Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sunday, January 20, 2013

Kisah Nabi Sulaiman As


Dialah Nabi Sulaiman as, seorang nabi dari Bani Israil, anak seorang nabi (Nabi Daud as) dan nasabnya berakhir sampai di Nabi Ya’qub as. Menerima kekuasaan kerajaan dari ayahnya (Nabi Daud), lalu ia perbaharui masjidil Aqsha. Bilqis (ratu Saba’) dan pengikutnya datang kepadanya dengan berserah diri dan taat. Membuat perjanjian dengan para raja sehingga tunduk pada kekuataannya dan mengikuti kekuasaannya. [1]

Allah swt telah mengkaruniakan kepadanya sebagaimana telah mengkaruniakan kepada ayahnya nikmat yang banyak sekali. Antara lain:

Memahami bahasa burung
Tunduknya angin dan jin kepadanya
Tembaga yang lunak di tangannya. Dll. Firman Allah:

16. Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud....QS. An Naml

Mewarisi kenabian dan kekuasaan, bukan warisan kekayaan, sebab ada anak yang lain, sehingga ia tidak dikhususkan dalam masalah harta. Dan juga karena adanya hadits Shahih, dari banyak sahabat; bahwa Rasulullah saw bersabda:

"لا نورث، ما تركنا فهو صدقة" وفي لفظ: "نحن معاشر الأنبياء لا نورث"

kami tidak diwarisi, yang kami tinggalkan semuanya adalah shadaqah. Dalam kalimat lain: Kami para nabi tidak diwarisi.

Rasulullah saw memberitahukan bahwa para Nabi tidak diwarisi hartanya sebagaimana manusia pada umumnya. Semua hartanya menjadi sadaqah bagi siapapun sesudahnya untuk fakir miskin, dan orang yang membutuhkan, tidak dikhususkan bagi kerabatnya saja. [2]

Nabi Sualaiman disebutkan dalam AL Qur’an sebanyak 17 (tujuh belas) kali, tujuh di antaranya disebutkan berbarengan denan ayahnya (Nabi Daud as). 17 kali itu adalah sebagai berikut: [3]

Sepuluh tempat disebutkan nama Nabi Sulaiman tidak bersama dengan ayahnya itu berbicara tentang:

a. Yahudi mengikuti bacaan Syetan di masa kekuasaan Sulaiman

Hal ini terdapat dalam firman Allah:

102. Dan mereka mengikuti apa[4] yang dibaca oleh syaitan-syaitan[5] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (Tidak mengerjakan sihir), Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[6] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, ...QS. Al Baqarah

b. Ilmu Nabi Sulaiman

15. Dan Sesungguhnya kami Telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman". QS. AN Naml.

Hal ini memberikan isyarat permulaan kisah. Dan pembukaan kisah ini diawali dengan penetapan nikamt terbaik yang Allah berikan kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman as; yaitu nikmat ilmu. Tentang ilmu Nabi Daud as telah diuraikan dalam ayat lain; antara lain:
ilmu tentang zabur, cara membacanya, interaksi alam di sekitarnya, terkesimanya gunung dan burung karena keindahan suaranya dan kesegaran lantunannya juga kedalaman penghayatannya dalam bermunajat kepada Rabbnya.
Terbebasnya ia dari hambatan-hambatan dan sekat yang memisahkan dirinya dengan alam raya ini.
Kemampuannya membuat peralatan perang
Lunaknya besi di tangannya untuk dibuat apa saja
Ilmu tentang peradilan sengketa.

Sedangkan Nabi Sulaiman dalam surah ini terdapat rincian apa saja yang telah Allah ajarkan kepadanya seperti: mengetahui bahasa burung, ditambahkan dengan ayat lain, seperti ilmu peradilan, angin yang ditundukkan Allah baginya.

Kisah Nabi Sulaiman diawali dari kalimat ini: (ولقد آتينا داود وسليمان علما) dan sebelum ayat ini selesai telah diungkapkan tentag syukur Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman atas nikmat itu. Pernyataan tentang nilai, dan kedudukannya yang besar. Segala puji bagi Allah yang telah melebihkannya dari pada kebanyakan hamba-Nya yang beriman. Maka nyatalah nilai ilmu, dan keberadaannya sebagai pemberian besar dari Allah kepada hamba-Nya. Keutamaan orang yang dierinya dari pada kaum mukminin pada umumnya.

Di sini tidak disebutkan jenis ilmu dan tema apa yang diberikan, karena semua itulah yang dimaksudkan dan yang hendak ditampilkan. Hal ini juga untuk mengesankan bahwa semua ilmu itu adalah anugerah Allah, dan sebaiknya setiap orang yang berilmu mengetahui dari mana sumber ilmu itu, dan menghadapkan diri kepada Allah dengan bersyukur, serta memanfaatkannya dalam ridha Allah yang telah memberinya nikmat itu. Sehingga ilmu tidak akan menajuhkan pemiliknya dari Allah, tidak melupakan-Nya, karena memang ilmu adalah salah satu pemberian dan karunia-Nya.

Dan ilmu yang menjauhkan hati dari Rabbnya adalah ilmu yang rusak, menyimpang dari sumbernya, melenceng dari arahnya dan tersesat jalannya.

Ummat manusia hari ini telah sampai pada fase baru perkembangan ilmu, yaitu dengan mengurai atom dan mendayagunakannya. Akan tetapi kejahatan macam yang dilakukan oleh manusia haru ini dengan ilmunya ini, ketika pemilik ilmu itu tidak pernah menyebutkan asma Allah, tidak takut kepada Allah, tidak bersyukur kepada Allah, tidak menghadapkan dirinya kepada Allah dengan ilmunya itu. Tidak ada yang mereka lakukan kecuali kekejaman yang mengerikan seperti di Heroshima dan Nagasaki. Tidak ada yang mereka sajikan kecuali ketakutan, goncangan di timur dan barat, mengancamnya dengan kehancuran dan kemusnahan.

Setelah menunjukkan nikmat ilmu itu kepada Nabi Daud dan Sulaiman as, keduanya mengungkapkan syukur atas karunia itu, mengakui kedudukan dan nilainya. Nabi Sulaiman mengungkapkan syukurnya:

16. Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud[7], dan dia berkata: "Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata". QS. An Naml.

Maka yang tampak pada ayat ini adalah ilmu tentang bahasa burung. Ada kemungkinannya pula nikmat-nikmat lain. Ia tidak mewarisinya dari Nabi Daud, demikian juga pemberian Allah yang lainnya.

c. Nabi Sulaiman mengetahui bahasa burung

16. ....: "Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu.

Nabi Sulaiman mengumumkannya kepada umat manusia sebagai ungkapan syukur, dan pengungkapan akan karunia Allah, bukan keangkuhan atas sesama manusia. Dan kemudian meneruskannya dengan pengakuan (إن هذا لهو الفضل المبين ) anugerah Allah yang nyata. Tidak ada yang mengetahui bahasa burung kecuali Allah, demikian juga tidak ada yang bisa memberikan semua nikmat ini kecuali Allah. Allah yang menciptakan semua alam ini, yang berfirman:

38. Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. QS. Al An’am

Mereka tidak akan menjadi umat ketika tidak ada keterikatan hubungan satu dengan yang lain, dan komunikasi tertentu, sarana tertentu untuk saling memahami antara mereka. Hal ini terlihat dalam kehipdupan burung, hewan dan serangga. Para ahli bidang ini berusaha memahami bahasa dan sarana interaktif mereka dengan memperhatikan indera dan menduga-duga, tidak bisa dengan meyakinkan. Sedangkan yang telah Allah berikan kepada Nabi Sulaiman as adalah kondisi khusus yang luar biasa yang berbeda dengan kebiasaan manusia pada umumnya, bukan dengan usaha dan rekayasa untuk memahami sarana komunikasi burung dan lain-lainnya, berdasarkan analisa dan pengamatan indera, seperti yang dilakukan para ahlu hari ini.

Kami ingin menegaskan hal ini karena ada sebagian ahli tafsir masa kini, yang terkesima dengan ilmu-ilmu baru berusaha menafsikan kisah Al Qur’an tentang Nabi Sulaiman as dalam hal ini dengan menganggapnya sebagai salah satu bentuk daya tangkap terhadap bahasa burung, hewan dan serangga lewat usaha ilmiah masa kini. Hal ini menyebabkannya keluar dari kejadian luar biasa (mu’jizat) dan merupakan salah satu dampak dari keterkaguman terhadap ilmu manusia yang sangat sedikit.

Padahal hal ini adalah sesuatu yang sangat mudah bagi Allah, untuk mengajarkan salah seorang hamba-Nya tentang bahasa burung, hewan dan serangga, sebagai pemberian langsung dari-Nya, tanpa usaha dan rekayasa. Hal ini tidak lain hanyalah salah satu pengungkapan sekat dari berbagai macam sekat yang Allah ciptakan. Dialah Allah yang telah menciptakan berbagai macam makhluk ini, dan kemampuan memahami bahasa burung dan hewan hanyalah salah satu kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada Nabi Sulaiman as. Kejadian lainnya seperti tunduknya jin dan burung yang berada di bawah perintahnya, seperti pasukan lainnya dari bangsa manusia. Kelompok burung yang Allah tundukkan kepadanya memiliki kemampuan khusus yang lebih tinggi daripada kemampuan burung pada umumnya. Hal tampak jelas dalam kisah Hudhud yang mengungkapkan kondisi ratu Saba’ dan kaumnya, seperti yang dapat difahami oleh manusia pintar. Hal juga merupakan kejadian luar biasa (mukjizat)

Sayyid Quthb mengatakan:

Faktanya, sesungguhnya sunnatullah dalam alam semesta ini menyatakan bahwa burung itu memiliki kemampuan khusus yang berbeda satu sama lain, akan tetapi kemampuan itu tidak akan sampai pada level kemampuan manusia. Bentuk burung yang seperti kita lihat adalah lingkaran mata rantai yang rapi dalam kehidupan secara umum –ia tunduk kepada kaidah umum- yang menuntut keberadaannya seperti yang ada.

Faktanya pula bahwa hudhud yang ada pada hari ini adalah hudhud yang juga sudah ada sejak beribu atau berjuta tahun yang lalu, sejak adanya hudhud. Dan sesungguhnya ada faktor genetika yang turun temurun menjadikan hudhud itu seperti yang pertama. Kalau ada perubahan, maka perubahan itu tidak akan sampai mengeluarkannya dari jenis burung pada umumnya. Inilah sisi lain sunnatullah yang bisa kita lihat di alam raya ini.

fakta yang valid ini tidak menghalangi kejadian luar biasa ketika Allah sudah menghendakinya. Demikianlah hudhud Nabi Sulaiman .

d. Nabi Sulaiman dan Jin

Kembali pada kisah Nabi Sulaiman setelah mewarisi dari ayahnya dan pernyataanya bahwa Allah telah memilihnya mendapatkan ilmu dan kekuasaan di muka bumi

17. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). QS. An Naml.

Inilah pasukan Nabi Sulaiman, terdiri dari jin, manusia dan burung. Kalau manusia sudah kita kenal, dan jin tidak kita kenali kecuali sebatas yang dikisahkan AL Qur’an kepada kita, yaitu makhluk yang Allah ciptakan dari api, mereka bisa melihat manusia dan manusia tidak bisa melihatnya.

27. ....Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. QS. AL A’raf

(tentang iblis atau syetan, dan iblis berasal dari jin). Mereka mampu mengganggu hati manusia dengan keburukan dan memberikan inspirasi untuk berbuat maksiat –dan kita tidak tahu bagaimana ia melakukannya- Dan bahwa ada di antara mereka yang beriman dengan Rasulullah saw tanpa Rasulullah saw melihat iman mereka. Hanya Allah yang meberitahukan hal ini kepada Rasulullah saw

1. Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: Telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami Telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,

2. (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, QS. Jin.

Kita mengakui bahwa Allah swt menundukkan sebagian jin itu kepada Nabi Sulaiman untuk membangun gedung-gedung tinggi, patung-patung, piring-piring besar, menyelam ke dalam laut, melaksanakan perintahnya dengan izin Allah. Di antara mereka ada yang menampakkan dirinya bersama dengan manusia dan burung.

Dapat kami katakan bahwa Allah swt telah menundukkan kepada Nabi Sulaiman sekelompok jin dan burung sebagaimana Allah tundukkan baginya sekelompok manusia. Sebagaimana tidak semua yang ada di muka bumi itu menjadi tentara Nabi Sulaiman. Karena kekuasaannya tidak melebihi yang sekarang dikenal dengan Palestina, Libanon, Suriah, Iraq, sampai ke sungai Efrat. Demikian juga tidak semua jin dan burung tunduk kepadanya, hanya sebagian saja. Argumentasi yang kami gunakan untuk menyatakan bahwa iblis dan keturunannya itu berasal dari jin adalah firman Allah:

50. ...dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.QS. Al Kahfi.

5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

6. Dari (golongan) jin dan manusia. QS. An Nas

Mereka ini selalu menggoda dan mengganggu manusia pada masa Nabi Sulaiman. Dan mereka tidak mungkin terus mengganggu manusia, jika mereka tunduk dan terikat dengan perintah Nabi Sulaiman. Maka yang bisa difahami adalah bahwa hanya sebagian jin saja yang ditundukkan kepadanya.

Dalam hal burung, kami bersandar kepada fakta bahwa Nabi Sulaiman ketika mengabsen burung, menngetahui bahwa Hudhud tidak ada, jika semua burung itu tunduk kepadanya dikerahkan dalam pasukannya, juga tidak semua hudhud. Jika semuanya maka ia tidak akan mampu mengatahui ketidak hadiran hudhud, yang merupakan satu dari sekian juta burung. Ketika ia mengatakan:

"Mengapa Aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. QS. An Naml:20

Hal ini menunjukkan bahwa burung itu adalah burung hudhud khusus baik jenis maupun bentuknya. Maka burung yang ditundukkan kepada Nabi Sulaiman adalah jenis burung hudhud tertentu, tidak semua burung. Hal ini juga didukung oleh fakta bahwa Hudhud itu memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh hudhud pada umumnya. Kelebihan mengharuskannya hanya ada pada jenis hudhud tertentu yang ditundukkan bagi Nabi Sulaiman, tidak untuk semua hudhud apalagi semua burung. Karena kemampuan yang dimiliki hudhud itu menyamai kecerdasan manusia genius dan bertaqwa.

e. Nabi Sulaiman dan Semut

Nabi Sulaiman memilki pasukan besar yang terdiri dari jin, manusia dan burung. Sebuah kesatuan pasukan yang sangat besar.

17. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). QS. An Naml

Agar tidak berantakan maka diikatlah mereka itu dengan ikatan keprajuritan, sehingga tertib, rapi dan disiplin.

18. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari";

19. Maka dia tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". QS. An Naml.

Pasukan itu berjalan, pasukan Nabi Sulaiman yang terdiri dari jin, manusia dan burung, dengan rapi dan teratur, dari yang terdepan sampai yang terakhir, dalam satu barisan, bersambung, sehingga ketika mereka menemui lembah yang banyak semutnya –karena banyaknya semut di sana sehingga disebut lembah semut. Ada seekor semut yang berkata –semut pemimpin, kerajaan semut itu mirip kerajaan lebah, sangat rapi strukturnya- bermacam-macam tugasnya, dan semuanya melaksanakan tugas itu dengan rapi dan menakjubkan, pada umumnya tidak mampu ditiru manusia berbuat sepertinya. Mereka memiliki akal yang tinggi dan kemampuan yang membanggakan. Semut itu mengatakan dengan cara yang dapat difahami oleh kaum semut, dengan bahasa yang telah mereka biasa pergunakan:

”Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari";

Nabi Sulaiman faham apa yang dikatakan semut itu, ia berlapang dada memahami apa yang dikatakan. Ini adalah nikmat Allah atas dirinya dan menghubungkannya dengan alam lain yang terisolir dari kebanyakan manusia. Nabi Sulaiman berlapang dada kepadanya karena inilah keajaiban dari sekian banyak keajaiban. Semut memiliki pemahaman seperti itu. Ketika Nabi Sulaiman memahaminya:

Maka dia tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu.

Dengan cepat ia merespon kejadian itu, mengembalikan hatinya kepada Allah yang telah memberinya nikmat yang luar biasa, membukakannya dengan alam lain yang terisolir dari makhluk lain. Ia menghadapkan dirinya kepada Allah dengan pengakuan:

19... dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".

(رب ) panggilan yang mengesankan kedekatan dan komunikasi langsung tanpa batas

(أوزعني ) kumpulkan kami semua, kumpulkan seluruh anggota tubuh dan perasaanku

f. Nabi Sulaiman dan Ratu Saba’

AL Qur’an menunjukkan bahwa Nabi Sulaiman memahami keinginan burung, baik lewat suara maupun hatinya. Lalu ia berdialog dengannya: Burung itu tunduk kepada perintahnya. Kalau ia perintahkan ia akan mengerjakan. Mereka bekerja sesuai dengan tugasnya. Ketika suatu hari ia mengabsen burung, lalu tidak ditemukan burung hudhud. Kemudian ia menganggapnya sebagai pelanggaran dan mengancam akan disembelih atau dihukum, kecuali jika ia datang dengan udzur yang mengharuskan ia tidak hadir saat itu. Ketika hudhud datang ia bertanya tentang ketidak hadirannya. Hudhud menjawab bahwa ia berada di negeri Saba’ (Yaman) dan memberitahukan tentang kerajaan besar dan ratu yang menguasai umat itu. Mereka adalah kaum shabi’ah, penyembah berhala, menyembah matahari, selain Allah. Ratu itu memiliki singgasana berhiaskan permata.

Nabi Sulaiman hendak menguji hudhud, apakah informasinya benar atau salah? Lalu ia berikan surat untuk disampaikan kepada ratu itu. Hudhud berangkat dengan membawa surat itu dan meletakkan di atas tempat tidur ratu. Diambillah surat itu yang isinya:

30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

31. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".QS. An Naml.

Ratu itu tidak segera menjawab surat ini, ia kumpulkan tokoh-tokoh negaranya, majlis syuranya, memberitahukan kepada mereka tentang surat itu. Harga diri dan gengsi mereka membuatnya mengatakan kepada sang Ratu:

33. Mereka menjawab: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan Keputusan berada ditanganmu: Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan".

Ratu itu cerdas, ia melihat masalah dengan kecerdasannya. Pendapat para pembesar negara tidak merubah pendiriannya. Ia katakan kepada mereka: Sesungguhnya para raja kalau memasuki kota, berdampak besar bagi penduduknya.

34. Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina;

Ratu itu menyampaikan pendapat lain mendekati solusi persoalan yang tidak terduga ini. Yaitu dengan mengirimkan hadiah kepada Sulaiman dengan hadian yang luar biasa, sehingga bisa melunakkan hati Nabi Sulaiman, dan menyuruh pembawanya untuk menunggu apa tanggapan Nabi Sulaiman terhadap hadian ini.

Zahirnya, bahwa ratu itu mengirimkan hadiah dan menyuruh pengantarnya memperhatikan kondisi raja yang telah mengirimkan surat dengan sangat berani itu, agar ratu itu datang langsung dan menyerahkan diri. Kemudian para pengantar itu pulang dengan membawa keterangan lengkap tentang hakekatnya, kekuatan kerajaannya, menyampaikan rekayasa apa yang mampu dilakukan jika Sulaiman tidak menerima apa yang mereka bawa. Ratu itu yang bertanggung jawab langsung, sehingga nanti kalau melakukan apapun, dilakukan setelah memperhitungkan hasilnya.

Ketika para utusan itu tiba di hadapan Nabi Sulaiman dengan membawa hadiah, Nabi Sulaiman tidak menerimanya dan menunjukkan bahwa ia tidam membutuhkan harta kekayaannya. Sesungguhnya ia dalam keadaan baik, kekayaan alam berlimpah dari pada kekayaan yang dimiliki ratu itu dan kaumnya, dan mengancam mereka bersama dengan ratunya bahwa Nabi Sulaiman akan mengirimkan ke negeri mereka dengan kekuatan pasukan yang tidak akan tertandingi, dan mereka akan dikeluarkan dari negerinya dengan hina dina.

Berita itu sampai kepada ratu lewat para utusannya. Ia mengetahui kebesaran Nabi Sulaiman, kekuatan kerajaannya dan cinta pada rakyatnya. Maka ratu itu berkesimpulan untuk berkunjung ke ibukota kerajaan Nabi Sulaiman bersama dengan para pembesar negara dan membawa hadiah besar.

Ketika Nabi Sulaiman mengetahui keinginan ratu Saba’ untuk mengunjunginya di ibukotanya, Nabi Sulaiman siapkan penyambutan besar. Ia lapisi lantai istananya dengan kaca. Hal ini tidak dikenal di Yaman. Ketika ratu Saba’ itu telah mendekati ibukota Nabi Sulaiman, ia ingin menampilkan kehebatannya dan nikmat Allah yang ia terima yang bisa membuat ratu Saba’ terkesima, agar ia melihat langsung dengan dua matanya hal-hal yang belum pernah ia impikan, yaitu dengan menghadirkan singgasananya yang indah agar menjadi tempat duduknya. Nabi Sulaiman menanyakan kepada prajuritnya yang mampu mendatangkan singgasana itu.

Dengan segera jin ’ifrit menawarkan:

39. Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya Aku benar-benar Kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". QS. An Naml

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[8]: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip".

Dan kenyataannya seperti yang dikatakan, singgasana itu datang dan diletakkan di istana yang telah dipersiapkan untuk menyambutnya, dan singgasana itu dirubah. Dan saya tidak mengetahui bagaimana perubahannya.

Dan ketika ratu Saba’ datang dan melihat singgasana :

42. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah singgasanamu?" dia menjawab: "Seakan-akan singgasana Ini singgasanaku,

Ketika ia hendak masuk ke istana itu dan mendekati singgasana, ia menyangka kaca itu adalah air, lalu ratu itu membuka betisnya agar tidak basah bajunya oleh air itu, dan diberitahulah bahwa itu adalah kaca. Ratu itu berkata:

44. ... berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah berbuat zalim terhadap diriku dan Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam".

Cara yang digunakan oleh orang yang berilmu itu dalam menghadirkan singgasana, maka hal itu tidak diungkapkan dengan tekstual tegas dan valid. Dan yang disayangkan adalah adanya ta’wil bahwa hal itu adalah peta negerinya.

Kalau masalahnya adalah mukjizat yang luar biasa maka tidak usah lagi ditolak/dibantah.


RINGKASAN NIKMAT YANG DIBERIKAN PADA NABI SULAIMAN AS

Yahudi mengikuti apa yang dibacakan syetan di kerajaan Sulaiman. Firman Allah:

102. Dan mereka mengikuti apa[9] yang dibaca oleh syaitan-syaitan[10] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (Tidak mengerjakan sihir), Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). QS. Al Baqarah

Angin yang ditundukkan kepadanya:

81. Dan (telah kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami Telah memberkatinya. dan adalah kami Maha mengetahui segala sesuatu. QS. Al Anbiya

12. Dan kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula)[11] QS. Saba

36. Kemudian kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakiNya, QS. Shaad

Jin dan burung tunduk kepadanya, dan ia memahami bahasanya

17. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).

18. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari"; QS. An Naml.

16. Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata". QS. An Naml

Kisah Balqis

30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. QS. An Naml

36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: "Apakah (patut) kamu menolong Aku dengan harta? QS. An Naml

44. ... berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah berbuat zalim terhadap diriku dan Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam". QS. An Naml

Nabi Sulaiman diuji dengan penyakit, kemudian Allah sembuhkan :

34. Dan Sesungguhnya kami Telah menguji Sulaiman dan kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah Karena sakit), Kemudian ia bertaubat.[12]

Al Fakhrurrazi menyebutkan dalam menafsirkan ayat ini:
(ولقد فتنا سليمان ) karena sakit berat yang ia alami
(وألقينا على كرسيه ) yaitu karena sakit yang berat.
(ثمَّ أناب ) kemudian ia kembali sehat

Allah berikan pemahaman dan ketepatan dalam memberikan hukum, dalam firman Allah:

79. Maka kami Telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)[13]; QS. Al Anbiya

Dari paparan ayat ini jelaslah bahwa Nabi Sulaiman adalah seorang Rasul sekaligus raja. Allah berikan kepadanya kekuatan dan kebesaran yang menakjubkan. Seperti tunduknya jin yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sulit dikerjakan manusia, begitu juga tunduknya burug mengikuti perintahnya, dan datang dengan berita dari seluruh penjuru negeri, begitu juga angin, melunaknya tembaga di tangannya; semuanya adalah mukjizat yang tidak pernah diberikan kepada nabi sesudahnya. Semua ini merupakan pengkabulan doa Nabi Sulaiman yang berdo’a:

35. Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah Aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi". QS. Shaad.

Setelah masa berkuasa yang besar itulah kemudian Allah wafatkan Nabi Sulaiman dalam usia lima puluh dua tahun, dimakamkan didekat ayahnya (Nabi Daud as) di Betlehm Palestina. Setelah berkuasa kurang lebih empat puluh tahun. Masa pemerintahannya menjadi masa keemasan dalam sejarah Bani Israil.

g. Wafat Nabi Sulaiman as

Al Qur’an menerangkan kematian Nabi Sulaiman :

14. Maka tatkala kami Telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia Telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. QS. Saba’

Para ahli tafsir mengungkapkan ayat ini dengan bermacam-macam penafsiran, dan diantaranya ada yang sangt jauh dari akal. Dan yang paling dekat secara logis adalah yang diriwayatkan oleh Abdulwahhab an Najjar:

Bahwa Nabi Sulaiman telah wafat dan kematiannya tidak diketahui oleh jin, tetapi yang lainnya mengetahuinya termasuk umat manusia. Ia dimakamkan dan kekuasaannya berkahir dan diteruskan oleh anaknya. Sedangkan jin masih berada di tempat yang jauh (Tadmur) belum berhenti bekerja karena takut dihukum Nabi Sulaiman. Dan setelah beberapa lama salah satu jin mengetahui kematiannya lalu membaritahukan kepada yang lainnya. Dan mereka semakin yakin jika mereka mengetahui yang ghaib maka mereka tidak akan mendapatkan siksa yang menghinakan.

Ada pula yang mencertitakan: Sesungguhnya Nabi Sulaiman berada dalam mihrabnya lalu kematian menjemputnya, dan ia dalam keadaan duduk berpegang tongkatnya. Kemudian rayap datang memakan ujung tongkat itu sehingga ktika sudah rapuh, Nabi Sulaiman terjatuh, barulah diketahui kematiannya. Lalu keluarganya menguburkannya dan setelah memeriksa barulah diketahui bahwa Nabi Sulaiman telah wafat dalam waktu yang lama. Dan ketika jin yang sedang bekerja keras mengetahui kematian Nabi Sulaiman, mereka menyadari bahwa jika mereka mengetahui yang gaib maka tentulah mereka tidak akan mendapatkan siksa yang menghinakan, yaitu waktu antara kematian Nabi Sulaiman dan mereka mengetahui kematiannya.

Dan yang jelas bahwa Nabi Sulaiman jika sudah masuk ke dalam mihrabnya, menyendiri di dalamnya untuk beribadah, tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke tempatnya kecuali setelah mendapatkan izinnya. Dan jelas pula bahwa setelah sekian lama baru terungkap kematiannya.


PELAJARAN TANTANG KEADILAN

Dalam kisah Nabi Daud terdapat pelajaran keadilan, dan pemahaman yang wajib dimiliki para pemimpin dalam mengontrol perjalanan dirinya agar terjaga dari kezaliman. Hal ini terlihat dalam seruan Allah kepada Nabi Daud as:

26. Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan. QS. Shaad.

Dalam ayat ini Allah swt memerintahkan Nabi Daud untuk menetapkan hukum dengan adil, sehingga persoalan menjadi tegak dan baik. Hanya saja apa yang menyebabkan hakim bergeser dari jalan yang benar? Itulah hawa nafsu yang tampak dalam fenomena antara lain:
Balas dendam kepada lawan
Berpihak kepada yang kuat dan curang kepada yang lemah
Memuaskan diri sendiri yang ingin populer dan berkuasa, dll

Hal-hal inilah yang tampak nyata pada sebagian penguasa. Dari itulah Allah swt memerintahkan Nabi Daud agar dapat menetapkan hukum dengan adil dengan berfirman: ” ...dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu...”

Dan di penghujung akhirnya Al Qur’an menjelaskan tentang akibat dari mengikuti hawa nafasu yaitu akan menyesatkannya dari jalan Allah yang mengantarkannya kepada kebahagiaan dan kemenangan besar. Sebagaimana keluar dari jalan yang telah Allah tetapkan akan menyebabkan adzab besar di hari kiamat.

Inilah pesan yang sangat indah yang AL Qur’an sebutkan, untuk menjaga hakim dan qadzhi dari ketergelinciran, menjauhkan diri dari hukum yang curang yang mengakibatkan goncangan sistem bernegara dan merusak sendi-sendinya.

Waktu-wakti utama dalam beribadah

Dalam kisah Nabi Daud as terdapat pengkhususan waktu-waktu utama. Inilah yang dapat difahami dari siratan ayat:

18. Sesungguhnya kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, QS. Shaad.

Pengkhususan dua waktu ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki kelebihan dan kemuliaan, sehingga layak diberi pengkhususan agar menyemangati beribadah pada kedua waktu itu. Karena waktu dan tempat memiliki keutamaan ibadah. Ketika matahari terbenam dan malam mulai merambah, ketenanan semakin merata, bintang mulai terlihat di langit, akan menggairahkan seseorang untuk beramal shalih bertasbih, bertahmid mengagungkan kebesaran Allah. Demikian juga ketika matahari terbit, tampak dengan sangat jelas, mulailah ada gerak manusia, burung dan hewan lainnya. Semuanya menggerakkan sensitifitas ruhiyah di hati manusia dan mengajaknya mengagungkan kebesaran Penciptanya.

Penggabungan Dunia dan Akhirat

Banyak orang yang menganggap mustahil penggabungan dunia akhirat. Karena beragama menurut mereka harus dengan meninggalkan dunia dan hanya berada di tempat ibadah, tidak boleh mengambil bagian dunia. Pemahaman ini banyak tersebar sampai pada tingkat seruan sekularisme yang menyerukan bahwa beragama itu akan membuat rakyat terbelakang.

Ada hal yang tidak diketahui oleh kaum materialis ini bahwa Islam menganggap dunia dan akhirat sebagai dua hal yang saling menyempurnakan. Ajaran agama menyerukan untuk mengambil porsi dunia untuk menjadi bekal akhirat. Firman Allah:

77. Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. QS. Al Qashash

Sebagaimana Islam menyerukan penggunaan sarana-sarana kekuatan untuk melindungi negara dari serangan musuh:

60. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi QS. Al Anfal

Inilah pemahaman beragama dalam Islam, dan inilah yang Allah sampaikan kepada Nabi Daud as sebagai pelajaran dan bimbingan untuk kita semua.

11. (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan. QS. Saba’

Allah swt menyuruh Nabi Daud membuat baju besi. Perang pada waktu itu dengan pedang, tombak dan panah, maka baju besi menjadi sarana efektif untuk mempertahankan diri. Dan hari ini persenjataan telah diperbaharui dan dikembangkan maka para pengamal agama wajib membuat persenjataan yang mampu menandingi sarana-sarana penghancur yang ada.

Renungkanlah kemudian, bagaimana Allah swt memerintahkan kepada Nabi Daud agar membuat baju besi, dan menyuruh para pengikutnya untuk beramal shalih demi kebaikan dunia dan akhiratnya. Karena dunia akhirat saling berkait dalam pandangan agama. Yang satu menyempurnakan yang lainnya. Kekuatan militer melindungi umat dari musuh, menjaganya dari kehinaan, dan kekuatan ruhiyah yang tercermin dalam iman dan amal shalih memperbaiki umat dan menjauhkannya dari kerusakan.

Evaluasi diri

Dalam kisah Nabi Daud as terdapat pelajaran penting dalam muhasabatunnafsi agar terhindar dari kesalahan dan keburukan. Dan inilah yang tampak dalam firman Allah:

24. ...dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. QS. Shaad

bukankah maksud kata (..Kami mengujinya), bahwa Allah mengujinya dan menempatkannya dalam fitnah? Hal ini mungkin. Akan tetapi yang dimaksudkan bahwa Nadi Daud eristighfar kepada Rabbnya karena sekedar merasa bahwa ia tergelincir dalam kesalahan. Lalu bagaimana dengan orang yang yakin kalau ia benar-benar tergelincir.

Hal ini memberi pelajaran mendalam tentang semangat muhasabah ketika terlintas kesalahan dalam benaknya. Karena membiarkan jiwa dalam keterasingan akan menyebabkan kerusakan.

Setiap kali hati seorang mukmin merasa melakukan kemunkaran, atau dalam benak merasakan rasa iri, dendam dan benci kepada sesama saudara muslim, maka haruslah segera mencontoh Nabi Daud as, segera ruku’ dan sujud kembali kepada Allah dengan taubat, sehingga Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan seseorang sampai pada apa yang tersimpan dalam benaknya.

284. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. QS. Al Baqarah

Inilah cara bijak Al Qur’an dalam memperbaiki jiwa manusia. Karena perbuatan munkar dan pikiran-pikiran jahat jika dibiarkan dalam diri manusia tanpa ada terapi akan membahayakan prilakunya dan mengacaukan perbutannya. Dari itulah Utsman ra berkata:

"ما أسرّ أحد سريرة إِلاَّ أبداها الله على صفحات وجهه وفلتات لسانه"

Tidaklah seseorang itu menyembunyikan rahasianya, kecuali pasti Allah akan tampakkan di wajahnya dan keterpelesetan mulutnya.

Seorang penyair Jahiliyah –Zuhair bin Abi Salma- mengatakan:

ومهما تكن عند امرئ من خليقةٍ
:
وإن خالها تخفى على الناس تُعلم

Betapapun seseorang menyembunyikan kepribadiannya dengan sangat rapi, suatu saat pasti akan diketahui.
Berpegang dengan Sistem Musyawarah

Diktatorian para pemimpin dengan pendapatnya sendiri, tidak mau bermusyawarah dengan para ahli dan berpengalaman bisa berakibat pada keluarnya hukum yang cacat dan membahayakan kemaslahatan umat. Sejarah telah banyak mencatat hal ini. egoisme para pemimpin dengan pikirannya sendiri menjadi sala satu sumber kehancuran umat.

Musyawarah adalah system yang bisa mengukuhkan kebaikan umat. Pendapat jamaah tentu lebih kuat dan lebih benar dibandingkan dengan pendapat pribadi.

Al Qur’an menyajikan pelajaran indah tentang azas musyawarah, dalam penuturan kisah Ratu Saba’ ketika menerima ancaman Nabi Sulaiman yang akan menyerang negerinya. Bagaimana siakapnya ketika itu? Apakah ia sendiri yang memutuskan sikap dan mengharuskan penerapannya? Tidak! Ia kumpulkan para pembesar kaumnya, dan menyatakan kepada mereka:

32. Berkata dia (Balqis): "Hai para pembesar berilah Aku pertimbangan dalam urusanku (ini) Aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)". QS. An Naml.

Ungkapan ini menunjukkan prinsip musyawarah yang dijadikan prinsip konstitusional dunia maju, dengan nama yang berbeda-beda, seperti: Majlis Perwakilan, Majlis ahli, Majlis Rakyat dll.

Musyawarah adalah pilar pemerintahan yang baik bagi umat manapun, menghindarkan dari bahaya yang mungkin timbul dari ambisi penguasa dan agenda pribadinya. Prinsip musyawarah ditetapkan oleh ratu Saba pada dirinya sendiri, dan Islam menjadikannya sebagai prinsip hukum Islam. Al Qur’an menegaskan kepada Rasulullah saw:

159. ...dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. QS. Ali Imran

Sebagaimana Al Qur’an memuji orang-orang beriman yang menjadikan musyawarah sebagai kaidah hukumnya:

38. ...sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; QS. Asy Syura

Pertahanan Aqidah di Hadapan Godaan Harta

Hal ini dapat terlihat dari ungkapan Sulaiman kepada para utusan Bilqis yang membawa hadiah:

36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: "Apakah (patut) kamu menolong Aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. QS. An Naml.

Artinya: anugerah Allah yang saya terima, rahmat yang berupa kenabian dan ilmu lebih baik dari harta benda yang kalian bawa. Karena harta dunia akan sirna. Nabi Sulaiman ingin menunjukkan keunggulan sisi ruhiyah dibandingkan sisi material. Nabi Sulaiman tidak mengatakan: ”bahwa yang aku terima dari Allah lebih banyak daripada yang kalian terima” akan tetapi mengatakan ” Lebih baik dari yang Allah berikan kepadamu”. Ini tentu yang dimaksudkan adalah sisi ruhiyah, yang menurutnya lebih baik daripada sisi maddiyah.

Sejak pertama umat manusia ini diuji dengan harta, sehingga bisa mengendalikan usahanya. Balqis menduga bahwa Sulaiman seperti kebanyakan manusia lainnya yang bisa dipengaruhi oleh harta benda. Dari itulah ia mengirimkan hadiah kepada Nabi Sulaiman untuk menguji kualitas pribadinya. Apakah hadiah ini bisa mendiamkan dan merubah dakwahnya, bahkan ancaman perangnya? Tetapi Balqis tidak mendapatkan jawaban dari Nabi Sulaiman kecuali dengan kalimat:

”Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu”

Kalimat yang Nabi Sulaiman ungkapkan agar menjadi kaidah bagi generasi sesudahnya, dan menjadi kalimat yang diucapkan oleh setiap reformis berikutnya, setiap pemimpin, setiap hakim, ketika disuap oleh ahlul bathil agar mendiamkan kebatilannya. Kalimat yang Nabi Sulaiman sampaikan mengandung nilai yang tinggi, berpegang dengan kebenaran dan lulus dari godaan dunia, baik berupa jabatan, kekayaan, popularitas, dll. Penolak Nabi Sulaiman ditambah dengan ungkapan:

”...tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu”.

Nabi Sulaiman tidak merasa bangga dengan tampilan duniawinya, tidak terpengaruh oleh tipu dayanya. Ia berusaha mendapatkan hakekat besar yang tidak bisa ditandingi apapun jua.

Pelajaran Tawadhu’

Dalam kisah Nabi Sulaiman as dengan Balqis terdapat pelajaran bagi orang yang berilmu untuk tawadhu (rendah hati) sehingga tidak terbawa pada sikap ’ujub (bangga diri) dan terlena dengan ilmu yang diterimanya. Hal ini terlihat dalam ungkapan Hudhus kepada Nabi Sulaiman setelah pulang dari perjalanan panjangnya:

22. ....lalu ia berkata: "Aku Telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. QS. An Naml.

Nabi Sulaiman adalah seorang Nabi yang dikaruniai hikmah dan ilmu yang berlimpah yang keduanya tidak diketahui oleh Hudhud, seekor burung kecil yang berbicara dengan Nabi Sulaiman dengan nada berani, dengan ungkapan yang mengesankan bahwa ia memiliki ilmu yang banyak. Inilah pelajaran mendalam bagi setiap mukmin bahwa manusia itu betapapun ilmunya telah begitu tinggi, maka pasti akan ia temukan makhluk Allah yang lebih lemah lagi darinya dan dapat mengungguli ilmunya dalam beberapa sisi pengetahuan.

Bagaimanakah sikap Nabi Sulaiman terhadap Hudhud? Apakah ia terlena dengan dirinya dan mengabaikan berita dari Hudhud? Apakah kesombongan dan kemegahan yang menjadi atribut para raja, akan menghukum hudhud karena kelancangannya itu? Tidak! Nabi Sulaiman hanya menjawab:

27. Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. QS. An Naml.

Kalimat yang mengisaratkan bahwa ia menerima informasi dari Hudhud dan rasa cinta kepada kebenaran. Nabi Sulaiman tidak merasa ada hambatan psikologis untuk menerima berita dari Hudhud, si burung kecil itu; padahal ia adalah seorang Nabi yang menyampaikan ilmu dan mengajarkan pengetahuan yang banyak sekali. Allah menggambarkan ilmu Nabi Sulaiman:

15. Dan Sesungguhnya kami Telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman" QS. An Naml.

Ayat ini membuktikan kemuliaan dan keutamaan pemilik ilmu agar mereka bertahmid kepada Allah atas karunia yang telah mereka terima, merasakan kedudukan ilmu yang tidak tertandingi oleh apapun. Dalam penyebutan secara khusus karunia yang diberikan kepadanya dibandingkan dengan hamba lainnya menunnjukkan bahwa selain Nabi Sulaiman tidak ada yang lebih utama darinya. Hal ini menarik perhatian ulama agar tawadhu, karena masih ada hamba Allah yang lebih baik daripada mereka dalam bidang ilmu.


([1]) انظر تاريخ ابن خلدون: 1/144 - 145.
([2]) قصص الأنبياء ص 433.
([3]) سورة البقرة – الآية (102) مكرر وسورة النساء – الآية (163)، وسورة الأنعام – الآية (84)، وسورة الأنبياء – الآيات (78، 79 ، 81)، وسورة النمل – الآيات (15 : 18 ، 30، 36، 44)، وسورة سبأ – الآية (12)، وص 30، 34.
[4] Maksudnya: kitab-kitab sihir.
[5] syaitan-syaitan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir (Ibnu Katsir).
[6] para Mufassirin berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang malaikat itu. ada yang berpendapat, mereka betul-betul malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti malaikat.
[7] maksudnya nabi Sulaiman menggantikan kenabian dan kerajaan nabi Daud a.s. serta mewarisi ilmu pengetahuannya dan Kitab Zabur yang diturunkan kepadanya.
[8] Al Kitab di sini Maksudnya: ialah Kitab yang diturunkan sebelum nabi Sulaiman ialah Taurat dan Zabur.
[9] Maksudnya: kitab-kitab sihir.
[10] syaitan-syaitan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir (Ibnu Katsir).
[11] maksudnya bila Sulaiman mengadakan perjalanan dari pagi sampai tengah hari Maka jarak yang ditempuhnya sama dengan jarak perjalanan unta yang cepat dalam sebulan. begitu pula bila ia mengadakan perjalanan dari tengah hari sampai sore, Maka kecepatannya sama dengan perjalanan sebulan.
[12] sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ujian Ini ialah keberantakan kerajaan Sulaiman sehingga orang lain duduk di atas singgasananya.
[13] menurut riwayat ibnu Abbas bahwa sekelompok kambing Telah merusak tanaman di waktu malam. Maka yang Empunya tanaman mengadukan hal Ini kepada nabi Daud a.s. nabi Daud memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada yang Empunya tanaman sebagai ganti tanam-tanaman yang rusak. tetapi nabi Sulaiman a.s. memutuskan supaya kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada yang Empunya tanaman untuk diambil manfaatnya. dan prang yang Empunya kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanam-tanaman yang baru. apabila tanaman yang baru Telah dapat diambil hasilnya, mereka yang mepunyai kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. putusan nabi Sulaiman a.s. Ini adalah Keputusan yang tepat.

No comments:

Post a Comment