Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Showing posts with label Halaqah. Show all posts
Showing posts with label Halaqah. Show all posts

Saturday, March 1, 2014

Sunday, August 25, 2013

Kadang Kemenangan Datang Terlambat

(Oleh: Sayid Quthb)

Kadang-kadang kemenangan itu terlambat datangnya terhadap orang-orang yang dizalimi dan diusir dari negerinya tanpa dasar kebenaran selain mereka berkata "Tuhan kami adalah Allah". Keterlambatan ini disebabkan oleh suatu hikmah yang diinginkan Allah...

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan karena struktur umat Islam belum cukup matang, belum cukup sempurna, belum berhimpun semua kekuatannya, belum terorganisir baik dan bersatu seluruh jaringan, supaya diketahui seberapa puncak kekuatan amunisi dan kesiapan yang dimilikinya. Kalau ia mendapatkan kemenangan pada saat itu ia akan mudah rontok karena tidak mempunyai kemampuan menjaganya dalam waktu lama.

Kadang-kadang kemenangan terlambat datang hingga seluruh pejuang mencurahkan sagala kemampuan yang ia miliki, dan mengeluarkan apa saja yang ia punya. Maka tidak ada lagi yang tersisa dari barang yang mahal dan berharga kecuali sudah ia sumbangkan. Dia tidak hanya mencurahkan hal yang ringan lagi murahan di jalan Allah.

Kadang-kadang kemenangan itu terlambat datangnya supaya para pengusung kebenaran mencobakan seluruh kekuatan dan kemampuannya, hingga pada akhirnya ia sadar bahwa seluruh kekuatan itu tidak ada artinya tanpa sokongan dari Allah dan tidak akan mencukupi untuk memperoleh kemenangan. Kemenangan itu hanya akan turun bila seluruh kemampuan sudah dicurahkan kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan supaya semakin bertambah kedekatan orang-orang beriman dengan Allah ketika mereka menanggung kesulitan, kepedihan dan pengorbanan. Saat itu mereka tidak menemukan sandaran selain Allah. Dan mereka tidak menghadapkan segalanya kecuali kepada Allah satu-satunya di dalam kesusahan itu. Hubungan ini menjadi jaminan keistiqamahan mereka nanti setelah Allah memberikan kemenangan. Hingga mereka tidak akan membangkang dan melenceng dari kebenaran, keadilan dan kebaikan di saat kejayaan menyapa mereka.

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan karena umat yang beriman belumlah betul-betul melepaskan segalanya dalam berjuang dan mencurahkan apapun demi Allah dan demi dakwahnya. Ia berperang untuk mendapatkan harta rampasan perang, atau karena gengsi kehormatanya, atau supaya disebut pemberani di depan musuhnya. Allah menghendaki supaya jihad untuk-Nya satu-satunya. Bebas dari segala bentuk perasaan yang menyamarkannya.

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan karena di dalam kejahatan yang ditentang oleh umat yang beriman masih terdapat sisa-sisa kebaikan. Allah menghendaki ia betul-betul bersih dari kejahatan supaya dia betul-betul murni. Dan kejahatan itu menyingkir dengan sendirinya dalam kondisi hancur. Tidak ada sedikitpun dari kebaikan yang ikut binasa bersamanya.

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan karena kebatilan yang diperangi umat yang beriman belum tersingkap kepalsuannya dihadapan manusia dengan sempurna. Andaikan orang beriman mengalahkannya pada waktu itu, pasti akan ada pembantu dari orang-orang yang tertipu olehnya, yang belum yakin dengan kerusakanya dan belum yakin kalau dia mesti lenyap. Maka nanti ia akan tetap mengakar dalam jiwa-jiwa orang awam yang belum bisa menyingkap hakikat mereka. Sehingga Allah membiarkan kebatilan sampai betul-betul terbuka di depan manusia dan mereka tidak akan merasa kecewa dengan kehilangannya.

Kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan karena lingkungan belum kondusif untuk menerima kebenaran, kebaikan dan keadilan yang diperankan umat yang beriman. Andai diberi kemenangan pada waktu itu pasti ia mendapatkan penentangan dari lingkungannya sendiri, dan ia tidak akan bisa tenteram bersamanya.

Senantiasa pertarungan berlanjut hingga jiwa-jiwa betul-betul siap untuk menerima kebenaran dan meyakini bahwa kebenaran itu mesti berjaya..

Karena semua ini, dan demi yang lainnya dari hal-hal yang hanya diketahui Allah, kadang-kadang terlambat datangnya kemenangan. Maka saat itu akan berlipat ganda jumlah pengorbanan, dan akan berlipat-lipat rasa pedih, pilu dan sakit, bersamaan dengan datangnya pembelaan Allah terhadap orang-orang beriman dan terwujudnya pertolongan bagi mereka pada akhirnya.
Allahumma 'ajjil lana bin nashr.

*Alih bahasa: Ust. Zulfi Akmal, MA

Friday, August 16, 2013

Ikhwanul Muslimin Desak Mesir Mengakui Kemerdekaan Indonesia

Sedih, marah, dan rasa berduka cita yang mendalam berbaur menjadi satu saat melihat saudara – saudara muslim nun jauh disana, di negeri Piramida, Mesir, disaat seharusnya merayakan kemenangan di hari yang Fitri, justru sedang mengalami tragedi paling pahit sepanjang sejarah bangsa Mesir di abad 21 ini.

Tercatat, hingga hari ini, kudeta militer Mesir pimpinan jenderal As’Siisi telah membunuh banyak warga sipil Mesir yang melakukan demonstrasi damai menuntut dikembalikannya Presiden sah Mesir yang lahir dari rahim demokrasi murni, Muhammad Mursi.

Bagi saya yang memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, tragedi ini adalah sebuah kejahatan terburuk dan tragedi kemanusiaan terpahit di masa sekarang. Mesir yang tengah membangun puing – puing demokrasi yang berorientasi untuk rakyat pasca ditumbangkannya rezim Mubarak, Mesir yang sedang menantikan sebuah era baru sebuah negara yang berdaulat berdasar nilai – nilai demokrasi, kini malah menjadi negeri yang mempertontonkan rejim represif dan tindakan kejahatan kemanusiaan yang ditunjukkan oleh militer Mesir.

Jutaan demonstran Mesir yang dengan cara – cara damai mengkampanyekan dikembalikannya Muhammad Mursi sebagai presiden sah mesir, dibalas dengan serangan senjata membabi – buta dari militer Mesir.

Data terbaru, bahkan beberapa pimpinan pro Mursi dari kalangan Ikhwanul Muslimin mulai dibantai dan ditangkapi satu persatu. Pun dengan para awak media yang mencoba meliput kejahatan kemanusiaan ini secara obyektif, secara tragis ditangkapi, dan bahkan sampai ada awak media yang menjadi korban.

Sekali lagi, potret Mesir saat ini adalah potret buram pelaksanaan demokrasi.

Well, dan sampai saat ini, terkecuali kampanye di berbagai media sosial yang terus digelorakan oleh sabagian besar masyarakat, Indonesia belum secara tegas menyatakan untuk menentang kudeta militer Mesir dan mendukung pemerintahan sah Mesir dari rahim demokrasi. Padahal, jika kita berkaca pada sejarah Indonesia, Mesir dan Indonesia sudah memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain.

Saya hanya ingin menyampaikan beberapa fakta sejarah tentang hubungan dekat Mesir dan Indonesia yang diambil dari berbagai sumber, disertai dengan pelengkap visual.

1. Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Mesir menandatangani pengakuan Kemerdekaan dan Kedaulatan Republik Indonesia disaksikan HA Agus Salim (Menteri Luar Negeri) dan AR Baswedan (Kakek Anies baswedan, Rektor Paramadina) saat itu beliau menjabat sebagai Menteri Muda Penerangan.



2. Sebagai tindak lanjut untuk pengakuan kemerdekaan Indonesia, tokoh nasional saat itu, HA Agus Salim dan Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Mesir serta AR Baswedan sedang mendiskusikan isi naskah pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.

3. Dukungan untuk kemerdekaan Indonesia juga muncul dari pemimpin Ikhwanul Muslimin mesir, Hasan Al Bana. Saat itu, Sutan Syahrir dan Delegasi Indonesia Bertemu Syeikh Hasan Al Banna (pemimpin Ikhwanul Muslimin) Bagi Memperoleh Dukungan Perjuangan Revolusi Fisik Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1947.

4. Sebagai upaya mendukung kemerdekaan Indonesia, Komite Pembela Kemerdekaan Indonesia Di Mesir pun dibentuk, yang Terdiri Dari Tokoh - tokoh Mesir, Arab dan Islam Yang Diketuai Jenderal Saleh Harb Pasya Dengan Anggota Syeikh Hasan Al Banna dan sebagainya.

5. Sebagai bentuk dukungan, bahkan utusan Liga Arab Mohammad Abdul Moneim, tokoh Mesir datang ke Indonesia yang diterima Sri Sultan Hamengkubuwono IX Sultan Jogjakarta Di Ibukota Perjuangan Republik Indonesia.

6. Dukungan pengakuan kemerdekaan bagi Indonesia juga muncul, sehingga Bung Sjahrir ditemani Mr. Natsir Pamoentjak dan penulis menyampaikan ucapan terima kasih Indonesia terhadap dukungan Ikhwan al-Muslimun yang kuat sekali kepada Sheikh Hasan Al-Banna (berjenggot) ketua umumnya, di pusat Organisasi ini. *Jika di kantor pusat organisasi ini, artinya di gedung Syubban al-Muslimin (kini) kawasan Tahrir.

7. Menteri Luar Negeri Indonesia Haji Agus Salim Bersama Duta Besar Indonesia Pertama Di Mesir H.M. Rasyidi Berbincang Dengan Syeikh Hasan Al Banna Bagi Memperoleh Dukungan Perjuangan Revolusi Fisik Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1947 Di Kairo.

8. Hubungan Mesir dan Indonesia semakin harmonis, tatkala perdana Menteri Indonesia Mohammad Natsir Diapit Oleh Al Hajj Amin Al Husainy Mufti Jerusalem Dan Hasan Ismail Al Hudhaiby Mursyid Am Ikhwanul Muslimin.

9. Hubungan Mesir dan Indonesia semakin harmonis, tatkala perdana Menteri Indonesia Mohammad Natsir Diapit Oleh Al Hajj Amin Al Husainy Mufti Jerusalem Dan Hasan Ismail Al Hudhaiby Mursyid Am Ikhwanul Muslimin.

10. Abdul Kahar Muzakkir delegasi Indonesia dalam Konferensi Umum Islam tentang “Perkembangan Kondisi Di Palestina” yang berlangsung di Jerusalem pada bulan Desember 1931-Januari 1932. Konferensi ini dikenal dengan nama “Konferensi Bouraq”. Abdul Kahar Muzakkir lulusan Al Azhar Kairo yang kemudian menjadi anggota Panitia Sembilan yang merumuskan Piagam Jakarta cikal bakal dasar negara Indonesia.

11. Mesir dan Indonesia makin akrab, dalam suatu kesempatan, Menteri Luar Negeri Indonesia Haji Agus Salim di Gedung Majelis Syuro Mesir di Kairo tahun 1946.

12. Perjuangan paling mengesankan adalah agenda Misi Diplomatik Indonesia Kali Pertama Ke Mesir. Saat itu Soetan Sjahrir (Bung Sjahrir) hanya mengenakan selembar pakaian lolos dari hadangan Belanda. Demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tercinta. Di dalam gambar ini terselip wajah pendahulu dan senior Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir.

Itulah beberapa fakta tentang hubungan erat Negeri Mesir dan Indonesia, semoga kita faham dan turut mendoakan tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi di Mesir saat ini, dan secara terang – terangan mendukung Presiden Muhammad Mursi yang menjadi Presiden sah bagi rakyat Mesir.

Kudeta ini harus segera dihentikan. Karena Mesir adalah sahabat Indonesia. Cinta Mesir, Cinta Indonesia [#RabaaMassacre, #SaveEgypt].

Dwi Purnawan Almunir

Wednesday, July 31, 2013

Mari Ber-I'tikaf

(Oleh: Dr. Muhammad Yasir Yusuf. MA)
Ketua IKADI Aceh

Subhanallah, tanpa terasa perubahan hari demi hari di bulan Ramadhan 1434 H, telah menghantarkan kita dipenghujung Ramadhan 1434 H. Ada rasa keharuan yang amat dalam dengan berpisahnya kita dengan puasa Ramadhan. Muncul berbagai pertanyaan dalam hati, apakah ibadah yang dilakukan di Ramadhan ini sudah maksimal dan diterima Allah? Apakah Allah masih memberikan peluang bagi kita untuk berjumpa dengan Ramadhan di tahun depan? Apakah Allah telah menghapuskan segala dosa yang kita produksi selama ini?.

Ramadhan hanya tersisa beberapa hari lagi, kita masih punya peluang besar untuk memaksimalkan segala kebaikan di bulan suci ini. Peluang untuk menikmati segala bentuk ibadah dari shalat fardhu, shalat tarawih, membaca al Qur’an dan memberikan kebaikan untuk orang-orang yang ada disekitar kita. Sungguh naïf (rugi) jika peluang yang tersisa ini tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Bukankan kita mengharapkan ampunan Allah, kebebasan dari api neraka dan berharap dapat menapaki kaki-kaki kita dalam indahnya taman-taman syurga. 10 hari terakhir di setiap Ramadhan, Allah menghadiahkan kepada kita 1 malam yang lebih baik dari 1000 bulan yaitu malam lailatul qadar. 10 malam terakhir, Rasulullah mengajak semua keluarganya untuk meningkatkan amal ibadah dengan cara ber-i’tikaf di Mesjid.

I’tikaf ialah usaha mendiami dan menetap diri di dalam masjid oleh seseorang yang tertentu dengan cara-cara tertentu, ia juga dikenal dengan "Jiwar" (Al-Majmu' Al-Nawawi, 6: 407). Makna yang lebih sederhana, i’tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Penggunaan kata i’tikaf di dalam Al-Qur’an terdapat pada firman Allah SWT yang artinya: Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertaqwa (QS 2:187).

Dalam aturan Islam, seseorang bisa beri’tikaf di masjid kapan saja. Namun dalam konteks bulan Ramadhan, Rasulullah SAW beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir. Sehinga kalau diperhatikan diantara amal-amal utama dan menjadi unggulan Rasulullah di bulan Ramadhan adalah i’tikaf. Karena i’tikaf merupakan sarana muhasabah dan kontemplasi yang efektif bagi muslim dalam mengevaluasi apa yang sudah dilakukan setahun lepas dan merencanakan serta meningkatkan keberagamaan untuk tahun depan.

Kebanyakan ulama telah berijma’ bahwa i’tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. Hal ini berdasarkan penuturan A’isyah bahwa Nabi SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh akhir pada bulan Ramadhan hingga diwafatkannya oleh Allah SWT, kemudian (diteruskan sunnah) i’tikaf selepasnya oleh para isterinya. (Al-Bukhari, no hadist: 2026, Muslim, no hadist: 1772). Hal ini dilakukan oleh Nabi hingga wafat, bahkan pada tahun wafatnya, Rasulullah beri’tikaf selama 20 hari. Abu Hurairah, berkata : Nabi SAW selalu beri’tikaf pada tiap-tiap Ramadhan sepuluh hari (akhirnya). Manakala pada tahun baginda diwafatkan, baginda beri’tikaf dua puluh hari. (Al-Bukhari, no hadist: 2024).

Adapun tujuan i’tikaf disyariatkan adalah untuk mensucikan jiwa dengan berkonsentrasi semaksimal mungkin dalam kekusyukan beribadah dan bertaqarrub kepada Allah pada waktu-waktu tertentu akan tetapi teramat tinggi nilainya. Jauh dari rutinitas kehidupan dunia, fokus dengan ibadah disertai dengan berserah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Bermunajat sambil berdo’a dan beristighfar kepadaNya sehingga saat kembali lagi dalam aktivitas keseharian dapat dijalani secara lebih berkualitas dan berarti. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Qayyim, “i’tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati ber-i’tikaf dan bersimpuh dihadapan Allah, ber-khalwat dengan-Nya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah”.

Adapun tujuan khusus kita beri’tikaf di sepuluh akhir Ramadhan adalah: pertama, menjauhkan diri dari pada kesibukan dunia dan anak isteri, demi mencari kejernihan jiwa dan mengumpulkan kekuatan sebagai bekal dalam menghadapi perjalanan hidup pasca Ramadhan. Kita telah bekerja selama 11 bulan, tiba masanya mengisi perbekalan dan meningkatkan stamina ruhaniah kita dalam menghadapi berbagai problematikan hidup. Kedua, penggalan terakhir Ramadhan adalah pembebasan dari api neraka, maka ini peluang utama untuk memastikan kita tidak lalai untuk menggapai cita dan impian masuk syurga. Ini menjadi tempat kita menumpahkan air mata penyesalan terhadap kekhilafan yang telah kita lakukan guna meraih ampunan dari Allah. Kalaulah ini Ramadhan terakhir bagi kita, maka jangan sia-saikan ia karena tidak ada jaminan kita akan bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Ketiga, i’tikaf menjadi sarana utama bagi mendapatkan Lailatul Qadar, hal ini sebagaimana disunnahkan oleh sunnah Rasulullah SAW.

Untuk itu, saudara-saudaraku marilah kita beri’tikaf pada Ramadhan tahun ini. Sebab sangat sedikit kaum muslimin yang mau beri’tikaf pada sepuluh akhir Ramadhan berbanding dengan jumlah kaum muslimin yang menghabiskan malam-malamnya dengan kesibukan berbelanja dan menyiapkan kebutuhan hari raya. Itulah sebabnya Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, “Sungguh heran sekali situasi ummat Islam ! Mereka sanggup tidak beri’tikaf (sepuluh akhir Ramadhan) sedangkan Nabi SAW tidak pernah meninggalkan i’tikaf sejak baginda datang ke Madinah al-Munawwarah hingga Allah mewafatkannya. (Fathul Bari, 285/4). Apakah pastas kita mengaku mencintai Rasulullah, Rasullah tidak pernah meninggalkan i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan sedangkan kita enggan melakukannya. Apakah kita yakin dosa-dosa kita sudah diampuni, disaat Rasullah serius meminta ampunan dalam do’a-do’a ketika beri’tikaf, sedangkan kita tertidur dengan nyenyak diranjang yang empuk. Ya Allah bantu kami untuk kuat melaksanakan i’tikaf dan muliakan kami dengan malam lailatul qadar. Wallahu’alam.

Wednesday, July 24, 2013

Menanam Cinta Dibulan Ramadhan, Menuai Harmoni Dibulan Selanjutnya

(Oleh : Arida Sahputra)

Berbicara cinta, tentu tidak ada habisnya. Karena wujud cinta tidak bisa divisualisasikan dan dilihat, tidak bisa diungkapkan dengan kata-katan dan didengar. Tetapi cinta hanya bisa dikerjakann dilakukan dengan perbuatan dan amal.

Cinta itu tidak membutuhkan pengorbanan, karena cinta itu totalitas. Ketika cinta membutuhkan pengorbanan, disitulah kita memulai hitung-hitungan. Ketika kita merasa berkorban disitulah bisa kita nilai keikhlasan kita untuk mencintai-Nya.

Menilik kepada sirah nabi Ya’qub dengan anaknya nabi Yusuf. Ketika mereka dipisahkan berpuluh-puluh tahun, lebih kurang 40 tahun mereka dipisahkan oleh Allah. Nabi Ya’qub tidak kuasa atas terpisahnya nabi ini. Nabi Ya’qub menangis siang malam atas Yusuf, sampai-sampai beliau buta menangisi karena perpisahan ini. Ternyata Allah mempunyai maksud dari perpisahan mereka. Yaitu menguji kesabaran nabi Ya’qub.

Allah itu maha cemburu, ketika cinta seseorang kepada yang lain selain Allah baik itu anaknya sendiri, disaat itulah Allah cemburu. Cobaan ini terjadi hampir pada semua nabi, kepada nabi Ibrahim Allah menyuruh menyembelih nabi Ismail. Kita ketahui bahwa nabi Ibrahim sangat cinta kepada Ismail, disaat nabi Ibrahim ikhlas untuk menyembelih anaknya untuk membuktikan cintanya kepada Allah. Disaat itulah Allah melihat totalitas cinta nabi Ibrahim kepada-Nya.

Ketika itu juga Allah memnurunkan mu’jizat, yaitu dengan digantinya nabi Ismail dengan seekor gibas. Ternyata nabi ya’qub juga diuji dengan hal yang sama. Yaitu dengan mengorbankan anak kesayangannya. Malaikat Jibril memberitahukan hal ini kepada nabi Ya’qub, disaat itu juga nabi Ya’qub bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas kecemburuan ini. Akhirnya nabi Ya’qub mengikhlaskan nabi Yusuf, disaat itulah akhirnya mata nabi Ya’qub sembuh (sudah bisa melihat kembali) dan mereka berdua ditemukan yaitu pada nabi Yusuf sudah menjadi bendahara Mesir yang berhasil.

Dalam kisah yang sama, ketika Zulaikha sangat mencintai nabi Yusuf. Zulaikha menunggu sampai kurang lebih 30 tahun nabi Yusuf. Zulaikha hampir menghabiskan seluruh hartanya, menghabiskan hari-harinya, membuang pangkat dan kebesarannya, sampai-sapai Zulaikha menjadi buta semata-mata untuk mendapatkan Yusuf. Waktu itu Zulaikha masih penyembah Aimun. Dipercaya sebagai dewa mesir kuno yaitu tuhan nenek moyang mereka.

Zulaikha selalu memohon kepada Aimun untuk bisa mendapatkan nabi Yusuf. Tetapi hampir 30 tahun Aimun tidak mengabulkannya. Zulaikhapun cemburu kepada Tuhannya nabi Yusuf. Karena nabi Yusuf sangat mencitai-Nya. Kenapa bisa seorang Yusuf bisa menangis setiap malam menyembahnya. Kenapa bisa nabi Yusuf mencintainya dengan totalitas. Cintanya kepada Tuhan yang maha Esa menyelamatkan imannya dari godaan wanita-wanita penghamba hawa nafsu.

Kecemburuan ini membuat Zulaikha mencari ketenangan jiwa, beliau menyembah Allah di rungan Yusuf sewaktu Yusuf masih sebagai budak di istananya. Zulaikhapun berusaha untuk meningkatkan cintanya kepada Allah. Akhirnya Allah menemukan Zulakha dengan nabi Yusuf yang hampir 36 tahun mereka tidak pernah bertemu. Ketika Zulaikha yang sudah tua renta dan buta itu dipertemukan dengan nabi Yusuf, disaat itulah Zulaikha sujud syukur kepada Allah. Zulaikha mulai sangat mencintai Allah, dan pada akhirnya cinta Zulaikha kepada Allah melebihi besar daripada cintanya kepada nabi Yusuf disaat itulah Zulaikha diberikan mu’jizat, yaitu matanya kembali bisa melihat, dan beliau menjadi muda dan canti seperti beliau muda dulu.

Diakhir kisah ini akhirnya ketika Allah menyuruh Yusuf untuk menikahi Zulaikha. Zulaikha masih tidak mau diganggu selama beberapa hari. Zulaikha masih mahu menyendiri menyembah Allah. Akhirnya Zulaikha menemukan ketentraman ketika mencintai Allah dan mendapatkan nabi Yusuf yang mencintai Allah lebih besar dibandingkan cintanya kepada selain-Nya.

Ramdhan adalah momentum menanam cinta, ramadhan ini adalah bulan akselerasi cinta kepada-Nya. Saya menganalogikan bulan ini sebagai router di dunia jaringan Information Technology (IT), sebagai gardu di dunia kelistrikan. Dimana kabel UTP untuk menghubungkan computer satu dengan computer yang lainnya maksimal 50 meter. Ketika sudah mencapai 50 meter harus diberikan router guna mempercepat kembali pengiriman data. Jika tidak diberikan router maka data bisa lambat bahkan hilang.
Begitu juga dengan listrik, kurang lebih disetiap 50 meter harus ada gardu. Fungsinya selain mengontrol arus listrik juga bisa mempercepat aliran arus listrik yang sudah mulai melemah, mengalirkan listrik dari satu gardu ke gardu yang lain. Sehingga listrik bisa dinikmati oleh kita saat ini. Begitu juga dengan bulan Ramadhan yang didalam mesinnya sengaja diberikan Allah mesin pelipat gandakan fahala. Sehingga motivasi pecinta-Nya bertambah. Dibulan inilah saatnya kita menanam kembali cinta yang sudah mulai lemah, yang sudah mulai lambat. Seihingga nanti cintai ini tumbuh dan akan menuai harmoni pada bulan-bulan selanjutnya hingga menemui gardu yang lainnya, hingga menemui router selanjutnya, hingga menemui Ramadhan berikutnya hingga sampai kepada tujuan Komputer yang dikirim, hingga sampai ke rumah pemakai listrik hingga akhir hidup kita dalam keadaan cinta kepada-Nya masih dalam keadaan yang sangat besar.

Router dan gardu tadi juga berfungsi menarik data, menarik arus listrik yang mau menujunya. Begitu juga bulan Ramadhan, yang kita ketahui bahwa sebelum bulan ramadhan ada bulan Sya’ban, sebelum Sya’ban ada bulan Rajab. Dimana kita ketahui bahwa pada kedua bulan ini diberikan bonus-bonus juga kepada kita agar kita termotivasi untuk menanam cinta kepada-Nya menanti tibanya di bulan Ramadhan.

Dari tentetan kisah dan analogi diatas, bisa kita mengambil kesimpulan bahwa Allah itu maha cemburu. Oleh karena itu jangan sampai cinta kita kepada mahluk-Nya lebih tinggi daripada cinta kita kepada-Nya. Bila mencintai mahluknya cukuplah karena-Nya.

Mari kita jadikan bulan Ramadhan ini menjadi bulan menanam cinta itu dengan mengoptimalkan kerja, amal dan ibadah kepada-Nya. Bila cinta ini sudah tertanam, sudah menjadi kebiasaan, insya Allah pada bulan berikutnya, kebiasaan ini sudah berakar. Dengan kebiasaan itu, hubungan kita dengan amal dan ibadah itu sudah mendarah daging. Sehingga kita tinggal menuai harmoni dari kebiasaan itu pada bulan selanjutnya, hingga kebulan Ramadhan selanjutnya dan hingga pada ajal menjemput kita dalam keadaan cinta power full.

Wallahu a'lam bishawab


Tulisan ini dimuat di:
http://www.pkssumut.or.id/2013/07/menanam-cinta-dibulan-ramadhan-menuai.html
http://www.kabarpks.com/2013/07/menanam-cinta-di-bulan-ramadhan-menuai.html
http://www.pksnongsa.org/2013/07/menanam-cinta-di-bulan-ramadhan-menuai.html
http://www.merdeka.com/kabaranda/menanam-cinta-dibulan-ramadhan-menuai-harmoni-dibulan-selanjutnya/
http://dpcpksjetis.blogspot.com/2013/07/menanam-cinta-di-bulan-ramadhan-menuai.html
http://www.suaraaceh.com/read/07/19/menanam-cinta-di-bulan-ramadhan-menuai-harmoni-11-bulan-kemudian.aspx

http://www.pkspadangpanjang.org/2013/07/menanam-cinta-dibulan-ramadhan-menuai.html

Friday, July 12, 2013

URGENT MANA SHALAT FARDHU DENGAN SHALAT TARAWIH?

Oleh : Arida Sahputra *)

Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal perbuatan manusi pada hari kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa 'Azza berfirman kepada malaikat-Nya padahal Dia lebih mengetahui; 'Periksalah shalat hambak-Ku, sempurnakah atau justru kurang?' Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, 'periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?' Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, ‘Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.' selanjutnya semua amamalan manusia akan dihisab dengan demikian." (HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413, An-Nasai no. 461-463, dan Ibnu Majah no. 1425. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' no. 2571)

Melihat jumlah jamaah shalat sunat tarawih yang lebih banyak daripada jamaah shalat fardhu beberapa malam ini (bulan ramadhan) membuat saya ingin rasanya mengutarakan urgensi dari kedua shalat itu. Dengan niat saling menasehati, karena Allah berfirman "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar - benar dalam kerugian. Kecuali orang - orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasihat menasehati dalam kesabaran." (Qs. Al -`Ashr 1- 3 )

Dari hadist diatas kita ketahui bahwa, yang pertama kali dihisab di hari akhir nanti adalah Shalat Fardhu, bila shalat fardhu kita kurang sempurna maka akan disempurnakan dengan shalat sunnah. Artinya adalah kedudukan shalat fardhu lebih prioritas dibandingkan shalat sunnah. Sedangkan shalat sunnah bisa sebagai penyempurna shalat fardhu.

Perlu diketahui bahwa shalat fadhu itu ada 5 yaitu; Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib dan Isya. Sedangkan shalat sunnah itu sangat banyak, antara lain shalat sunnah Tarawih, Rawatib Qabliyah, Rawatib Ba’diyah, Dhuha, Fajar, Witir, Tahajjud, Tahyatul Masjid, Wudhu, dan Qiyamullail. Sehingga shalat fardhu yang 5 diatas lebih utama daripada shalat sunnah yang disebutkan diatas tadi. Dalam tulisan ini penulis bermaksud membadingkan dengan shalat tarawih. Saya tidak mengkerdilkan shalat tarawih, tetapi hanya ingin meluruskan paradigma berfikir kebanyakan kita yang selama ini seolah-olah mementingkan shalat tarawih disbanding shalat fardhu.

Maka tidak sedikit kita melihat jama’ah shalat tarawih lebih banyak daripada jama’ah shalat fardhu. Padahal seharusnya jika pemahaman kita sama mengenai prioritas shalat ini, maka bisa dipastikan sebenarnya lebih banyak jamaah shalat fardhu dibandingkan shalat sunnah lainnya.

Penulis ingin menganalogikan prioritas shalat ini sebagai bangunan rumah. Diibaratkan syahadat (aqidah) itu adalah pondasi, shalat fardhu itu adalah tiang, sedangkan shalat sunnah, puasa, zakat, dan ibadah haji itu adalah papan dan hiasan lainnya yang di tempelkan ke tiang yang berdiri diatas pondasi tersebut. Jika pondasi tidak kuat, jika tiang tidak kuat atau bahkan tidak ada tiang , hendak mahu kemana ditempel papan dan penghias tadi. Tentunya tidak ada tempat bergantung sehingga papan dan perhiasan tersebut sia-sia.

Dengan ini penulis mengajak kita semua mari ramaikan shalat berjamaah fardhu, juga kita ramaikan shalat tarawih dan amalan-amalan lainnya. Sehingga rumah kita disurga nanti kuat dan kokoh serta cantik juga indah karena dihiasi dengan amalan-amalan. Ayoo ke masjid!!!

Semoga tulisan ini dapat merubah paradigma kita yang sudah membumi dan turun temurun. Sesungguhnya juga penulis bukanlah malaikat yang luput dari kesalahan. Bila ada kritik dan masukan untuk perbaikan dari tulisan ini bisa di email ke ari_tkn@yahoo.co.id. Demikian yang dapat saya tulis, semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam bishawab


*) Penulis adalah mantan aktivis dakwah kampus juga pernah aktif sebagai ketua BEM dan berbagai wajihah penting di Universitas Syiah Kuala. Beliau hingga sekarang masih aktif sebagai aktivis dakwah. Wajihah dakwah yang di geluti yakni Komite Nasional Untuk Rakyat Palestina (KNRP), Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia (PGSI), Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), dan berbagai wajihah dakwah lainnya. Hari-harinya beliau bekerja sebagai murabbi di Al-Fityan School Aceh.


Tulisan ini juga dimuat di:
http://www.dakwatuna.com/2013/07/15/36771/urgent-mana-shalat-fardhu-dengan-shalat-tarawih
http://www.kabarpks.com/2013/07/jamaah-shalat-tarawih-lebih-banyak-dari_12.html
http://www.pksnongsa.org/2013/07/jamaah-shalat-tarawih-lebih-banyak-dari.html
http://www.merdeka.com/kabaranda/jamaah-shalat-tarawih-lebih-banyak-dari-jamaah-shalat-fardhu-tanya-kenapa.html
http://dakwah.info/supplemen/10-muwasofat/ibadah-yang-sohih/jemaah-solat-tarawih-lebih-banyak-dari-jemaah-solat-fardhu-kenapa/
http://www.suaraaceh.com/read/07/12/mengapa-jamaah-shalat-sunat-tarawih-lebih-banyak-dari-jamaah-shalat-fardhu.aspx

Saturday, June 29, 2013

PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN


(Oleh : Arida Sahputra)

"Ya Allah berkatilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan" (HR. Ahmad & At-Tabrani)

Saudaraku seiman yang saya cinta karena Allah SWT, tidak terasa bulan suci, bulan magfirah, bulan penuh rahmat, bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan yang didalamnya terdapat lailatul qadr yang dinanti-nati sudah dihadapan mata. Hanya hitungan hari menuju bulan mulia itu. Karena kemuliaan dan spesialnya bulan tersebut maka sudah seharusnya kita sebagai ummat Islam mempersiapkan diri dan keluarga.

Persiapan disini kami maksud bukan hanya menunggu datangnya bulan Ramadhan. Tetapi persiapan disini adalah mempersiapkan bekal untuk bekal di bulan Ramadhan. Tujuan mempersiapkan bekal ini bermaksud untuk mengoptimalkan ibadah kita pada bulan yang didalamnya terdapat malam lebih dari 1000 bulan. Ada beberapa hal yang penting untuk dipersiapkan antara lain adalah sebagai berikut:

Pertama, Persiapan Ruhiyah. Rasulullah memberikan contoh kepada kita untuk senantiasa mempersiapkan diri untuk menyambut pausa. Aisyah pernah berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari).

Ibadah lain juga harus dipersiapkan seperti perbanyak tilawah, qiamulail, shalat fardhu bejamaah di masjid, al-ma’tsurat kubra pagi dan petang. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Sya’ban kadar keimanan kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan, bulan Rajab dan Sya’ban adalah masa warming up sehingga ketika memasuki Ramadhan kita sudah bisa menjalani ibadah shaum dan sebagainya itu sudah menjadi hal yang biasa.

Orang sadar maupun yang tersadarkan memahami bahwa mempersiapkan keimanan itu bukan hanya pada bulan Sya’ban ini saja. Tetapi dipersiapkan disetiap hari, namun pada momentum ini diharapkan untuk meningkatkan persiapannya. Bulan Sya’ban ini juga bisa dikatakan sebagai bulan batu loncatan untuk optimalisasi ibadah di bulan Ramadhan nanti.

Kedua, Persiapan Jasadiyah. Untuk memasuki Ramadhan kita memerlukan fisik yang lebih prima dari biasanya. Sebab, jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal. Maka, sejak bulan sya’ban ini mari persiapkan fisik seperti olah raga teratur, membersihkan rumah, makan-makanan yang sehat dan bergizi.

Ketiga, Persiapan Maliyah. Persiapan harta ini bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi kita selama ini. Mempersiapkan hara adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhanpun merupakan bulan memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa.

Keempat, Persiapan Fikriyah. Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan yang benar tentang Ramadhan. Mu’adz bin Jabal r.a berkata: “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.

Oleh karena itu, ketika orang mau beramal tentulah harus mempunyai ilmu, jika tidak bisa-bisa akan menjadi banyak kerusakan. Cara untuk mempersiapkan ini antara lain dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntutan Rasulullah SAW, selama Ramadhan. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan berbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa, dan juga penting untuk dipersiapkan.

Semoga persiapan kita mengantarkan ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya, sebagai yang terbaik dalam sejarah Ramadhan yang pernah kita lalui. Demikian tips persiapan untuk menyambut bulan ramadhan, semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam bishawab

Tulisan ini juga dimuat di:
http://www.dakwatuna.com/2013/06/30/36030/persiapan-menyambut-bulan-ramadhan
http://www.kabarpks.com/2013/06/persiapan-menyambut-ramadhan-by.html
http://www.pks-tegalkota.com/2013/06/persiapan-menyambut-bulan-ramadhan-by.html
http://www.pksbogor.org/2013/06/persiapan-menyambut-ramadhan-by.html
http://www.merdeka.com/kabaranda/persiapan-menyambut-bulan-ramadhan.html
http://www.pksnongsa.org/2013/06/persiapan-menyambut-bulan-ramadhan-by.html

Saturday, May 25, 2013

CARA DA'I MENANGGAPI FITNAH & KRITIKAN


(Oleh: Arida Sahputra)

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (QS Ali Imran: 186)

Menaggapi kritikan dan fitnah terhadap gerakan dakwah ini. Saya ingin berbagi kepada ikhwah mengenai beberapa kisah Lukmanul Hakim mengajari anaknya dan Haditsul Ifki. Sebagai analogi sebagaimana dakwah yang sedang kita jalani ini.

Lukmanul Hakim mengajari anaknya

Pernah suatu ketika, Lukmanul Hakim mengajak anaknya berjalan ke pasar. Beliau mengenderai seekor keledai sementara anaknya berjalan kaki menuntun keledai tersebut. Ketika melewati suatu tempat, ia mendengar pembicaraan orang: “Lihat orang tua itu, benar-benar tidak memiliki rasa kasih sayang, anaknya yang kecil dibiarkan berjalan kaki sedangkan dia bersenang-senang menunggang keledai.”

“Wahai anakku, dengarkah engkau apa yang mereka perkatakan itu?” tanya Lukmanul Hakim kepada anaknya. “Dengar ayah,” jawab anaknya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sekarang engkau naiklah ke atas keledai ini, biar ayah yang menuntunnya,” katanya sambil mengangkat anaknya ke atas keledai, lalu mereka meneruskan perjalanan.

Tidak berapa lama kemudian ketika melewati sekelompok orang, “Lihatlah betapa anak yang tidak pandai mengenang budi ayahnya yang sudah tua, disuruhnya ayahnya menuntun keledai sedangkan dia yang masih muda menunggangnya, sungguh tidak patut,” kata orang-orang tersebut. “Dengarkah engkau apa yang mereka perkatakan?” tanya Lukmanul Hakim kepada anaknya. Anaknya mengiyakan pertanyaannya itu. “Sekarang engkau turun dari keledai ini dan kita sama-sama berjalan kaki,” kata Lukmanul Hakim. Anaknya segera turun dari keldai lalu berjalan bersama beriringan dengan ayahnya menuntun keledai.

Sejurus kemudian mereka bertemu pula dengan sekelompok orang lain. “Alangkah bodohnya orang yang menarik keledai itu. Keledai untuk dikenderai dan dibebani dengan barang-barang, bukan untuk dituntun seperti lembu dan kambing,” kata mereka. “Dengarkah engkau apa kata mereka?” tanya Lukmanul Hakim kepada anaknya lagi. “Dengar, ayah,” jawab anaknya. Lukmanul Hakim berkata: “Kalau begitu marilah kita berdua naik ke atas punggung keledai ini.” Tidak berapa lama setelah itu mereka mendengar sekelompok orang yang lain yang mereka lewati “Sungguh tidak bertimbang rasa mereka ini, keledai yang kecil ditunggangi berdua!” kata mereka. Lukmanul Hakim lalu bertanya kepada anaknya, “Apakah engkau dengar apa yang mereka katakan?” Jawab anaknya: “Ya ayah, saya dengar.” “Kalau begitu marilah kita pikul keledai ini,” kata Lukmanul Hakim.

Dengan bersusah payah mengikat keempat-empat kakinya, akhirnya mereka mampu mengangkat keledai itu. Dan dalam keadaan demikian itu mereka mulai berjalan dengan beban memikul seekor keledai. Ketika sejumlah orang melihat mereka berdua memikul seekor keledai, mereka ketawa terbahak-bahak. “Ha! Ha! Ha! Lihatlah orang gila memikul keledai!” “Dengarkah engkau apa yang mereka katakan?” dia bertanya kepada anaknya lagi. “Dengar ayah,” jawab anaknya. Mereka lalu meletakkan keledai itu ke tanah.

Lukmanul hakim pun kemudian menjelaskan hikmah di sebalik peristiwa tadi: “anakku, begitulah sifat manusia. Walau apapun yang engkau lakukan, engkau tak akan terlepas dari perhatian dan pandangan mereka. Tidak menjadi soal apakah tanggapan dan sikap mereka benar atau salah, mereka tetap akan mengatakannya.” “ingatlah anakku bila engkau telah bertemu kebenaran, janganlah engkau berubah hati hanya kerana mendengar kata-kata orang lain. Yakinlah pada diri sendiri dan gantungkan harapanmu kepada Allah.”


Haditsul Ifki

Fitnah saat ini yang menimpa gerakan dakwah ini mengingatkan kita pada "Haditsul-Ifki". Saat da'wah sudah kuat, keluarga Rasul digoyang isu perselingkuhan Aisyah dengan Shafwan bin Mu'aththal. Lalu. Allah turunkan klarifikasi (QS An-Nur: 11-12)

“Sesungguhnya orang-orang yang mebawa berita bohong itu dari golongan kamu (juga). Jangan kamu mengira berita itu buruk bagi kamu. Setiap orang (pelaku) dari mereka akan mendapat balasan dosa atas perbuatannya. Dan siapa yang menjadi pelaku terbesarnya akan mendapat adzab yg besar (pula). Mengapa orang-orang mukmin dan mukminah tidak berbaik sangka terhadap diri mereka ketika mendengar berita bohong itu dan berkata: ‘Ini adalah kebohongan yang nyata’”.

Aktor kisah ini:
  1. Aisyah istri Rasul tercinta. Korban fitnah
  2. Shafwan bin Mu'at-thal. Sahabat Rasul.Korban fitnah kedua
  3. Hasan bin Tsabit (penyair), Hamnah binti Jahsy (Ipar Rasulullah), Misthah bin Utsatsah (Saksi perang Badar). Ketiganya terlibat (terpancing) dalam penyebaran fitnah.
  4. Abu Ayyub Al-anshary dan istri. Tokoh yg diabadikan dalam ayat 12. Ummu Ayyub: wahai abu ayyub, apa kau tak dengar isu tetang Aisyah? Abu Ayyub: iya, itu bohong! Apa kau sanggup berbuat seperti itu (selingkuh) Ummu Ayyub?" Ummu Ayyub: tidak, demi Allah, mana sanggup aku berbuat itu!! Abu Ayyub: "Aisyah lebih baik darimu". (Lebih tidak mungkin untuk selingkuh). Subhanallah..!!
  5. Abdullah bin Ubay bin Salul. Tokoh utama pencetus isu. Yg diabadikan dalam kalimat akhir ayat 11.
Musuh inginkan keburukan terjadi pada Da'wah dengan isu itu, tapi Allah justru tunjukkan sebaliknya. Kian terbukti cemerlangnya Islam, kokoh dalam barisan. Bahkan Aisyah bukan tercoreng, tapi kian terbukti kemuliannya. " Demi Allah aku tak pernah mengira Allah menurunkan wahyu tetang ku, yang akan dibaca sepanjang masa, Aku terlalu merasa kecil untuk diperbincangkan Allah dalam wahyu yg akan selalu dibaca, Aku hanya berharap Allah mengklarifikasi (tentangku) pada Rasulullah via mimpinya.." Inilah pengakuan Aisyah R.A terkait ayat 11-19.


Penonton dan Pemain

Dari beberapa peneliti dunia mengatakan kekhilafahan itu akan dimulai dari Asia, Asia itu di Asia Tenggara, Asia Tenggara itu bermula dari Indonesi. Ini bisa jadi karena jumlah penduduk Islam terbesar adalah di Indonesia. Melihat juga dari runutan kehidupan dinuia ini sampai kiamat. Fase-fase keterpurukan Islam sudah sedang berlangsung dan akan tiba kembali kejayaan Islam itu. Oleh karena itu, apakah kita mau sebagai penonton sampai kejayaan itu tiba? Atau mau jadi pemain yang aktif mentransformasi umat Islam sekarang ke Islam sebenarnya.

Memang kita ketahui bersama kalau menjadi penonton itu lebih pandai daripada pemain. Yang biasanya hanya mengritik-mengkritik saja, tetapi tidak mau berbuat. Dari segi jumlah juga sangat berbeda, penonton jauh lebih banyak jumlahnya daripada pemain. Apakah kita hanya mau mengritik saja? Apakah kita hanya ingin melihat saja? Atau mau berbuat?

Hal ini juga merupakan ujian kepada aktivis dakwah, dan apabila kita sabar menghadapinya maka insyaAllah kita akan lulus. Dan apabila sudah lulus dari ujian ini, Allah sudah menyiapkan imbalan atau hadiah kepada kita, yaitu naik kelas. Insya Allah naik,naik, naik. Insya Allah..

Oleh karena itu, walaupun banyak yang berkomentar dengan dakwah ini, yang mengatakan ini salah, itu salah, seharusnya seperti ini, seharusnya seperti itu. Seharusnya bubar, seharusnya ini menjadi majelis syuro. Seharusnya itu jadi presiden, biarlah mereka berkomentar. Intinya semua keputusan yang kita jalani selama ini adalah berdasarkan syuro. InsyaAllah berkah dengan keputusan syuro itu. Dan kita harus tetap bekerja karena bekerja itu adalah ibadah, anggap saja kritikan itu sebagai pupuk dakwah ini.

Hayoo tetap bekerja, janganlah berubah hati hanya karena mendengar kata-kata orang lain. Yakinlah pada diri sendiri dan gantungkan harapan kita kepada Allah.

Wallahu a'lam bishawab

http://www.dakwatuna.com/2013/05/27/33919/cara-dai-menanggapi-fitnah-dan-kritikan
http://www.suara-tamiang.com/2013/05/cara-dai-menanggapi-fitnah-kritikan_30.html
http://www.pksmagetanbekerja.org/2013/05/cara-dai-menanggapi-fitnah-dan-kritikan.html

Friday, May 3, 2013

Syur'atul Istijabah (Respon dengan Cepat)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)

Dari Abu Hurairah RA bahwa nabi bersabda “Bersegeralah kalian melakukan amal shalih karena adanya fitnah sebagaimana malam yang gelap. Seseorang menjadi mukmin di pagi hari dan sore hari menjadi kafir. Di sore hari mukmin lalu pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.”(HR. Muslim)

“Segeralah kalian melakukan amal shalih karena tujuh hal. Apakah kalian menunggu hingga mengalami kefakiran yang dilupakan, kekayaan yang melampaui batas, penyakit yang membinasakan atau masa tua yang membuatnya menyeracah, atau kematian yang mengagetkan, atau (kemunculan) dajjal, seburuk buruk yang tidak hadir yang ditunggu, atau hari kiamat, sebab hari kiamat itu menyulitkan dan sangat pahit” (HT. Tirmidzi)

Dalam segala aktivitas yang berhubungan dengan orang lain maka kita dituntut untuk memilih pemimpin meskipun hanya ada 3 orang dalam aktivitas tersebut, meskipun hadits tersebut biasa dipakai juga kita akan melakukan perjalanan tapi tak salah juga jika hadits ini diterapkan dalam aktivitas lainnya.

Abdullah Bin Amr RA, mengabarkan, Muhammad Rasulullah SAW bersabda “tidak halal bagi tiga orang yang berada dalam suatu perjalanan di bumi ini, melainkan mereka harus mengangkat seseorang di antara mereka itu sebagai kepala atau pemimpin” (HR. Ahmad).

Dalam konteks qiyadah wal jundiyah (antara pemimpin dan anggotanya) maka kita diminta untuk menuruti apa yang pemimpin tugaskan pada kita baik dalam keadaan lapang maupun sempit selama dalam koridor syar’i.

Meente harus patuh pada pementornya, mutarabbi (binaan) harus patuh pada murabbinya, staff haru patuh pada ketuanya. Apalagi yang menyeru adalah Allah swt yang memberi hidup. Tanpa tawar dan pikir kita wajib melaksanakannya.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Taatilah rasul (Nya) serta ulil amri di antara kamu” (QS. An-Nisa: 59)
”Dengarkanlah dan taatilah (para pemimpinmu) meski engkau dalam keadaan sulit, mudah, semangat, terpaksa dan membuatmu banyak melakukan pengorbanan.” (HR Muslim).
Terkadang ada beberapa orang yang tidak mengindahkan perintah pemimpinnya dengan mengajukan beberapa pembelaan yang notabene bisa diatasi dengan mudah dan bukan menjadi persoalan yang mengganjal seruan qiyadah.

Tidak bersegera dalam melaksanakan disebabkan adanya missing link, atau tidak adanya konektifitas hati dengan agenda/ instruksi yang akan dikerjakan. Meskipun alasan tersebut jelas tertolak oleh hadits “Adalah wajib bagi seorang muslim untuk mendengarkan dan taat terhadap perintah (pemimpin) yang disukainya ataupun yang dibencinya selamanya dia tidak diperintahkan melakukan hal tersebut (maksiat) maka dia tidak wajib mendengarkan atau mentaatinya”. (HR Bukhari dan Muslim).
Balasan Seruan

Dalam kaidah usul bahwa perintah adalah sesuatu hal yang menuntut kita untuk dikerjakan kecuali jika ada dalil yang membolehkan penundaan atau penolakan. Karana hakikatnya sebaik baik ibadah adalah manakala dilakukan di awal waktunya.

Ketika dengan ikhlas kita melakukan seruannya maka yakinlah kita mendapatkan balasan yang lebih baik dari pekerjaan atau seruan tersebut “Barang siapa beramal shalih baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia beriman maka Kami pasti akan beri kehidupan yang baik dan Kami balas dengan balasan yang lebih baik dari apa yang ia kerjakan.” (Al-An’am: 97) “Sedangkan yang mati hatinya akan dibangkitkan Allah, kemudian kepada-Nya mereka dikembalikan”. (QS. Al-An’am: 36)

Ketika seruan yang ditujukan kepada kita adalah seruan dakwah entah itu dakwah secara eksplisit (menyeru langsung) ataupun implisit (daurah atau pelatihan tentang dakwah) maka seruan ini bukan lagi seruannya murabbi kita, atau seruan ketua atau seruan pemimpin kita tapi ini adalah seruan Allah dan wajib kita melaksanakannya jika tidak ingin menerima balasan yang buruk.

“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.“ (QS. Ar-Ra’du: 18).

Ikhwah, waktu terus berputar, sebagai seorang dai Imam Hasan Al-Banna mengatakan bahwa waktu yang kita miliki lebih banyak dari kewajiban yang ada. Jika kita tidak melakukan kewajiban saat ini maka kemungkinan akan tergilas oleh aktivitas (kewajiban) lain pada waktu selanjutnya.

Ingatkan engkau ketika para sahabat dilarang meminum khamar?

:“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah [434], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Q.S. al Maidah: 90-91)

Mendengar firman suci tersebut, tanpa berpikir panjang mereka segera menumpahkan drum-drum penyimpanan khamr. Botol-botol yang menjadi wadah khamr pun segera dipecahkan. Mereka menjawab seruan larangan khamr tersebut dengan teriakan yang kompak,

“إنتهينا يا رب”, kami benar-benar berhenti dan tidak akan melakukannya lagi Ya Tuhan.”

Dari Annas bin Malik “Aku sedang memberi minum para tamu di rumah Abu Thalhah, pada hari khamar diharamkan. Minuman mereka hanyalah arak yang terbuat dari buah kurma. Tiba-tiba terdengar seorang penyeru menyerukan sesuatu. Abu Thalhah berkata: Keluar dan lihatlah! Aku pun keluar. Ternyata seorang penyeru sedang mengumumkan: Ketahuilah bahwa khamar telah diharamkan. Arak mengalir di jalan-jalan Madinah. Abu Thalhah berkata kepadaku: Keluarlah dan tumpahkan arak itu! Lalu aku menumpahkannya (membuangnya). Orang-orang berkata: Si polan terbunuh. Si polan terbunuh. Padahal arak ada dalam perutnya. (Perawi hadits berkata: Aku tidak tahu apakah itu juga termasuk hadits Anas). Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat: Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh karena makanan yang telah mereka makan dahulu, asal mereka bertaqwa serta beriman dan mengerjakan amal-amal saleh.” (Shahih Muslim No.3662)

Ingatkah kita tentang peristiwa berhijab?

Dari Aisyah RA, ia berkata “Semoga Allah merahmati wanita-wanita yang pertama berhijrah, di mana ketika Allah menurunkan firmanNya “… Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka (An-Nur 31) mereka langsung merobek kain hordeng mereka untuk dijadikan hijab.” (HR. Bukhari)

Allahu ‘alam bishowab.

Thursday, April 18, 2013

6 KEBAIKAN MANDI SEBELUM SUBUH

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

السَّلاَمُ عَلَيْكَمْ وَرَحْمَةُ اللهُ وَبَرَكَاتُه
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 
Sahabatku Yang Di Rahmati Allah

SILA BACA HINGGA HABIS & "SHARE"
______________________________
6 KEBAIKAN MANDI SEBELUM SUBUH
______________________________

Menurut kajian sains, kandungan gas ozon pada waktu pagi lebih tinggi dari waktu lain. oleh itu, gas ozon ini juga amat penting untuk tubuh badan anda. jika anda mandi sebelum waktu subuh, ia bukan sahaja membersihkan malah memberikan kesegaran dan manfaat untuk tubuh badan anda. antara manfaatnya ialah :

1. Kulit lebih lembut dan halus
pada waktu pagi selalunya anda akan memasang "water heater" untuk mendapatkan air yang hangat dan menghilangkan kesejukan. selepas ini, jika anda memiliki lingkaran hitam di bawah mata, mandi menggunakan air sejuk dapat mengurangkan kegelapan pada bawah mata. begitu juga dengan kuku, ia akan menjadi lebih sihat, kuat dan tidak mudah retak. kulit pula menjadi lebih lembut dan halus.

2. Melancarkan peredaran darah
jika peredaran darah anda lancar maka tubuh badan anda akan menjadi lebih sihat dan bertenaga. malah anda juga boleh melakukan aktiviti seharian tanpa rasa letih.

3. Meningkatkan kesuburan
kesihatan tubuh badan manusia akan mendapat reaksi yang positif apabila anda mandi pada waktu pagi. ia dapat meningkatkan hormon testosteron pada lelaki dan hormon estrogen untuk wanita.

4. Mengurangkan risiko darah tinggi
untuk anda yang memiliki penyakit darah tinggi, mungkin ini merupakan salah satu cara untuk anda mengurangkan penyakit anda. Insya ALLAH, dengan izin ALLAH, jika ia diamalkan selalu, penyakit anda akan pulih.

5. Mengurangkan tekanan serta tenang
air yang sejuk akan melancarkan kembali peredaran darah setelah lama berbaring. buat anda yang mengalami depresi, inilah cara yang terbaik utk anda menghilangkannya. oleh itu, ubahlah tabiat kpd mandi pagi sebelum subuh.

6. Meningkatkan sel darah putih
mandi dengan air sejuk, ia akan meningkatkan sel darah putih di dalam tubuh badan. apabila sel darah putih banyak, maka daya tahan penyakit dan tubuh badan boleh melawan virus. oleh itu, anda tidak mudah untuk dijangkiti dengan sebarang penyakit...

p/s: silakanlah utk share sekiranya anda rasa manafaatnya berkongsi ilmu kebaikan...insyaallah...

sumber dari MOMENT COLOUR

Tuesday, April 9, 2013

Hadits Arba’in Kedua Belas: Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat (2)


3. Menyibukkan diri mengurusi kesalahan orang lain, dan lupa untuk membenahi diri sendiri. Padahal salah satu prinsip agama Islam adalah, bahwa setiap muslim sebelum ia menyibukkan diri dengan kekurangan orang lain, hendaknya ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membenahi diri, berupaya merealisasikan keselamatan dan menjauhkan segala hal yang akan membinasakan dirinya. Sebagaimana firman Allah,
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa * Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian * Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, nasihat-menasihati untuk menetapi kebenaran, serta nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Dalam untaian ayat-ayat ini, Allah ta’ala telah menerangkan karakteristik golongan orang-orang yang selamat dari kerugian. Di antara karakteristik mereka; merealisasikan keimanan dan amal shalih dalam diri mereka sendiri terlebih dahulu, sebelum mendakwahi orang lain untuk berpegang kepada al-haq dan bersabar. Dan ini merupakan penegasan atas permasalahan yang kita bahas.
Di sisi lain Allah ta’ala telah mencela Bani Israil, dikarenakan mereka menyelisihi prinsip ini,
أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ
“Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kalian melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kalian membaca al-Kitab (Taurat). Maka tidakkah kalian berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)
Oleh sebab itu, hendaknya kita senantiasa berusaha membenahi diri sendiri sebelum berusaha membenahi orang lain. Jikalau telah beristiqamah (dalam kebaikan), lantas kita berusaha untuk memadukan antara penerapan ajaran agama Allah dalam diri sendiri dengan usaha untuk mendakwahi orang lain, di saat itulah kita benar-benar berada di atas petunjuk salaf, dan niscaya Allah akan menjadikan kita bermanfaat (untuk umat). Itulah (karakteristik) para da’i sunnah dengan perkataan dan perilakunya. Metode ini, demi Allah, benar-benar merupakan tingkatan tertinggi, yang mana jika seseorang telah berhasil mencapainya, maka ia termasuk hamba Allah yang paling tinggi kedudukannya kelak di hari akhir. Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’. “ (QS. Fushilat: 33) (Nashihah li asy-Syabab, oleh Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaily hafidzhullah, hal: 1)
Telah disinggung di awal makalah ini, di saat kita menerangkan tentang standar atau patokan apa yang harus kita gunakan dalam menilai bermanfaat tidaknya suatu perbuatan, kita peringatkan di sana tentang kekeliruan yang dialami oleh sebagian orang tatkala mereka meninggalkan hal-hal yang diwajibkan agama dengan alasan hal itu tidak berguna baginya. Maka di sini kita akan membawakan berbagai contoh dari perintah-perintah agama yang ditinggalkan oleh sebagian orang, akibat kekeliruan mereka dalam memahami hadits ini.
Sebagian orang meninggalkan amar ma’ruf (menyuruh kepada kebaikan) dan nahi munkar (mencegah dari kemungkaran), dengan alasan hal tersebut tidak bermanfaat baginya. Ini jelas-jelas merupakan kekeliruan yang nyata, sebab amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan perkara yang amat penting bagi seorang muslim. Allah berfirman,
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dan hendaklah ada di antara kalian, segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 104). (Lihat: Syarh al-Arba’in, oleh Syaikh al-Utsaimin, hal: 182)
Setiap yang diperintahkan Allah adalah penting dan bermanfaat bagi manusia.
Sebagian yang lain mengabaikan nasihat untuk umat, dikira bahwa hal itu tidak bermanfaat bagi dirinya. Hal ini tidak diragukan lagi bertentangan dengan ayat-ayat dan hadits-hadits yang memerintahkan untuk membudayakan nasihat antar umat (Qawa’id wa Fawa’id, hal: 123-124). Dan di antara bentuk nasihat yang sering kali diabaikan, bahkan diperangi oleh banyak orang, adalah menerangkan kesalahan dan kesesatan ahlul bid’ah kepada umat, dengan tujuan agar umat tidak terjerumus ke dalam kesalahan dan kesesatan mereka. Para ulama telah berijma’ (bersepakat) tentang disyariatkannya bahkan diwajibkannya mengkritik ahlul bid’ah, sebab bahaya mereka bagi umat lebih besar dari segala bentuk marabahaya (Lihat keterangan dari para ulama tentang masalah ini dalam kitab al-Mahajjah al-Baidha’ fi Himaayati as-Sunnah al-Gharra’ min Zallati ahl al-Akhtha’ wa Zaighi ahl al-Ahwa’, oleh Syaikh Prof Dr Rabi’ bin Hadi al-Madkhalyhal: 55-74). Dan ini bukanlah termasuk ghibah (menggunjing) yang diharamkan, sebagaimana yang diterangkan oleh Imam an-Nawawy (Dalam Riyadh ash-Shalihin, hal: 489-490) dan ulama lainnya (Lihat: Mauqif Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah min Ahl al-Ahwa’ wa al-Bida’, oleh Syaikh Dr Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaily, I/496-509)
Kemudian, dalam mengingkari suatu kesalahan dan membantah orang yang terjatuh ke dalamnya, kita perlu memperhatikan norma-norma yang telah digariskan oleh agama kita. Di antara norma-norma tersebut:
4. Pengingkaran itu harus dilakukan dengan penuh rasa ikhlas dan niat yang tulus semata-mata dalam rangka membela kebenaran. Di antara konsekuensi ikhlas dalam masalah ini, adalah berharap agar orang yang terjatuh ke dalam kesalahan mendapatkan hidayah dan kembali kepada al-haq. Maka hendaknya ia menempuh segala cara yang dapat dilakukan, agar orang yang berbuat kesalahan hatinya mendekat, bukan malah menjadikannya semakin menjauh. Dan hendaknya pengingkaran tersebut juga diiringi dengan doa kepada Allah agar mendapat petunjuk-Nya. Apalagi jika ia termasuk golongan ahlus sunnah, ataupun kaum muslimin lainnya. Dahulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendoakan sebagian orang kafir agar mendapatkan petunjuk, bagaimana halnya jika orang yang bersalah berasal dari kaum muslimin yang bertauhid? (tentunya lebih berhak untuk didoakan).
5. Hendaknya bantahan tersebut dilakukan oleh seorang alim yang telah mumpuni ilmunya; mengetahui secara detail segala sudut pandang dalam materi bantahan, entah yang berkaitan dengan dalil-dalil syariat yang menjelaskannya serta keterangan para ulama, maupun tingkat kesalahan lawan serta sumber munculnya syubhat dalam dirinya plus mengetahui keterangan-keterangan para ulama yang membantah syubhat tersebut.
Hendaklah orang yang membantah juga memiliki kriteria: kemampuan untuk mengemukakan dalil-dalil yang kuat tatkala menerangkan kebenaran dan mematahkan syubhat. Memiliki ungkapan-ungkapan yang cermat, agar tidak nampak atau dipahami dari perkataannya,  kesimpulan yang tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Jika tidak (memenuhi kriteria itu), maka justru yang akan timbul adalah besarnya kerusakan.
6. Hendaklah tatkala membantah, ia memperhatikan: perbedaan tingkat kesalahan, perbedaan kedudukan orang yang bersalah baik dalam bidang keagamaan maupun sosial, juga memperhatikan perbedaan motivasi pelanggaran; apakah karena tidak tahu, atau hawa nafsu dan keinginan untuk berbuat bid’ah, atau mungkin cara penyampaiannya yang keliru dan salah ucap, atau karena terpengaruh dengan seorang guru dan lingkungan masyarakatnya, atau karena ta’wil, atau karena tujuan-tujuan lain di saat ia melakukan pelanggaran terhadap syariat. Barang siapa yang tidak mempedulikan atau memperhatikan perbedaan-perbedaan ini, niscaya ia akan terjerumus ke dalam sikap ghuluw (berlebih-lebihan) atau sebaliknya (kelalaian), yang mana akan berakibat tidak bergunanya perkataan dia atau paling tidak sedikit manfaatnya.
7. Hendaklah ia senantiasa berusaha mewujudkan maslahat yang disyariatkan dari bantahan tersebut. Jika bantahan tersebut justru mengakibatkan kerusakan yang lebih besar dibanding dengan kesalahan yang hendak dibantah, maka tidak disyariatkan untuk membantah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan (suatu kaedah penting), “Tidak dibenarkan menghindari kerusakan kecil dengan melakukan kerusakan yang lebih besar, juga tidak dibenarkan mencegah kerugian yang ringan dengan melakukan kerugian yang lebih berat. Karena syariat Islam datang dengan tujuan merealisasikan maslahat dan menyempurnakannya, juga melenyapkan kerusakan dan menguranginya sedapat mungkin.
Pendek kata, jika tidak mungkin untuk memadukan antara dua kebaikan, maka syariat Islam (mengajarkan untuk) memilih yang terbaik. Begitu pula halnya dengan dua kerusakan, jika tidak dapat dihindarkan kedua-duanya, maka kerusakan terbesarlah yang harus dihindarkan” (Al-Masail al-Mardiniyah, hal: 63-64, dinukil dari Nashihah li asy-Syabab, hal: 7)
8. Hendaknya bantahan disesuaikan dengan tingkat tersebarnya kesalahan tersebut. Sehingga jika suatu kesalahan hanya muncul di suatu daerah atau sekelompok masyarakat, maka tidak layak bantahannya disebarluaskan ke daerah lain atau kelompok masyarakat lain yang belum mendengar kesalahan tersebut, baik dengan menerbitkan buku, kaset maupun dengan menggunakan media-media lain. Karena menyebarluaskan bantahan, berarti secara tidak langsung, turut menyebarluaskan pula kesalahan tersebut. Bisa jadi ada orang yang membaca atau mendengar suatu bantahan, akan tetapi syubhat-syubhat (kesalahan itu) masih membayangi hati dan pikirannya, juga tidak merasa puas dengan bantahan itu.
Jadi, menghindarkan masyarakat dari mendengarkan kebatilan, adalah lebih baik daripada mendengarkannya kemudian mendengarkan bantahannya. Para salaf senantiasa mempertimbangkan norma ini dalam bantahan-bantahan mereka. Banyak sekali kita dapatkan kitab-kitab mereka yang bertemakan bantahan, mereka hanya menyebutkan dalil-dalil yang menjelaskan al-haq, yang merupakan kebalikan dari kesalahan tersebut, tanpa meyebutkan kesalahan itu. Tentu ini membuktikan akan tingkat pemahaman mereka yang belum dicapai oleh sebagian orang yang hidup di zaman ini.
Pembahasan yang baru saja diutarakan -yang berkaitan dengan menyebarkan bantahan di negeri yang belum terjangkiti kesalahan-, sama halnya dengan pembahasan tentang menyebarkan bantahan di tengah-tengah sekelompok orang yang tidak mengetahui kesalahan itu, walaupun ia tinggal di negeri yang sama. Maka tidak seyogyanya menyebarkan bantahan baik melalui buku maupun kaset, di tengah-tengah masyarakat yang tidak mengetahui atau mendengar adanya kesalahan tersebut. Betapa banyak orang awam yang terfitnah dan terjatuh ke kubang keraguan tentang dasar-dasar agama, akibat membaca buku-buku bantahan yang tidak dapat dipahami oleh akal pikiran mereka. Maka hendaknya orang-orang yang menyebarkan buku-buku bantahan ini, merasa takut kepada Allah dan berhati-hati, agar tidak menjadi penyebab terpicunya fitnah di masyarakat yang akal pikiran mereka tidak dapat memahaminya. Dan di antara kejadian yang amat mengherankan; sebagian orang membagi-bagikan beberapa buku-buku bantahan kepada orang-orang yang keislamannya baru berjalan beberapa hari atau beberapa bulan saja, kemudian mereka diarahkan untuk membaca buku-buku tersebut. Alangkah mengherankan perbuatan mereka ini!.
9. Hukum membantah pelaku suatu kesalahan adalah fardhu kifayah, sehingga bila telah ada seorang ulama yang melaksanakannya, tujuan syariat telah terealisasi dengan bantahan dan peringatan darinya. Maka tanggung jawab (kewajiban) para ulama yang lain telah gugur. Hal ini telah ditetapkan oleh para ulama dalam pembahasan hukum fardhu kifayah. Di antara kesalahan yang kerap terjadi: tatkala ada seorang ulama membantah orang yang melakukan kesalahan atau mengeluarkan tahdzir (fatwa dalam rangka memperingatkan dari kesalahan seseorang), banyak para penuntut ilmu yang menisbahkan diri mereka ke as-sunnah, menuntut ulama lain atau penuntut ilmu lainnya, agar menyatakan sikap mereka terhadap ulama pembantah, terhadap orang yang bersalah, atau terhadap tahdzir tersebut.
Bahkan sampai-sampai para pemula dari kalangan  penuntut ilmu dan bahkan masyarakat awam, juga dituntut untuk menentukan sikap mereka terhadap ulama yang membantah dan orang yang bersalah. Terlebih dari itu semua, mereka kemudian menjadikan permasalahan ini sebagai dasar wala’ dan bara’ (loyalitas dan benci), hingga akhirnya yang terjadi adalah saling menghajr (memboikot atau mendiamkan) hanya karena masalah ini. Terkadang seorang penuntut ilmu menghajr Syaikhnya (ustadznya) yang selama bertahun-tahun ia telah menuntut ilmu di tangannya, hanya karena permasalahan ini. Terkadang pula fitnah ini menyelusup ke dalam sebuah keluarga, sehingga kita dapati seseorang menghajr saudaranya, seorang anak bersikap tidak sopan kepada orang tuanya, bahkan terkadang seorang istri diceraikan, yang berakibat terlunta-luntanya anak-anak mereka, (semua itu) hanya karena perkara ini.
Dan bila melihat fenomena yang menimpa umat, niscaya kita akan mendapatkan mereka terpecah menjadi dua kelompok atau bahkan lebih. Setiap kelompok melemparkan berbagai tuduhan kepada yang lain, yang akhirnya mereka saling menghajr. Semua ini terjadi di kalangan orang-orang yang menisbatkan diri mereka ke as-sunnah (ahlus sunnah), yang mana sebelumnya setiap kelompok tidak dapat mencela akidah dan manhaj kelompok lain, sebelum terjadinya perbedaan ini. Fenomena ini bersumber dari kebodohan yang akut terhadap as-sunnah (manhaj ahlus sunnah) dan kaidah-kaidah mengingkari suatu kemungkaran menurut ahlus sunnah, atau (mungkin juga) bersumber dari hawa nafsu. Kita memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah… (Nashihah li asy-Syabab, oleh Syaikh Dr Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaily hafidzahullah, hal: 6-8)
Di antara permasalahan yang dapat kita pahami dari hadits ini, bahwa masing-masing dari kita berkewajiban untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, jangan sampai menyia-nyiakan hal-hal yang penting, baik itu berkenaan dengan perkara agama maupun perkara dunia. Mari kita berusaha keras semampunya untuk menggapai ridha Allah, dan meraih tujuan (yang digariskan-Nya), sambil terus memohon pertolongan dari-Nya dan meminta taufik serta kebenaran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ, اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ »
“Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam (mengerjakan) hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan dari Allah dan janganlah bersikap lemah.” (HR. Muslim, no: 6716) (Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaid al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Dr. Bandar al-’Abdaly, hal: 55)
Beberapa Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Hadits Ini:
  1. Dorongan untuk mempergunakan waktu di dalam hal-hal yang mendatangkan manfaat bagi seorang hamba di dunia dan akhirat.
  2. Hasungan untuk menjauhi perkara-perkara yang tidak ada artinya, serta menyibukkan diri dengan hal-hal yang mulia.
  3. Dorongan untuk menundukkan diri sendiri dan meluruskannya, dengan cara menjauhkannya dari hal-hal yang bisa mencorengkan noda di atasnya, berupa tingkah laku yang rendah dan hina.
  4. Campur tangan dalam perkara-perkara yang tidak bermanfaat akan mengakibatkan timbulnya perpecahan dan permusuhan antar umat (Qawaid wa Fawaid, hal: 124)
Daftar Pustaka:
  1. Al-Qur’an dan Terjemahannya.
  2. Ad-Durar as-Saniyah bi Fawaid al-Arba’in an-Nawawiyah, Dr. Bandar bin Nafi’ al-’Abdaly.
  3. Al-Mahajjah al-Baidha fi Himayati as-Sunnah al-Gharra’ min Zallati Ahl al-Akhtha’ wa Zaighi Ahl al-Ahwa’, Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhaly.
  4. Badai’ at-Tafsir al-Jami’ li Tafsir Ibn Qayyim al-Jauziyah, Yusri as-Sayyid Muhammad.
  5. Bahjah al-Qulub al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun al-Akhbar fi Syarh Jawami’ al-Akhbar, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy.
  6. Bahjah an-Nadzirin Syarh Riyadh ash-Shalihin, Salim bin ‘Ied al-Hilaly.
  7. Iqadz al-Himam al-Muntaqa  min Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, Salim bin ‘Ied al-Hilaly.
  8. Jami’ al Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab.
  9. Mauqif Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah min Ahl al-Ahwa’ wa al-Bida’, Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily.
  10. Nashihah li asy-Syabab, Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaily.
  11. Qawa’id wa Fawaid min al-Arbain an-Nawawiyah, Nadzim Muhammad Sulthan.
  12. Rifqan Ahl as-Sunnah bi Ahl as-Sunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr.
  13. Riyadh ash-Shalihin, Muhyiddin an-Nawawy.
  14. Shahih al-Bukhary, Muhammad bin Ismail al-Bukhary.
  15. Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj.
  16. Siyar A’lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahaby.
  17. Sunan at-Tirmidzy, Abu ‘Isa at-Tirmidzy.
  18. Sunan Ibnu Majah, Ibnu Majah al-Qazwiny.
  19. Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
  20. Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, Shalih Alu Syaikh.
  21. Syarh al-Arba’in Haditsan an-Nawawiyah, Muhyiddin an-Nawawy.
  22. Tahdzib al-Kamal fi Asma ar-Rijal, Abul Hajjaj al-Mizzy.
  23. Taisir al-Karim Ar-Rahman fi tafsir Kalam al-Mannan, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy.
Purbalingga, Jum’at 17 Jumadal Ula 1426 H
***
Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc.
Artikel www.muslim.or.id