Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Saturday, January 19, 2013

Kisah Nabi Hud As


“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Huud. ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’ Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya Kami benar benar memandang kamu dalam Keadaan kurang akal dan Sesungguhnya Kami menganggap kamu Termasuk orang orang yang berdusta.’ Huud herkata, ‘Wahai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.’ Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, ‘Apakah kamu datang kepada Kami, agar Kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar.’ Ia berkata, ‘Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang Nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), Sesungguhnya aku juga Termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.’ Maka Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan Tiadalah mereka orang-orang yang beriman.” (Al-A’raf: 65-72)
Pada penggalan surat Al-Qur'an ini terdapat beberapa pelajaran dan ibrah mengenai kisah Huud as. dan tanggapan kaumnya terhadap dakwahnya, antara lain:
1.                  Pendekatan maksimal yang dilakukan oleh Huud as. terhadap kaumnya yang masih musyrik. Di mana ia menyeru kaumnya dengan ungkapan, “Wahai kaumku,” untuk menggait simpati hati mereka dan untuk mengingatkan ikatan yang menghimpun mereka.
2.                  Mempertegas bahwa tauhid, penghambaan kepada Allah swt., dan pengingkaran terhadap kesyirikan. Karena kesyirikan itu kedustaan kepada Allah swt.
3.                  Huud as. adalah tokoh pembaru yang tulus; ia tidak mengharapkan balasan berupa jabatan, harta, atau prestise yang menghiasi jiwa dan mempermainkan pikiran mereka.
4.                  Mengingatkan bahwa hujan lebat yang dapat mereka manfaatkan untuk minum dan bercocok tanam, adalah balasan atas istighfar dan ketaatan. Bukan karena kesyirikan, kekufuran terhadap nikmat, dan kedurhakaan. Juga penambahan kekuatan fisik dan akal tidak terjadi kecuali karena keistiqamahan dan sikap menjauhi kerusakan. Sebab semua itu terjadi karena rekayasa Allah swt. dan kehendak-Nya.
5.                  Bukti kebenaran Huud as. terdapat pada syari’at dan ajaran-ajarannya yang luhur, bukan pada mu’jizat-mu’jizat fisik yang selalu dituntut oleh kebanyakan orang, tetapi setelah datang mereka mendustakannya. Dan, bukti yang berupa ajaran serta realitas yang terjadi dapat menyingkap fithrah yang sehat serta menggugah nurani.
6.                  Keberanian Huud as. yang luar biasa. Di mana ia sendirian melawan tokoh-tokoh kemusyrikan dengan argument-argumen yang dapat meruntuhkan akidah mereka serta menampakkan kebodohan akal mereka. Inilah keimanan, keperyaan diri, keyakinan pada pertolongan Allah swt., dan ketentraman menunggu kemenangan dari-Nya. Allah swt. berfirman, “Sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (Huud: 55)
7.                  Akhir perjalanan orang-orang zhalim selalu tragis, terutama jika mereka menentang para rasul dan menghalangi sampainya petunjuk kepada umat manusia.
8.                  Cara hidup orang-orang angkuh adalah menyeru pada kejahatan serta kesesatan. Dan, cara hidup seperti itu akan berujung pada kebinasaan.
9.                  Laknat di dunia selalu menyertai orang-orang yang berbuat sewenang-wenang, melakukan kerusakan, dan kufur.
10.              Siksa Allah swt. di akhirat lebih keras dan lebih menyakitkan. Inilah kerugian yang nyata.
Nabi Huud as. memulai dakwah dengan menyeru kaumnya agar meng-esakan Allah swt. Namun ia disambut dengan cacian, pengingkaran, dan ejekan. Maka ia pun menjelaskan bahwa dirinya adalah utusan Tuhan yang menciptakan dan menguasai alam semesta. Ia juga mengingatkan mereka tentang kisah Nabi Nuuh as. dan nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepada mereka. Tetapi mereka malah bertambah ingkar dan menantang siksa yang diancamkan. Maka siksa itu pun diturunkan kepada mereka, sehingga mereka tercabut sampai ke akar-akarnya.
Pada penggalan Surat di atas dapat kita ketahui hal-hal berikut:
1.               Seruan pada tauhid yang diserukan oleh setiap nabi adalah inti dakwah Nabi Huud as.
2.               Tokoh-tokoh kaumnya, yaitu para pembesar adalah orang-orang yang paling cepat mendustakannya. Sebab merekalah yang paling diuntungkan dengan terjadinya kerusakan.
3.               Mereka menuduhnya bodoh dan tidak memahami urusan. Sebab keshalihan yang diserukannya dapat menjadi batu sandungan bagi kesewenang-wenangan dan kezhaliman yang memberikan keuntungan banyak kepada mereka.
4.               Nabi Huud as. membalas mereka dengan kebaikan dan memberikan penjelasan kepada mereka bahwa ia bukan orang yang mengada-ada, sebab sebelumnya Allah swt. mengutus Nuuh as. Dan, mereka adalah generasi setelah kaum Nabi Nuuh as. yang mendapat nikmat melimpah.
5.               Asingnya tauhid bagi mereka adalah pertanda bahwa kebatilan telah menguasai jiwa mereka, sehingga berubah menjadi kebenaran yang tidak dapat diperdebatkan dan ditentang.
6.               Pengorbanan mereka dalam membela kebatilan, meski berujung pada kebinasaan. Serta keheranan Nabi Huud as terhadap sikap mereka, sebab kebatilan mereka merupakan utopia yang diada-adakan dan nama-nama yang tidak mempunyai makna.
Kebatilan Selalu Mengantar Pada Kehancuran dan Hilangnya Nikmat.
“Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya Kami benar benar memandang kamu dalam Keadaan kurang akal dan Sesungguhnya Kami menganggap kamu Termasuk orang orang yang berdusta.’ Huud herkata, ‘Wahai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.’ Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, ‘Apakah kamu datang kepada Kami, agar Kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar.’ Ia berkata, ‘Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang Nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), Sesungguhnya aku juga Termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.’ Maka Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan Tiadalah mereka orang-orang yang beriman.” (Al-A’raf: 65-72)

Pertama: Allah swt. memberitahu kepada kita bahwa ia mengutus Nabi Huud as. kepada kaum ‘Aad. Allah swt. menyebutnya dengan ungkapan, ‘Saudara mereka’ seolah-olah ada pertalian nasab, sebagaimana ungkapan, ‘wahai saudara bangsa Arab.’ Untuk menunjukkan kesamaan kebangsaan.
Nabi Huud as. menyeru mereka agar beribadah kepada Allah swt., sebagaimana yang juga diserukan oleh seluruh rasul. Kemudian ia mengatakan kepada mereka, “Apakah kalian tidak takut?” melakukan kesyirikan dan kemaksiatan yang dimurkai Allah swt.
Ini merupakan ungkapan pengingkaran Nabi Allah; Huud atas adanya kesyirikan dan kemaksiatan di tengah kaumnya. Padahal sebelumnya Allah swt. menurunkan siksa kepada kaum Nabi Nuuh as. Allah swt. juga berfirman dalam Surat Huud, “Apakah kalian tidak memikirkan (nya).” (Huud: 15) Artinya, apakah kalian tidak mempunyai akal yang dapat mencegah kalian dari kedurhakaan kepada Allah swt. dan pembangkangan terhadap perintah-Nya?
Allah swt. menggunakan dua redaksi yang berbeda untuk meragamkan manfaat dan mencegah kejenuhan pembaca. Dan, inilah kebiasaan Al-Qur'an dalam mengungkapkan kisah.
Kedua: Al-Mala’ adalah para bangsawan dan pembesar. Dan, kaum bangsawan ini dibatasi dengan sifat ‘yang kafir,’ tidak sebagaimana penyebutan mala’ pada kaum Nabi Nuuh as. Karena sebagian bangsawan dari kaum Nabi Huud as. beriman dengan risalah yang dibawanya. Sementara bangsawan dari kaum Nabi Nuuh as. tidak ada yang beriman. Redaksi seperti ini mirip dengan redaksi dalam firman Allah swt.
“Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia, ‘(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, Dia Makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum’.” (Al-Mu’minun: 33)
Bisa juga pembatasan dengan sifat tersebut dimaksudkan untuk mencela, bukan untuk tujuan lain.
Kaum ‘Aad mensifati Nabi Allah; Huud dengan
ungkapan, “Sesungguhnya Kami benar benar memandang kamu dalam Keadaan kurang akal,” untuk memberi kesan bahwa Nabi Huud as. benar-benar bodoh dan tidak terlepas dari kebodohan. Tidak cukup sebatas itu, mereka menambah ejekan dengan mengutarakan prasangka bahwa ia pendusta yang mengaku-aku mendapat risalah dari Allah swt. Dan, ungkapan mereka, “Sesungguhnya Kami menganggap kamu Termasuk orang orang yang berdusta,” dalam bentuk jama’ (plural), memberikan kesan bahwa mereka mendustakan seluruh rasul, di mana Nabi Huud as. salah satu dari mereka.
Nabi Huud as. membalas mereka dengan sangat sopan dan penuh maaf, tidak membalas mereka dengan ejekan, meski ia mengetahui lawannya adalah manusia yang paling sesat dan paling bodoh. Dan, adab yang baik dan akhlak yang mulia seperti ini sangat layak dimiliki oleh para pengusung dakwah.
Ia menjelaskan kepada mereka bahwa dirinya tidak terjangkiti kebodohan, namun ia adalah utusan Tuhan alam semesta, yang bertugas menyampaikan risalah Allah swt., pemberi nasihat yang tulus pada kebahagiaan, dan terpercaya dalam menyampaikan wahyu dari Allah swt.
Ia menyambung pernyataan dengan ungkapan, “Sesungguhnya aku tidak berdusta kepada kalian, sebagaimana yang biasa kalian ketahui dalam perjalanan hidupku. Dan, jika akutdk berdusta kepada kalian, maka bagaimana mungkin aku akan berdusta kepada Allah swt.?”
Ketiga:  “Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu?” Artinya, apakah kalian mendustakan dan heran kalau mendapat nasihat dari Tuhan melalui lisan seorang laki-laki dari kalangan kalian? Kemudian ia mengingatkan mereka dengan karunia Allah swt. yang telah diberikan kepada mereka, dengan harapan ada yang dapat mengambil manfaat dari peringatan tersebut. Ia menyeru mereka agar menghayati bahwa Allah swt. menjadikan mereka sebagai khalifah di muka bumi setelah kaum Nabi Nuuh as. dan memberi beberapa keunggulan dari generasi pendahulu, yaitu kekuatan fisik, keluasan kekuasaan, dan penyebaran peradaban. Kemudian menambahkan seruan agar mereka mau merenungkan nikmat-nikmat Allah swt. secara umum, sehingga mendapatkan keberuntungan. Seruan seperti ini mirip dengan seruan yang disampaikan oleh Nabi Nuuh, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, Kemudian Dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang Luas di bumi itu.” (Nuuh: 15 – 20)
Ia meragamkan komunikasi dengan mereka dan mahir dalam menggunakan metode dakwah. Sekali waktu memberikan ancaman, sekali waktu memberi kabar gembira, sekali waktu mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah swt., dan sekali waktu menyampaikan ancaman siksa-Nya.
Keempat: Namun jawban mereka setelah mendapatkan itu semua adalah, “Apakah kamu datang kepada Kami, agar Kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?”
Mereka mengingkari Huud as. yang mengajarkan ketauhidan dan meninggalkan kesyirikan serta berhala-berhala yang telah disembah oleh nenek moyang mereka. Setelah itu mereka menantang dengan ungkapan, “Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar.” dalam seruan dan pengakuanmu, bahwa kamu adalah utusan Tuhan alam semesta.
Rasul menjawab tantangan terbuka tersebut dengan keyakinan penuh terhadap janji Tuhan-nya dan keperyaan utuh pada kemenangan yang dijanjikan-Nya, “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu.”
Kemurkaan disebut setelah siksa untuk menjelaskan bahwa siksa tersebut dimaksudkan sebagian balasan yang pasti, yang tidak mungkin dihilangkan. Kita berlindung kepada Allah swt. dari siksa yang disertai kemurkaan.
Siksa yang dijanjikan oleh Huud as. adalah siksa yang dijelaskan oleh Allah swt. dalam Surat Al-Qamar, yaitu firman Allah swt., “Kaum 'Aad pun mendustakan(pula). Maka Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang. Maka Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (Al-Qamar: 18-21)
Huud as. mengingkari mereka dengan ungkapan, “Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang Nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), Sesungguhnya aku juga Termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.”
Akhirnya Allah swt. menyelamatkan Huud as. berserta orang-orang yang beriman dan menghancurkan musuh-musuhnya dengan angin, “yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (Al-Ahqaf: 25)
***
Allah swt. berfirman, “Dan kepada kaum 'Ad (kami utus) saudara mereka, Huud. ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?’ Dan (dia berkata), ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.’ Kaum 'Ad berkata, ‘Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada Kami suatu bukti yang nyata, dan Kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena perkataanmu, dan Kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan Kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.’ Huud menjawab, ‘Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu.’ Dan, tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang beriman bersama Dia dengan rahmat dari kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat. Dan Itulah (kisah) kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai Rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua Penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, Sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. ingatlah kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Huud itu.” (Huud: 50-60)
Dengan demikian Nampak jelaslah bahwa persoalan yang diperselisihkan oleh Huud as. dan kaumnya adalah persoalan ketuhanan dan ketundukan hanya kepada Tuhan swt. Dan, lebih jelas lagi terlihat dalam firman Allah swt., “Dan Itulah (kisah) kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai Rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua Penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran).” (Huud: 59)
Persoalan mereka adalah kedurhakaan terhadap perintah para rasul dan ketundukan pada perintah orang-orang yang zhalim. Padahal Islam artinya ketaatan pada perintah para rasul –karena perintah para rasul adalah perintah Allah swt.- dan penentangan pada perintah orang-orang zhalim. Inilah persimpangan jalan antara kaum jahiliyah dan Islam, antara kekufuran dan keimanan.
Seruan ketauhidan sejak awal menegaskan pembebasan dari setiap ketundukan kepada selain Allah swt., pembangkangan terhadap kekuasaan para durjana yang mengaku tuhan, dan menganggap peleburan kepribadian karena mengikuti orang-orang yang angkara murka adalah criminal, kesyirikan, serta kekufuran yang layak mendapatkan kebinasaan di dunia dan siksa di akhirat. Sebab Allah swt. menciptakan manusia dalam keadaan merdeka dan tidak menghamba kepada seorang pun dari makhluk-Nya, baik pemimpin atau siapa saja. Inilah kemuliaan yang dikaruniakan Allah swt. kepada mereka. Apabila mereka tidak menjaganya, maka tiada kemuliaan dan tiada keselamatan bagi mereka di sisi Allah swt.
Tidak mungkin manusia mengklaim punya kemuliaan dan memili kemanusiaan, sementara ia menghambakan diri kepada selain Allah swt.
Orang-orang yang rela menghamba kepada sesama tidak bisa dimaklumi, sebab jumlah mereka banyak dan jumlah orang-orang yang disembah. Jika mereka mau merdeka, maka mereka akan berkorban untuk membebaskan diri dari kehinaan diperbudak oleh para diktator.
Kaum ‘Aad telah binasa karena mengikuti intruksi para dictator yang angkuh .. mereka binasa dengan diiringi laknat di dunia dan akhirat, “Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat.” Tidak hanya sampai di situ, mereka tidak dibiarkan binasa sebelum tercatat dalam sejarah, hingga menjadi peringatan yang dikumandangkan ke segenap umat manusia, “Ingatlah, sesungguhnya kaum Ad itu kafir kepada Tuhan mereka.” Kemudian ditegaskan lagi dengan doa agar mereka binasa. Dan, pernyataan itu dialamatkan secara tegas kepada mereka, “Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Ad (yaitu) kaum Hud itu.”
Pemaparan perjalanan dakwah dengan cara seperti ini dalam Al-Qur'an, dimaksudkan untuk merumuskan Garis Besar pergerakan aqidah di sepanjang masa. Bukan hanya untuk gerakan di masa lalu, tetapi juga untuk masa depan hingga akhir zaman. Bukan hanya untuk jamaah muslimah pertama yang disebut oleh Al-Qur'an dan yang bergerak melawan kejahiliyahan saat itu, tetapi untuk setiap jamaah muslimah yang menghadapi kejahiliyahan hingga akhir zamam. Inilah salah satu yang menjadikan Al-Qur'an sebagai buku dakwah Islam sepanjang masa. Buktinya adalah pergerakan yang ada di setiap masa.

No comments:

Post a Comment