf: 51-53)

Adanya pengakuan tersebut -yang menunjukkan kebenaran Yusuf dan bebasnya ia dari berbagai tuduhan dusta yang ditujukan kepadanya secara zalim, pengakuan yang tidak pernah diduga oleh Yusuf akan keluar dari mulut seorang istri al-Aziz yang telah menjebloskannya ke dalam penjara- saat itulah ia tidak lagi membutuhkan berbagai alasan dan bukti tentang kebersihan dirinya, atau membuat pernyataan bahwa ia di penjara secara zalim. Ia telah persembahkan dirinya sebagai tebusan bagi kehormatan diri istri al-Aziz, sekaligus sebagai korban dari tipu daya dan kejahatan yang dilakukannya.

Catatan:

Sebagian ahli tafsir menjadikan firman Allah Ta'ala, "َوَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي" sebagai ucapan nabi Yusuf as. Padahal itu salah. Karena susunan ayat dan spirit dari tema tersebut bertentangan dengan pernyataan itu. Ini adalah ucapan istri al-Aziz. Kalimat tersebut muncul ketika Yusuf masih berada di dalam penjara sebelum raja berkata:

ائْتُوْنِي بِهِ اَسْتَخْلِصُهُ لِنَفْسِي

"Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". (QS. Yusuf: 54)

Yusuf as. Di Hadapan Raja

Ketika masalah ini semakin jelas di hadapan raja Mesir, bahwa Yusuf tidak terlibat dalam kasus yang dituduhkan kepadanya yang membuatnya dapat keluar dari penjara dengan alasan sangat jelas dan nama yang telah direhabilitasi, Raja lalu berkata kepada pembantunya agar Yusuf didatangkan kepadanya. Saat itu Yusuf tidak melihat adanya alasan baginya menolak permintaan itu. Ia pun mendatangi raja, berbicara dengannya dan menafsirkan apa yang dilihatnya dalam tidurnya. Tafsiran Yusuf tentang mimpi itu membuat raja takjub. Ia lalu bertanya bila Yusuf menginginkan pekerjaan yang tepat untuknya. Ia pun menjawab:

اِجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ اْلأَرْضِ إِنيِّ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ

"Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".

Bacalah firman Allah Ta'ala dalam surat Yusuf berikut ini:

"Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami". Berkata Yusuf:"Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir);sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa." (QS. Yusuf: 54-57)

Penggalan kisah ini juga terdapat dalam kitab Taurat. Namun tidak disebutkan setelah ia keluar dari penjara hingga ketidakterlibatannya dirinya pada tuduhan tersebut menjadi jelas. Bahkan disebutkan disana bahwa pembuat minuman raja memberitahu raja bahwa Yusuf memiliki kemampuan mentakwilkan mimpinya. Kepada mereka ia berkata, "Yang harus dilakukan adalah menyimpan lima hasil bumi ketika masa subur. Hingga apabila musim kering tiba, negeri ini telah memiliki persiapan untuk mengatasi kelaparan. Karena itu, dibutuhkan seorang yang pakar dari negeri ini yang mampu menghadapi masalah tersebut. Raja Mesir lalu berkata kepada balatentaranya, "Apakah kita dapat menemukan seseorang yang padanya terdapat ruh Allah?"

Ia lalu menoleh kepada Yusuf dan berkata, "Setelah Allah mengajarkan semua ini kepadamu, maka tak ada lagi yang memiliki kecerdasan dan hikmah selain dirimu. Sekarang engkau berada di rumahku, dan apapun yang keluar dari mulutmu akan diterima dan disambut baik oleh rakyatku. Kecuali bahwa kedudukanku masih lebih tinggi darimu." Raja juga berkata, "Saya memberi wewenang kepadamu untuk mengontrol dan mengendalikan seluruh wilayah Mesir." Ia lalu melepaskan cincin yang melekat di jari tangannya dan memasangkannya pada jari Yusuf. Raja juga mengenakan padanya kain sutera, meletakkannya kalung emas pada lehernya serta menaikkannya di atas kendaraannya yang kedua. Raja lalu menyeru rakyatnya yang ada dihadapannya agar segera menghormat dan ruku kepada Yusuf, sekaligus menjadikannya sebagai penguasa Mesir yang memiliki wewenang di mana larangan dan perintahnya harus dipatuhi. Peristiwa itu terjadi ketika Yusuf berusia 35 tahun. Ia lalu keluar dari penjara dan mulai berkeliling ke seluruh pelosok Mesir untuk memeriksa kondisi rakyatnya sekaligus mempersiapkan berbabagai macam agenda dan program guna mengatasi kelaparan yang akan melanda negerinya.

Saudara-saudara Yusuf Mencari Bahan Makanan di Mesir

Masa tujuh tahun yang dipenuhi kebaikan; tanah subur dan hasil panen yang banyak telah berlalu. Yusuf kini mulai menyiapkan berbagai hal untuk menghadapi tujuh tahun berikutnya. Ia pun memenuhi gudang makanan dengan hasil panen melimpah pada tahun-tahun sebelumnya. Tak lama kemudian musim kering dan masa paceklik melanda di seluruh wilayah Mesir. Adapun masyarakat Mesir, maka mereka mendatangi raja Mesir meminta makanan kepadanya. Raja lalu mengarahkan mereka kepada Yusuf yang segera membuka gudang makanan dan menjual logistik sesuai kebutuhan mereka.

Penduduk Palestina juga merasakan dampak musim kering dan paceklik pada tahun-tahun itu hingga membuat mereka kelaparan. Saat mengetahui bahwa di Mesir tersedia kebutuhan pangan yang memadai, Nabi Ya'qub as. lalu memerintahkan anak-anaknya berangkat kesana membawa unta dan keledai untuk membawa makanan. Setelah nabi Ya'qub memberi uang, mereka segera berangkat untuk membeli kebutuhan pokok bagi keluarga mereka. Saat tiba di Mesir, Yusuf segera tahu bahwa mereka itu adalah saudara-saudaranya, walau mereka tidak mengetahuinya.

Ini adalah sesuatu yang lumrah, karena ia telah berpisah sangat lama dengan mereka. Ketika itu usia Yusuf sudah lebih dari 40 tahun. Apalagi karena ia mengenakan pakaian kebesaran sebagai pembesar kerajaan, membuata mata orang-orang tertunduk di hadapannya. Adapun saudara-saudara Yusuf, bahasa, model pakaian dan penampilan mereka tidak berubah sejak dahulu.

Ketika Yusuf menyiapkan makanan yang dibeli oleh saudara-saudaranya, ia berkata kepada mereka, "Bawalah saudara dari ayah kalian kemari, dan saya akan memperlakukan kalian seperti ini. Bila kalian tidak membawanya, maka tak ada lagi sukatan untuk kalian dan kalian tidak perlu datang kemari." Ia mengatakan demikian karena Yusuf tidak melihat saudaranya seibu "Benyamin" turut bersama mereka ke Mesir. Karena itu ia mendekati mereka perlahan-lahan, sehingga ia tahu tentang kehidupan mereka; bahwa ayahnya tidak ingin ia berpisah dengannya. Yusuf lalu memberi mereka makanan sekaligus mengembalikan harta pembayaran tersebut ke dalam karung milik mereka tanpa seorang pun mengetahuinya, agar kelak mereka datang bersama saudaranya yang paling muda.

Saudara-saudaranya lalu berkata, "Kami akan berusaha membujuk ayahnya agar mengizinkannya keluar bersama kami." Setelah melayani mereka dengan baik, Yusuf berkata kepada pegawainya, "Letakkanlah harta yang mereka gunakan membeli makanan di dalam wadah mereka, kelak mereka akan datang kembali kepada kita karena tidak menerima apa yang bukan milik mereka. Disini Yusuf menanam saham kebaikan agar kelak mereka kembali kepadanya.

Saudara-saudara Yusuf bersama ayah mereka

Saudara-saudara Yusuf lalu kembali ke kampung halaman mereka dan menyampaikan kepada Nabi Ya'qub bahwa Menteri Logistik dan Perdagangan melarang mereka membeli makanan bila kelak mereka tidak datang kesana bersama saudara mereka, Benyamin. Ya'qub akhirnya teringat kembali apa yang telah mereka lakukan dahulu terhadap Yusuf. Ia pun berkata kepada mereka:

هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلاَّ كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَى أَخِيْهِ مِنْ قَبْلُ

"Bagaimana aku akan mempercayakannya Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu[30].

Takkala saudara-saudara Yusuf membuka barang bawaan mereka, di dalamnya mereka temukan perak milik mereka sebagaimana adanya. Hal itu kian mendorong mereka untuk menyertakan saudaranya kelak ke Mesir. Mereka berkata, "Wahai ayah kami! Sungguh tidak pantas, karena harta kami dikembalikan! Bila engkau mengizinkan, maka kami akan berangkat kesana bersama saudara kami, karena sesungguhnya kami akan memberi makan untuk keluarga kami, menjaga saudara kami dan bertambah pula sukatan kami. Dan semua itu sesuatu yang mudah bagi al-Aziz yang menginginkan saudara kami."

Situasi dan kondisi yang sangat sulit saat itu membuat Ya'qub akhirnya merelakan putra kesayangannya berangkat bersama saudara-saudaranya yang lain, dengan memberi syarat kepada anak-anaknya. Ia berkata, "Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kalian, sebelum kalian memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kalian pasti membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kalian dikepung musuh, atau kecuali bila kalian tidak dapat menghadapi perkara yang menimpa kalian." Mereka lalu memberinya janji setia sebagaimana disyaratkan oleh Ya'qub. Dan saat itu juga ia berkata, "Dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan." Ia juga berwasiat kepada putra-putranya agar tidak memasuki satu pintu saja saat tiba di Mesir, tapi mereka hendaknya masuk dari beberapa pintu yang berbeda.

Para ahli tafsir berkata, "Nabi Ya'qub menyarankan hal tersebut karena khawatir adanya kedengkian mereka terhadap Benyamin." Dan penulis lebih cenderung berpendapat bahwa hal untuk menghindarkan kecurigaan orang-orang terhadapnya dan membuat mereka memperbincangkan kedatangannya atau terkait dengan tujuan kedatangan mereka. Masyarakat Mesir bisa saja mengira mereka sebagai mata-mata atau pemimpin kelompok yang di belakang mereka ada orang-orang yang ingin berbuat jahat terhadap negeri ini dari kaum yang tertimpa kelaparan. Tapi bagaimanapun, keluarga Yusuf akhirnya kembali lagi ke Mesir untuk mencari bahan makanan, sehingga tidak seorang yang bersama ayah mereka.

Siasat Nabi Yusuf as. Agar saudaranya, Benyamin tetap Bersamanya

Saudara-saudara Yusuf akhirnya tiba bersama saudara paling muda, yaitu Benyamin. Yusuf lalu berkata kepada mereka, "Inikah dia saudara kalian yang kalian bicarakan itu." Ia kemudian menyuruh pembantunya agar mamasukkan bahan makanan dan koin perak ke dalam karung saudara-saudaranya, dan piala (tempat minum) ke dalam karung yang paling kecil tanpa sepengetahuan seorang pun dari mereka.

Setelah jauh berjalan, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan pegawai Yusuf yang memanggil dan mencela mereka atas perbuatan yang mereka lakukan, dan bahwa mereka membalas kebaikan dengan keburukan. Mereka dituduh telah mencuri piala raja "Yusuf". mereka dengan tegas menolak tuduhan itu dan berkata, "Barang siapa yang padanya ditemukan piala raja, maka ia akan diambil sebagai budak. Pegawai Yusuf lalu memeriksan bawaan mereka masing-masing yang dimulai dari saudara yang paling tua dan terakhir yang paling muda. Mereka akhirnya menemukan piala tersebut dalam karung makanan milik Benyamin. Mereka lalu kembali ke kota bertemu dengan Yusuf seraya meminta belas kasih darinya. Yusuf lalu mencela perbuatan yang mereka lakukan. Namun mereka berusaha membujuk Yusuf agar mengambil seorang dari mereka sebagai budak sebagai ganti dari saudara mereka; Benyamin.

Namun tawaran mereka ditolak oleh Yusuf, seraya berkata, "Yang ditemukan padanya piala tersebut, maka dia adalah sahayaku. Adapun kalian, maka kembalilah ke negeri kalian." Dan Yusuf menolak usulan yang mereka tawarkan. Mereka lalu menjelaskan kembali bahwa ayahnya sangat mencintainya, dan hatinya tergantung padanya. Apalagi setelah ia kehilangan kakaknya. Karena itu, mereka berharap agar raja membebaskan saudara mereka. Di hadapan Yusuf mereka memelas disertai amarah dalam hati atas apa yang dilakukan oleh Benyamin. Mereka berkata, "Bila ia mencuri, maka sesungguhnya saudaranya dahulu juga pernah mencuri." Namun Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): "Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu".

Akhirnya saudara-saudara Yusuf putus asa untuk dapat mengambil saudaranya kembali –dengan cara barter-. Saudara paling tua mereka bernama Roubil berkata, "Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya". Namun ia menyarankan agar saudara-saudaranya lain tetap kembali ke Palestina, sekaligus menyampaikan kepada ayahnya perkara yang menimpa saudara mereka, dan bahwa ia telah dijadikan sebagai budak raja atas pencurian yang dilakukannya. Perbuatan itu tidak hanya diketahui oleh mereka, tetapi juga disaksikan oleh banyak orang yang ada di tempat tersebut.

Saudara-saudara Yusuf –kecuali yang paling besar dan yang terkecil- akhirnya kembali ke Mesir dan menyampaikan masalah yang menimpa mereka di sana. Apa yang terjadi terhadap Benyamin dan tipu daya yang mereka lakukan dahulu terhadap Yusuf membuat Ya'qub semakin sedih, sehingga matanya menjadi putih. Ia pun berharap dapat berjumpa dengan Yusuf sebagaimana kebiasaannya. Ia pun berkata, "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf". Putra-putranya hanya dapat mencela kelakukan ayah mereka yang ingatannya selalu saja kepada Yusuf, padahal ia telah tiada dan takkan kembali lagi. Namun Ya'qub berkata kepada mereka agar segera kembali ke Mesir untuk membeli makanan sekaligus mencari tahu tentang keadaan Yusuf dan saudaranya. Ia juga memerintahkan agar tidak berputus dari rahmat Allah Ta'ala, karena sifat itu adalah tindakan orang kafir. Mereka akhirnya berangkat sebagaimana diperintahkan oleh ayah mereka.

Bacalah selanjutnya firman Allah Ta'ala berikut ini dalam surat Yusuf:

"Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: "Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri". Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu: "Barang apakah yang hilang dari pada kamu ?" Penyeru-penyeru itu berkata: "Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya". Saudara-saudara Yusuf menjawab "Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri". Mereka berkata: "Tetapi apa balasannya jikalau kamu betul-betul pendusta?" Mereka menjawa: "Balasannya, ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya) [31]. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim. Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. Mereka berkata: "Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu". Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): "Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu". Mereka berkata: "Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik". Berkata Yusuf: "Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim". Maka tatkala mereka berputus asa dari pada (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: "Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya". Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: "Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar". Ya'qub berkata: "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa". Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah akumengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya." Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS. Yusuf: 70-87)

Bila kita membandingkan situasi ini yang terdapat di dalam Al-Qur'an dan apa yang tertulis dalam Taurat, maka kita akan menemukan sedikit perbedaan. Di dalam Al-Qur'an kita menemukan bahwa adanya perjanjian yang berlaku untuk seluruh anak keturunan Israil yang sepuluh. Sementara Taurat hanya mengkhususkannya bagi Yahuda. Mungkin saja ia sekaligus adalah pembicara dan kalimatnya adalah kalimat mereka, sebagaimana janjinya adalah janji mereka. Al-Qur'an menyebutkan bahwa Yusuf mendatangi saudaranya dan berkata, "Sesungguhnya saya adalah saudaramu", sementara Taurat menyebutkan bahwa Yusuf tidak tahu saudaranya, Benyamin, sehingga ia memberitahu mereka semua bahwa dia (Yusuf) adalah saudara mereka setelah disebutkan kisah tentang piala itu.

Al-Qur'an juga menyebutkan ucapan mereka, "Bila ia mencuri, maka saudaranya juga pernah mencuri", sementara Taurat tidak menyebutkan adanya kalimat ini. Al-Qur'an juga menyebutkan tentang kembalinya saudara-saudara Yusuf kepada ayah mereka, lalu memberitahu padanya bahwa putranya telah mencuri lalu dijadikan budak di Mesir. Namun Taurat tidak menyebutkan hal ini. Sehingga kita dapat mengetahui bahwa Al-Qur'an adalah penyempurna dari kitab-kitab terdahulu.

Yusuf as. Mengenal saudara-saudaranya

Saudara-saudara Yusuf datang dan berkata:

""Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah". (QS. Yusuf: 87) Yusuf lalu mengingatkan mereka prilaku jahat yang dahulu mereka perbuat:

هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوْسُف وَأَخِيْهِ إذَ اَنْتُمْ جَاهِلُوْنْ

"Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?" dimana kalian memisahkan antara mereka berdua dan membakar dada keduanya dengan api perpisahan. Mungkin saja untuk pertama kalinya Yusuf berbicara dengan bahasa mereka, sehingga mereka pun mengenalnya:

Mereka berkata: "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?". Yusuf menjawab: "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami". Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik". Mereka berkata: "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang". (QS. Yusuf: 90-92)

Ketika kafilah itu keluar meninggalkan Mesir, jiwa Ya'qub diliputi kegembiraan karena adanya perubahan suasana yang ia rasakan terjadi pada dirinya. Tak ada rasa putus asa. Ia bahkan sangat yakin akan bertemu kembali dengan putranya, Yusuf, yang selama ini membuatnya sedih karena kehilangan dirinya. Ia lalu berkata kepada orang-orang yang ada di sekitarnya:

إِنَِي لَأَجِدُ رِيْحَ يُوْسُفَ لَوْلاَ أَنْ تُفَنِّدُوْنَ

"Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)". Atau "Saya ingin katakan kepada kalian bahwa saya pasti bertemu dengan Yusuf." Namun orang-orang itu berkata kepadanya:


"Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu" atau, "Ini adalah kesalahanmu sejak dahulu, dimana engkau yakin bahwa Yusuf masih hidup hingga hari ini!" Namun tak lama kemudian berita gembira itu sampai di telinga Ya'qub bahwa Yusuf dan sudaranya, Benyamin masih hidup. Pembawa berita gembira itu lalu melemparkan baju Yusuf di wajah Ya'qub hingga membuatnya dapat melihat seketika. Ia pun semakin gembira dan berkata:

أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ

"Tidakkah saya pernah berkata kepada kalian bahwa saya mengetahui sesuatu dari Allah apa yang kalian tidak ketahui." Tentu Ya'qub tidak mengucapkan kata-kata ini selain karena Allah telah memberitahu padanya bahwa Yusuf masih hidup dan akan bertemu dengannya.

Ya'qub dan seluruh keluarganya akhirnya berangkat ke Mesir. Saat tiba di sana, Ya'qub dan istrinya (bibi yang juga ada ibu tiri Yusuf) lalu masuk menemui Yusuf. Ya'qub, istri dan seluruh anak-anaknya yang berjunlah sebelas orang lalu sujud –sebagai penghormatan- kepadanya. Yusuf kemudian berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara, menjadikanku sebagai bendaharawan bumi ini dimana aku memiliki wewenang untuk memerintahkan dan melarang. Ia kemudian membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Dalam suasana yang mengharukan itu, Allah muliakan Yusuf dengan mempersatukannya kembali dengan kedua orang tua dan saudara-saudaranya, setelah ia mempertemukannya dengan berbagai situasi yang sulit dan berat, sehingga batu yang keras pun akan luluh bila menghadapinya. Dimulai ketika saudara-saudaranya merancang tipu daya terhadapnya; ia dipukul, dikeroyok, dhihinakan lalu dilemparkan ke dalam sumur tanpa pakaian, sendiri dan tanpa seorangpun yang dapat membantunya. Walau ia berhasil dikeluarkan dari sumur oleh sekelompok kafilah, namun mereka menjualnya sebagai budak yang diperjual-belikan di Mesir, hingga akhirnya dibeli seorang pembesar Mesir. Di dalam istana yang dipenuhi kemewahan itu, ia kembali menghadapi ujian berat saat istri al-Aziz menggodanya dan merancang siasat dan tipu daya untuk menyakitinya sebagai balasan karena penolakannya terhadap bujukan dan rayuannya. Dan ia pun akhirnya dijebloskan ke dalam penjara.

Semua itu ia hadapi dengan sabar dan tetap berpegang teguh pada agama, keyakinan, kehormatan dan kemuliaan dirinya, samil terus berdoa dan bermunajat kepada Allah hingga akhirnya ia dikeluarkan dari penjara. Karena keahliannya, ia diangkat sebagai bendaharawan Mesir. Saudara-saudaranya lalu datang memohon pertolongan dan harapan belas kasih darinya sementara mereka tidak mengetahuinya. Setelah mereka tahu tentang Yusuf, orang tuanya pun datang ke Mesir. Kedua mata ayahnya yang memutih karena dirundung sedih atas kehilangan Yusuf dan saudaranya Bunyamin, akhirnya dapat melihat kembali setelah pakaian putra yang dikasihinya itu di letakkan pada wajahnya. Kedua orang tua dan saudara-saudara Yusuf lalu sujud sebagai penghormatan kepadanya.

Semua peristiwa itu kembali muncul dalam benak Nabi Yusuf as. Ia pun mengucap syukur kepada Allah dengan memaklumatkan segala nikmat yang Ia curahkan kepadanya berupa ilmu dan kekuasaan. Seraya memohon kepada-Nya agar Ia senantiasa melindunginya di dunia dan akhirat, serta mematikannya sebagai muslim yang senantiasa taat dan patuh kepada-Nya, dan menyatukannya bersama orang-orang shalih dari para nabi, bapak dan kakeknya.

Allah Ta'ala berfirman:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS. Yusuf: 101) atau ketika Nabi Yusuf as. menyaksikan curahan nikmat Allah padanya dan disatukannya ia dengan kedua orang tua dan keluarganya, ia pun tahu bahwa ia tidak akan tinggal selamanya di tempat mana ia berada sekarang. Karena segala sesuatu yang ada di bumi akan lenyap, dan setelah kesempurnaan itu ada kekurangan.

Ia kembali memuji Tuhannya sebagai sesuatu yang layak bagi-Nya. Seraya mengakui kebesaran anugerah dan keutamaan dari-Nya. Ia juga memohon kepada-Nya agar ketika Allah mencabut ruhnya, maka ia diwafatkan dalam Islam, menyatukannya dengan hamba-hamba-Nya yang saleh. Sebagaimana yang ia katakan dalam doanya, "Wahai Tuhanku, hidupkanlah kami sebagai muslim dan matikanlah kami sebagai Muslim."

Bisa jadi bahwa permohonan tersebut disampaikan Nabi Yusuf as. Menjelang kematiannya. Sebagaimana permohonan Rasulullah saw. agar Allah mengangkat ruhnya menuju tempat yang tinggi bersama kawan-kawan yang saleh dari kalangan Nabi dan Rasul. Beliau bersabda, "Ya Allah! ar-rafiq al-A'laa." Tiga kali. Dan ruhnya pun dicabut.

Ibnu Ishak menyebutkan apa yang ada pada ahli kitab bahwa Nabi Ya'qub tinggal di Mesir bersama nabi Yusuf as. selama 17 tahun lalu diwafatkan oleh Allah Ta'ala. Namun sebelum itu ia telah berwasiat kepada Yusuf agar dimakamkan di gua dekat kedua orang tuanya; Ibrahim dan Ishak.

As-Sadiy berkata, "Yusuf lalu membawa jenazah ayahnya ke Syam dan memakamkannya di di dalam gua di samping ayahnya Ishak dan kakeknya, Ibrahim as."

Menurut ahli kitab, usia Ya'qub pada hari ketika ia tiba di Mesir adalah 130 tahun. Allah Ta'ala berfirman:

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ اْلمَوْتُ إذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ بَعْدِي قَالُوْا نَعْبُدُ إلَهَكَ وَإلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيْمَ وَإسْمَاعِيْلَ وَإسْحَاقَ إلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ

Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 133)

Nabi Ya'qub as. berwasiat kepada putra-putranya agar senantiasa ikhlas dalam agama Islam yang dengannya Allah mengutus para nabi-Nya as. Para ahli kitab menyebutkan bahwa Ya'qub berwasiat kepada putranya satu persatu dan menyampaikan perkara mereka. Ia juga memberi berita gembira kepada Yahudza akan datangnya seorang Nabi agung berasal dari keturunannya yang akan dipatuhi oleh masyarakat. Dia adalah Isa putra Maryam. Mereka (ahli kitab) juga menyebutkan bahwa ketika Nabi Ya'qub wafat, seluruh penduduk Mesir menangisinya selama 70 hari. Yusuf lalu memerintahkan para dokter untuk memberi wewangian pada tubuhnya, dan disitu ia berada selama 40 hari.

Yusuf lalu meminta izin kepada raja Mesir untuk membawa ayahnya guna menguburkannya di tengah keluarganya. Ia pun diizinkan. Ia lalu keluar bersamanya seluruh pembesar Mesir. Saat mereka tiba di Habarun, mereka pun menguburkannya di dalam sebuah gua yang sebelumnya telah dibeli oleh Khalilullah, Ibrahim as. Dari 'Afrun bin Shakr al-Haetsi. Mereka lalu membuat untuknya acara berkabung selama tujuh hari. Mereka (Ahli Kitab) berkata, "Yusuf lalu kembali ke negerinya bersama saudara-saudaranya yang kamudian menetap di sana.

Menjelang kematiannya, Yusuf berpesan kepada saudara-saudaranya agar kelak membawanya bila keluar dari Mesir dan mengebumikannya di sana di sisi ayahnya. Setelah ia wafat, mereka lalu mengawetkan jenazahnya dan menyimpannya di dalam Tabut. Dan selama itu pula ia tetap berada di Mesir sehingga Musa as. datang dan menguburkannya di dekat ayahnya. Nabi Yusuf as. Wafat dalam usia 110 tahun. Demikianlah sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Jarir. Sementara Mubarak bin Fudhail bin al-Hasan berkata, "Yusuf dibuang ke dalam sumur saat berusia 17 tahun, berpisah dengan ayahnya selama 80 tahun, dan setelah itu hidup 23 tahun, dan wafat dalam usia 120 tahun.

Akhlak-akhlak yang terdapat pada Kisah Nabi Yusuf as. Dan Saudara-saudaranya

Ini adalah kisah yang sarat dengan pelajaran berharga bagi siapa pun yang dapat memetik akhlak-akhlak utama sekaligus menjelaskan sifat istiqamah di atas prinsip-prinsip yang benar dan pengaruhnya dalam jiwa. Di dalamnya terdapat pelajaran sangat dalam tentang ilmu jiwa. Sehingga tidak terlalu berlebihan bila seorang pakar ilmu jiwa menyusun sebuah buku besar tentang akhlak dan ilmu jiwa yang referensinya adalah surat Yusuf, sekaligus menjadikan situasi dan suasana yang dihadapi Yusuf pada masanya sebagai objek aplikatif.

Sebelum berbicara lebih jauh, penulis ingin menyebutkan sebuah diskusi yang terjadi antara salah seorang Menteri Pendidikan pada masa al-Khudaewi dahulu dengan seorang Syeikh. Menteri tersebut menyelesaikan pendidikan Ibtidai (dasar) dan Tsanawi (menengah) di Mesir. Kemudian berangkat ke Eropa, tepatnya ke Prancis, sehingga ia kembali ke negerinya sebagai representasi murni dari hasil pendidikan dan pemikiran ala Prancis.

Menteri tersebut kemudian berkunjung ke sekolah Mu'allimin di Zaqaziq. Saat tiba di sana, ia pun masuk ke salah satu kelas dan menemukan seorang syeikh sedang mengajarkan akhlak hingga membuat kagum menteri itu. Setelah selesai, sang menteri lalu bertanya, "Referensi apa yang Anda gunakan dalam mengajar?" Syeikh tersebut menjawab, "Al-Qur'an." Menteri itu bertanya dengan nada mengejek, "Al-Qur'an? Qur'an apakah itu? Apakah engkau mengajarkan akhlak dari ayat:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا

"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita."

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ اْلأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ

"Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini."

Syeikh tersebut menjawab, "Wahai tuan Menteri! Sesungguhnya surat yang tidak menarik bagi Anda ini, saya justru dapat mengambil darinya akhlak-akhlak yang utama." Ia pun menjelaskan tentang sifat 'Iffah dan keutamaan yang terdapat pada diri Yusuf saat ia tumbuh sebagai pemuda dewasa. Dihadapannya terdapat berbagai godaan dan ujian. Namun itu semua tidak membuatnya lemah. Ia bahkan kian berpegang kuat dengan prinsip-prinsip yang dianutnya.

Disanalah Yusuf menemukan berbagai rintangan dan kesulitan demi memperjuangkan akhlak-akhlak yang mulia itu. Penjara dan penghinaan yang ia alami tidak mampu mengubah prinsipnya, yang bila saja ia tunduk pada semua itu niscaya ia temukan kenikmatan, kemewahan dan muncul sebagai manusia terpandang. Karena itu, berpegang teguh pada agama yang dianut adalah dasar segala keutamaan. Maka ketika ia berpegang teguh pada agama dan keyakinannya, maka semua itu membuat ia memandang rendah berbagai rintangan dan marabahaya. Adapun kebenaran yang untuk sesaat tertutupi oleh jubah kesesatan, pada akhirnya akan tampak kepermukaan."

Disini penulis ingin menjelaskan beberapa hal penting, bahwa ketika seorang anak lahir dari keluarga yang baik dan berada di lingkungan yang baik, lalu menemukan di lingkungan tersebut waktu yang cukup untuk terus bertumbuh, maka itu akan membuatnya memiliki akhlak dan karakter yang lebih sempurna. Mengantarkannya kepada kebaikan, sensitif terhadap nilai-nilai luhur dan senantiasa termotivasi untuk berpegang teguh pada keutamaan.

1) Lihatlah Yusuf bin Ya'qub bin Ishak bin Ibrahim, disinari cahaya kenabian yang mulia, berada di bawah naungan risalah yang agung, sehingga ia bertumbuh dengan baik. Ayahnya yang juga tumbuh di atas jalan takwa melimpahinya dengan kebaikan dan akhlak-akhlak kenabian yang mulia, sehingga ia pun tumbuh dengan sangat baik. Sejak kecil jejak kebaikan sudah lekat pada dirinya dengan kemuliaan ayah dan kakeknya. Ayahnya senantiasa mengingatkannya tentang ayah, kakek dan leluhurnya sebagai orang-orang saleh dan manusia pilihan terbaik, serta mengangankannya menyusul mereka dan berjalan di atas jejak langkah mereka.

Lihat pula ketika Yusuf menceritakan mimpinya kepada ayahnya. Apakah yang ia katakan kepadanya:

"Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu[32] sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 6)

Demikianlah sosok yang akhirnya dinominasikan sebagai nabi, dipersiapkan oleh Allah Ta'ala untuk menyebarluaskan agama-Nya:

وَاللهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

"Dan Allah Maha Tahu dimana Ia letakkan risalah-Nya." Dan barang siapa yang mengajarkan apa yang ia ketahui, niscaya ia akan mengetahui apa yang tidak diketahuinya.

2) Saat itu Yusuf telah terbiasa dengan akhlak-akhlak yang mulia karena ia senantiasa mengamalkan apa yang diajarkan oleh ayah dan kakeknya para nabi –shalawat Allah atas mereka semua. Akhlak mulia itu mampu menjauhkan dirinya dari mengikuti langkah syetan. Pikiran-pikirannya bahkan berada dalam ruang kesuksesan dan meraih redha Allah Ta'ala. Semua itu tentu bukan sesuatu yang aneh karena Allah Ta'ala telah menambahkan untuknya ilmu pengetahuan, membuka mata hatinya dan menjadikannya sosok manusia yang cerdas. Allah juga mengajarkannya tafsir mimpi. Sehingga tidak seorang pun yang datang padanya menceritakan mimpinya kecuali ia terangkan mimpi itu dihadapannya. Itu karena ketelitiannya, kecerdasan dan pengetahuannya terhadap berbagai masalah dan sumber-sumbernya, serta bantuan Allah untuknya. Semua itu mengharuskan adanya kemampuan menembus area yang tak terlihat pada sesuatu, dan kecerdasan analisa terhadap segala situasi dan kondisi sehingga membuat dugaan menjadi keyakinan. Itulah yang disebut dengan kecerdasan.

Kecerdasan yang menyangka dirimu dengan berbagai dugaan

Seakan ia telah melihat dan mendengarnya

3) Iman terhadap prinsip akan diikuti oleh berbagai ujian yang menghadangnya:

Lihatlah Yusuf as., seorang pemuda tampan yang sedang tumbuh dewasa yang kini menyala oleh bara masa muda –sebagaimana dikatakan banyak orang bahwa kegilaan seorang pemuda terpuaskan pada masa itu-. Di dalam rumah itu, Yusuf memiliki kedudukan yang tinggi, kehidupan baru dan limpahan harta kekayaan dan kemewahan, bersama seorang wanita yang keadaannya sama seperti dirinya. Wanita itu adalah juga majikannya yang menguasai dirinya, yang kemudian menggoda dan merayunya agar tunduk pada kemauan hawa nafsu yang menguasai jiwanya.

Wanita itupun memanggilnya, namun ia menolak. Memintanya agar tunduk kepadanya, namun ia berpaling. Wanita itu lalu memaksanya untuk mendapatkan kebahagiaan darinya, namun ia tetap membangkang. Akhirnya ia berlari menghindar, namun wanita itu mengejar dan menarik belakang bajunya hingga sobek.

Apa yang dilakukan pemuda ini tidak lain karena ia berpegang teguh pada prinsip kesucian jiwa dan ketakwaan. Ia juga senantiasa hati-hati dan mawas diri jangan sampai hal tersebut menjadi aib bagi bapak, kakek dan leluhurnya yang selama ini ia ketahui sebagai orang yang jsuh dari segala sesuatu yang menghinakan diri mereka sendiri, atau keluar dari perintah mereka.

Selain itu juga, ia tetap berusaha menjaga kemuliaan majikannya yang ia muliakan yang selama ini karena telah menganggapnya sebagai seorang anak –membalas kebaikan dengan keburukan bukanlah kebiasaannya keluarganya-, sementara wanita ini tidak lagi mendengar nasehat. Semua ini menunjukkan kemulian jiwa Yusuf as., ruh yang suci dan tekad yang kuat. Itulah jiwa yang tidak mendengar seruan kesesatan, dan tidak merespon ajakan pada kebodohan dan kehinaan. Seperti itulah akhlak orang-orang yang memiliki tekad yang bersinar dengan bashirah. Orang-orang mukmin yang memiliki iman yang hak dan meyakini prinsip yang dianutnya.

4) Senantiasa bersandar kepada Allah ketika ujian menghadang:

Nabi Yusuf as. senantiasa bersandar dan berpasrah diri kepada Allah Ta'ala saat berada dalam tekanan dan situasi yang sulit. Ketika kaum wanita Mesir menyaksikan keelokan wajahnya, mereka justru berdecak kagum. Setelah mereka mereka sendiri menghinakan istri al-Aziz sebagai wanita yang tidak punya malu, mereka akhirnya malu sendiri, dan bahkan berusaha merayu Yusuf agat tunduk kepada majikannya dan kepada mereka. Istri al-Aziz akhirnya mengancamnya dengan mengatakan:

لَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرَهُ لَيَسْجُنَنَّ وَلِيَكُوْنَنَّ مِنَ الصَّاغِرِيْنَ

"Bila ia tidak melakukan apa yang saya perintahkan kepadanya, niscaya ia akan dijebloskan ke dalam penjara dan termasuk orang yang hina." Yusuf pun menyandarkan diri kepada Tuhannya seraya memohon pertolongan karena perasaan takut yang menderanya:

Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS. Yusuf: 33)

Allah Azza wa Jalla memberi jalan keluar untuknya dan menyingkirkan godaan dan tipu daya mereka karena perbuata keji yang ingin mereka lakukan; ketika Allah menjauhkan Yusuf dari mereka dengan dijebloskannya ia ke dalam penjara maka itu jauh lebih mudah bagi Yusuf untuk menghadapinya. Seperti itulah rintihan dan permohonan Yusuf kepada Allah tanpa tekanan sedikit pun.

5) Kecintaan Yusuf kepada Agamanya dan Dakwah kepada Manusia:

Dengan prinsip-prinsip kebenaran iman yang diyakininya dan bergejolak dalam jiwanya, maka setiap orang beriman takkan membiarkan waktu berlalu tanpa menyeru manusia untuk bergabung dengan prinsip yang diyakininya dan menyampaikan berita gembira dengan keyakinan tersebut. Demikianlah yang dilakukan Yusuf dengan memanfaatkan kesempatan menyeru dua orang pegawai raja yang meminta padanya agar menafsirkan mimpinya. Ia pun mengajak keduanya untuk masuk ke dalam agama yang dianutnya setelah ia singkap kemampuannya dengan mentakwilkan mimpi mereka. Andai saja mimpi itu tentang makanan yang akan diberikan kepada mereka, niscaya ia akan menjelaskannya sebelum makanan itu tiba di hadapan mereka.

Tidaklah seseorang menghinakan diri karena pujiaannya pada dirinya sendiri

Bila tidak pada ucapannya ada dusta

Yusuf lalu menjelaskan kepada keduanya tentang ajaran Tuhannya dan menghindarnya ia dari agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Ia juga berkata sebagai pengikut agama Ibrahim, Ishak dan Ya'qub, lalu menyampaikan keburukan yang terjadi pada penduduk Mesir yang menyekutukan Allah dan memperbanyak tuhan-tuhan. Agama yang ia anut adalah agama tauhid sebagai agama yang lurus, tapi kebanyakan manusia lalai daripadanya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Yusuf berkata: "Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 37-40)

Maka sudah sewajarnya bila setiap Muslim di antara kalian untuk memanfaatkan waktu dan kesempatannya sebaik mungkin dengan menyampaikan nasehat, peringatan dan bimbingan kepada manusia.

6) Keteguhan Nabi Yusuf dan Penjagaannya pada Kemuliaan dan Kehormatan Dirinya:

Ketika seseorang dijebloskan ke dalam penjara sebagai orang yang teraniaya atau pun tidak, lalu menerima berita agar dikeluarkan dari sana, maka biasanya orang tersebut menyambut gembira berita tersebut dan segera keluar dari penjara. Tapi Yusuf as. adalah sosok yang berbeda. Dalam dirinya melekat sifat-sifat mulia ayahnya. Ia selalu berusaha menjaga kemuliaan dan kesucian dirinya daripada bersegera keluar dari penjara. Ia tidak ingin orang-orang berkata bahwa ia seorang penjahat, lalu raja senang padanya, memaafkan kejahatannya dan ia pun dibebaskan. Namun ia menolak keluar dari penjara saat itu kecuali setelah ia dinyatakan tidak bersalah dan bersih dari berbagai tuduhan. Yusuf lalu menyampaikan keluhan penganiayaan yang dilakukan terhadapnya, seraya berharap agar proses investigasi atas kejahatan yang dituduhkan kepadanya dilakukan kembali.

Takkala raja melakukan investigasi, jelaslah baginya bahwa Yusuf sama sekali tidak bersalah. Ia pun akhirnya rela keluar dari penjara dengan kepala tegak dan catatan pribadi yang bersih dari kesalahan. Keagungan dan sifat-sifat mulia leluhurnya memberi pengarus kuat pada dirinya untuk menghindar dari segala sesuatu yang mencederai kemuliaannya atau mengotori dirinya. Karena ia tahu bahwa jiwa manusia lebih mulia daripada segala sesuatu, maka ia lebih mengutamakannya dan sangat mencintai dirinya.

Sebagian ulama berkata, "Sesungguhnya manusia tidak mencintai kawannya kecuali karena ia menemukan kenikmatan pada dirinya saat bergaul dengannya. Merasa tenang terhadap mereka, dan ia temukan kesenangan saat bergaul dan mendekat dengan mereka. Maka mencintai seorang kekasih adalah pengaruh dari kecintaannya pada dirinya sendiri. Ketika jiwa manusia baginya berada pada kedudukan tersebut dari cinta dan penghargaan, maka tidak aneh bila kecintaannya terhadap dirinya mengajaknya –bila ia termasuk orang mulia- untuk membersihkan dan mensucikan jiwanya dari berbagai jenis kotoran, dan bersungguh-sungguh agar lembaran hidupnya memancarkan cahaya kemilau yang tidak ditutupi oleh kekurangan dan kehinaan."

Demikian yang terjadi pada diri Yusuf as., dan itu pula yang membuatnya tidak serta merta meninggalkan penjara sehingga menjadi jelas baginya kemuliaan dirinya, dan kabut yang menutupi lembaran perjalanan hidupnya sirna tertiup angin, hingga ketika semuanya menjadi jelas. Ia pun keluar dari penjara bagaikan pedang mengkilat yang keluar dari sarungnya.

7) Sifat Sabar:

Sifat sabar sangat lekat dalam diri Yusuf as., sebagai sifat paling mulia dan utama pada dirinya. Al-Qur'an menyebutkan lebih dari 70 kali dimana Allah meletakkan sebagian besar kebaikan dan derajat yang tinggi ketika seseorang memiliki sifat sabar pada dirinya, serta memberikan pelakunya ganjaran tak terbatas. Tapi menjadikannya bergantung dengan kemuliaan-Nya Yang Maha Luas. Keberadaannya yang sempurna pada diri seseorang membuatnya memperolah balasan Allah tanpa ukuran dan standar tertentu. Walau Ia menentukan balasan dan ganjaran yang jelas pada setiap kelebihan.

Bacalah firman Allah Ta'ala berikut ini:

"Dan Kami jadikan di antara mereka sebagai pemimpin yang mendapatkan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar." (QS. As-Sajadah: 24)

"Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu yang baik (sebagai janji) atas bani Israil disebabkan kesabaran mereka!" (QS. Al-A'raaf: 137)

"Bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian." (QS. Ali Imran: 200)

"Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.." (QS. Ali Imran: 186)

"Dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar!" (QS. Al-Baqarah: 155)

Rasulullah saw. Juga bersabda:

"Bersabar adalah sebagian dari iman." Rasulullah saw. pernah ditanya tentang iman. Belia menjawab:
"Kesabaran dan toleransi."

Sabar adalah menahan diri atas apa yang dibenci oleh jiwa. Kesabaran merupakan kelebihan manusia yang membedakannya dari binatang. Setiap binatang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Seperti makan dan sebagainya. Ia juga tidak dapat melihat akibat dari pelampiasannya. Tapi ia hanya ingin melampiaskan syahwatnya yang ada saat itu, dan tidak mampu menahan diri untuk tidak melakukannya.

Sifat Sabar memiliki beberapa macam nama berbeda selain sabar itu sendiri. Bila ia bersabar dari syahwat perut, maka disebut 'Iffah (kesucian diri). Bila bersabar menghadapi sesuatu yang idbenci, misalnya tertimpa musibah, maka itu disebut dengan shabran, yang lawannya adalah al-jaza' (kecemasan) dan al-hala' (kegelisahan dan keluh kesah). Bila ia bersabar terhadap ujian kekayaan disertai sifat syukur, maka itu disebut dengan dhabt an-nafsu (Pengendalian Jiwa), lawannya adalah al-bathar (mengingkari nikmat dan sombong). Bila ia bersabar saat berada di medan perang menghadapi musuh, maka itu disebut dengan asy-Syaja'ah (keberanian), dan lawannya adalah al-Jubn (Penakut). Bila bersabar menahan amarah disebut dengan al-hilm (sifat santun), dan lawannya adalah tadzakkur (selalu ingat). Bila bersabar dari rasa gelisah menghadapi situasi yang terjadi, maka itu disebut dengan sa'ah ash-Shadr (kelapangan dada), dan lawannya adalah adh-dhajar (kegelisahan) dan dhiq ash-Shadr (kesempitan dada). Bila bersabar dengan menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang bila dikatakan dapat menyakiti orang lain, maka disebut dengan kitmaan as-Sirr (menjaga rahasia). Bila bersabar atas ketetapan Allah dengan rizki yang sedikit, maka itu disebut Qana'ah (merasa cukup). Bila bersabar dari kelebihan rizki yang Allah curahkan padanya dan hanya merasa cukup dengan yang sedikit, maka itu disebut zuhud.

Bacalah firman Allah berikut ini yang menyatukan berbagai jenis kesabaran di dalamnya:

"Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 177)

Nabi Yusuf as. Memperlihatkan banyak contoh tentang kesabaran kepada manusia:

1) Kesabarannya menghadapi gangguan saudara-saudaranya; pakaiannya dilucuti, dipukul, ditampar lalu dibuang ke dalam sumur agar ia temui kematiannya.

2) Kesabarannya bahkan lebih besar dari itu ketika mereka menganggapnya sebagai anak yang jahat. Kafilah lalu menemukannya kemudian menjualnya sebagai budak dengan harga yang murah. Firman Allah:

"Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf." (QS. Yusuf: 20)

3) Kesabarannya atas nikmat yang Allah curahkan padanya dan ia menyertainya dengan syukur. Ia kemudian sifat angkuh saat menetap di rumah tuannya dan memiliki wewenang memerintahkan dan melarang. Limpahan harta dan kemewahan di rumah tuannya tidak disalahgunakan dengan cara yang tidak benar untuk memuaskan hawa nafsunya. Tapi ia menyertai seluruh nikmat Allah itu dengan syukur kepada-Nya dan berterima kasih kepada tuannya. Ia menjaga kekayaan itu dan tidak mengambilnya kecuali sesuai dengan kebutuhannya. Maka ia sesungguhnya bersifat qana'ah.

4) Bersabar mengendalikan hawa nafsunya ketika dihadapannya terbentang berbagai godaan yang mengelilinginya dari berbagai penjuru. Wanita yang memintanya menundukkan diri padanya adalah majikannya yang selama ini memenuhi kebutuhannya di rumah itu. Bukan itu saja, majikannya juga cantik, menarik dan sangat menginginkannya. Sementara Yusuf tumbuh sebagai pemuda tampan dengan daya tarik sebagai seorang lelaki.

Bila saja ia penuhi kenginannya, maka itu adalah kesempatan baginya melampiaskan hawa nafsu dan ajakan naluri kelelakiannya yang menjadi harapan, penantian dan cita-cita seorang pemuda. Namun tak ada yang mampu mengeluarkannya dari semua godaan itu selain karena sifat 'iffah yang bermahkotakan kesabaran dari melawan hawa nafsunya.

Ia berhasil menjatuhkan tarikan hawa nafsu dan menyingkirkannya demi agama, kemuliaan jiwa, perlindungan dan kesetiaan. Dan tentara Allah pun berhasil meraih kemenangan atas pasukan syetan:

5) Ia dapatkan ujian dan kesulitan saat dijebloskan ke dalam penjara, namun ia bersabar dengan jiwa yang lapang.

6) Ia lalu keluar dari penjara dan Allah meneguhkan eksistensinya di muka bumi, serta menjadikannya sebagai bendaharawan Mesir. Ia pun tampil sebagai sosok yang dipercaya. Saudara-saudaranya lalu datang kepadanya meminta bantuan makanan. Padahal merekalah dahulu yang menyakitinya dan membuangnya ke dalam sumur. Namun ia tidak dendam atau membalas kajahatan tersebut, ia hanya bersabar dan memberi maaf untuk mereka. Saat mereka berkata kepadanya, "Apakah engkau Yusuf?" Ia menjawab, "Saya adalah Yusuf, dan ini sudaraku yang telah melimpahkan kepada kami nikmat-Nya. Karena siapa pun yang bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala kebaikan bagi orang-orang yang berbuat baik." Mereka pun menyesal dan mengakui kesalahan mereka dahulu, seraya berkata:

Mereka berkata: "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)".(QS. Yusuf: 91) ia pun memberi maaf atas kejahatan mereka. Ia berkata:

Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang". (QS. Yusuf: 92)

Ini adalah sebagian kecil dari episode kebaikan dan kemuliaan yang ditunjukkan oleh Yusuf as., sebagai seorang lelaki dengan sifat yang agung. Karena itu, ia menjadi tauladan yang luhur karena kesucian akhlak dan kebijaksanaannya:

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (QS. Al-Baqarah: 269)

Keutamaan Syukur

Pada diri Nabi Yusuf as. Melekat sifat syukur sebagai salah satu akhlak rububiyah. Sebagaimana firman-Nya:

" Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun."

Syukur adalah mengetahui dengan baik nikmat yang diperoleh dari pemberi nikmat, disertai perasaan gembira, lalu menunaikan maksud dan tujuan Sang Pemberi dengan melakukan perbuatan yang dicintai-Nya. Ini adalah prilaku dan akhlak agung dan terpuji di tengah manusia.

Bacalah firman Allah Ta'ala berikut ini yang menceritakan tentang Iblis:

Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at)." (QS. Al-A'raaf: 16-17) walau ini adalah ucapan Iblis, namun Allah Ta'ala membenarkannya. Sebagaimana firman-Nya:

"Dan sangat sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba': 13) padahal Allah Ta'ala memerintahkan agar hamba-Nya senantiasa bersyukur kepada-Nya:

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni'mat)-Ku." (QS. Al-Baqarah: 152)


"Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri[33] lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nisaa: 147)

Allah Azza wa Jalla memberi pengecualian dalam lima hal yang tidak Ia kecualikan pada sifat syukur. Pengecualian itu adalah pada: kekayaan, jawaban atas doa yang dipanjatkan, rizki yang diberikan, dalam ampunan dan taubat. Simaklah firman-Nya berikut ini:

" maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki." (QS. At-Taubah: 28)

"Maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdo'a kepadaNya, jika Dia menghendaki," (QS. Al-An'am: 41)

" Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. Al-Baqarah: 212)

" dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisaa: 48)

" Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya." (QS. At-Tubah: 15) Adapun tentang Syukur, Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu," (QS. Ibrahim: 7) dan tidak ada pengecualian pada ayat ini, bahwa Allah mengharuskan setiap hamba-Nya untuk bersyukur kepada-Nya.

Lihatlah pula bagaimana Yusuf as. menyatakan rasa syukurnya atas nikmat Allah yang dicurahkan kepadanya dan keluarganya. Ketika kedua orang tuanya datang ke Mesir, ia pun mendudukkannya di atas singgasananya. Kedua orang tua dan saudara-saudaranya lalu bersujud kepadanya[34]. Allah Ta'ala berfirman:

Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara- saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 100)

Kisah tersebut ditutup dengan kalimatnya:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS. Yusuf: 101)

Nasehat Penting

Kalian telah menyaksikan bagaimana Nabi Yusuf as. berada dalam dua situasi yang secara bergantian ditemui dan dialaminya; sempit dan lapang, penuh keguncangan dan harapan. Dia laksana emas murni yang ketika dibolak-balik di dalam api yang membara maka tak ada yang bertambah padanya selain menjadi semakin cemerlang, atau seperti batu mulia yang tidak terpengaruh oleh api yang membakarnya.

Ketika ia berada dalam asuhan ayahnya yang mempengaruhinya dengan kemuliaan, meliputinya dengan cinta, khawatir bila ada marabahaya yang menimpanya saat malam tinggalkan kegelapan, atau ketika fajar subuh menyingsing, tiba-tiba ia berada di tangan saudara-saudaranya yang melakukan perbuatan keji dan hina terhadapnya; memukulnya secara aniaya lalu membuanya ke dasar sumur tanpa sesal sedikit pun. Ketika ia berada dalam situasi seperti itu, ia pun mulai mencium indahnya suasana dan kehidupan yang baru. Namun sayang; hidup sebagai budak sahaya.

Akhirnya Yusuf berpindah dari kehidupan sebagai budak kepada kehidupan yang menyerupai kebebasan, saat ia diangkat sebagai kepala para budak dan pelayan di rumah majikannya. Ketika ia berada dalam nikmat dan kesenangan yang lebih banyak ia rasakan laksana manusia merdeka, tiba-tiba ia dijebloskan ke dalam penjara tanpa kejahatan yang dilakukannya. Namun di dalam penjara itu ia membawa gembira bagi tahanan lain dengan mengajak mereka memeluk agama yang ia anut; beribadah kepada Allah dan menyeru mereka untuk tidak menyembah tuhan-tuhan lain kecuali Allah Ta'ala. Beberapa orang yang berada di dalam penjara kemudian menanyakan padanya sesuatu yang ghaib, ia pun mentakwilkan mimpi raja akan datangnya musim paceklik yang sangat sulit setelah masa subur yang akan melanda negeri itu.

Kemampuan yang ia miliki mengantarkannya sebagai menjadi bendaharawan Mesir, dan raja memilih dan memperkerjakannya untuk kerajaannya. Ia kini menjadi pembagi kebutuhan pokok untuk rakyat sekaligus yang memberi jaminan kesejahteraan bagi kerajaan Mesir dan negeri-negeri terdekat. Itulah perannya sebagai Menteri Logistik.

Ketika ia tengah berada dalam suasana tersebut, maka tak ada kekurangan yang rasakan selain keinginan untuk menyaksikan ayah dan ibunya –maksudnya bibinya-. Tiba-tiba saudara-saudaranya datang. Ia pun mempermainkan mereka dengan cara yang sangat lembut, sehingga mereka datang bersama saudaranya, Benyamin. Tak lama berselang ayah, ibu dan seluruh keluarga pun datang.

Menghadapi berbagai situasi dan kondisi, Yusuf senantiasa berpegang teguh pada kemuliaan dan keindahan akhlak dan prilaku:

Ketika seseorang tetap berpegang teguh pada janjinya

Saat seperti itu, sungguh layak sebagai orang mulia

Kisah yang sangat indah ini memberi pelajaran dan nasehat penting. Namun pelajaran dan manfaat yang ada di dalamnya tidak dapat dilihat atau diamalkan setiap orang yang melihat dan membacanya. Tapi sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal." (QS. Yusuf: 111)


[1] ) al-Bukhari –Kitab al-Anbiya – hadits 3383
[2] ) Surat Yusuf, ayat 7-18
[3] ) QS. Yusuf: 19-22
[4] ) QS. Yusuf: 23-29
[5] ) QS. Yusuf: 30-35
[6] ) QS. Yusuf: 36-41
[7] ) QS. Yusuf: 42
[8] ) QS. Yusuf: 43-44
[9] ) QS. Yusuf: 45-49
[10] ) QS. Yusuf: 50-53
[11] ) QS. Yusuf: 54-57
[12] ) QS. Yusuf: 58-62
[13] ) QS. Yusuf: 63-66
[14] ) QS. Yusuf: 69-79
[15] ) QS. Yusuf: 80-87
[16] ) QS. Yusuf: 88-93
[17] ) QS. Yusuf: 94-98
[18] ) QS. Yusuf: 99-100
[19] ) Dimaksud bapak disini kakek dan ayah.
[20] ) Ayah dan saudara perempuan ibunya (bibi), yang juga adalah ibu tirinya
[21] ) Sujud disini ialah sujud penghormatan bukan sujud
[22] ) Menjadi orang baik-baik "yaitu, mereka setelah membunuh Yusuf a.s. bertaubat kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh.
[23] ) Menjadi orang baik-baik "yaitu, setelah membunuh Yusuf a.s., mereka lalu bertaubat kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh.
[24] ) Hati mereka tidak tertarik kepada Yusuf karena dia anak temuan dalam perjalanan. Jadi mereka khawatir kalau-kalau pemiliknya datang mengambilnya. Oleh karena itu mereka tergesa-gesa menjualnya sekalipun dengan harga yang murah.
[25] ) Orang Mesir yang membeli Yusuf a.s. adalah seorang pembesar Mesir bernama Qithfir dan nama isterinya Zulaikha.
[26] ) Orang Mesir yang membeli Yusuf a.s. itu seorang Raja Mesir bernama Qithfir dan nama isterinya Zulaikha.
[27] ) Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Yusuf a.s. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaikha), akan tetapi godaan itu demikian besanya sehingga andaikata dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu dia jatuh ke dalam kema'siatan.
[28] ) Maksudnya: Rahasiakanlah peristiwa ini.
[29] ) Setelah mereka melihat kebenaran Yusuf, namun demikian mereka memenjarakannya agar terkesan bahwa yang bersalah adalah Yusuf; dan orang-orang tidak lagi membicarakan hal ini
[30] ) Maksudnya: bahwa Ya'qub a.s. tidak dapat mempercayakam Bunyamin kepada saudara-saudaranya, karena dia kuatir akan terjadi kejadian sepertiyang dialami oleh Yusuf dahulu.
[31]) Menurut syari'at Nabi Ya'qub a.s. barang siapa mencuri maka hukumnya ialah sipencuri dijadikan budak satu tahun.
[32] ) Dimaksud bapak disini kakek dan ayah dari kakek.
[33] ) Allah mensyukuri hamba-hamba-Nya : memberi pahala terhadap amal-amal hamba-hamba-Nya, mema'afkan kesalahannya, menambah ni'mat-Nya
[34] ) Sujud disini ialah sujud penghormatan bukan sujud ibadah.

No comments:

Post a Comment