Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Wednesday, January 2, 2013

BUNGA RAMPAI DAKWAH DI BIROKRASI


Setelah Fathu Mekkah, kendali kekuasaan sepenuhnya ada di tangan Rasulullah SAW. Kaum Musyrikin Quraisy bertekuk lutut dan mengakui kemenangan dakwah Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Mereka mulai merapat kepada Rasulullah SAW seraya menyatakan keislamannya dan siap mendapatkan bimbingan dan pengajaran dari Rasulullah SAW. Padahal sebelumnya mereka sangat jauh dengan dakwah bahkan selalu berada di barisan paling depan memusuhi dan memeranginya.

Abu Sufyan tidak memiliki pilihan lain kecuali mengakui kemenangan dakwah Nabi Muhammad SAW dan menyatakan masuk Islam, setelah menyaksikan puluhan ribu kaum Muslimin menyeruak di sekitar Masjidil Haram. Amr bin Ash yang pernah membujuk Najasyi agar mendeportasi kaum Muslimin yang hijrah ke negerinya Habasyah, juga datang bertekuk lutut kepada Nabi, Ia langsung menyatakan dirinya ingin masuk Islam, namun Ia risau dengan track record masa lalunya yang selalu memusuhi Islam. Namun dengan penuh kelembutan Rasulullah SAW membesarkan hatinya seraya bersabda : “Ya Amr!, Al-Islaamu yajubbu maa kaana qablahu”, Wahai Amr!, Islam akan menghapus apapun yang telah terjadi sebelumnya!.

Ikhwah Fillah Rahimakumullah!

Juga tidak ketinggalan Ikrimah putra Abu Jahal merapat kepada Nabi, meskipun dibarengi dengan perasaan takut dan khawatir, karena Ia tidak pernah absent berada di barisan paling depan memerangi kaum muslimin sebagai pelampiasan dendam kesumatnya, terutama setalah kematian ayahnya dalam perang Badar. Dengan ditemani oleh isterinya Ummu Hakim yang telah terlebih dahulu masuk Islam, Ikrimah memberanikan dirinya menghadap Rasulullah SAW. Ternyata di luar dugaan justru rasulullah SAW`menyambutnya dengan penuh hangat seraya bersabda : “Marhaban birraakibil Muhaajir”, selamat datang!, wahai si penuggang kuda yang hendak hijrah!. Rasulullah SAW melupakan masa lalu Ikrimah, bahkan beliau memuliakannya dan mengangkatnya sebagai “Kaatibul Wahyi”, penulis wahyu, sehingga namanya hingga kini tertoreh dalam berbagai literature kitab-kitab Tafsir (Kutubuttafaasir)




Ikhwah Fillah!

Hikmah dan pelajaran apa yang dapat kita petik dari hikmah peristiwa tersebut di atas? Itulah logika kekuasaan Ikhwah Fillah!. dan pentingnya syaitoroh al wilayah wal hukumah (penguasaan pemerintahan dan pengendalian otoritas). Yang tadinya kawan menjadi lawan dan yang tadinya menghindar jadi mendekat dan merapat.

Begitupula Ikhwah Fillah! Kemenangan dakwah di era mihwar mu’assasy dan mihwar dauly yang tengah kita jalani sekarang ini, menjadi sangat penting dan signifikan untuk membuka katup-katup dakwah yang masih tertutup. Kemenangan dakwah dalam kontek saitoroh al wilayah wal hukumah akan banyak membuka peluang-peluang dakwah yang sebelumnya sulit diekses, menjadi mudah dan  bebas kendala, baik kendala psikologis maupun  kendala kebijakan structural. Saitoroh al wilayah wal hukumah tidak akan tercapai bila prosedur dan mekanismenya tidak kita ikuti. Oleh karenanya sementara ini  mau tidak mau kita harus mengikuti prosedur dan mekanisme penguasaan dan penegndalian wewenang, melalui Pemilihan dan pemungutan suara, baik di even Pilkada, Pemilu dan Pilpres.

Ikhwah Fillah! Rahimakumullah!

Semakin banyak suara yang digalang untuk mendukung dakwah ini, maka akan semakin besar peluang dakwah ini menguasai sektor-sektor penting pemerintahan dan pengendalian sumberdaya manusia yang ada di dalamnya, dengan kata lain Ikhwah fillah!, dakwah birokrasi akan berjalan lebih lancar dan kondusif, sehingga pengkaderan di kalangan birokrat akan semakin terbuka peluang dan kemudahannya. Oleh karena itu ikhwah Fillah!, penguasaan sector-sektor penting pemerintahan sekali lagi sangat penting artinya untuk memudahkan kewajiban berdakwah di kalangan birokrasi, dan hal itu hanya dapat diperoleh dengan kapitalisasi dukungan suara, maka berjuang untuk menggalang suara public menjadi wajib hukumnya dalam rangka menyempurnakan kewajiban dakwah birokrasi, dalam kontek “ishlaahul hukumah” hinggga “ustaadziyyatul aalam”. Sebagaimana kaidah fiqih menyebutkan : “Maa laa yatimmul waajibu illaa bihi fahuwa waajibun”, Kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan satu hal yang harus dipenuhi, maka satu hal itupun menjadi wajib pula”

Pengaruh Pimpinan Birokrat

Ikhwah Fillah!,

 Perlu diketahui bahwa budaya organisasi birokrasi di Indonesia masih cenderung paternalistic, maksudnya apa yang menjadi keinginan atasan akan sangat didengar dan dipatuhi oleh bawahannya. Disinilah pimpinan birokrat memiliki pengaruh dakwah yang kuat kepada bawahannya, sebagaimana pernah dituturkan oleh seorang yang telah lama berkiparh di dunia birokrasi, dengan berkali-kali ganti kepemimpinan.. Beliau menceritakan pengalamannya sebagai seorang birokrat yang mengalami berbagai macam evolusi dakwah Islam di instansi tempat beliau bekerja. Di masa awal, lingkungannya masih berbau kejawen, lalu berkembang menjadi Islam abangan, dan seterusnya mengalami evolusi ke arah yang lebih baik, sehingga menjadi Islam yang `semoga` kaffah.

Selanjutnya beliau menekankan, betapa evolusi lingkungan itu bisa terjadi karena pengaruh pimpinan. Yaitu ketika yang memimpin adalah orang yang jauh dari nilai2 Islam, maka lingkungan kerjapun akan berbanding lurus. Pada saat instansi beliau dipimpin oleh orang yang peduli dengan Islam, maka hasilnya, lingkungan kerjapun berubah menjadi Islami. Sehingga, dari pengalamannya selama bertahun2 bekerja sbg birokrat dengan segala dinamikanya, beliau berkesimpulan bahwa dakwah birokrat, atau dakwah struktural melalui pimpinan dengan segala keteladanannya, akan lebih jelas terlihat hasilnya dibanding dakwah kultural. Sebab mental manusia Indonesia yang masih mendudukkan jabatan struktural sebagai posisi mulia, hanya bisa disentuh dan dirubah melalui hal di atas.

Ikhwah Fillah Rahimakumullah!

Alangkah indahnya bila para birokrat tersentuh oleh dakwah, semakin dini dakwah gencar diarahakan kepada mereka, maka Insya Allah akan semakin cepat terealisasi proses “Islahul hukumah “ negeri ini. Dan semakin bertambah jajaran aparatur pemerintahan  yang shaleh di negeri ini, sehingga pengelolaan Negara dan pemerintahan akan semakin berjalan dengan baik, dan amanah kepemimpinan akan dijalankan dengan seoptimal mungkin, sehingga terwujud masyarakat yang adil dan sejahtera. “Baldatun Tahyyibatun wa Rabbun Ghafur”

Wallaahu A’lamu bisshawab

1 comment:

  1. Agama dan Kekuasan ibarat saudara kembar. Agama menyiapkan pondasi yang kuat dan bangunan yang indah, kekuasaan menjaganya agar tersu bertahan. Jazakallah atas pencerahannya.. ;)

    ReplyDelete