Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sunday, January 20, 2013

Kisah Nabi Zakaria As

Seorang nabi dari para nabi Bani Israil, seperti yang dikatakan bahwa dialah: Ibnu Barkhiya, ibn Daan. Ada yang mengatakan: Ibnu Ladun bin Muslim bin Shaduq. Nasabnya sampai pada Nabi Sulaiman ibn Daud as.

Al Hakim meriwayatkan dan menshahihkan hadits dari Ibnu Mas’ud yang berkata:

كان آخر أنبياء بني إسرائيل زكريا بن أدن بن مسلم وكان من ذرية يعقوب

”Sesungguhnya dialah nabi terakhir bani Israil; Zakariya bin Adn bin Muslim dari anak cucu Ya’qub...”

Adalah termasuk putra nabi yang menulis wahyu di Baitul Maqdis, bekerja menjaga haikal di sana, memandu Bani Israil dan mengajak mereka ke jalan Allah yang lurus. Di samping itu ia memiliki pekerjaan profesional, seperti yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab shahihnya dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:

كَانَ زَكَرِيَّاءُ نَجَّارًا

Nabi Zakariya adalah seorang tukang kayu.

Namanya diulang dalam Al Qur’an sebanyak tujuh kali, dan kisahnya dituturkan dalam surah-surah ini.[1]

Ringkasan kisahnya adalah bahwa ia hidup sampai usia senja belum memiliki anak, isterinya dikenal mandul di masa mudanya, tidak bisa melahirkan anak. Keduanya ridha dengan qadha qadar Allah. Ketika suatu hari ia masuk ke ruang Maryam –putri saudara perempuan isterinya, ia menjadi pengasuhnya- ia melihat di ruang Maryam itu ada rizki dari Allah yang sangat menakjubkan. Ia melihat ada buah-buahan yang tidak musimnya. Ia bertanya kepadanya: Dari mana buah-buah ini? Maryam menjawab: Dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberikan rizki kepada siapapun yang dikehendaki tanpa diduga-duga.

Jawaban ini menggerakkan hatinya yang secara fitrah ingin dikaruniai anak. Ia bertanya-tanya dalam hati. Bukankah rizki yang diberikan kepada Maryam itu itu adalah rizki yang baik. Bukankah Dzat yang memberikan buah-buahan bukan pada musimnya itu, pasti sangat mampu memberikan anak kepadaku. Tulang-tulangku sudah rapuh, kekuatan fisikku sudah menurun, dan umurku sudah uzur.

Di sisi lain ia ketakutan akan keadaan Bani Israil sepeninggalnya, khawatir ada hal-hal yang tidak sesuai dengan syariah Allah. Maka ia berdoa kepada Rabbnya di tengah malam, dengan doa yang lirih, tidak terdengar makhluk lainnya, agar Allah mengkaruniakan anak yang shalih yang bisa mewarisi kenabian dan hikmah di Bani Israil, dapat mewarisi keluarga Nabi Ya’qub, sebagaimana Allah telah muliakan mereka dengan kenabian dll.

Allah kabulkan doanya. Malaikat, atas perintah Allah, memanggilnya ketika ia sedang berdiri shalat di mihrab: Sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu dengan YAHYA membenarkan kalimat Allah, seorang pemimpin, menahan diri dari nafsu, seorang nabi, termasuk keturunan orang-orang shalih.

Nabi Zakariya terkejut kedatangan berita gembira itu dalam usia senjanya, dengan kondisi fisiknya yang lemah. Isterinya yang mandul benar-benar terkejut sebagaimana terkejutnya Sarah isteri Nabi Ibrahim as ketika mendapatkan berita gembira Nabi Ishaq, dan setelah Ishaq Ya’qub, dalam usia senja, dan suaminya seorang tua senja usia. Jawaban dari Allah adalah:

Hal ini sangatlah ringan bagi-KU, sebab yang telah menciptakanmu dari yang tidak pernah ada, tidak akan kesulitan memberikan kepadamu seorang anak, dengan kondisimu dan isterimu seperti sekarang ini.

Kemudian ia meminta tanda dari Rabbnya: tanda kehamilan isterinya, mengandung anak yang dijanjikan itu. Lalu memberitahukannya: bahwa tandanya adalah bahwa mulutnya tidak akan bisa berbicara dengan sesama manusia –padahal ia manusia sempurna, sehat fisik-selama tiga hari. Hanya bisa berisyarat dengan tangan, atau isyarat lain yang memahamkan orang. Dan selama tiga hari itu ia harus memperbanyak bertasbih, bertahmid di waktu pagi dan petang. Ia melaksanakan perintah Allah itu. Allah karuniakan Yahya as dalam bentuk seperti yang Allah janjikan.

Kemudian Allah mengujinya dengan terbunuhnya anak ini di masa hidupnya, di hadapannya, di tangan orang-orang zhalim dari Bani Israil. Hatinya tidak berubah, ia hanya bersabar, berserah diri kepada Allah. Bahkan ketika Bani Israil telah berkumpun untuk membunuhnya ia tidak gentar dan mengaduh. Dengan itulah Bani Israil mendapatkan murka dan kutukan Allah.

Dari kisah Nabi Zakariya ini banyak pelajaran yang kita dapat:

Pelajaran Pertama:

Bahwasannya ketika ia berdoa:

5. ...Maka anugerahilah Aku dari sisi Engkau seorang putera,
6. Yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; QS. Maryam

Tidak bermaksud warisan harta, seperti yang diduga oleh sebagian kaum muslimin yang dalam jiwanya ada tersimpan tujuan buruk di balik dugaan itu. Ibnu Jarir Ath Thabariy menafsirkan –semoga karena lupa- meriwayatkan dari Abu Shalih yang mengatakan: ”Ungkapannya - Yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub- ia katakan: yang mewarisi harta bendaku setelah aku wafat, dan mewarisi dari kenabian dari keluarga Ya’qub. Hal ini karena Nabi Zakariya adalah termasuk anak cucu Ya’qub. Seperti yang kami katakan dalam hal ini, para ahlutta’wil mengatakan riwayat dari Abu Shalih: ungkapan -Yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub- mewarisi harta dariku, dan mewarisi kenabian dari keluarga Ya’qub.

Dan yang dimaksudkan warisan di sini adalah warisan kenabian (Nubuwwah) dan hukum bagi Bani Israil karena beberapa dalil berikut ini:
Diriwayatkan oleh para penulis kitab shahih (ashabushshihah) musnad dan sunan, dll dari beberapa orang sahabat. Bahwa Rasulullah saw bersabda:

Kami para Nabi tidak diwarisi hartanya
Sesungguhnya harta dunia itu sangat hina di mata para nabi, apalagi sampai menyimpannya, merebutkannya, atau memperhatikannya sehingga meminta agar anak-anaknya tidak terlantar sepeninggalnya. Faktanya bahwa orang-orang yang zuhud saja –padahal mereka tingkatannya di bawah para nabi- tidak pernah meminta kepada Tuhannya agar anaknya dapat mewarisi harta bendanya, maka bagaimana mungkin para nabi yang berkedudukan tinggi meminta hal yang serendah itu? 

Bahwa Nabi Zakariya dulunya seorang tukang kayu, bekerja dengan tangannya sendiri, makan dari hasil kerjanya, dan umumnya para nabi itu tidak memforsir dirinya untuk bekerja apalagi menyediakan peniggalan bagi anak cucunya, kesibukan utamanya adalah berdakwah. Hal ini banyak diungkapkan oleh Ibnu Katsir dalam tiga bukunya.[2]

Pelajaran Kedua,

Bahwa ibadah terutama shalat dan doa berperan penting dalam mendapatkan anugerah dan rahmat Allah yang lebih banyak lagi. Berita gembira karunia anak telah disampaikan kepada Nabi Zakariya, ketika sedang shalat. Firman Allah:

39. Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh". QS. Ali Imran

90. Maka kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepada nya Yahya dan kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami. QS. Al Anbiya

Pelajaran Ketiga,

Pertanyaan Nabi Zakariya tentang keberadaan anak pada saat dia dan isterinya dalam keadaan seperti itu, bukan karena ketidak tahuan dan pengingkarannya. Karena ia adalah seorang nabi, tetapi pertanyaan itu muncul karena kekaguman seperti yang dikatakan Sarah (isteri Nabi Ibrahim):

72. Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah Aku akan melahirkan anak padahal Aku adalah seorang perempuan tua, dan Ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu yang sangat aneh." QS. Huud

Atau karena karena pengetahuannya tentang orang yang layak dikaruniai anak, atau akan hilang ketuaannya dan kembali muada, atau anak itu datang dalam keadaannya saat itu?

Pelajaran ke empat,

Ibnu Katsir menulis dalam Qashashul Anbiya, Maksudanya adalah bahwa Allah swt menyuruh Rasulullah saw agar menceritakan kisah Nabi Zakariya kepada ummat manusia, termasuk di dalamnya adalah Allah karuniakan anak kepadanya ketika sudah berusia senja, dan isterinya mandul sejak muda, dan sudah lanjut usia pula, sehingga tidak ada seorangpun yang berputus asa dari rahmat Allah.

2. (yang dibacakan Ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,
3. Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. QS. Maryam

Pelajaran ke lima,

Permintaan Nabi Zakariya akan ayat (tanda) bukan karena ragu, tetapi seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as.

260. ... "Aku Telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) QS. Al Baqarah

Atau ingin segera bergembira, menerima nikmat itu dengan syukur ketika mendapatkannya, dan tidak menundanya sehingga menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Pelajaran keenam

Teradapat riwayat dari sebagian ahlul kitab tentang cara Bani Israil membunuh Nabi Zakariya setelah membunuh putranya –nabi Yahya – di hadapannya, iblis yang menunjukkannya ketika ia masak ke dalam batang pohon, dan ancaman Allah jika ia mengaduh maka akan dicabut namanua dari catatan nama para nabi, dst. Semuanya adalah keanehan, apalagi tidak adanya sanad yang valid. Dan yang lebih baik dalam kondisi seperti ini adalah kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih.

Pelajaran ke tujuh,

Kata Zakariya, dibaca dengan huruf ”YA” panjang dan pendek.


[1] QS. Ali Imran: 37-41, Al An’am: 85, Maryam: 2-15, Al Anbiya: 89-90
[2] Tafsir AL Qur’an Al Azhim, AL Bidayah wan Nihayah, Qashashul Anbiya’

No comments:

Post a Comment