Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Monday, December 24, 2012

KHULAFA AL-RASYIDIN



أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنِّي قَدْ وُلِّيْتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِيْنُوْنِي وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُوْنِي اَلصِّدْقُ أَمَانَةٌ وَاْلكِذْبُ خِيَانَةٌ وَالضَّعِيْفُ فِيْكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِي حَتَّى أُرِيْحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاءَ اللهُ وَاْلقَوِيُّ فِيْكُمْ ضَعِيْفٌ حَتَّى آَخُذَ اْلحَقَّ مِنْهُ إِنْ شَاءَ اللهُ لاَ يَدَعُ قَوْمٌ اَلْجِهَادَ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ ضَرَبَهُمُ اللهُ بِالذُّلِّ وَلاَ تَشِيْعَ اْلفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ إِلاَّ عَمَّهُمُ اللهُ باِلْبَلاَءِ أَطِيْعُوْنِي مَا أَطَعْتُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَإِذَا عَصَيْتُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَلاَ طَاعَةَ لِي عَلَيْكُمْ قُوْمُوْا إِلَى صَلاَتِكُمْ يَرْحمَْكُمُ اللهُ.

“Wahai manusia!, sesungguhnya aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, namun bukan berarti aku yang terbaik di antara kalian, bila aku berbuat kebaikan maka bantulah aku, namun bila aku berbuat keburukan maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah dan dusta merupakan penghianatan. Yang lemah di antara kalian menjadi yang kuat di sisiku, sehingga hak-haknya akn aku  serahkan kepadanya Insya Allah, dan yang kuat di antara kalian menjadi lemah di sisiku, sehingga aku mudah mengambil hak orang lain yang ada padanya Insya Allah. Tidaklah satu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah melainkan  Allah akan menimpakan mereka kehinaan, dan tidaklah kekejian merebak di tengah masyarakat melainkan Allah akan menebarkan bala bencana kepada mereka. Taatilah aku sepanjang aku taat kepada Allah dan Rasul-NYA, namun apabila aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-NYA maka kalian tidak perlu mentaatiku. Bangunlah kalian untuk shalat kalian, Allah akan merahmati kalian”
Ikhwah Fillah.................!
Paparan tersebut di atas adalah rangkaian pidato khalifah Abu Bakar As-Siddiq pada saat setelah dilantik sebagai khalifah. Kesuksesan khalifah Abu Bakar dalam memimpin dan mengelola umat dapat dilihat dari paparan pidatonya yang mencerminkan kekuatan kepribadian dan kesungguhan azamnya. Dari paparan pidatonya ada beberapa hal yang dapat dijelaskan secara lebih mendalam, mengapa Abu Bakar RA sukses dalam mengelola kekhalifahan dalam waktu yang relatif singkat?
Pertama : Sikap Tawaddu’. Ikhwah Fillah!, Beliau menegaskan sikap tawaddunya sebagai qiadah di awal pidatonya, seraya menunjukkan bahwa beliau bukanlah orang yang terbaik di antara kaumnya. Beliau menyadari tanpa support dan dukungan umat beliau tidak dapat berbuat banyak. Ketawaaddu’an seorang qiadah merupakan salah satu kunci kesuksesan dalam memimpin, karena pemimpin yang tawaddu’ akan menjauhkan dirinya dari sifat-sifat diktator dan otoriter, tetapi selalu bersemangat untuk menyelenggarakan bursa ide dan melakukan “share” , baik dalam hal gagasan maupun tindakan (syuro dan amal jama’i)
Kedua, Ikhwah Fillah!, :  Terbuka terhadap kritik. Abu Bakar RA, meskipun beliau seorang sahabat senior (As-Saabiquunal Awwaluun), namun beliau sangat ternuka untuk dikritik atau diluruskan bila ada sikap-sikap yang dipandang negatif. Namun beliau minta dibantu dan didukung bila kebijakan dan pandangannya dianggap sesuatu yang baik.
Ketiga : Membela kaum Dhu’afa, orang yang kuat (aghniya) di mata Abu Bakar RA  Ikhwah fillah, itu dianggap lemah, sehingga mudah untuk mengambil hak kaum  dhu’afa dari mereka, sebaliknya kaum dhu’afa di matanya adalah orang-orang yang kuat, sehingga tidak main-main dan tidak menganggap enteng untuk segera memenuhi hak-haknya. Tipologi kepemimpinan Abu Bakar bila dilihat dari pernyataannya dan sikapnya terhadap aghniya dan dhu’afa, adalah tipe kepemimpinan yang populis, pro rakyat dan mengedapankan perjuangan kepentingan wong cilik..
Keempat : Mengorbankan semangat jihad, agar kekejian tidak merebak. Ikhwah Fillah, “Al-Wa’yu al-jihady”, kesadaran berjihad, tetap diingatkan oleh Abu Bakar  meskipun setelah wafatnya Rasulullah SAW jumlah kaum Muslimin telah menjadi mayoritas di tiga kota besar Mekkah, Madinah, Thaif dan sekitarnya, dan manusia telah berbondong-bondong masuk Islam menjelang wafatnya Rasulullah SAW, “wa ra aitannaasa yadkhuluuna fi diinillaahi afwaaja”. Masuk Islamnya bangsa Arab di akhir kerasulan Nabi Muhammad SAW, masih perlu ditaqwim kembali, karena tidak tertutup kemungkinan mereka masuk Islam hanya karena faktor kharisma dan kewibawaan Nabi, juga bisa jadi karena mereka tidak ada pilihan lain saat itu kecuali bergabung dengan kaum muslimin dan mengikuti agamanya. Ternyata benar, setelah Rsulullah SAW wafat, hampir 2/3 jazirah Arab murtad. Abu Bakra RA tidak kompromi dalam hal ini, segera menjihadi mereka demi menyelamatkan akidah umat dan perbaikan masyarakat. Sedangkan juhad di era kita sekarang ini, dapat mengambil bentuk minimal takhfifuddarar qabla izaalatiddarar. Meminimalisasi mudarat bila belum dapat menghilangkan sama sekali. Melalui dakwah dan jihad siyasi di segala level dan jenjang.
Ikhwah Fillah!, yang kelima Abu Bakar mengingatkan bahwa ketaatan kaum Muslimin kepadanya adalah ketaqwaan yang bersarat, yaitu sepanjang dirinya bertaqwa kepada Allah SWT dan taat kepada Rasul-NYA, serta tidak bermaksiat kepada-NYA, maka Abu Bakar RA mengatakan dirinya berhak ditaati. Ikhwa Fillah kelima hal ini merupakan gambaran kesuksesan Khalifah Abu Bakar RA dalam memimpin dan mengelola ummat sebagai Khalifah Rasulillah SAW. Hendaknya hal ini dapat disuritauladani oleh seluruh jajaran qiadah da’wah dalam jamaah kita ini. Amin!
Ikwah Fillah....!
Kalau Abu Bakar sukses dalam “Al-Muhafadzah alal Ashalah”, maka Khalifah Umar bin Khattab RA meneruskan apa yang telah dicapai oleh pendahulunya. Pada saat perang Qadisiyah Umar bin Khattab menyerukan Jihad besar dengan mobilisasi besar-besaran, Khalifah memerintahkan para gubernurnya : “kerahkan seluruhnya siapa saja yang memiliki senjata, kuda, para pemimpin, pemikir, orator dan penyair untuk menghadapku”. Maka terbentuklah pasukan inti terdiri dari 99 veteran badar, 319 sahabat yang masuk Islam setelah bai’aturridwan, 300 sahabat yang menyaksikan fathu Makkah dan 700 anak-anak para sahabat.
Lalu Khalifah menyurati Saad bin Waqqash sebagai komandan lapangan seraya berkata :
      “Jangan berkecil hati terhadap mereka, mintalah pertolongan kepada Allah dan bertawakkallah, kirimlah beberapa orang yang pandai berdiplomasi untuk mendakwahkannya, agar mereka semakin gentar dan lemah. Laporkan kepadaku perkembangan dari hari ke hari (uktub ilayya fi kulli yaumin)”
 Ikhwah Fillah! Ibroh apa yang dapat kita ambil dari Khalifah Umar bin Khattab dalam memenangkan pertempuran, terkait dengan kemenangan jihad siasy (Pilkada dan Pemilu). Artinya ikhwah fillah!, kita harus mengerahkan segala potensi yang kita miliki, kekuatan dana, simpul massa, vote getter untuk memenangkan pertarungan. Juga jangan diabaikan ikhwah fillah!, memantau perkembangan laporan dari hari- ke hari, hal ini penting untuk mengukur sejauh mana kemampuan yang telah dimiliki dan sejauh mana kekuatan yang dimiliki memungkinkan untuk memenangkan pertarungan.
Ikhwah Fillah……..!,
Kemenangan jihad siasy tidak hanya kemenangan angka perolehan suara, akan tetapi harus juga dibarengi dengan kemenangan dakwah, dengan semakin banyaknya para pendukukng dan pembela dakwah, bukan hanya datang dukungan dan pembelaan itu dari  jajaran kader, tetapi dari seluruh lapisan masyarakat. Disinilah, Ikhwah Fillah!,  pentingnya kita memainkan peran “Handasah Ijtima’iyah, Social engineering”, atau rekayasa sosial.  Dakwah ini tidak cukup memiliki kekuatan, bila kita tidak mengikutsertakan masyarakan luas untuk ikut mengusung dan menguatkan. Oleh karena itu marilah kita teladani ikhwah Fillah!, semangat Khulafa arrasyidin, khususnya Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab RA.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive